Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mencari Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa


__ADS_3

Tanpa berani membantah sedikitpun, San Ong segera memijiti Tuan mudanya.


"Ong San, tuangkan arak dan daging segar ini ke mulutku," ucap Chen Li sambil memberikan satu guci arak.


Ong San pun sama seperti saudaranya. Dia lantas mengambil tugas itu tanpa banyak bicara.


"Nah dan kau Phoenix Raja, carikan aku buah-buahan segar yang ada di hutan ini,"


"Ke mana aku harus mencarinya?" tanya Phoenix Raja langsung menyahut.


"Terserah. Yang jelas, carikan aku buah-buahan segar sekarang juga," tegas pemuda serba putih itu.


"Baik. Aku akan mencarikannya,"


Wushh!!!


Phoenix Raja langsung pergi dari sana. Hanya sesaat tubuhnya sudah menghilang dari pandangan.


Beberapa belas menit kemudian, burung istimewa itu telah kembali dengan beberapa tangkai buah-buahan segar.


"Kalau aku bilang suapi, segeralah suapi buah-buahan segar ini,"


"Aku mengert,"


Tiga siluman itu akhirnya sudah mendapatkan tugas masing-masing untuk menjalankan setiap perintah majikan mereka. Mereka menjadi pelayan.


Chen Li tidak berbeda jauh seperti seorang Raja yang sedang dilayani oleh para selirnya dengan penuh kasih sayang dan rasa segan.


Ketiga siluman itu terus melakukan setiap perintah Chen Li tanpa membantah.


"Arak …"


Arak segera di tuangkan ke mulutnya.


"Daging segar,"


"Pijit betisku,"


"Buah-buahan segar,"


Pemuda itu terus berkata demikian. Setiap kata yang dia lontarkan, pasti bakal segera dijalankan. Kalau minta arak, maka arak akan segera masuk ke mulutnya. Minta buah-buahan, maka buah-buahan pun bakal langsung datang. Begitu juga dengan pijitan, kalau minta di pijit di bagian ini, maka bagian itu bakal langsung dipijit.


Setelah beberapa saat kemudian, Chen Li mulai merasa kasihan kepada tiga silumannua. Dia memutuskan untuk segera menyudahi sandiwara ini.


"Sudah, sudah. Terimakasih," katanya dengan suara hangat dan penuh rasa persahabatan.


Tiga siluman tersebut saling pandang. Mereka kebingungan. Sampai sekarang, ketiganya tidak mengetahui kalau tuan mudanya sedang mengerjai mereka.

__ADS_1


Tapi di sisi lain, saat mendengar suara yang mulai hangat dan wajah yang mulai bersahabat, ketiga siluman tersebut merasa girang.


Akhirnya tuan muda mereka sudah tidak marah lagi.


"Tuan muda, apa hukuman yang bakal kau jatuhkan?" tanya Ong San masih sedikit segan.


"Kalian sudah menjalankannya,"


Ketiganya semakin kebingungan.


"Sudah dijalankan?" tanya Phoenix Raja menegaskan.


"Benar,"


"Kapan?"


"Saat tadi kalian melayani aku," jawab Chen Li lalu segera tertawa.


"Tuan muda …" seru tiga siluman itu kesal karena telah dipermainkan.


"Hahaha, maa, maafkan aku. Sebenarnya aku tidak marah kepada kalian, selama tadi aku hanya berpura-pura marah saja," ucapnya lalu kembali tertawa.


Baik Ong San, San Ong maupun Phoenix Raja, ketiganya tidak ada yang menjawab. Mereka malah memalingjan wajahnya ke arah lain.


Chen Li terus tertawa tanpa berhenti. Pemuda itu merasa sangat geli karena pada akhirnya berhasil menjahili ketiga siluman peliharaannya.


###


Bayangan awan berarak begitu menawan. Pantulan air seperti bermandikan cahaya menimbulkan bintik-bintik mirip berlian.


San Ong dan Ong San telah kembali ke Kantong Siluman beberapa saat yang lalu. Sekarang Chen Li sedang menikmati ayam hutan bakar bersama Phoenix Raja. Keduanya begitu menikmati ayam bakar tersebut, meskipun hanya bumbu seadanya, tapi rasanya sangat enak. Tidak kalah dari restoran besar di kota terkenal.


"Tuan muda, ke mana kita akan pergi?"


"Mencari Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa, pemimpin dari Tiga Pedang Tanpa Tanding," jawab Chen Li.


"Apakah Tuan muda sudah tahu di mana mereka berada?"


"Jangankan tahu, bahkan mendengar namanya saja baru kali ini,"


Phoenix Raja menganggukkan kepalanya seperti burung kakak tua. Dia tidak menjawab ucapan tuan mudanya.


"Aku ingin meminta bantuanmu," ucap Chen Li setelah terdiam beberapa saat.


"Silahkan katakan Tuan muda,"


"Carikan aku informasi tentang orang itu. Jangan lupa juga dengan dua orang lainnya," perinta Chen Li.

__ADS_1


"Baik, aku akan segera mencarikan informasi mereka,"


"Kapan Tuan muda ingin aku pergi?"


"Lebih cepat lebih baik,"


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang juga,"


Chen Li hanya mengangguk tanpa menjawab. Sedangkan Phoenix Raja langsung melesat pergi mencari informasi tentang Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa.


Wushh!!!


Bayangan merah melesat secepat kilat ke depan sana. Chen Li hanya memandanginya sambil tersenyum puas. Dia merasa sangat puas atas apa yang dilakukan oleh Phoenix Raja sejauh ini.


Selama ikut bersamanya, belum pernah burung siluman yang istimewa itu mengecewakannya. Dia selalu bisa memuaskan tuan mudanya.


Saat hari sudah terang tanah, pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu pergi dari sana. Namun masalah pergi ke mana, dia sendiri tahu. Karena pada dasarnya Chen Li sudah tidak mempunyai urusan lain lagi kecuali hanya menunggu kedatangan Phoenix Raja yang akan membawa informasi nanti.


Wushh!!!


Bayangan manusia meluncur deras bagaikan pisau yang dilemparkan dengan sangat cepat.


Sekarang di danau itu tiada siapapun kecuali hanya riak air danau dan bunyi pepohonan yang terkena hembusan angin.


###


Chen Li sudah tiba di Kotaraja kembali. Saat ini dia sedang berjalanan di antara kerumunan orang-orang yang berlalu lalang.


Meskipun benar di sini Kotaraja, ternyata tak sedikit juga para pengemis yang dia jumpai. Bahkan sekarang jauh lebih banyak dari pada sebelumnya. Entah kenapa, karena seingatnya, beberapa hari lalu tidak banyak pengemis seperti sekarang ini.


Apa yang sedang terjadi?


Terlepas apapun itu. Pendekar Tanpa Perasaan tidak terlalu memikirkannya. Dia terus berjalan ke depan tanpa berhenti. Namun yang membuatnya aneh, para pengemis itu selalu memandangi wajahnya tanpa berhenti.


Karena merasa risih, tanpa berpikir panjang lagi Chen Li segera memberikan kepingan emas dan perak kepada pengemis yang dia jumpai. Setiap bertemu dengan pengemis, pasti dia bakal memberikan sumbangannya.


Pemuda itu tidak berpikir apapun. Apalagi berprasangka buruk. Menurutnya, alasan para pengemis itu selalu memandangi dirinya mungkin karena mereka ingin meminta sumbangan tapi tidak berani bicara.


Setelah para pengemis mendapatkan jatah yang sama, dia segera melanjutkan perjalanannya kembali.


"Hei, apakah bocah itu yang sedang kita cari?" tanya seorang pengemis pria berumur sekitar lima puluh tahun. Wajahnya sangat dekil, seperti juga tubuh dan pakaiannya. Postur tubuhnya kurus kering. Persis seperti sebatang tongkat bambu.


"Sepertinya memang dia orangnya. Bukankah ciri-cirinya sama seperti yang digambarkan oleh ketua?" jawab pengemis yang ada di sisinya.


"Kau benar, semua ciri-cirinya sama," kata si pengemis tua tadi.


Setelah begitu, dia lantas membuka selembar kulit menjangan. Besarnya kira-kira hanya empat jengkal saja. Di lihat sekilas, orang lain mungkin bakal mengira bahwa itu adalah peta. Padahal sebenarnya bukan peta. Melainkan sebuah lukisan.

__ADS_1


Lukisan seorang pemuda berpakaian putih dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya.


Chen Li. Gambar lukisan yang dimaksud memang dirinya.


__ADS_2