
Pendekar Halilintar lalu berjalan ke sebuah tempat yang menjadi rumah dua sahabatnya.
Tempat yang dimaksud oleh Shin Shui berupa goa. Goa yang menyimpan sejuta cerita baginya di saat sebelum menjadi seperti sekarang ini.
"Permisi, apakah ada orang?" teriak Shin Shui di mulut goa.
Dia menunggu beberapa saat barangkali ada sahutan dari dalam. Sayangnya, setelah tiga kali memanggil dengan kata yang sama, masih tidak ada suara sahutan.
Karena tidak ada jawaban terus, pada akhirnya dia memilih untuk langsung saja masuk ke dalam.
Isi dalam goa masih sama seperti dahulu kala. Tidak ada yang berubah. Kecuali hanya lumut yang tumbuh di setiap batu goa semakin menebal.
Di sana ada bekas tempat tidur. Ini menandakan tempat tersebut masih ditinggali oleh dua sahabatnya.
"Hemm, ke mana perginya mereka? Apakah aku harus mencarinya ke hutan? Ah, tidak usah. Lebih baik aku tidur dan menunggu mereka di sini," gumamnya sambil celingak-celinguk melihat bebatuan di sekelilingnya.
Shin Shui merebahkan tubuhnya di atas batu hitam. Kalau dia bilang akan tidur, maka Pendekar Halilintar pasti akan melakukannya.
Matanya mulai terpejam. Hanya beberapa saat saja, Shin Shui telah tidur dengan nyenyak. Baginya, tidur dalam goa membawa perasaan nyaman tersendiri. Apalagi kalau udara sedang dingin. Sudah pasti tidur pun akan bertambah nyenyak.
Setelah hampir satu jam tertidur, tiba-tiba telinganya yang tajam mendengar adanya suara langkah kaki. Jumlah langkah kaki itu terdiri dari dua suara berbeda.
Yang satu berat, yang satunya lagi ringan.
Walaupun Shin Shui belum melihat siapa yang datang, tetapi hatinya sudah yakin bahwa suara langkah kaki tersebut, merupakan suara langkah kedua sahabatnya.
Tak berapa lama setelah hatinya berkata demikian, mendadak dari luar pintu goa ada dua makhluk putih yang penuh dengan bulu di sekujur tubuhnya.
San-ong dan Ong-san.
Kedua siluman kera putih tersebut masih belum menyadari bahwa saat ini di kediaman mereka ada satu orang yang sedang berbaring sambil memandang langit-langit goa.
Dua siluman kakak beradik tersebut masuk semakin dalam. San Ong menyadari lebih dulu daripada saudaranya.
"Ong San, sepertinya ada orang di kediaman kita," ujar San Ong berbisik kepada saudaranya.
__ADS_1
"Hemm, kau benar. Aku juga merasakan ada energi lain. Tapi, sepertinya aku mengenal energi ini. Rasanya tidak asing lagi," timpal Ong San.
"Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama. Mari kita lihat ke dalam lagi,"
Ong San mengangguk. Dia bersama saudaranya, Ong San, kembali memasuki goa sambil dalam keadaan waspada.
Sementara itu, Shin Shui merasa bahwa goa mulai bergetar ketika dua sahabatnya datang. Namun Pendekar Halilintar masih tetap tidak bergerak. Dia tetap memandangi langit-langit goa.
"Aneh, kenapa goa tidak bergetar lagi? Apakah mereka tidak jadi masuk?" gumam Shin Shui keheranan karena keadaan kembali seperti semula.
Untungnya dia tidak bertindak gegabah. Pendekar Halilintar memejamkan matanya lalu berkonsentrasi. Dalam pandangan matanya yang terpejam, dia bisa merasa bahwa kepekaannya jauh lebih baik.
Ternyata kedua siluman kera kakak beradik tersebut tidak keluar. Justru mereka semakin masuk ke dalam dan jaraknya. sudah dekat.
"Hehe, akhrinya kalian datang juga. Aku sudah menunggu cukup lama di sini," ujar Shin Shui saat jarak antara dirinya dan dua siluman kera dekat.
San Ong dan Ong San terkejut. Keduanya merasa sangat mengenal suara ini.
Suara yang tidak asing lagi di telinga mereka.
Begitu melihat jelas siapa yang sedang berbaring di batu hitam tempat tidurnya, kedua siluman kera itu terkejut setengah mati.
"Tu-tuan … benarkah ini dirimu?" kata San Ong masih tidak percaya atas apa yang sedang terjadi saat ini.
"Hahaha, akhirnya kalian masih mengenal dan mengingatku juga. Tentu saja ini aku, Shin Shui, orang yang selama ini merindukan kalian," kata Pendekar Halilintar itu lalu melompat bangun dari tidurnya.
Kedua siluman kera semakin bahagia. Mereka tertawa khas kera lalu meraih tubuh Shin Shui dan membawanya keluar.
Setelah diluar goa, tubuh Shin Shui di lemparkan ke atas oleh San Ong dan Ong San secara bergantian. Ini adalah ekspresi kebahagiaan daripada siluman kera.
Shin Shui tertawa. Kedua siluman kera juga tertawa.
Mereka meneteskan air matanya karena saking bahagia dan tidak menyangka. Keharuan segera terasa di sana.
"Hahaha … akhirnya kau menemui kami juga, kami kira Tuan sudah lupa," kata Ong San sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Tentu saja. Kau tahu bahwa aku selalu merindukan kalian, bahkan aku sering melamun saat mengingat kalian berdua," ucap Shin Shui tidak kalah bahagianya.
Ketiga makhluk tersebut tertawa dan menangis bersama. Tawa bahagia. Tangisan bahagia.
Tiga sahabat yang sudah lama tak bertemu. Kini tanpa diduga bisa bertemu lagi, adakah yang lebih bahagia daripada ini?
Shin Shui mengambil guci arak dan daging sebanyak-banyaknya dari Cincin Ruang. Dia memang telah mempersiapkan semuanya sebelum kemari.
Makanan kesukaan dua sahabatnya telah siap. Arak pun sudah tersedia.
Mereka mulai berpesta. Meskipun sahabatnya merupakan siluman kera, tapi mereka bukan siluman kera biasa. Selain bisa bicara, San Ong dan Ong San juga doyan minum arak.
"Aku sudah merindukan daging ini. Semua arak lezat ini. Aku merindukan suasana seperti ini sudah sejak lama, dan akhirnya kini terwujud. Oh Dewa … terimakasih atas berkah yang telah kau berikan," kata San Ong lali tertawa menengadah ke langit kelam.
"Kau benar San Ong. Pada akhirnya kita bisa menikmati lagi suasana seperti belasan tahun lalu … hahaha …" Ong San tertawa juga.
Ketiganya benar-benar menikmati suasana saat ini.
Kalau tiga sahabat sejati sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba dapat berkumpul, rasanya tidak ada lagi yang dapat memisahkan mereka.
Walaupun dunia hancur, mungkin ketiganya akan tetap tenang dan menikmati pertemuan yang membahagiakan ini.
Mereka mulai bercerita mengenai pengalamannya masing-masing selama ini. Shin Shui menceritakan semuanya. Mulai dari siapa dia sekarang, istrinya siapa dan bahkan dia menceritakan juga anaknya, Chen Li.
"Kau sungguh beruntung Tuan Muda. Aku jadi ingin berkunjung ke Sekte Bukit Halilintar untuk bertemu dengan keluargamu. Terutama sekali anakmu, hemm, aku yakin dia tidak jauh berbeda denganmu," kata Ong San penuh semangat.
"Hahaha, tentu saja. Dia tampan sepertiku. Nanti kita pergi ke sana. Untuk sekarang, kita nikmati saja keadaan ini. Kita rayakan pertemuan kita," kata Shin Shui lalu menenggak guci arak.
"Tuan Muda benar. Tidak perduli apapun yang terjadi, kita harus merayakan pertemuan ini," ucap San Ong menyetujui perkataan Shin Shui.
Mereka berpesta kembali. Suara tawa yang gembira membahana di seluruh kawasan Gunung San-ong.
Sayangnya, di balik canda tawa tersebut, terdapat sebuah tawa yang mengandung duka.
Duka yang bahkan Shin Shui sendiri belum menyadarinya.
__ADS_1