
Huan Toan terlihat sangat kaget. Dia tidak langsung menerima Cincin Ruang tersebut. Justru untuk beberapa saat, dirinya malah terdiam seperti patung.
"Tuan Hu, kau baik-baik saja kan?" tanya Chen Li yang seketika menyadarkan Hu Toan.
"Aii, maaf Tuan muda, maaf. Saking tidak menyangkanya, aku jadi lupa keadaan. Untuk ini, aku tidak bisa menerimanya. Kebaikan Tuan muda sebelumnya saja tidak bisa aku balas, masa sekarang harus menerima kebaikan lagi," ucapnya.
"Tidak perlu sungkan. Kau yang menjadi korban, maka kau yang harus menerimanya. Aku harap ini sudah cukup untuk memperbaiki sekte dan membantu para warga lainnya,"
"Tapi …"
"Kalau Tuan Hu menghargai aku dan Paman, harap terima saja," kata Chen Li memotong pembicaraan kakek tua tersebut.
Hu Toan terlihat ragu. Tidak diterima, dia sendiri saat ini sedang benar-benar membutuhkan biaya. Diterima, tentunya merasa sangat malu.
Namun karena Chen Li terus mendesak dan Huang Taiji memandangnya tidak senang, pada akhirnya kakek tua itu mau menerimanya juga.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menerima semua ini. Terimakasih atas bantuan yang telah diberikan oleh Tuan muda dan Tuan Huang. Kelak, jika ada persoalan sulit, beritahu aku. Meskipun sudah tidak sekuat orang lain, tapi tenaga tuaku sepertinya masih bisa memberikan sedikit bantuan," kata Hu Toan sungguh-sungguh dan penuh dengan rasa haru.
"Kalau sekarang aku minta bantuan, bagaimana?" tanya Huang Taiji sambil tersenyum.
"Dengan senang hati. Aku siap melakukan apapun yang Tuan Huang perintahkan," jawabnya penuh semangat.
"Bagus. Aku meminta bantuanmu agar menjaga kota ini lebih aman lagi. Para penjajah yang menginginkan tanah air kita sudah berani berlaku terang-terangan. Dalam hal ini, semua lini harus turun tangan. Kita harus bekerja sama untuk melawan mereka," ucap Huang Taiji.
"Baik. Masalah ini memang sudah menjadi kewajiban untuk kita semua. Bertaruh nyawa pun aku tidak takut,"
"Bagus. Kau memang pantas menjadi seorang kepala tetua. Nah, ini bantuan dariku lagi. Mohon terima, sekarang juga kami akan pamit untuk melanjutkan perjalanan," ujar Huang Taiji sambil memberikan kembali sebuah Cincin Ruang.
Hu Toan mau tidak mau harus menerimanya. Dia tidak melarang, tidak juga menyuruh dua tamunya untuk menginap di sektenya. Karena orang tua itu tahu, bahwa mereka paling tidak suka jika dipaksa.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak bisa memaksa agar kalian menginap di sini. Hati-hati di jalan, budi baik ini selamanya tidak akan aku lupakan,"
"Kau jangan sungkan. Aku pergi dulu," kata Huang Taiji sambil menepuk pundak Hu Toan.
Mereka langsung pamitan kepada para tetua yang ada di sana. Setelah itu, keduanya segera pergi dari sekte tersebut.
Hu Toan sangat terkejut setelah melihat Cincin Ruang yang diberikan oleh Huang Taiji. Ternyata isinya sangat banyak sekali. Semuanya ada di dalam. Bahkan hingga sumberdaya dan beberapa jilid kitab pusaka juga ada.
__ADS_1
"Kalau seperti ini, maka sekteku bisa menjadi sekte kelas menengah. Aii, mereka benar-benar luar biasa," gumamnya.
Tak terasa, air mata bahagia menetes membasahi pipi yang sudah dipenuhi dengan kerutan itu.
Orang lain mungkin akam merasa sayang memberikan kitab pusaka. Tapi tidak bagi Huang Taiji. Sebagai seorang pengawal pribadi Dewa Lima Unsur, apa yang dia sayangkan?
Terkait dari mana kitab tersebut, mungkin bisa saja dia menjarah harta musuh-musuhnya ataupun memang dia mempunyai berjilid-jilid kitab seperti halnya Shin Shui.
Chen Li dan Huang Taiji sudah berada diluar kota. Sekarang keduanya berniat untuk mencari sebuah penginapan.
Setelah menemukan tempat yang cocok, keduanya segera memesan kamar lalu melangsungkan istirahat.
Pagi-pagi setelah semuanya siap, mereka lantas segera melanjutkan perjalanan lagi sambil terus mencari jejak Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara.
Di depan sana ada hutan. Chen Li dan Huang Taiji segera melesat menuju ke sana. Namun bukan untuk menjelajahi hutan, alasan keduanya masuk ke sana karena mereka ada hal lain.
Seperti ada sesuatu yang sedang terjadi di sana.
"Apakah kau merasakannya Li'er?" tanya Huang Taiji.
"Aku merasakannya Paman. Energi yang terpancar ini benar-benar dahsyat. Belum pernah aku menemukan energi sedahsyat ini," jawab Chen Li.
"Mari kita percepat langkah,"
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan putih melesat seperti dua sukma. Hanya dalam sekejap kata, mereka telah sampai di kedalaman hutan.
Di sana ada sebuah lapangan yang sangat luas. Pohon-pohon tinggi menjulang tinggi.
Dugaan Huang Taiji tidak salah. Ternyata di sana memang sedang terjadi sebuah pertarungan hebat. Empat orang pria berpakaian serba hitam sedang mengeroyok seorang wanita.
Di lihat dari keadaan sekitar yang hancur, jelas, pertarungan ini adalah pertarungan para tokoh kelas atas. Pohon-pohon tumbang. Udara terasa sangat sesak dan panas. Tanah retak-retak. Bahkan sebagian terbelah.
Sekarang pertarungan mereka terhenti. Sepertinya sudah mencapai puncak. Terlihat si wanita sudah terluka sangat parah. Seluruh tubuhnya telah dipenuhi oleh luka. Luka dalam, luka luar, semuanya bersarang di tubuh tokoh wanita tersebut.
Saat menyadari semuanya, Huang Taiji sangat terkejut setengah mati. Seorang wanita itu tak lain dan tak bukan adalah orang yang sedang dicari-cari.
__ADS_1
Huan No Mo si Wanita Tombak Asmara.
Sekarang dia hanya mampu berlutut sambil bersandar kepada tombak pusaka miliknya. Menurut penglihatan Huang Taiji, jiak sekali lagi dia bergerbak, maka nyawanya pasti tidak akan tertolong.
"Kau masih tidak mau menyerah?" terdengar seorang di antara musuhnya berkata lantang dan penuh kesombongan.
"Sampai mati pun, aku tidak akan menyerah dan tunduk kepada kalian," kata Huan Ni Mo bengis.
Tapi setelah dia berkata demikian, mulutnya langsung menyemburkan darah segar.
'Sepertinya luka yang dia alami benar-benar parah,' batin Huang Taiji.
Empat pria berpakaian hitam tertawa lantang. Bahkan suara tawa itu disaluri oleh tenaga dalam besar sehingga tanah sekitar dibuat bergetar olehnya.
"Bagus, bagus. Kau memang wanita yang keras kepala. Kalau kematian memang sesuatu yang kau inginkan, sekarang juga kami akan mengabulkannya,"
Setelah selesai berkata, keempat orang tersebut langsung menghimpun tenaga dalam besar. Terlihat berbagai macam aura menyelimuti tubuh mereka.
Empat orang itu benar-benar akan menurunkan tangan kejam.
"Li'er, kau cepat pergi dari sini. Cari penginapan terbesar. Nanti Paman akan menyusulmu setelah menolong Huan Ni Mo,"
"Tapi Paman …"
"Cepat!!" perintah Huang Taiji sedikit membentak.
Chen Li tidak berani membantah lagi. Dia langsung membalikkan tubuhnya lalu segera pergi dari sana secepat mungkin.
Wushh!!!
Berbagai macam sinar dan jurus yang sangat dahsyat melesat ke arah Huan Ni Mo. Wanita itu sendiri hanya bisa menggertak gigi dan menguatkan diri.
Wushh!!!
Saat itu pula Huang Taiji melesat dan langsung mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya.
"Pukulan Neraka Kesembilan …"
__ADS_1
Gelegarr!!!