Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pil Lingkaran Dewa dan Pil Penghancur Tulang Sumsum


__ADS_3

Tengah malam telah tiba …


Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding telah berdiri di depan kediaman Chen Li. Pakaian serba putihnya berkibar tertiup angin barat bersama harum bunga sakura.


Dia sedang menunggu anak dari saudara angkatnya untuk menuju ke hutan Bukit Awan.


"Bu, aku mau minta izin untuk keluar ya. Paman Huang mengajakku ke hutan Bukit Awan," kata Chen Li meminta izin kepada Yun Mei.


"Kau tidak berbohong bukan?"


"Aii, mana berani aku berbohong Ibu. Kalau tidak percaya, ayo kita keluar," kata Chen Li lalu menarik tangan ibunya keluar.


Benar saja. Yun Mei menyaksikan Huan Taiji Lu sedang berdiri melipat kedua tangannya di dada.


"Selamat malam Adik Mei," sapanya sambil tersenyum ramah.


"Selamat malam Kakak Huang. Kata Li'er kau mengajaknya ke hutan Bukit Awan, benarkah itu?"


"Tepat, benar sekali Adik Mei. Aku harap kau memberikan izin,"


"Kalau bersamamu, tentu saja aku mengizinkannya. Aku takut Li'er sedang belajar berbohong saja,"


"Hahaha, kau tenang saja. Kalau Li'er berbohong, bilang padaku. Biar aku sentil sampai dia demam," ujarnya sambil tertawa.


"Kakak Huang ini, baiklah kalau kalian sudah ada janji. Aku titipkan Li'er padamu," ucap Yun Mei sambil melirik anaknya.


"Baik, aku pasti akan menjaganya,"


Setelah berpamitan, tanpa berlama-lama lagi, keduanya langsung pergi menuju ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya.


Hanya beberapa saat saja, mereka berdua telah tiba di hutan Bukit Awan.


Huang Taiji Lu memilih tempat yang agak sempit. Lebih tepatnya di pinggir sebuah air terjun. Di sana terdapat banyak batu hitam berukuran cukup besar.

__ADS_1


Suara lolongan serigala terdengar di kejauhan sana. Suara riak air mengalir terdengar sangat syahdu. Keduanya duduk di atas batu hitam. Untuk sesaat, Chen Li dan Huang Taiji Lu menikmati suasana alam yang ada.


Rembulan bersinar terang. Bintang gemerlap bertaburan di angkasa raya. Suasana seperti ini memang sangat cocok sekali untuk berlatih karena udara terasa segar, pikiran akam lebih rileks sehingga bisa lebih cepat menyatu dengan keadaan.


"Li'er, kau makan dua pil ini. Ini namanya Pil Lingkaran Dewa. Gunanya untuk menambah lingkaran tenaga dalam di dantianmu. Jangan salah, ini adalah pil yang sudah sangat langka. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai pil seperti ini, salah satunya adalah Paman dan Ayahmu sendiri. Orang-orang banyak mencari pil ini karena jika kita menelannya satu saja, kita akan mendapatkan tenaga dalam seperti latihan dua puluh tahun. Sekalipun tidak bisa membantu untuk menembus tingkatan pelatihan, namun setidaknya tenaga dalam yang dimiliki akan semakin pesat. Dan pil yang ini namanya Pil Penghancur Tulang Sumsum, gunanya untuk membersihkan tulang sekaligus mengeraskannya. Selain itu supaya tulangmu keras seperti baja. Ditambah lagi semua kotoran yang ada di dalam tulangmu akan dibersihkan. Setelah semua selesai, kau langsung berbalik lalu duduk bersila. Paman akan menyalurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit yang kau rasakan," kata Pendekar Pedang Tombak sambil memberikan dua macam pil.


Chen Li menerima kedua pil tersebut. Tanpa ragu lagi, dia segera menelannya lalu mencoba menyalurkan semua kandungan yang ada ke seluruh bagian tubuh.


Hanya sesaat saja, bocah istimewa itu merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Hawa panas seperti di bakar di atas tungku langsung menjalar. Rasa sakit yang teramat sangat menusuk tulang, membuatnya merintih sampai mengeluarkan keringat dingin.


Semakin kandungan dalam dua pil ajaib tersebut tersalurkan, semakin sakit juga rasa yang mendera tubuhnya. Mungkin lebih sakit daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.


Chen Li segera membelakangi Huang Taiji Lu. Dia duduk bersila dengan posisi tangan di taruh di atas lutut. Tubuhnya sedikit bergetar dan sesekali bibirnya merintih mengeluarkan rasa sakit yang tertahan.


Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding tidak mau membiarkan Chen Li merasakan sakit terlalu lama. Dia segera duduk bersila lalu mengeluarkan hawa murni dari balik kedua telapak tangannya.


Energi berwarna putih terlihat memasuki punggung si bocah. Semakin lama, energi tersebut terlihat semakin menebal.


Chen Li merasakan ada hawa hangat yang memasuki tubuhnya. Dia tidak melawan hawa itu, bocah tersebut justru membiarkan hawa hangat merayap ke seluruh bagian tubuh.


Huang Taiji belum berhenti. Dia masih terus menyalurkan hawa murni ke tubuh Chen Li.


Sekitar jarak satu jam kemudian, keduanya telah selesai. Proses peleburan pil telah mencapai tahap akhir. Sekarang tinggal mencoba hasilnya.


Chen Li disuruh untuk berdiri di hadapan sebuah batu yang sangat besar. Bahkan batu di sungai ini besarnya ada yang sampai seukuran rumah kecil.


"Li'er, coba kau hancurkan batu itu dengan tenaga dalam yang baru saja kau dapatkan," perintah Pendekar Pedang Tombak.


"Baik Paman,"


Chen Li menghimpun tenaga dalam. Dia juga memasang kuda-kuda kokoh.


Setelah semuanya siap, kedua tangannya di hentakkan ke depan sekaligus.

__ADS_1


"Blarrr …"


Batu besar tersebut hancur berkeping-keping. Serpihan batu menyebar ke seluruh penjuru.


"Luar biasa. Kau benar-benar sudah mendapatkan tenaga dalam hebat,"


"Paman terlalu memuji. Ini semua berkat Paman, Li'er sangat berterimakasih sekali. Budi ini tidak akan dilupakan sampai kapanpun,"


Orang tua itu menganggukkan kepalanya. Dia memandangi Chen Li dari atas sampai bawah. Tujuan utama sudah selesai dan berhasil seperti harapan, sekarang tinggal tujuan kedua.


"Nah sekarang kau serang Paman dengan seluruh kekuatanmu. Paman akan membuatmu berada dalam posisi terdesak supaya kau marah dan Mata Dewa milikmu keluar. Ingat, pikiranmu harus fokus dan memikirkan satu mata saja. Kau harus fokus kepada Mata Unsur Bumi. Ini gunanya supaya mata yang lain tidak keluar, kau mengerti?"


"Li'er mengerti Paman,"


"Bagus. Kita mulai sekarang juga,"


Chen Li langsung bersiap tanpa berkata lebih dulu. Pedang Awan yang merupakan salah satu pusaka kelas atas sudah dia genggam di tangan kiri.


Kalai pedangnya digenggam di tangan kiri, maka dia akan benar-benar menyerang dengan serius.


"Wushh …"


Cahaya putih dan biru melesat secepat kilat ke depan.


Pendekar Pedang Tombak merasa kaget sekaligus bangga. Kecepatan gerakan Chen Li benar-benar sangat meningkat tajam. Terlalu jauh jika dibandingkan dengan dahulu.


Bocah itu melancarkan tebasan dari jarak cukup jauh. Dua sinar biru meluncur. Tubuhnya turut serta di belakang sinar tersebut.


Pendekar Pedang Tombak mengibaskan kedua tangannya untuk membelokan dua sinar tadi. Hasilnya dua sinar itu membentur pohon dan batu hingga hancur.


Selang sesaat, benda dingin membawa angin tajam menerjang tubuhnya. Chen Li sudah menyerang dengan Pedang Awan. Lesatan pedang terlihat seperti cahaya yang terus mengejar.


Ke mana pun dia bergerak, cahaya itu selalu mengikutinya.

__ADS_1


"Wushh …"


Secara tiba-tiba Huang Taiji melancarkan serangan tapak jarak jauh yang cukup keras. Tubuh Chen Li terpental sepuluh langkah ke belakang. Dia jatuh bergulingan.


__ADS_2