
Chen Li hanya merentangkan tangan kiri dan kanannya. Akibatnya, dua elemen alam semesta berupa angin dan tanah langsung muncul lalu melindungi tubuh pemuda tersebut.
Ledakan besar terdengar menggelegar. Bumi bergetar karena hebatnya benturan itu.
Ribuan senjata energi kembali menyerang. Namun lagi-lagi satu dari lima elemen alam semesta langsung muncul lalu menggagalkan semuanya.
Kobaran api mendadak muncul kemudian membakar ribuan senjata energi tersebut. Hanya sesaat, semua senjata energi itu sudah lenyap tanpa bekas.
Tiga orang pria tua mendadak turun dari langit seperti halnya seorang Dewa. Jubah mereka berkibar dihembus oleh energi yang selalu muncul dari setiap masing-masing tubuh renta itu.
Padahal rintik air hujan masih juga turun, tapi kenapa juba tiga orang tua tersebut bisa berkibar dengan anggunnya?
Selintas saja, dari sini dapat diketahui bahwa tiga orang tua itu merupakan orang-orang berilmu tinggi. Chen Li pun mengerti akan hal tersebut.
Hanya saja yang dia perhatikan dengan seksama hanya satu orang pria tua di antaranya. Orang tua itu berada di posisi paling tengah.
Wajahnya angker. Tubuhnya membawa aura kegelapan yang sangat kentara. Bahkan jika diperhatikan lebih seksama, tubuh itu selalu mengepulkan asap tipis kehitaman.
Pakaian dan jubah yang dipakai oleh orang tua itu hitam pekat. Hitam seperti gelapnya malam. Hitam seperti hati manusia yang sudah mati.
Siapakah orang tua itu? Kenapa Chen Li merasakan hal lain dari dirinya?
Sementara itu, melihat kedatangan orang tua tersebut, Yun Jianying justru sangat gembira. Wajah yang tadinya pucat, sekarang sudah segar kembali. Sekarang hatinya tidak kalut. Gadis itu justru merasa hatinya lega. Dia menghembuskan nafasnya sedalam mungkin.
Satu Tetua Sekte Bulan Merah juga sama. Dia mengalami sesuatu sama persis seperti yang terjadi pada diri Yun Jianying.
Sikap kedua orang itu sangat hormat kepada tiga orang tua yang baru saja datang. Saking hormatnya, bahkan si tetua yang sejak tadi bersama Yun Jianying tidak berani mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
"Ayah, akhirnya kau datang," kata Yun Jianying sambil menubruk maju ke arah si orang tua yang berada di tengah-tengah.
Gadis itu segera memeluk dengan erat. Tapi orang yang dipanggil ayah hanya menjawab sepatah kata saja. Wajahnya masih kaku dan dingin. Dingin seperti juga suaranya.
"Hormat kepada Kepala Tetua," kata si tetua yang tadi ketakutan.
__ADS_1
Chen Li berdiri dalam diam di tengah rintik air hujan. Pendekar Tanpa Perasaan tidak bicara apa-apa. Diapun tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Rasa dingin yang menerpa tubuhnya tidak dia rasakan. Sebab pada dasarnya, rasa dingin air hujan masih belum seberapa kalau dibandingkan dengan dingin yang dihasilkan oleh sikapnya.
"Nona Yun, apa yang sudah terjadi? Siapa pemuda ini?" tanya salah seorang dari pria yang baru saja datang.
"Dia adalah Pendekar Tanpa Perasaan. Semua orang-orang kita yang mati ini dibunuh olehnya," jawab Yun Jianying dengan wajah bengis.
"Hemm …"
Tiga orang tua tersebut kemudian menatapnya dengan tatapan tajam dan penuh selidik. Hawa kematian mendadak pekat kembali. Tapi Chen Li masih berdiri dengan tenang. Kalau tidak ditanya, dia tidak akan angkat bicara.
"Kenapa kau membunuh orang-orangku?" tanya orang tua tadi.
"Karena orang-orangmu yang ingin membunuhku,"
"Mereka tidak akan membunuhmu jika tidak ada masalah sebelumnya,"
"Kenapa bukan kau saja yang bercerita?"
"Kalau aku yang bicara, sekalipun bercerita yang sebetulnya, belum tentu kau akan percaya. Tapi jika Yun Jianying yang bersuara, walaupun dia berbohong, kau pasti akan percaya kepadanya," jawabnya dingin.
Orang tua itu tidak menjawab, dia berpaling kepada Yun Jianying lalu segera memerintahkannya untuk bicara dengan bahasa isyarat.
Gadis yang merupakan puteri dari Kepala Tetua Sekte Bula Merah tersebut mulai bercerita. Pada awalnya, dia bercerita apa adanya. Sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Namun lama kelamaan, Yun Jianying mulai bercerita ngasal.
Dia mengarang sebuah cerita dan memojokkan Chen Li agar dirinya bersalah. Sekarang pemuda itu berada di posisi orang yang salah. Padahal sebenarnya tidak, tapi walaupun begitu Chen Li tidak bicara apapun.
Kenapa dia tidak bicara? Apakah Chen Li akan diam saja menyaksikan dirinya dipojokkan begitu rupa?
Apa alasannya?
Alasan Chen Li memilih untuk diam adalah karena dirinya tahu bahwa meskipun dia bicara yang sebenarnya, orang-orang dari Sekte Bulan Merah tetap tidak akan percaya kepadanya.
__ADS_1
Sekalipun dia menceritakan kebenaran dan Yun Jianying menceritakan kesalahan, mereka tetap akan berpihak kepada gadis itu.
Alasan masuk akalnya karena Yun Jianying berada di pihak mereka sendiri, bahkan merupakan anak dari kepala ketuanya. Sedangkan Chen Li hanyalah orang luar yang secara tidak sengaja menjadi korban.
Sekarang Yun Jianying telah selesai bercerita. Ekspresi tiga pria tua yang baru datang itu mendadak berubah hebat. Tatapan mata mereka memancarkan sebuah dendam mendalam kepadanya. Hawa pembunuhan mulai menyelimuti tiga orang tersebut.
"Biadab, berani sekali kau berbuat sesuatu tak senonoh kepada nona kami," bentak pria tua yang sejak tadi bicara.
"Hehehe, lebih biadab lagi gadis cantik yang mengarang cerita agar dirinya berada di posisi benar. Bagiku, baik itu pria maupun wanita, kalau ada orang seperti itu, maka dia lebih rendah dari pada binatang," suaranya dingin dan kaku. Chen Li biasa saja, tapi Yun Jianying tidak.
Wajahnya segera merah padam. Saking malunya, hampir saja dia melompat ke danau untuk menyembunyikan diri.
"Bangsat kecil sialan, kalau sekarang kami Dua Penguasa Bulan hari ini tidak berhasil membunuhmu, rasanya kami tidak pantas untuk menduduki posisi sebagai pilar penjaga utama Sekte Bulan Merah," katanya sedikit membanggakan diri.
"Terlepas kalian siapa aku tidak ambil peduli. Tapi kalau kalian berkata ingin membunuhku, maka lebih baik segera buktikan saja. Jangan hanya bicara tapi tidak ada bukti nyata," kata Pendekar Tanpa Perasaan dengan sinis.
Orang yang menyebut sebagai Dua Pengusa Bulan merasa tertantang. Apalagi menurut nona-nya, pemuda di hadapannya sudah berani melakukan perbuatan tak senonoh kepada anak kepala tetuanya.
Darahnya terasa langsung naik ke ubun-ubun kepala. Amarahnya memuncak. Mereka mengeluarkan aura kegelapan yang demikian pekatnya agar bisa menekan Pendekar Tanpa Perasaan.
Sayangnya hal itu sia-sia, sebab target sasarannya masih berdiri dengan tenang di tempatnya. Bahkan dia sama sekali tidak merasa tertekan.
Chen Li justru tersenyum ke arah mereka.
Wushh!!!
Angin berhawa panas berhembus kencang ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Disusul kemudian dengan dua sosok tubuh yang melayang dengan cepat.
Dua serangan telah tiba. Pukulan dan tendangan segera diberikan oleh Dua Penguasa Bulan. Semua serangan yang mereka layangkan sangat keji, karena setiap serangan itu mengandung racun.
Chen Li tahu itu, tapi dengan tenangnya dia menghadapi lawan. Tubuhnya berkelebat ke sana kemari dengan mudah. Sampai sejauh ini, Pendekar Tanpa Perasaan belum mebalas serangan mereka.
Dia ingin tahu sejauh mana kemampuan dua musuhnya.
__ADS_1