
Tiga orang tetua tersebut merasa kewalahan karena terjangan dahsyat dari Kepala Tetua Sekte Pedang Emas itu.
Satu orang rekan mereka terkena sabetan Pedang Emas Pembelah Samudera di bagian lengan kirinya. Darah segera mengucur deras dan wajahnya seketika menjadi pucat pasi.
Untung bahwa tetua tersebut bukanlah sembarang tetua. Dengan ilmunya yang terbilang aneh, luka akibat goresan pedang pusaka itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Hal ini tentu mengejutkan Yuan Shi. Untung bahwa pengalaman bertarungnya sudah sangat luas. Entah sudah berapa banyak dia melewatkan pertarungan dengan berbagai macam keaenahan.
Sehingga keterkejutannya hanya terjadi sebentar saja. Detik berikutnya dia sudah bisa mengusai diri kembali.
Tapi karena kelengahannya yang baru saja terjadi, tiga tetua tersebut sudah melakukan persiapan lebih. Jurus yang aneh dan dahsyat kembali dilancarkan oleh ketiga pendekar itu.
Berbagai macam sinar melesat menerjang tubuhnya. Sinar dari jurus itu sangat berbahaya dan mengandung kekuatan dahsyat.
Tapi Yuan Shi suda siap. Bahkan sangat siap. Sehingga saat tiga jurus hampir tiba, Kepala Tetua Sekte Pedang Emas itu sudah mengeluarkan jurus yang cocok untuk menghalaunya.
"Sinar Pedang Bercahaya di Kegelapan …"
"Wushh …"
Pedang Emas Pembelah Samudera berkelebat lagi. Sinar emasnya membuat malam menjadi terang benderang untuk beberapa saat.
Tiga jurus dahsyat bertemu di tengah jalan. Ledakan hebat tidak terhindarkan lagi. Gelombang kejutnya menyapu semua yang ada di sekitar.
Keempat pendekar tersebut terpental ke belakang. Tiga tetua terpental sampai lima langkah. Sedangkan Yuan Shi hanya empat langkah.
Mereka merasakan kesakitan tersendiri. Termasuk si Raja Seribu Pedang. Namun walaupun begitu, dia telah bersiap kembali untuk memberikan serangan susulan.
Sebuah sabetan pedang berkilat membelah gelap malam. Suara bergemuruh mengiringi lesatan sabetan tersebut.
Saat itu tiga tetua belum benar-benar dalam keadaan siap. Sehingga mereka lebih memilih untuk menghindar daripada menangkis.
"Blarrr …"
Jurus Yuan Shi menghantam tiga pohon yang cukup besar. Seketika tiga pohon itu langsung hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu.
Pertarungan segera terjadi lagi karena tiga tetua tadi sudah siap. Ketiganya meluncur deras dengan serangan mereka masing-masing.
__ADS_1
Sementara itu, para tetua lain pun sudah bertarung melewati puluhan jurus bersama lawannya masing-masing. Untuk saat ini keadaan bisa di bilang mengkhawatirkan karena jumlah lawan lebih banyak.
Bahkan bisa terlihat bahwa dua tetua lain Sekte Bukit Halilintar dan Empat Tetua Sekte Pedang Emas berada dalam posisi tidak menguntungkan. Mereka mulai terdesak akibat serangan semua lawannya.
Beberapa luka sudah tampak tercipta di tubuh masing-masing para tetua. Benturan senjata tajam dan beradunya jurus dahsyat entah sudah berapa kali terjadi dan terdengar.
Posisi pihak Shin Shui semakin mengkhawatirkan. Mereka terus diserang tanpa ampun oleh musuh-musuhnya.
Tiba-tiba di saat situasi yang genting ini sedang terjadi, puluhan suara pendekar terdengar menggema di bawah kaki hutan Bukit Awan. Tidak berapa lama, lima belas sosok murid utama Sekte Bukit Halilintar sudah datang memberikan bantuannya.
Walaupun semua kekuatan mereka merupakan Pendekar Dewa tahap dua, tapi kalau jumlahnya banyak setidaknya cukup untuk membantu.
Semua pihak Shin Shui merasa gembira. Akhirnya mereka sedikit mendapatkan harapan untuk mampu bertahan lebih lama lagi.
Hany saja, orang yang memimpin lima belas murid utama itu membuat siapapun tercengang.
Ternyata yang memimpin mereka bukanlah tokoh tua ataupun tetua lainnya. Tapi pemimpinnya hanya seorang bocah kecil.
Tapi bocah tersebut bukanlah bocah biasa. Bocah itu merupakan bocah istimewa.
Chen Li.
Dengan wajah yang dingin tanpa perasaan, Chen Li memperhatikan pertempuran hebat ini. Dia cukup sadar diri melihat semua lawan yang memiliki kekuatan dahsyat. Karena itulah Chen Li hanya berdiri sambil mengamati semua pertarungan yang kini berjalan dengan sangat menegangkan tersebut.
Kehadiran sepuluh murid utama Sekte Bukit Halilintar ini benar-benar membantu. Para tetua yang tadi merasa terdesak, kini mulai bangkit kembali setelah mendapatkan bantuan ini.
Sedangkan Shin Shui, dia sudah bertarung lebih dari delapan puluh tujuh jurus. Tetapi keduanya benar-benar tampak seimbang. Baik Dewi Iblis maupun Shin Shui, keduanya sudah mengeluarkan kemampuan simpanan mereka.
Pertarungan ini menjadi pertarungan tersengit bagi Shin Shui setelah dia turun gunung beberapa waktu lalu. Di sisi lain, Shin Shui juga merasa senang dengan pertarungan maha dahsyat ini.
Sebab sedikit banyak dia bisa mengetahui sampai di mana tingkat kematangan jurus yang dia miliki.
Pedang Halilintar sudah memberikan ancaman maut entah berapa banyaknya. Tapi di posisi lain, Dewi Iblis juga sudah mengeluarkan senjatanya yang sangat mengerikan.
Selendang Malaikat Pencabut Nyawa.
Selendang berwarna merah darah itu mampu menahan semua serangan Shin Shui yang dilancarkan oleh jurus pedangnya.
__ADS_1
Selendang Malaikat Pencabut Nyawa seperti mempunyai mata sendiri. Benda pusaka tersebut mampu menebak ke mana arah serangan Shin Shui. Bahkan yang lebih hebat lagi, selendang milik Dewi Iblis itu mampu berubah-ubah.
Kadang kala dia lemas seperti aslinya. Tapi setiap saat bisa berubah menjadi keras bagaikan sebuah baja.
Shin Shui dibuat semakin kelabakan. Pertarungan mereka sudah berjalan seratus sepuluh jurus, tapi keadaan masih tidak berubah. Keduanya masih sama-sama imbang.
Sekarang yang berada di posisi menyerang adalah si Dewi Iblis. Selendangnya meluncur deras seperti anak panah. Incarannya adalah ulu hati.
Luncurannya sangat cepat sekali. Tidak tanggung-tanggung, Dewi Iblis langsung melancarkan dua selendang sekaligus. Bahkan dengan dua jurus yang berbeda.
Satu selendang melemas. Sedangkan satu lagi mengeras.
Shin Shui menggerakan Pedang Halilintar untuk menahan serangan tersebut. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba saja selendang yang lemas melibas pedang pusakanya. Pedang Halilintar terbelit oleh senjata wanita itu.
Tak ayal lagi, selendang yang mengeras segera menghantam ulu hati Shin Shui dengan sangat keras.
"Bukkk …"
"Ayahhh …" teriak Chen Li saat melihat Shin Shui terpental.
Pendekar Halilintar itu terpental sampai sepuluh langkah. Dia jatuh bergulingan, dari sudut bibirnya meleleh sebuah cairan merah.
Darahnya keluar juga. Dari sini bisa dipastikan bahwa Shin Shui mengalami luka dalam. Walaupun bukan luka berat, tapi ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa Dewi Iblis sangatlah kuat.
"Keparat. Dia berhasil menyerangku. Baik, aku akan membalasnya sekarang juga," gumam Shin Shui sangat geram.
"Langkah Dewa Halilintar …"
"Pedang Halilintar Mengguncangkan Langit …"
"Wushh …"
"Gelegarrr …"
Langit bergemuruh. Halilintar kembali menyambar bumi.
Tubuh Shin Shui sudah melesat sangat cepat. Cepat sekali. Sehingga baru satu kedipan mata saja, dia sudah berada tepat di hadapan Dewi Iblis.
__ADS_1
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, pedangnya langsung bergerak memberikan serangan dahsyat. Tangan kirinya tidak diam saja, tangan tersebut juga membarengi serangan Pedang Halilintar.