
"Hemm, sombong sekali. Kami ingin melihatnya, apakah apa yang kau katakan itu sesuai dengan buktinya?"
Wushh!!!
Orang yang baru saja bicara langsung melesat menyerang Huang Taiji. Pedangnya terhunus. Cahaya matahari menempa batang pedang sehingga terlihat jelas ketajamannya.
Trangg!!!
Sebuah sentilan pelan dilancarkan oleh Huang Taiji. Saking pelannya, bahkan suaranya saja terdengar sangat lirih.
Tapi akibatnya mampu membuat orang yang ada di sana terkejut. Pedang tersebut terpotong menjadi dua bagian. Bahkan hingga ke pangkalnya.
Trakk!!!
Huang Taiji kembali melayangkan sentilan ke dada orang tersebut. Orang itu langsung terpental lima langkah ke belakang. Bagian tubuh yang terkena serangannya langsung gosong.
Mulutnya segera memuntahkan darah segar. Untungnya luka yang diderita tidak terlampau parah.
Melihat seorang rekannya terluka hanya dengan sebuah sentilan, delapan belas orang lainnya merasa ketakutan tersendiri. Sekarang mereka baru sadar bagaimana mengerikannya orang tua itu.
"Kekuatan seperti ini ingin bertarung denganku? Aku sarankan lebih baik kalian pergi sekarang juga," kata Huang Taiji sambil tersenyum mengejek.
"Omong kosong," bentaknya.
"Baik. Aku sudah memberikan kesempatan kepada kalian. Tapi karena kesombongan, kalian malah menyia-nyiakannya begitu saja. Sepertinya kalian melupakan pepatah yang mengatakan bahwa kesempatan terbaik hanya datang satu kali,"
Wushh!!!
Tangan kanan Pendekar Pedang Tombak segera mengibas. Serangkum angin menyambar delapan belas orang itu. Debu mengepul tinggi menutupi pemandangan.
Di saat itulah Huang Taiji bergerak.
Tubuhnya seperti bayangan setan. Sekali bergerak, selalu menimbulkan hal mengejutkan. Kedua tangannya melancarkan serangan tapak kepada setiap satu orang lawannya.
Tiga wanita cantik yang sedang dia tolong nampak terbengong tanpa berkedip sedikitpun. Sepertinya mereka terpukau terhadap semua hal yang dilakukan oleh Huang Taiji.
Sementara itu, si kakek tua yang menggendong gadis kecil tadi tampak terkejut sekali. Saat ini dia sedang kebingungan. Apakah harus lari? Harus membantu orang-orangnya? Atau harus diam menanti kematian tiba?
Dia kebingungan. Sebab jika dirinya ikut turun tangan dalam pertarungan hebat itu, sudah pasti tiga wanita tadi akan merebut kembali bocah yang sekarang sedang dia gendong.
Hal itu tidak boleh terjadi sama sekali. Dirinya sudah berusaha keras hanya untuk mendapatkan gadis tersebut, bahkan mengorbankan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Masa iya sekarang dia harus melepaskannya begitu saja?
Belum lagi jika orang di belakangnya tahu kalau gadis tersebut direbut kembali. Jika sampai orang yang menyuruhnya tahu, bisa dipastikan nyawanya tidak akan selamat.
Sementara itu, Huang Taiji sudah membunuh lebih dari sepuluh orang dalam waktu kurang dari lima belas menit. Semua yang tewas di tangannya mengalami luka yang sama.
__ADS_1
Dada mereka gosong. Bajunya koyak dan mulutnya memuntahkan darah segar cukup banyak.
Wushh!!!
Segulung angin datang menerpa seperti tornado yang mengamuk. Hanya dalam beberapa saat saja, tempat itu sudah berubah total. Semua lawannya tewas mengenaskan. Puluhan batang pohon roboh.
"Kau tahu siapa dia?" tanya salah seorang wanita.
"Tidak. Aku sendiri baru melihatnya,"
"Tapi sepertinya aku mengenal orang ini. Hanya saja, aku lupa siapa namanya,"
Tiga wanita itu terus membicarakan Huang Taiji. Sepak terjangnya benar-benar membuat siapapun merasa kagum.
Si kakek tua mulai merasa marah. Bagaimana tidak? Sembilan belas anak buahnya tewas dalam waktu yang sangat singkat. Siapa yang tidak akan marah?
"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya kepada Huang Taiji. Matanya menyelidiki dari atas sampai bawah.
"Kau tidak tahu siapa aku?"
"Dari penampilanmu, sepertinya aku memang pernah mendengar ciri-ciri ini sebelumnya. Hanya saja aku lupa siapa nama orangnya,"
"Kau mengenal orang yang bernama Huang Taiji dari Sekte Bukit Halilintar yang berjuluk si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding?"
"Tentu saja. Bahkan aku sedang mencarinya,"
"Aku ingin membunuhnya dengan Pedang Pembelah Mega milikku,"
"Bagus. Kalau begitu kita mulai bertarung sekarang,"
"Aku rasa di antara kita tidak ada masalah," katanya sedikit terkejut.
"Ada. Barusan kau mencari Huang Taiji dan ingin membunuhnya?"
"Benar,"
"Nah, akulah Huang Taiji,"
Srrr!!!
Pedang Tombak Surga Neraka sudah dikeluarkan. Tiba-tiba saja senjata pusaka untuk itu telah digenggam erat di tangan kanannya.
Hawa di sana segera berubah saat itu juga. Hawa panas dan hawa dingin bercampur menjadi satu. Sebuah aura pembunuhan yang sangat pekat keluar dari Pedang Tombak Surga Neraka milik Huang Taiji.
Si kakek tua dan tiga wanita cantik sama-sama kaget setengah mati.
__ADS_1
"Ahh, benar. Dialah Tuan Huang yang sekarang sedang naik daun. Kalau tidak salah, ada juga seorang bocah kecil yang katanya anak dari Pendekar Halilintar. Biasanya dia selalu mengikuti dirinya, tapi ke mana dia sekarang?" tanya seorang wanita entah kepada siapa.
Si kakek tua lebih terkejut lagi. Tanpa terasa dia mundur dua langkah ke belakang setelah merasakan kekuatan mengerikan itu. Bahkan gadis kecil yang dia gendong juga mendadak diturunkan.
"Ka-kau …" dia tidak mampu menyelesaikan perkataannya saking kagetnya.
"Tepat. Inilah aku Huang Taiji. Kau bisa melihat dari senjataku. Sekarang, mari kita buktikan, siapa yang akan mati," katanya.
Nadanya dingin. Suaranya terdengar seperti gemuruh guntur.
Si kakek tua langsung berkeringat dingin. Dia menyesali perkataannya yang sembarangan. Padahal niat awalnya hanya untuk menggertak lawan.
Siapa sangka, ternyata hasilnya malah seperti ini.
"Baik. Walaupun aku bukan tandinganmu, tapi sebagai orang dunia persilatan, aku tidak akan menarik ucapanku," ujarnya terpaksa memberanikan diri.
Karena seperti yang diketahui bersama, seorang dunia persilatan, biasanya sangat pantang untuk menarik kata-katanya sendiri. Gengsi mereka sangat tinggi. Sehingga tidak aneh jika banyak orang-orang dunia persilatan yang tewas karena ulahnya sendiri.
Wushh!!!
Tiba-tiba dia menyerang. Gerakannya sangat cepat dan dilakukan secara tiba-tiba. Untungnya yang dia hadapi adalah Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Kalau orang lain, pasti sudah kelabakan.
Huang Taiji hanya tersenyum. Senjata pusakanya diayunkan secepat kila.
Trangg!!!
Benturan pertama terjadi. Si kakek tua sudah mengeluarkan sebatang pedang yang antik. Entah kapan dia mengeluarkan senjatanya itu, karena tidak ada yang melihatnya sama sekali.
"Sepertinya pertarungan yang sesungguhnya baru akan terjadi," gumam seorang wanita cantik itu.
"Benar. Aku ingin melihat bagaimana kekuatan Tuan Huang yang sesungguhnya,"
Wushh!!!
Angin berhembus kencang. Dua tokoh tua sedang beradu tenaga dalam.
"Enyah …" teriak Huang Taiji.
Segulung tenaga tak kasat mata menerjang lawannya. Kakek tua iru terpental lima langkah ke belakang. Tapi dia segera berjumpalitan di udara sehingga bisa menguasai dirinya.
'Gila, kekuatanya benar-benar sama seperti kabar yang tersiar. Kalau begini caranya, dalam empat lima puluh jurus saja, mungkin aku telah tewas di tangannya,' batin si kakek tua.
Tidak terasa keirngat sebesar biji kacang kedelai mengucur dari keningnya
Wushh!!!
__ADS_1
Huang Taiji tidak memberikan kesempatan bagi lawan. Ujung pedang langsung menusuk ke arah tenggorokan dalam kecepatan tinggi.