Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bermain Pedang Untuk Yang Pertama Kali


__ADS_3

Li Feng hanya melirik mayat pelayan tersebut. Dia bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Saat Li Cun berniat untuk memegang, Li Feng kembali menarik tangannya.


"Jangan bertindak gegabah. Mayat itu seluruh tubuhnya mengandung racun. Sekali kau memegangnya, maka tubuhmu langsung mengejang," jelas Li Feng.


"Aishh, kenapa ada masalah serumit ini. Siapa yang melakukannya? Apakah mereka tahu siapa kita?" tanya Li Cun penasaran.


"Tidak, mereka tidak tahu siapa kita sebenarnya. Tapi mereka tahu apa yang sudah kita lakukan," kata Li Feng.


Li Cun langsung terdiam. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi. Andai kata tidak ada 'kakak' di sisinya. Kemungkinan besar dia sudah mati dua kali dari tadi.


Tak lama, benar saja. Mayat pelayan tadi langsung membusuk dan mencair. Bahkan mayat itu mengeluarkan bau busuk yang menyengat hidung.


Keduanya pun segera menutup indera pencium mereka.


"Kalian sudah ketahuan, jadi untuk apa masih bersembunyi di balik topeng?"


Suara Li Feng menggelegar bagaikan guntur di siang hari. Matanya segera menyapu ke semua sudut ruangan restoran.


Orang-orang yang tadi sedang makan dan berpura-pura sebagai pengunjung, satu per satu mereka mulai berdiri. Lalu, mereka segera melepaskan topeng kulit yang sedang dipakainya.


Li Cun terperanjat. Tak disangkanya bahwa semua orang yang ada di restoran tersebut merupakan orang-orang jahat. Bahkan dari wajah mereka saja sudah terlihat bahwa semuanya merupakan pendekar.


Dua puluhan orang segera mengurung Li Feng dan Li Cun. Tiga orang lagi segera keluar dari ruangan lain.


Sekarang, di restoran tersebut ada dua puluh tiga pendekar bertampang bengis dan menyeramkan. Dalam sekejap mata, keadaan di restoran itu berubah menjadi tegang. Hawa pembunuh segera menyeruak ke seluruh ruangan.


"Hahaha, hebat, hebat," kata salah seorang yang keluar dari ruangan lain. Di lihat dari penampilan dan kelakuannya, sepertinya orang inilah yang menjadi pemimpin. Jumlah orang yang ada di sana bertambah menjadi dua puluh empat.


"Hemm …" Li Feng hanya mendengus dingin sambil memandangi semua pendekar tersebut.


"Ternyata di sini banyak sekali kawanan iblis tak tahu diri," kata Li Cun dengan marah.


"Hahaha, bocah, mulutmu lancang sekali. Sepertinya kau ingin aku robek," ucap salah seorang.


Li Cun tidak segera menjawab. Dia celingukan ke sana kemari. Setelah beberapa saat, dia pun segera angkat bicara.


"Maaf, apakah tuan bicara denganku?" ejek Li Cun.

__ADS_1


"Keparat. Aku akan benar-benar merobek mulutmu nanti," geram orang tadi.


Li Cun hanya menanggapi ucapan tersebut dengan tawa penuh ejekan.


"Sebenarnya apa yang kalian inginkan," tanya Li Feng dengan suara yang dingin menyeramkan.


"Nyawa kalian berdua,"


"Hemm, kalian sudah yakin?"


"Kalau sendiri, aku pun tidak yakin. Tapi kalau semua orang maju serempak, aku yakin seyakin-yakinnya," kata pendekar yant diduga pimpinan mereka.


"Bagus. Aku senang mendengarnya. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu siapa yang menyuruh kalian untuk mengambil nyawaku," ujar Li Feng.


"Untuk itu kau tidak perlu tahu. Yang jelas, hari ini kami akan mengambil jantungmu," ucap si pemimpin rombongan dengan sombong.


"Baik. Aku ingin melihat apakah ucapanmu biss dipercaya atau tidak," jawab Li Feng.


Dia memperhatikan para pendekar yang ada di sana. Dua puluh sudah mencapai level Pendekar Bumi tahap lima. Sedangkan yang tiga, mencapai level Pendekar Surgawi tahap tujuh akhir. Terkahir si pemimpin, sudah mencapai level Pendekar Dewa tahap lima pertengahan.


Saat penyamaran seperti ini, dia hanya bisa menggunakan kekuatannya hingga ke Pendekar Dewa tahap enam pertengahan. Selain itu, jurus utamanya tidak mungkin dikeluarkan. Sebab itu akan membongkar siapa dia sebenarnya.


Tapi itu semua bukanlah masalah. Karena Li Feng tetaplah Li Feng. Li Feng bukan orang lain.


Setelah berkata demikian, dia langsung menggebrak meja yang ada di sisinya. Sekali gebrak, semua yang ada di meja melayang di udara. Tangannya mengibas satu kali, serentak semua benda melesat ke depan meluncur ke arah lawan.


"Wushh …"


Benda itu melesat seperti anak panah lepas dari busur. Tapi dengan mudah, semua musuhnya bisa menangkis benda tersebut.


Setelah itu, tubuh Li Feng dan Li Cun melayang mundur. Keduanya menembus jendela kaca. Mereka segera menanti di sebuah halaman cukup luas.


Tak lama dua puluh empat pendekar itu pun sudah mengelilingi keduanya. Senjata mereka sudah tercabut. Hawa kematian mulai terasa kental memenuhi arena sekitar.


"Kakak, aku pinjam sebatang pedang yang bisa diandalkan," kata Li Cun.


Li Feng tertegun sejenak, tapi selanjutnya dia segera mengangguk. Dari Cincin Ruang miliknya, Li Feng segera melemparkan sebatang pedang untuk 'adiknya'.

__ADS_1


Pedang berwarna biru sudah tergenggam di tangan Li Cun. Walaupun bukan terbilang pusaka kelas satu, tapi pedang itu bisa disebut pusaka kelas atas.


"Itu Pedang Awan. Siapa yang akan kau lawan?"


"Dua puluh orang itu" jawab Li Cun dengan mantap.


"Kau yakin?"


"Kita lihat saja nanti,"


Selesai berkata, Li Cun segera mencabut pedang. Sinar biru sekilas terpancar dari batang pedang.


Ini adalah pertama kalinya Li Cun memainkan pedang dalam pertarungan. Tapi dengan kecerdasan rata-rata yang dia miliki, bocah itu tidak ragu. Bahkan keyakinannya tidak akan tergoyahkan.


Seperti diceritakan sebelumnya bahwa Li Cun pernah membaca beberapa kitab pusaka milik 'kakaknya'. Walaupun sekilas, dia sudah menghapal banyak jurus. Dan saat ini, dia akan mencobanya.


"Hehe, sepertinya kalian sudah tidak sabar ya? Baiklah. Mari kita mulai sekarang juga. Kalian para tikus, lawan kalian adalah aku," kata Li Cun.


Serempak dua puluh orang tersebut merasa telinganya panas. Mereka segera mengurung Li Cun dari segala sisi. Tak ada celah kosong sama sekali.


Sebelum dia bertindak, Li Feng terlebih dahulu menempelkan telapak tangannya di punggung Li Cun. Bocah itu merasa ada getaran dahsyat merasuki seluruh badannya. Dalam sekejap, dia merasakan tubuhnya jauh lebih segar dan bertenaga.


Diam-diam Li Feng memang 'meminjamkan' kekuatannya kepada Li Cun. Untuk sementara waktu, bocah itu kekuatannya akan setara dengan Lendekar Surgawi tahap enam akhir.


"Mari kita berpesta," kata Li Cun tertawa riang.


Tubuhnya segera melesat ke depan secara cepat sekali. Pedang Awan sudah siap menunjukkan kemampuannya. Li Cun pun siap untuk memperlihatkan kehebatannya dalam bermain pedang.


Ternyata dia bisa dibilang lain daripada yang lain. Sebab dalam bermain pedang, Li Cun memakai tangan kiri.


Tepat, dia kidal.


Begitu tiba di hadapan puluhan musuh tersebut, pedangnya segera menyapu dengan ganas. Sebuah tenaga dahsyat segera menerjang, tapi walaupun begitu, semua musuhnya ternyata masih mampu menghindar walaupun beberapa ada yang terkena sabetan anginnya.


Li Cun tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melancarkan kembali sabetan yang lebih dahsyat. Sebuah sinar kuning keluar dari pedangnya.


Dua puluh orang itu terkejut, mereka tidak menyangka bahwa ada anak kecil berkekuatan seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2