
Semua Tetua Sekte Tangan Dewa Kegelapan menghela nafas dalam-dalam. Mereka sebenarnya sudah mendengar kabar juga terkait hal ini. Apalagi murid-muridnya sungguh ahli dalam mencari informasi.
Tapi tetap, mereka masih percaya tidak percaya atas informasi yang disampaikan oleh muridnya tersebut.
Namun setelah sekarang mendapat surat dari Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar, mau tak mau mereka dipaksa harus percaya. Sebagai pemimpin dunia persilatan, sudah tentu dia tidak akan berbohong bukan?
Apalagi jika hal tersebut menyangkut dunia persilatan. Menyangkut pula mati hidupnya Kekaisaran Wei. Tanah airnya sendiri.
"Ternyata mereka benar-benar nekad," kata seorang tetua.
"Mereka berani melakukan hal ini karena sudah mempersiapkan semuanya seja jauh-jauh hari. Mereka sudah memperhitungkan langkah ke depannya," jawab tetua lainnya.
Semua tetua mulai mengemukakan pendapat mereka masing-masing dengan Kekaisaran tetangga yang berani melakukan hal tersebut.
Sekarang mereka sudah paham seluruhnya. Kekaisaran Wei memang sudah berada di ujung tanduk. Kelangsungan hidup orang-orang di sana sudah tentu akan terancam.
"Apakah Tuan Fang bersedia mengabulkan permintaan Tuan Shin Shui?" tanya Huang Taiji dengan sopan.
Orang tua itu sebenarnya sudah tahu bahwa Fang Han pasti akan mengabulkan permintaan Shin Shui. Hanya saja dia ingin kembali memastikan dan mendengar sendiri ucapan itu keluar dari mulutnya.
"Pasti, sangat pasti Tuan Huang. Secepat mungkin aku akan mengutus murid pilihan ke lokasi tertentu. Bahkan aku juga akan menurunkan para tetua supaya bisa membantu lebih banyak lagi. Ini sudah kewajiban kita, demi tanah air kita. Bagaimana mungkin aku akan berdiam diri saja?"
Siapa yang akan diam saja jika tanah airnya terancam oleh bangsa penjajah? Siapapun pasti tidak akan berdiam diri.
Bukankah kalau tanah airnya hancur, dia dan keluarganya juga lenyap?
Huang Taiji tersenyum mendengar jawaban tersebut. Dia juga bersyukur, di balik malapetaka yang akan menimpa Kekaisaran Wei, dia menyelipkan rasa syukur.
Karena pada akhirnya, orang-orang bisa bersatu. Yang berbeda kepercayaan jadi bersatu. Yang berbeda haluan dan aliran juga bersatu. Bukankah bersatu dalam kesatuan lebih indah dari pada apapun?
Terkadang manusia memang harus diberi kejadian dulu supaya mau bersatu.
"Terimakasih Tuan Fang. Aku sangat senang sekali mendengarnya. Semoga kita semua bisa selalu bersatu agar dapat menghadapi bencana yang akan terjadi,"
"Tuan Huang tidak perlu sungkan. Untuk membela tanah air, kami siap melakukan apapun," jawab orang itu sambil tersenyum.
Pada awalnya, Fang Han adalah sosok yang menyeramkan. Bahkan dia sangat jarang sekali tersenyum. Waktu tersenyum, dia tidak akan tersenyum. Jika tersenyum saja tidak, apalagi tertawa?
Baginya, tersenyum bisa mengurangi keseraman yang ada dalam dirinya.
Namun belakangan ini, Fang Han telah berubah menjadi sosok yang sangat bertolak belakang dengan sebelumnya. Dia jadi murah senyum, kepada siapapun, dia akan bicara sambil tersenyum.
Perubahannya terjadi ketika para warga di sekitar sektenya menyatakan terimakasih atas bantuan yang sudah dia berikan. Melihat senyuman warga, Fang Han seketika langsung tersadar sebuah hal.
__ADS_1
Atas dasar tersebut lah dia berubah menjadi pribadi yang ramah.
Di saat para tokoh tersebut sedang membicarakan berbagai macam hal yang saat ini terjadi, mendadak ada seorang gadis berusia tiga belasan tahun memasuki ruangan tersebut.
Gadis kecil itu memakai pakaian berwarna merah muda. Berbeda jauh dengan pakaian orang-orang Sekte Tangan Dewa Kegelapan pada umumnya.
"Ayah, Kakek," seru gadis itu lalu memeluk Fang Han dan seorang tetua.
"Giok'er, kau sudah selesai latihan?" tanya Fang Han sambil mengacak-acak rambutnya.
"Sudah Kek,"
"Bagus, ini baru cucu Kakek. Nah perkenalkan, dia temanmu. Namanya Chen Li,"
Kata Fang Han mengenalkan gadis kecil yang ternyata cucunya itu kepada Chen Li.
Gadis itu melangkah tanpa malu. Karena pada dasarnya dia memang periang dan ramah kepada siapapun. Bahkan setiap bicara, dia pasti tertawa kecil. Saat tertawa, dua lesung pipinya akan nampak.
Kecantikan di wajahnya segera bertambah jika lesung pipi itu terlihat.
"Namaku Fang Giok. Kau siapa?" tanyanya dengan suara nyaring sambil berniat berjabat tangan.
"Namaku Shin Chen Li. Salam kenal Fang Giok," jawab Chen Li dengan sebuah senyuman yang tidak kalah menggemaskannya.
Keduanya langsung akrab meskipun baru pertama kali bertemu.
"Baik Ayah,"
Dia membalikan badannya. "Mari Chen Li,"
"Mari,"
Kedua bocah itu langsung keluar ruangan. Fang Giok membawa Chen Li ke belakang Sekte Tangan Dewa Kegelapan.
Ternyata di sana ada sebuah taman bunga yang sangat luas. Aneka macam bunga yang harum tumbuh di setiap sudut halaman.
Bunga-bunga sedang mekar. Menebarkan bau harum yang menenangkan jiwa.
"Aku biasa bermain ataupun berlatih di sini. Tempat ini sangat nyaman, pemandangannya juga indah sekali. Lihat kupu-kupu itu, indah sekali bukan?"
Fang Giok bercerita tentang taman tersebut. Dia mengatakan bahwa dirinya sering menghabiskan waktu di taman itu. Hampir setiap hari, dia akan selalu berada di sana.
"Apakah selama ini kau jarang keluar?" tanya Chen Li disela ceritanya.
__ADS_1
"Sangat jarang. Kata Ayah dan Kakek, anak gadis itu tidak boleh keluar. Apalagi gadis cantik sepertiku … hihihi," Fang Giok tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan yang halus.
Walaupun usianya masih kecil, tapi kecantikan di wajahnya sudah terlihat jelas sejak dini. Siapapun bakal setuju bahwa suatu saat, jika sudah dewasa, dia pasti akan tumbuh menjadi gadis cantik yang menjadi incaran setiap kaum pria.
Kedua pipi Fang Giok menjadi memerah saat disaksikan bahwa Chen Li memandanginya. Walaupun matanya tidak sama dengan orang lain, tapi Chen Li bisa melihat dengan caranya sendiri.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya gadis tersebut sedikit malu.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Walaupun matamu ditutup, tapi aku tetap tahu. Kenapa?" tanyanya masih penasaran apa alasan bocah itu memandangi dirinya.
"Kau cantik," kata Chen Li sambil tersenyum.
Sontak kedua pipi Fang Giok semakin memerah. Entah apakah dia ingin tertawa atau menangis bahagia. Yang jelas, jantungnya berdebar keras.
Gadis mana yang tidak senang jika dipuji bahwa dirinya cantik?
Siapapun pasti akan senang. Termasuk Fang Giok. Walaupun dia masih kecil, tapi tetap, dia adalah seorang wanita.
"Ternyata benar kata Ibuku,"
"Kenapa?"
"Laki-laki mana pun pintar menggombal," jawabnya lalu lari ke taman bunga di tengah sana.
Chen Li mengambil setangkai bunga seruni yang indah. Lalu tanpa bicara lebih dulu, dia segera menempelkannya ke sisi telinga sebelah kanan Fang Giok.
"Apa ini?" tanta gadis kecil itu.
"Untukmu. Sebagai tanda bahwa kita adalah teman," jawab Chen Li.
Fang Giok juga memetik bunga sakura yang indah lalu memberikannya kepada Chen Li.
"Sebagai tanda pertemanan juga?" tanyanya heran.
"Benar. Masa kau boleh ngasih bunga, sedangkan aku tidak?"
Fang Giok tertawa. Chen Li juga tertawa.
Dua orang bocah kecil itu sangat cocok sekali. Mereka melawati waktu seharian untuk menikmati keindahan di sana.
###
__ADS_1
Sementara 1 bab dulu ya. Besok normal lagi wkwk
See you …