
Semuanya terkejut. Mereka yang ada di ruangan itu merupakan pendekar kelas atas. Pendekar yang sudah mempunyai pengalaman dan kekuatan dahsyat.
Namun di hadapan Kakek Sakti Manusia Dewa, mereka tidak ada apa-apanya. Jangankan para tetua, termasuk Shin Shui sekalipun, tidak tahu ke mana perginya kakek tua tersebut.
"Dia memang sosok yang benar-benar luar biasa. Rasanya, guru pun belum tentu dapat mengalahkannya. Mungkin hanya kakek guru Kaisar Petir yang dapat mengimbangi kekuatan kakek tua itu," gumam Shin Shin mengagumi sosok Kakek Sakti Manusia Dewa.
Semua orang mengangguk setuju atas perkataan Shin Shui barusan. Bagi sebagian orang yang tidak tahu, mungkin perbandingan itu sangat berlebihan. Namun bagi mereka yang tahu, perbandingan Shin Shui sangat masuk akal.
Sangat logis.
Kalau Shin Shui saja sehebat seperti sekarang ini, sudah pasti gurunya jauh lebih hebat. Kalau gurunya sangat hebat, apalagi kakek gurunya, Kaisar Petir?
Walaupun tidak ada yang pernah bertemu langsung dengan Kaisar Petir, tapi mereka yakin bahwa pendekar legendaris tersebut, mempunyai kekuatan yang konon katanya hampir setara dengan para Dewa.
Saat semua orang masih terpaku dengan kejadian yang dilakukan oleh Kakek Sakti Manusia Dewa, tiba-tiba Yun Mei berkata bahwa dia bersama Chen Li ingin kembali lebih dulu ke kediaman mereka.
"Baiklah kalau begitu. Sebentar lagi aku akan menyusul kalian. Li'er, jangan manja kepada ibumu. Biarkan dia istirahat," kata Shin Shui kepada anaknya.
"Baik ayah. Li'er mengerti," jawab Chen Li lalu pergi melangkahkan kaki keluar sambil memegangi tangan ibunya.
Keduanya segera pergi untuk kembali ke kediaman mereka. Kini yang ada di sana, semuanya pria.
Mereka kembali berbincang-bincang terkait berbagai macam hal. Namun saat ini, obrolan mereka lebih menjurus ke hal serius dari pada bercanda.
"Kepala tetua, setelah ini, kau akan ke mana lagi?" tanya seorang tetua kepada Shin Shui.
Dia yakin bahwa Pendekar Halilintar tidak akan tinggal diam melihat semua kekacauan yang terjadi di negerinya. Karena alasan itulah, dia bertanya demikian kepada Shin Shui.
"Hemm, mungkin semingguan lagi aku akan mengembara untuk beberapa waktu sambil menunggu kedatangan Kakek Tua Jubah Hitam dan yang lainnya tiba di sini," kata Shin Shui memberitahu.
Seperti yang diceritakan sebelumnya, Shin Shui menyuruh Kakek Tua Jubah Hitam, Kepala Tetua Sekte Pedang Emas dan dua murid Pendekar Belalang Sembah serta yang lainnya untuk mencari berbagai macam informasi dalam waktu tiga bulan.
Untuk menunggu waktu itu tiba, dia tentu tidak mau hanya berdiam diri saja. Apalagi dengan keadaan seperti sekarang ini. Karena itulah Shin Shui memilih untuk pergi mengembara memberikan kontribusi kepada negara.
Selain itu, dia juga ingin mencari pelaku yang telah menyamar menjadi dirinya dan melakukan perbuatan buruk.
Nama baik harus dibersihkan.
Bagaimanapun caranya, nama baik harus kembali.
Sebab terkadang manusia melihat kita dari segala sisi. Tak jarang, masa lalu pun akan mereka ungkit.
__ADS_1
Ada kalanya, manusia lebih melihat masa lalu seseorang dari pada masa kini. Walaupun yang sekarang telah berubah menjadi baik, tapi jika dulunya buruk, maka keburukan itulah yang akan dipandang.
Hal ini bukan kepastian. Tapi kapan saja, bisa berubah menjadi sebuah kepastian. Suatu saat kau mungkin akan mengalaminya.
Rekam jejak sangatlah penting dalam hidup ini.
Karena itulah, Shin Shui ingin membersihkan dan mengangkat namanya kembali.
Walaupun belum fatal, tapi mencegah lebih baik daripada mengobati.
"Apakah kepala tetua juga sekalian ingin mencari siapa gerangan yang telah menyamar menjadi Anda?" tanya Ong Kwe Cin.
Walaupun Shin Shui tidak memberitahukan tujuan sebenarnya, tapi ternyata para Tetua Sekte Bukit Halilintar dapat mengetahuinya.
Mungkin karena mereka sudah lama bersama.
Atau mungkin juga karena mereka telah mengetahui sifat dan karakter masing-masing.
Seseorang yang selalu bersama, seiring berjalannya waktu, mereka pasti dapat saling memahami dan mengerti.
Shin Shui mengangguk. Baginya, tidak ada yang perlu ditutupi terhadap mereka semua. Toh Pendekar Halilintar itu sudah menganggap mereka semua keluarganya sendiri.
"Kau benar Tetua Ong. Aku memang sekalian berniat mencari orang itu. Bagaimanapun juga, nama baikku harus aku kembalikan," tegas Shin Shui.
Walaupun bumi hancur dan langit runtuh, Shin Shui akan tetap berpegang Teguh kepada pendiriannya.
Dalam hidup, memegang teguh pendirian atas sesuatu yang kau yakini memang sangatlah penting.
Penting sekali.
Karena kau manusia. Bukan sebatang bambu di sungai yang tidak punya pendirian. Lihat, dia mengikuti kemana pun air sungai mengalir. Dia tidak mempunyai pendirian.
Kau mau disebut seperti bambu di sungai? Silahkan, berarti kau jangan mempunyai pendirian.
Tapi kalau kau ingin disebut manusia, maka kau harus mempunyai pendirian.
Selama menurutmu itu benar, jalankan saja. Bahkan walau salah sekalipun, tidak ada masalah.
Karena setiap manusia berhak untuk memilih.
Setiap manusia berhak untuk menentukan jalan hidupnya.
__ADS_1
Manusia diberi kebebasan. Karena kebebasan, adalah kodrat seorang manusia.
Para tetua mengangguk mengerti. Mereka tidak lagi berani bicara kalau Shin Shui sudah menunjukkan sifat seperti itu.
Sementara itu, Chen Li sedang berjalan bersama ibunya sambil bercanda. Ibu dan anak yang sudah sama-sama saling merindukan.
Keduanya tertawa sepanjang perjalanan menuju ke kediaman mereka. Terkadang kalau dalam keadaan seperti ini, Chen Li masih suka manja kepada kedua orang tuanya, tapi dengan catatan wajar.
Karena bagaimanapun, dia itu anak pria. Seorang pria tidak boleh manja. Pria harus gagah. Berani. Berani menantang dunia yang penuh dengan gemerlap warna.
Saat sedang bercanda itu, tiba-tiba Chen Li dan Yun Mei berhenti melangkah.
Mereka memandang pohon sakura tempat biasa keduanya berteduh atau menenangkan diri. Ternyata di sana ada seseorang.
Sinar merah berkelebat membelah malam ke sana kemari. Desingan angin terdengar lirih.
Yun Mei tidak dapat memastikan siapakah orang itu sebab keadaan di sana cukup gelap.
Namun tidak bagi si bocah kecil Chen Li.
Dia tahu siapa orang yang ada di sana.
Kalau bukan Eng Kiam, memangnya siapa lagi?
Chen Li melihat bahwa temannya itu sedang berlatih ilmu pedang yang didapat dari ayahnya sebelum dia berangkat menjemput Yun Mei.
"Ibu, aku duluan …" kata Chen Li.
Belum selesai ucapannya, tubuh bocah itu telah meluncur deras layaknya anak panah lepas dari tali busur.
Arah tujuannya ke Eng Kiam. Tangan kanannya langsung melancarkan sebuah serangan jarak jauh.
Sinar putih terang melesat menyasar ke punggung gadis cilik itu.
Tetapi Eng Kiam bukan seorang gadis cilik sembarangan. Dia cucu dari Kakek Tua Jubah Hitam. Seorang tokoh tua yang sudah mempunyai nama di daerah Selatan.
Selain itu, dia juga sedang mempelajari kitab ilmu pedang pemberian Shin Shui.
Tubuhnya segera bereaksi. Dia merasakan adanya bahaya di belakang.
Secepat mungkin dia membalik tubuh lalu menebas sinar putih tersebut memakai pedang pusakanya.
__ADS_1
"Blarrr …"
Ledakan cukup keras terdengar.