Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar XI


__ADS_3

"Manusia laknat. Lawanmu adalah aku!!!" teriak seseorang yang tiba-tiba saja seperti muncul dari atas langit gelap.


Satu sosok telah nampak. Sosok itu kemudian melancarkan serangan dahsyat kepada istri dari Pendekar Halilintar. Telapak tangan kirinya di hentakkan ke depan sehingga mengeluarkan segulung angin dahsyat.


Wushh!!!


Angin itu membawa serta kekuatan hebat dan hawa panas yang menyeruak. Jika Yun Mei tidak mengeluarkan kekuatan aslinya, mungkin dia akan berusaha untuk menghindari mencari selamat.


Tapi keadaan sekarang berbeda. Wanita tangguh itu sudah mengerahkan segenap kekuatan yang dia miliki. Hal itu membuatnya tidak perlu menghindari serangan tersebut.


Dengan gagah berani, Yun Mei menyongsong datangnya serangan lawan. Semua pedang yang selalu berputar mengelilingi tubuhnya menyambut. Pedang itu melesat cepat membawa kekuatan yang tidak kalah dahsyat.


Blarr!!! Gelegar!!!


Keduanya terdorong beberapa langkah ke belakang. Masing-masing dari mereka merasakan tubuhnya sedikit bergetar.


Yang paling parah adalah pihak musuh. Orang itu tidak menyangka bahwa wanita yang sedang dia hadapi saat ini ternyata mempunyai kekuatan hebat.


Sebagai tokoh tua yang sudah kenyang akan pengalaman bertarung, dia langsung dapat membaca bahwa wanita yang menjadi lawannya itu mempunyai kekuatan yang mengerikan.


Melihat kenyataan yang bertolak belakang dengan dugaannya tersebut, tokoh tua itu merasa sedikit gentar.


Sebagai tokoh angkatan tua, dirinya tidak perlu lama untuk mengukur sampai di mana kekuatan musuhnya. Hanya dengan satu kali benturan saja, dia dapat membaca semuanya.


Pada saat dirinya sedang melamun dan memikirkan langkah selanjutnya, dengan cepat Yun Mei telah mengirimkan serangan lainnya.


Tiga batang pedang datang dengan kecepatan tinggi. Masing-masing dari pedang tersebut mengeluarkan aura yang berbeda. Pedang itu juga mengeluarkan serangan yang berbeda pula.


Tokoh tua yang menjadi lawannya tersentak. Dia belum pernah melihat pedang energi sehebat ini. Dia melompat beberapa kali ke belakang untuk menghindari serangan musuh.


Sayangnya usaha tersebut sia-sia. Sebab tiga batang pedang yang Yun Mei lancarkan terus mengejarnya tanpa berhenti.

__ADS_1


Blarr!!!


Dia terlempar cukup jauh ke belakang. Padahal pertarungan baru berjalan sebanyak belasan jurus, tapi kenyataannya sungguh tidak pernah disangka.


Hanya dalam waktu sekejap mata, dia telah berhasil dilukai oleh musuhnya yang merupakan seorang wanita.


Darah segar terlihat meleleh dari sudut bibirnya. Dia bangkit perlahan lalu mengusut darah yang keluar tersebut.


Tokoh tua itu berteriak keras. Segulung kekuatan kegelapan segera menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia ingin menyerang Yun Mei dengan jurus pamungkasnya.


Tapi lagi-lagi si tokoh tua harus mau menerima kenyataan pahit.


Belum sempat tubuhnya bergerak melancarkan serangan, segulung jurus yang lebih dahsyat telah lebih dahulu menerjang ke arahnya.


Lima batang pedang energi terbang dengan cepat. Pemiliknya sendiri turut serta dalam serangan hebat itu. Yun Mei masih menggunakan jurus yang sama seperti sebelumnya.


Dia masih tampak menari. Wanita itu masih terlihat gemulai.


Srett!!! Srett!!!


Seluruh tubuhnya koyak. Di setiap bagian tubuh yang menjadi sasaran empuk, terdapat sebuah sayatan pedang yang panjang dan cukup dalam.


Darah kehitaman terus keluar dari semua luka-luka tersebut. Tokoh tua itu tewas tanpa sempat mengeluarkan suara sedikitpun.


Hanya dalam lima puluhan jurus, Yun Mei ternyata sanggup membunuh satu orang tokoh tua yang setara dengan Pendekar Dewa tahap empat.


###


Jarak Shin Shui sudah hampir mendekati anaknya. Dia telah membantai setiap pasukan musuh yang berusaha keras untuk menghalangi jalannya. Selama perjuangan untuk menuju ke dekat anaknya berada, Pendekar Halilintar itu sudah banyak sekali membunuh nyawa manusia.


Perang semakin menjadi. Korban semakin banyak dan akan terus bertambah banyak. Kondisi dua belah pihak yang melangsungkan peperangan sama-sama mengalami kerugian hebat.

__ADS_1


Pihak Kekaisaran Wei mengalami kerugian karena puluhan tokoh kelas atas yang mereka miliki telah tewas di ujung senjata ataupun jurus lawan.


Sepuluh tokoh terkuat di Kekaisaran Wei sudah mengalami berbagai macam luka di tubuhnya masing-masing. Meskipun memang tokoh terkuat dari pihak musuh juga mengalami hal yang sama, namun kondisi ini tetap merugikan pihak Kekaisaran Wei.


Jika sepuluh tokoh terkuat sudah terluka dan kelelahan, maka yang lainnya harus berjuang lebih keras lagi. Ribuan tabib yang ditugaskan untuk melayani segala macam kebutuhan para pasukan dan pendekar berjuang semaksimal mungkin.


Mereka ingin melayani orang-orang yang sedang berjuang demi tanah airnya. Mereka ingin membantu para pahlawan itu dengan segenap kemampuan dan kekuatan yang dimiliki.


Meskipun keringat sudah membasahi seluruh tubuh, meskipun rasa lelah sudah mendera, tapi baik itu pahlawan ataupun lainnya, nereka harus tetap berjuang. Berjuang hingga titik terakhir. Berjuang hingga titik darah penghabisan.


Waktu berjalan dengan lambat. Malam hari telah tiba. Sebenarnya sekarang merupakan bulan purnama, sudah sepantasnya cahaya rembulan bersinar sangat terang.


Tapi sayangnya saat ini merupakan pengecualian. Cahaya rembulan tidak terang. Cahaya itu tampak redup. Cahaya rembulan tampak gelap seperti malam ini. Cahaya rembulan juga tampak kelabu seperti awan yang menggumpal.


Ribuan sinar yang berasal dari segala penjuru masih terlihat dengan jelas. Kekuatan dahsyat yang berasal dari para pendekar kelas atas masih terasa membelenggu setiap jiwa orang-orang yang ada di medan perang.


Sampai kapan perang ini akan berlangsung? Berapa banyak nyawa lagi yang akan menjadi korban dari perang kali ini? Apakah perang ini akan berakhir? Ataukah perang ini akan tiada akhir?


Enam tokoh kelas atas menghadang jalan Shin Shui. Pendekar Halilintar berhenti bergerak. Dia menatap tajam kepada enam orang tersebut. Begitu juga dengan pihak musuhnya.


Mereka menatap dengan penuh amarah dan benci yang mendalam. Enyah bwrsls banyak rekan mereka yang tewas di ujung pedang pendekar terkuat di Kekaisaran Wei itu. Sehingga sudah sepantasnya jika orang-orang tersebut menaruh dendam sedalam lautan.


Tujuh sosok berdiri berhadapan. Tidak ada yang bicara di antara mereka. Karena pada dasarnya, saat ini bukan waktu yang tepat untuk bicara. Saat ini adalah waktu di mana kekuatan yang akan bicara.


Enam tokoh kelas atas menyerang secara serempak. Mereka tidak main-main lagi. Enam orang itu tidak mau membuang waktu lebih lama. Karena itu, jurus pamungkas yang dimiliki masing-masing langsung dikeluarkan hingga ke titik paling tinggi.


Shin Shui tersenyum dingin. Dia turut melesat menyambut semua serangan lawan yang dahsyat itu. Hanya sesaat, pertarungan sengit langsung terjadi di antara mereka.


Pendekar Halilintar semakin menggenas. Jurus Tarian Ekor Naga Halilintar telah digantikan dengan jurus yang lebih dahsyat lagi.


Jurus Pedang Cahaya telah keluar.

__ADS_1


Saat jurus itu dikeluarkan, siapa yang dapat menahannya?


Semua serangan enam tokoh berhasil dipatahkan dengan mudah. Gerakan mereka langsung terbaca meskipun belum sepenuhnya bergerak.


__ADS_2