Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Orang-orang Tuan Sung


__ADS_3

"Hemm, masuk akal. Benar juga kata-katamu itu sahabat. Hahaha …"


Jiu Reen tertawa. Bukan tawa karena memang ada kejadian lucu. Tapi dia tertawa karena kebodohannya yang telah salah menilai orang.


Untuk pertama kalinya, dia telah salah memilih korban. Baru kali ini dia melakukan kesalahan. Baru kali ini juga ada korban yang berhasil mengetahui siapa dia sebenarnya.


Julukan Tujuh Perampok Berhati Emas memang sudah tidak asing bagi orang-orang Sokhia. Semuanya pasti sudah mendengar ketenaran dan kehebatan kelompok senyap ini.


Hanya saja, siapapun belum ada yang pernah melihat bagaimana wajah asli anggotanya. Sebab saat mereka beraksi membagikan hasil, wajahnya selalu di tutup memakai topeng.


Kelompok ini terbalik, tidak seperti kelompok lainnya. Saat mereka mencuri barang atau uang orang, mereka tidak memakai topeng. Sebaliknya, kalau mereka sedang membagikan hasil rampokan kepada rakyat miskin, kelompok ini justru memakai sebuah topeng untuk menutupi wajahnya.


Karena alasan itulah mereka dijuluki Tujuh Perampok Berhati Emas.


Shin Shui ikut tertawa. Dia tidak merasa marah ataupun dendam kepada mereka. Justru kedatangannya ke sini untuk bicara.


"Paman Jiu, apa tujuan kalian merampok?" tanya Shin Shui.


"Tidak ada. Kami merampok hanya karena ingin membantu sesama yang membutuhkan. Namun karena kami sendiri miskin, maka kami terpaksa merampok,"


"Siapa yang biasa kalian rampok?"


"Orang kaya yang pelit. Para pejabat yang korupsi, uangnya kami ambil, lalu kami bagikan kembali ke rakyat miskin," jawab seorang yang dari tadi diam.


Shin Shui mengangguk-anggukkan kepalanya. Informasi yang disebutkan dalam buku catatan, ternyata terbukti. Dia pernah membaca bahwa di Kota Sokhia ini ada kelompok yang bernama Tujuh Perampok Berhati Emas.


Pekerjaan mereka adalah merampok lalu membagikan hasil rampokannya.


Dan ternyata, Informasi itu benar.


"Lalu, kenapa kalian merampok diriku? Apakah aku terlihat sebagai pejabat bejad dan orang kaya pelit?" tanya Shin Shui.


"Ah, anu … anu," Jiu Reen tidak bisa menjawab pertanyaan Shin Shui. Bahkan bicaranya tidak bisa dia lanjutkan karena saking bingungnya.


"Saudara Li Feng, sebenarnya apa tujuanmu kemari?" tanya Jiu Reen menggantikan topik pembicaraan.


"Tidak ada. Aku kemari hanya ingin bicara dengan kalian,"


"Kau tidak mempermasalahkan uang yang aku curi?"


"Justru aku akan memberikannya lebih," jawab Shin Shui mantap.


Semua orang tak percaya. Mereka saling pandang satu sama lain. Ada ekspresi gembira di wajah mereka, namun tak lama, kegembiraan itu berubah menjadi muram.


"Ada apa? Apakah ada masalah?" tanya Shin Shui heran.

__ADS_1


"Tidak ada,"


"Aku tidak suka dibohongi," jawab Shin Shui.


"Sungguh ti- …"


"Katakan atau aku akan memaksa," tegas Shin Shui.


Ketujuh orang di hadapan Shin Shui kembali saling pandang. Sepertinya mereka sedang mempertimbangkan sesuatu.


Jiu Reen mengangguk, akhirnya dia memulai kembali bicaranya.


"Kami bukan menolak kenaikan saudara Li Feng, tapi kami tidak bisa menerimanya. Sebab rakyat miskin hanya akan kebagian jatah sedikit,"


"Memangnya kenapa? Apakah ada masalah?" Shin Shui semakin keheranan.


"Sekelompok orang telah memaksa kami untuk melakukan setoran setiap kali sudah beraksi,"


"Kenapa kalian mau? Dan kenapa kalian tidak menolaknya?"


"Kalau kami menolak, maka rakyat akan menjadi korban," jawan Jiu Reen.


Ekspresi Shin Shui berubah menjadi serius. Dia yakin ada suatu kejadian di balik ini semua.


"Hemm, siapa mereka?"


Shin Shui tersentak. Tuan Sung? Apakah mereka berasal dari Kekaisaran Sung? Kalau benar, maka kota ini berarti sudah di kuasai oleh mereka.


"Apakah mereka berasal dari Kekaisaran Sung?" tanya Shin Shui semakin serius.


"Mungkin, karena penampilan dan wajah mereka berbeda dengan kita,"


"Di mana aku bisa menemukan mereka?"


"Kami sendiri tidak tahu. Tapi biasanya mereka akan kemari tiga hari sekali. Dan sekarang adalah waktunya," ucap Jiu Reen.


Shin Shui ingin berkata lebih jauh, tapi sebelum itu, Jiu Reen telah menarik tangannya lalu di suruh untuk bersembunyi.


Pendekar Halilintar tidak melawan. Dia menurut begitu saja. Tapi tentunya tidak hanya berdiam diri. Dia mengawasi segala kemungkinan yang akan terjadi.


Tidak berapa lama setelah dia bersembunyi, lima belas orang tak dikenal tiba-tiba ada diluar markas Tubuh Perampok Berhati Emas.


Lima belas orang itu berpenampilan angker dengan pakaian serba hitam. Kekuatan sesat keluar dari seorang di antara mereka. Sepertinya orang tersebut merupakan pemimpinnya.


"Mana setoran kali ini?" bentak seorang yang selalu mengeluarkan kekuatan kegelapan tersebut.

__ADS_1


Jiu Reen yang diketahui sebagai pemimpin Tujuh Perampok Berhati Emas maju ke depan. Dia mengambil sesuatu dari cincin ruangnya.


Satu kotak emas sudah dipangku kedua tangannya. Dia berniat untuk menyerahkan kotak tersebut.


Namun sebelum terjadi, sebuah serangan jarak jauh berwarna biru terang melesat menyerang lima belas orang asing tersebut.


Bersamaan dengan itu, secara refleks Jiu Reen dan enam rekannya melompat mundur supaya tidak terkena sinar tersebut.


"Blarrr …"


Ledakan terdengar akibat benturan jurus hebat lainnya. Gelombang kejut segera menyapu dedaunan kering.


Saat situasi kembali normal, lima belas orang asing tersebut dikejutkan oleh satu sosok pendekar berpakaian serba hitam dan memakai topeng. Di punggung pendekar itu tersoren sebilah pedang bersarung hitam pula.


"Siapa kau?" tanya seorang di antara mereka.


"Siapa aku tidak penting, aku ingin bertanya. Apakah kalian orang-orang Tuan Sung?"


Tidak ada yang menjawab di antara mereka. Lima belas orang itu hanya diam saja.


"Kalau benar, kau mau apa?" tanya balik si pemimpin dengan nada tidak senang.


Shin Shui sangat senang mendengar jawaban itu. Walaupun singkat, tapi baginya sangat berarti. Itu saja sudah lebih dari cukup.


Dia pernah mengatakan bahwa siapapun yang berani mengganggu ketentraman Kekaisaran Wei, maka bakal berurusan dengannya. Dan sekarang mendengar jawaban tersebut, sifat tanggungjawab sebagai seorang pemimpinnya meronta.


"Bagus. Kalai begitu, kalian harus mampus …"


Belum selesai perkataannya, tubuhnya sudah berputar cepat membentuk sebuah pusaran. Hanya dalam sekejap mata, seluruh pakaiannya telah berubah warna menjadi biru terang.


Siapapun tahu siapa gerangan yang selalu memakai pakaian seperti itu.


Siapa lagi kalau bukan Pendekar Halilintar yang namanya sudah terkenal ke seluruh penjuru?


Tujuh Perampok Berhati Emas sangat terkejut menyaksikan siapa sosok Li Feng tadi. Dan lima belas orang yang mengaku anah buah Tuan Sung, lebih terkejut lagi.


Mereka tidak menyangka akan bertemu dengan Pendekar Halilintar.


Ingin berlari, rasanya tidak mungkin. Melawan sekuat tenaga supaya meraih kemenangan, rasanya juga mustahil.


Shin Shui sudah melancarkan serangan pertamanya. Sebuah sinar biru muda melesat secepat kilat ke arah lima belas orang tersebut.


Berbarengan dengan itu, tubuhnya juga ikut meluncur dengan sebatang pedang yang sudah tergenggam erat di tangan kanannya.


Pedang Halilintar.

__ADS_1


Pedang pusaka terkuat itu langsung menebarkan ancaman maut kepada lima belas lawan tuannya.


__ADS_2