Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perguruan Tapak Sakti


__ADS_3

Satu bayangan putih melesat cepat seperti anak panah yang diluncurkan dengan sekuat tenaga. Bayangan putih itu bukan lain adalah Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan.


Hanya sesaat saja pemuda itu sudah berada jauh dari tempat ramai tadi. Tujuan Chen Li sekarang tentunya ke Perguruan Tapak Sakti. Pendekar Tanpa Perasaan sengaja mempercepat langkahnya dengan harapan bahwa Xhiang Yu masih berada di sana.


"Semoga saja kita tidak terlambat tiba di sana," gumamnya sambil terus melesat cepat.


"Ya, semoga saja demikian," jawab Phoenix Raja yang selalu bertengger di pundaknya.


Saat ini dirinya sedang menempuh jalanan di sebuah hutan yang luas dan rimbun. Ketika tubuhnya sedang meluncur, tiba-tiba saja ada satu sosok tergeletak di tengah jalan.


Sosok yang tergeletak itu rasanya sudah dia kenal sebelumnya. Karena merasa demikian, akhirnya pemuda tersebut memutuskan untuk berhenti.


Setelah di lihat lebih jauh lagi, ternyata benar, dia kenal dengan sosok itu. Bahkan beberapa saat yang lalu dirinya telah bertemu dengannya.


Yun Jianying. Sosok yang menggeletak di tengah jalan iti memang gadis cantik tersebut.


Apa yang sudah terjadi denganya? Apakah gadis itu masih hidup? Atau sudah mati?


Dari pada menahan rasa penasaran, akhirnya Chen Li mendekati sosok tersebut. Baru saja tubuhnya menunduk, tiba-tiba Yun Jianying melompat bangun.


Hal tersebut cukup mengejutkan Chen Li. Tanpa sadar dia melompat mundur ke belakang.


Gadis itu tersenyum tanpa merasa bersalah. Dia memasang wajah konyol.


"Apa maksud Nona Yun melakukan ini semua?" tanya Chen Li dengan suara yang dalam.


"Tidak ada," jawab Yun Jianying polos.


"Tidak ada?"


"Ya, tidak ada,"


"Hemm …" Pendekar Tanpa Perasaan mendengus dingin.


Dia paling tidak suka kalau ada orang yang berani mengganggunya di saat-saat genting seperti ini.


"Kalai begitu minggir. Aku akan lewat, waktuku tidak banyak,"


"Tidak mau,"


"Kenapa?" tanya Chen Li mengerutkan kening.


"Pokoknya aku tidak mau pergi sebelum kau memberikan burung siluman yang ada di pundakmu itu kepadaku,"


Chen Li melirik sekejap ke arah Phoenix Raja, begitu juga sebaliknya.


"Tidak, aku tidak akan memberikannya,"


"Pokoknya aku mau burung itu,"

__ADS_1


"Terserah. Aku tetap tidak akan menyerahkannya kepadamu," kata Chen Li semakin dingin.


Yun Jianying kesal. Wajahnya mulai diselimuti oleh hawa nafsu. Sepasang matanya yang merah membara menatap tajam ke arah Chen Li.


"Kau berani padaku?"


"Kenapa tidak?" kata Chen Li balik bertanya.


"Hemm, kau belum tahu kalau aku anak tunggal dari Kepala Tetua Sekte Bulan Merah?"


"Terserah kau anak siapa. Aku tidak peduli, yang jelas menyingkir sebelum aku hilang kesabaran,"


"Sekali tidak mau, selamanya tidak mau,"


"Baik, kalau begitu jangan salahkan aku jika bertindak sedikit keras,"


Wushh!!!


Plakk!!!


Satu hantaman telapak tangan mendarat di punggung Yun Jianying. Tamparan tersebut tidak terhitung menggunakan tenaga besar, namun hasilnya cukup membuat orang terkejut.


Hanya sekali tepuk, Yun Jianying langsung jatuh tersungkur. Keadaan gadis itu saat ini persis seperti orang tak berguna.


Seluruh tubuhnya terasa lemas. Wajahnya pucat pasi. Dia benar-benar mirip orang mati yang tidak bisa melakukan apa-apa.


Chen Li sudah pergi. Dia tidak menengok ke belakang lagi walaupun sekejap. Pemuda itu tidak memperdulikan keadaan gadis tadi.


Tapi sekali lagi, selamanya dia tidak pernah memikirkan apa kata orang lain. Karena pada dasarnya setiap orang mempunyai watak dan sifat tersendiri.


Di tempat kejadian tadi, Yun Jianying menangis tersedu-sedu. Selama ini dia selalu dihormati dan disegani oleh setiap orang yang bertemu dengannya. Apapun yang dia inginkan selalu dituruti dan pasti didapatkan.


Jangankan ingin sesuatu yang kecil, bahkan kalau dia menyuruh orang untuk bunuh diri, niscaya orang tersebut bakal menuruti kehendaknya.


Sayang, saat ini dia telah bertemu dengan orang yang berbeda. Baru sekarang dirinya dipermalukan dan keinginannya tidak terpenuhi.


"Keluar …" teriaknya dengan sangat keras.


Wushh!!!


Dua bayangan hitam mendadak keluar dari semak belukar.


"Bebaskan aku," pintanya kepada dua orang berpakaian hitam itu.


Wutt!!!


Hanya beberapa kali orang itu bergerak, Yun Jianying telah bebas kembali.


"Kita pulang," kata gadis tersebut dengan ketus.

__ADS_1


###


Chen Li sudah tiba di Perguruan Tapak Sakti. Untuk mencari letak perguruan tersebut tidaklah sulit. Apalagi dirinya sempat bertanya kepada orang-orang yang sudah ditemui di perjalanan nanti.


Keadaan perguruan itu sudah berubah total. Sebagian bangunannya sudah ambruk menyatu dengan tanah.


Puluhan korban yang merupakan murid Perguruan Tapak Sakti berserakan di mana-mana. Bau amis darah tercium sangat menusuk hidung. Di setiap sudut ada mayat. Bahkan di pintu gerbang pun juga ada mayat.


Chen Li masih berdiri di tempatnya. Dia belum bergerak. Pemuda itu sedang memperhatikan keadaan di sekitarnya. Setiap apa yang dia lakukan sudah pasti penuh perhitungan.


Oleh sebah itulah Chen Li sangat jarang melakukan kesalahan dari semua tindakannya.


"Lihat, di sana ada yang sedang melangsungkan pertarungan," kata Phoenix Raja.


Chen Li langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang dimaksud oleh burung siluman itu.


Ternyata benar, di sana sedang terjadi sebuah pertarungan. Pertarungan yang tebrilang sengit.


Dua orang tokoh saling serang dengan berbagai macam jurusnya yang sangat dahsyat.


Di pinggir arena pertarungan ada dua orang lainnya. Keduanya diam, mereka tidak ikut bertarung.


Meskipun jaraknya cukup jauh, namun suara dari pertarungan tersebut dapat terdengar dengan sangat jelas. Pertarungan itu menjadi lebih mencolok karena satu orang di antara mereka tidak memakai senjata apapun.


Orang yang tidak memakai senjata mengenakan pakaian dan jubah merah darah. Sedangkan lawannya memakai pakaian dan jubau hijau gelap. Dia menggunakan pedang. Pedang bersarung hitam yang mempunyai ketajaman tiada tanding. Kilatan tajamnya senjata tersebut dapat menyilaukan mata yang melihatnya.


Wushh!!! Wushh!!!


Kedua sosok tersebut saling melesat. Gerakan mereka sangat cepat laksana kilat. Meskipun tidak menggunakan senjata apapun, namun orang itu tidak takut sama sekali.


Wushh!!!


Blarrr!!!


Kedua orang tadi tidak jadi beradu serangan karena sebuah serangan lain yang tidak diundang telah menggagalkan maksud mereka.


Debu mengepul tinggi. Reruntuhan bangunan yang ada di sekitar arena pertarungan langsung terbang ke segala arah. Bumi bergetar akibat hebatnya benturan barusan.


Satu sosok serba putih telah berdiri di tengah-tengah keduanya. Di pundak sebelah kanannya ada seekor burung berwarna merah api.


Pendekar Tanpa Perasaan.


Pemuda itu melirik sekejap ke arah kepada mereka. Setelah itu, Chen Li memandang awan putih yang berarak di atas sana. Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi bersalah.


"Siapa Tuan muda ini?" tanya orang yang tidak memakai senjata apapun itu.


"Apakah Tuan adalah guru besar dari Perguruan Tapak Sakti?" kata Chen Li malah balik bertanya.


"Benar,"

__ADS_1


"Dan dia?" tanyanya sambil melirik ke arah satu orang lagi.


"Dia Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa," jawabnya.


__ADS_2