Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Jalan Pedang


__ADS_3

Hong Hua menganggukkan kepalanya. Dia sendiri memuji kecerdasan Pendekar Merah. Seumur hidupnya, dia baru menemukan seorang pendekar muda yang secerdas Chen Li.


Rencananya sudah dibicarakn dengan matang. Pergerakannya juga sangat rapi dan rahasia. Dia sudah yakin bahwa pemuda itu tidak akan mengetahui sebelum saatnya tiba, namun siapa sangka, yang terjadi selanjutnya justru sangat diluar dugaannya.


"Benar, sayangnya kau lebih dulu mengetahuinya. Tapi tak mengapa, sekalipun kau sudah tahu, kau tetap tiba bisa berbuat lebih banyak. Karena semua pintu keluar sudah ditutup dengan rapat. Jadi jangan harap kau bisa melarikan diri," kata Hong Hua tersenyum dingin.


Kakek tua itu tidak berpura-pura lagi setelah rencananya terbongkar. Pada dasarnya, dia memang merupakan orang yang selalu terbuka dalam hal apapun.


"Sekalipun bisa, aku tetap tidak akan melarikan diri," jawab Chen Li dengan dingin.


"Kenapa?"


"Karena aku seorang pria sejati. Selaku pria sejati, tentunya aku harus bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan,"


"Memangnya kau telah melakukan apa sehingga harus bertanggungjawab?" tanya si nenek tua yang tadi sempat bicara dengan Chen Li.


"Aku telah melakukan kesalahan karena menolong tua bangka itu," jawabnya sambil menuding kepada Hong Hua.


Jika ada seorang pria sejati yang melakukan sesuatu, dia pasti akan bertanggungjawab. Karena pada hakikatnya, pria sejati adalah pria yang mau bertanggungjawab.


Jika kau ingin menjadi pria sejati, maka kau harus siap untuk bertanggungjawab atas sesuatu yang telah kau lakukan. Jika kau tidak berani bertanggungjawab, maka jangan berani menyebut bahwa dirimu pria sejati.


"Bagus, kau memang patut dipuji," ujar si nenek tua.


"Terimakasih," kata Chen Li sambil menjura.


Sekalipun belasan tokoh sesat telah mengelilingi dirinya, namun pemuda itu tepat tenang. Dalam keadaan apapun, Chen Li akan berusaha setenang mungkin.


Ketenangan mampu mendatangkan satu kekuatan tersendiri. Ketenangan juga mampu mendatangkan hal-hal tak terduga. Hanya saja, masih banyak orang yang belum mengetahui akan hal ini.


"Sekarang serahkan nyawamu untuk bertanggungjawab atas apa yang sudah kau lakukan terhadap Organisasi Elang Hitam," kata Hong Hua setelah beberapa saat membungkam mulutnya.


"Apa yang aku lakukan terhadap organisasi busuk itu memang sudah menjadi sebuah kewajiban. Jadi aku tidak perlu bertanggungjawab, apalagi harus menyerahkan nyawa secara suka rela," jawab Chen Li sambil tersenyum dingin.

__ADS_1


Belasan pasang mata mendadak memandang kembali ke arahnya dengan sangat tajam. Saking tajamnya, seolah-olah dari setiap pasang mata itu mengeluarkan sinar pembunuhan yang amat pekat.


Belasan tokoh kelas atas yang hadir itu merupakan teman dekat dari para tokoh di Organisasi Elang Hitam, tentu saja ucapan Pendekar Merah barusan sangat menyinggung mereka.


Api amarah dalam tubuh langsung naik ke ubun-ubun kepala. Semua orang yang hadir telah mengambil posisi bersiap. Mereka siap melakukan serangan kapanpun. Mereka juga siap mengambil nyawa Pendekar Merah kapan saja.


"Sombong sekali ucapanmu itu bocah. Kau pikir kau siapa? Kau pendekar tanpa tanding? Kau pendekar terkuat? Kalau bukan, jangan terlalu sombong di depanku," kata seorang pria berumur sekitar tiga puluh lima tahunan.


Orang itu sudah kelewat marah sekali. Pedang yang digenggam dengan tangan kirinya sudah siap jika harus melancarkan serangan dahsyat.


"Sombong atau tidak sombong bukan urusanmu. Kalau kau memang tidak terima, silahkan maju. Kita sama-sama pendekar pedang, kita selesaikan dengan jalan pedang," jawab Chen Li sengan suara yang amat dingin.


Pendekar Merah juga tidak mau kalah. Jika ada seseorang yang berkata dengan nada tinggi kepadanya, maka niscaya dia akan membalasnya dengan nada yang lebih tinggi.


Apalagi menurut pandangan matanya, orang tua itu setidaknya hanya merupakan Pendekar Dewa tahap tiga akhir. Dari sini saja dia sudah bisa mengukur kemampuan bahwa tokoh tersebut masih berada jauh di bawahnya.


Watak Chen Li adalah tidak mau kalah. Seumur hidup, dia tidak ingin kalah. Dalam beberapa hal, pemuda itu sangat keras kepala, kalau ibarat batu, mungkin dia batu yang paling keras dari yang terkeras.


Siapapun pasti tidak akan terima. Termasuk juga dirinya. Apalagi, dia sendiri sudah mempunyai nama yang terbilang cemerlang.


"Bangsat. Biar aku lihat setinggi mana kemampuanmu dalam bermain pedang," katanya sambil berteriak lantang.


Baru saja perkataannya selesai, orang itu sudah mencabut pedang lalu segera melancarkan serangan dahsyat ke arah Pendekar Merah.


Satu tusukan pedang yang amat cepat langsung dia lancarkan dengan ganas. Serangan itu mengandung tenaga dalam tinggi juga membawa kabar kematian.


Pedang Merah Darah milik Chen Li sudah terhunus. Pedang itu telah siap untuk menunjukkan kemampuannya di hadapan belasan tokoh yang hadir.


Pada saat pertarungan keduanya baru dimulai, para tokoh itu langsung memundurkan diri ke belakang. Mereka memberikan ruang luas untuk kedua pendekar tersebut.


Wushh!!!


Cahaya merah berkelebat lebih cepat. Chen Li juga sudah bergerak dengan gaya serangannya.

__ADS_1


Trangg!!!


Dua batang pedang pusaka itu saling berbenturan. Keduanya terdorong beberapa langkah ke belakang.


Pendekar Merah tidak mau kalah. Dia langsung menyerang kembali begitu dirinya mendapatkan posisi. Tebasan yang amat dahsyat keluar. Segulung angin dingin terasa menerjang menerpa wajah si tokoh tua itu.


Serangan Pendekar Merah dilancarkan dengan penuh perhitungan tinggi. Saat ini pemuda itu tidak mau berlama-lama. Sehingga semua kekuatannya ditumpukkan dalam serangan tersebut.


Tebasan itu bagaikan ombak yang menerjang batu karang. Sangat cepat. Sangat dahsyat.


Tokoh yang menjadi lawan Pendekar Merah langsung tersentak setengah mati. Dia tidak menyangka bahwa pemuda itu ternyata mampu melancarkan serangan yang demikian dahsyatnya.


Bahkan jika di lihat lebih teliti lagi, yang merasakan hal tersebut bukan hanya dia seorang. Belasan tokoh yang berdiri di samping juga sama. Mereka merasakan apa yang dirasakan oleh orang tersebut.


Orang tua itu berkelit dengan cara memutarkan tubuhnya ke belakang. Setelah itu dia langsung membalas serangan dengan pengerahan jurus tingkat tinggi.


Sebuah tebasan yang membawa hawa kematian langsung memancar ke segala arah. Aura hitam memenuhi seisi ruangan. Raungan seperti iblis terdengar oleh setiap orang yang hadir dalam ruangan itu.


Duarr!!!


Pada saat seperti itu, dengan gerakan yang secara tiba-tiba, Pendekar Merah juga turut serta mengeluarkan kekuatannya. Tenaga dalam langit bumi telah dia lancarkan sehingga membuat serangannya bertambah beberapa kali lipat.


Ruangan itu tertutup oleh aura berwarna hitam dan merah. Dentingan nyaring terdengar membangkitkan semangat bertarung. Semua orang sedang menanti. Semua tokoh sedang menunggu.


Mereka ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Crashh!!!


Tebasan kematian terdengar membuat bulu kuduk bangkit berdiri. Satu sosok terlempar ke belakang.


Si tokoh tua.


Orang itu terlempar cukup jauh ke belakang tanpa kepala.

__ADS_1


__ADS_2