Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Ling Yang


__ADS_3

Daerah Timur di hutan perbatasan.


Tempat ini sudah sangat terkenal bahkan sampai ke kota-kota yang jauh di sana. Alasannya karena keindahan di Daerah Timur ini memang jarang ada tandingan di dunia.


Gunung-gunung tinggi mengelilingi kota sekitar. Sungai berair jernih mengalir sejauh mata memandang. Hamparan samudera biru terbentang luas. Permadani hijau yang indah memanjakan mata.


Di satu tempat terdapat sebuah tebing. Lapangannya luas sekali, tebing itu selalu dipenuhi oleh orang luar semisal para pelancong. Di tebing tersebut, kita bisa menyaksikan bagaimana matahari terbit dan terbenam sambil melihat gumpalan awan putih yang menakjubkan.


Namun tujuan Pendekar Halilintar dan dua pengusaha Gunung San-ong bukanlah ke tebing indah tersebut. Tujuan utama mereka adalah ke sebuah tempat berupa bangunan besar dan megah yang berjarak tidak jauh dari tebing tersebut.


Bangunan besar yang dimaksud bertempat di kota Su Khong. Su Khong memang terkenal, tapi bukan terkenal karena keindahannya. Melainkan kota tersebut terkenal karena menjadi sarang sebuah organisasi aliran hitam yang menguasai daerah itu. Bahkan menurut kabar sampai melebarkan sayapnya ke beberapa daerah sekitar.


Jumlah keseluruhan anggotanya memang tidak banyak. Paling hanya sekitar seratus atau dua ratus orang saja. Namun walaupun begitu, para petinggi di setiap cabang mempunyai kemampuan yang luar biasa.


Selain itu, menurut bocoran kabar rahasia, organisasi tersebut sengaja dibentuk oleh pihak pemerintahan Kekaisaran Sung.


Entah berita ini benar atau tidak, yang jelas masyarakat sekitar sangat takut kepada organisasi itu.


Shin Shui bersama Sang Ong dan Ong San sudah tiba di sebuah desa kecil. Ketika mereka tiba di sana, suasana sudah malam hari. Shin Shui singgah di sebuah rumah makan kecil yang dia temui. Sedangkan dua sahabatnya dimasukkan sementara ke dalam Kantong Siluman.


Tujuannya tentu supaya tidak mencuri perhatian orang-orang yang ada di sana.


Pendekar Halilintar itu seperti biasanya, duduk di sebuah kursi kosong yang berada pada urutan paling belakang.


Penampilannya tidak terlalu mencolok. Sebab dia mengenakan pakaian serba hitam seperti sebelumnya. Sambil menunggu makan, Shin Shui memikirkan langkah-langkah yang akan dia lakukan nantinya.


Dia tidak boleh melakukan kesalahan walau seucil sekalipun. Karena kalau sampai hal itu terjadi, akan lain lagi ceritanya.


Tiba-tiba seorang wanita berumur sekitar tiga puluh empat tahun memasuki rumah makan tersebut. Saat dia masuk, kebetulan sekali semua kursi dan meja sudah di isi penuh.


Hanya satu kursi di depan Shin Shui saja yang masih terlihat kosong.


Wanita itu berjalan menghampiri ke arahnya.


"Maaf Tuan, apakah aku boleh duduk di depanmu? Kursi di sini telah penuh seluruhnya," ujar si wanita itu.


Wajahnya cantik dengan bulu mata lentik. Kulitnya putih bersih dengan pakaian serba hijau muda. Tatapan matanya jernih seperti kilauan mutiara. Tubuhnya bisa dibilang dapat membuat setiap pria tergiur.


Hal ini terbukti ketika dia berjalan, banyak sekali orang yang mendadak menawarkan kursinya. Hanya saja wanita cantik itu menolak, dia lebih memilih kursi kosong di depan Shin Shui.

__ADS_1


"Silahkan nona, silahkan," kata Shin Shui dengan sopan.


Wanita cantik itu duduk di depannya. Setelah memesan makanan, sambil menunggu, keduanya sempat berbicara.


"Tuan dari mana dan mau ke mana?" tanyanya.


"Aku dari daerah luar, hanya ingin pergi melancong saja. Nona sendiri?" tanya balik Shin Shui.


"Aku orang sini, hanya ingin berjalan-jalan sambil menikmati udara malam,"


"Kalau boleh tahu, siapakah nama nona ini?"


"Aih. Maaf, sungguh tidak sopan sekali aku. Namaku Ling Yang, dan Tuan?"


"Aku Li Feng,"


"Ah, kalau begitu salam kenal,"


Keduanya terus bicara basa-basi sambil menunggu pesanan datang. Ling Yang ternyata wanita yang mudah bergaul. Terlihat walau baru kenal beberapa saat saja, dia sudah berani bercanda dengan Shin Shui.


"Maaf nona, apakah nona tahu informasi tentang kota Su Khong?"


"Aku ada janji dengan sahabatku. Dia ingin bertemu di sana, tapi aku sendiri belum tahu sama sekali tentang informasi kota itu,"


"Hemm, kalau begitu, lebih baik Tuan jangan ke sana. Di sana banyak orang-orang aliran hitam yang pandai menyamar," jawab Ling Yang.


"Apakah yang kau bicarakan itu benar?"


"Tentu saja, lebih baik Tuan …"


Belum sempat dia melanjutkan perkataannya, dua orang pelayan yang juga merupakan dua wanita cantik telah datang membawa pesanan mereka.


Karena makanan sudah dihidangkan, terpaksa Ling Yang tidak melanjutkan ceritanya. Keduanya segera menyantap makanan yang sudah tersedia di depan mereka.


Tidak ada yang bicara selama mereka makan. Setelah selesai, keduanya segera menikmati arak.


"Ini adalah arak wangi. Tidak terlalu keras dan tidak juga terlalu lembut. Rasanya sangat manis, kau boleh mencobanya sekarang," ucap Ling Yang sambil menyodorkan satu gelas arak kepada Shin Shui.


Keduanya minum bersama sambil menikmati sepiring daging rusa.

__ADS_1


Setelah selesai makan dan minum arak, Shin Shui langsung berniat untuk melanjutkan perjalanannya. Dia tidak ada niat untuk menginap. Toh menurut Ling Yang juga, jarak ke kota Su Khong hanya sekitar dua atau tiga jam saja.


Pembayaran sudah dilakukan.


Sekarang Shin Shui sedang berjalan santai. Dia suka menikmati pemandangan yang indah seperti di malam hari ini.


Saat berjalan di tempat sepi, tiba-tiba Pendekar Halilintar merasakan kepalanya pusing tujuh keliling. Seumur hidupnya, dia baru merasakan pusing yang sampai seperti sekarang ini.


Keringat panas dan dingin mulai keluar membasahi tubuhnya. Wajahnya mendadak pucat pasi seperti halnya mayat.


Dia berhenti sejenak karena tidak tahan akan rasa sakit yang tiba-tiba terasa di bagian dadanya.


Namun saat belum lama dia duduk di bawah pohon rindang, tiba-tiba dari semak belukar keluar puluhan orang tak dikenal. Semuanya berseragam hiyam. Wajah mereka tertutup oleh cadar.


"Sepertinya aku keracunan," gumam Shin Shui sendiri.


Dia ingin mengobatinya, namun sayangnya tenaga dalam tidak dapat keluar sama sekali.


"Ternyata benar, aku memang keracunan. Sepertinya jati diriku sudah diketahui oleh musuh," gumamnya kemudian.


Sekarang tak kurang dari dua puluh orang telah berdiri sejajar di hadapan Pendekar Halilintar. Semua orang itu mempunyai kekuatan yang setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga.


Mendadak keluar lagi tiga bayangan yang serupa. Ketiga orang itu juga sama, memakai cadar seperti dua puluh orang lainnya.


Mereka maju ke depan beberapa langkah.


Sedangkan Shin Shui masih terduduk merasakan sesuatu seperti sebelumnya.


"Siapa kalian? Dan kenapa kalian mengepungku seperti ini?" tanya Pendekar Halilintar.


"Apakah kau masih ingat kepadaku?"


Suara itu keluar dari salah satu mulut tiga orang bercadar yang baru saja datang. Setelah berkata demikian, orang tersebut segera membuka cadarnya.


Shin Shui terkejut, dia tidak menyangka bahwa orang itu adalah wanita yang berkenalan di rumah makan tadi.


"Ka-kau, Ling Yang?"


"Hahaha, benar. Ini aku. Ling Yang, kau masih ingat bukan? Hemm, waktu untuk kematianmu sepertinya sudah tiba," kata Ling Yang dengan ekspresi wajah menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2