Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bangunan yang Menyeramkan


__ADS_3

Tanpa berpikir panjang lagi Pendekar Tanpa Perasaan langsung masuk ke dalam.


Dari luar, gerbang tersebut tidak dijaga sama sekali. Tiada seorang pun yang terdapat di sana. Namun begitu kakinya melangkah masuk ke dalam, tujuh orang tokoh tua berjubah merah telah menunggunya.


Semua wajah mereka sangat sangar. Angker. Sekaligus menyeramkan.


Aura kegelapan terasa pekat. Semua aura itu dihasilkan dari tubuh ketujuh tokoh tua tersebut. Mereka menatap penuh amarah ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Meskipun ketujuhnya tidak terlihat dalam posisi kuda-kuda, namun Chen Li tahu bahwa mereka sanggup bergerak serempak setiap waktu.


"Siapa kau? Berani sekali datang kemari tanpa diundang," tanya salah seorang dari tujuh tokoh tua tersebut.


"Pendekar Tanpa Perasaan," jawab Chen Li dengan dingin.


"Mau apa kau kemari?"


"Menghancurkan markas ini,"


Suaranya tegas dan dalam. Setiap kata, dia ucapkan dengan perlahan dan penuh penekanan. Siapapun yang mendengarnya pasti dapat mengetahui bahwa suara itu diucapkan dengan penuh dendam.


"Sepertinya kau sedang bermimpi,"


"Aku sadar sepenuhnya,"


"Lantas kenapa kau berani berkata setinggi itu?"


"Kalau aku berkata, berarti aku dapat membuktikannya," jawab Pendekar Tanpa Perasaan. Wajahnya tanpa ekspresi. Wajah itu terlihat kaku. Seperti seorang yang tidak mempunyai semangat untuk hidup.


"Pemuda yang sombong,"


Wushh!!!


Tujuh tokoh tua tersebut langsung bergerak secara bersamaan. Bayangan manusia langsung mengurung Chen Li dari segala penjuru mata angin.


Mereka seperti kawanan serigala yang berlomba-lomba menerkam mangsanya. Gerakannya sangat beringas. Mereka begitu antusias ingin menghajar Pendekar Tanpa Perasaan.


Tujuh macam jurus dahsyat telah dilemparkan oleh tangan yang penuh pengalaman itu. Tujuh macam senjata pusaka beragam juga sudah terlihat dihunus oleh mereka masing-masing.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak tinggal diam. Begitu melihat tujuh tokoh yang menghadang dirinya menerjang, maka dia pun turut bergerak. Gerakan yang tidak kalah cepat dan hebatnya.


Tangan kirinya turut melancarkan satu jurus dahsyat. Jurus Tangan Dewa telah keluar.


Satu tangan raksasa mendadak muncul dari arah belakang Pendekar Tanpa Perasaan.


Tangan itu sangat besar. Warnanya merah membara. Selain itu, juga membawa serta hawa kematian pekat.


Gelegarr!!!

__ADS_1


Delapan jurus kelas atas beradu di tengah jalan sehingga membuat seluruh tempat itu bergetar hebat.


Begitu jurus selesai beradu, serangan kematian langsung datang menerjang. Pedang Merah Darah terhunus ke depan. Puluhan tusukan tajam dan tebasan membara segera dia layangkan dengan penuh keyakinan.


Ribuan titik merah memenuhi ruangan kosong. Udara terasa habis. Hawa di sana rasanya sudah tidak karuan.


Pertempuran mereka baru berjalan beberapa saat, tapi akibat yang ditimbulkan sudah sangat hebat. Kerusakan terjadi di mana-mana. Di segala tempat, debu mengepul tinggi.


Gerbang yang ada di sekitar mereka sudah hancur berkeping-keping.


Blarr!!!


Ledakan terdengar lagi. Benturan jurus dahsyat terjadi kembali.


Srett!!!


"Ahhh …"


Satu orang tokoh tua meregang nyawa ketika Pedang Merah Darah merobek dadanya dari sisi kiri hingga sisi kanan. Darah muncrat. Sedangkan korbannya langsung jatuh tersungkur dan tidak bekutik lagi.


Pertarungan itu terus berlanjut lagi. Keenam rekannya semakin marah saat melihat seorang di antara mereka meregang nyawa.


Suara dentingan benturan senjata pusaka sangat nyaring. Percikan api yang dihasilkan membara seperti dendam dalam benak Pendekar Tanpa Perasaan.


Mereka bertarung sengit.


Pendekar Tanpa Perasaan langsung mengeluarkan jurus pedang tertinggi yang sudah mencapai tahap kesempurnaan.


Wushh!!!


Cahaya merah itu kemudian mengurung semua musuhnya. Suara raungan naga mulai menggema mengganggu pendengaran setiap musuh Chen Li.


Crashh!!! Slebbb!!! Srett!!!


Tiga tokoh tua kembali meregang nyawa. Mereka menjadi korban keganasan Jurus Pedang Sang Dewa. Darah yang kental kembali membasahi lantai di sana.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak berhenti melakukan serangan. Saat melihat lawannya mulai berjatuhan, pemuda itu justru malah bergerak semakin ganas. Dia mirip seperti naga yang mengamuk.


Serangannya semakin dahsyat. Amarahnya semakin menggelora.


Slebb!!!


Dua tokoh tua langsung terbunuh secara bersamaan. Mereka tewas di ujung Pedang Merah Darah.


Saking marahnya, Pendekar Tanpa Perasaan langsung menusuk mereka secara serentak. Suara erangan kematian terdengar amat sangat memilukan.


Chen Li tersenyum sangat dingin.

__ADS_1


Dia langsung mencabut kembali pedang pusaka terkuat itu. Tanpa memikirkan mayat-mayat tersebut, Pendekar Tanpa Perasaan segera beranjak pergi dari sana.


Meskipun pertarungan mereka menimbulkan bunyi yang sangat keras, ternyata tiada seorangpun yang datang membantu tujuh tokoh tua tadi.


Pemuda itu melesat secepat angin. Dalam waktu sekejap mata, dirinya telah berada jauh dari tempat tadi.


Lima belasan menit kemudian, Chen Li menghentikan gerakannya.


Dia lantas berdiri dengan tegak memandang sebuah bangunan megah dan angker yang berdiri tidak jauh di hadapannya.


"Akhirnya …" gumam Chen Li sambil menghela nafas dalam-dalam.


Setelah beberapa waktu lamanya melewati berbagai macam rintangan, akhirnya Chen Li berhasil juga tiba di tempat tujuannya tersebut.


Wushh!!!


Chen Li kembali memburu ke depan. Bangunan megah dan angker itu mempunyai halaman yang sangat luas.


Tapi meskipun begitu, ternyata pemuda itu sudah tiba lagi di depan pintu utama.


Dua orang tokoh tua bertubuh tinggi tegap tampak menjaga pintu tersebut. Keduanya memakai pakaian dan senjata lengkap. Wajah mereka tidak kalah menyeramkannya dengan tujuh tokoh tua yang sebelumnya bertarung melawan Chen Li.


"Siapa kau?" tanyanya bengis.


"Pendekar Tanpa Perasaan …" jawab Chen Li dingin.


"Kau tidak boleh masuk," katanya lalu segera menyilangkan senjata di depan lehernya.


"Tapi aku ingin masuk,",


Clangg!!!


Bukk!!! Bukk!!!


Senjata berupa pedang yang sebelumnya menyilang di leher Pendekar Tanpa Perasaan, sekarang sudah patah menjadi dua bagian. Sedangkan dua penjaga itu sendiri seketika terlempar ke sisi kanan dan sisi kiri hingga empat lima langkah jauhnya.


Keduanya tidak dapat langsung bangun kembali. Dari masing-masing mulut mereka keluar darah segar cukup banyak.


Chen Li kemudian masuk ke dalam. Dia tidak melirik lagi kepada dua penjaga tersebut.


Pemuda itu sudah berada di dalam sebuah ruangan utama. Besarnya ruangan itu hampir lima belas tombak. Di sana berdiri beberapa puluh tokoh kelas atas. Semuanya berdiri menantang. Mereka menatap tajam ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Di tengah-tengah para tokoh tua tersebut ada seorang tua yang sedang duduk dengan santai di kursi singgasananya.


Kursi yang indah. Kursi itu cukup besar. Bahan dasarnya dibuat dari batu giok pilihan dan langka. Warnanya hijau terang. Di belakang kursi singgasana tersebut ada sebuah patung yang hitam dan membawa aura kegelapan.


Patung elang berwarna hitam.

__ADS_1


Orang tua yang duduk tersebut memandang dengan tatapan yang sama ke arah Chen Li. Wajahnya tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Wajah itu dingin. Tapi lebih dingin lagi wajah Pendekar Tanpa Perasaan.


Chen Li terus berjalan ke arah semua orang tersebut. Meskipun sedang di hadapan puluhan orang, tapi pemuda itu terlihat sangat tenang dan santai. Sedikitpun tidak memperlihatkan perasaan takut.


__ADS_2