
Saat Shin Shui tiba di kediaman, di lihatnya bahwa Chen Li masih melanjutkan latihannya bersama Eng Kiam.
Kedua bocah kecil itu semakin lama semakin cocok. Bahkan sekarang keduanya semakin akrab.
Chen Li yang menyadari kehadiran ayahnya, segera memberhentikan latihan. Dia langsung menghampiri Shin Shui.
Setelah basa-basi sebentar, mereka segera masuk ke dalam rumah. Eng Kiam segera menyiapkan suguhan dengan bantuan satu orang pembantu.
"Li'er, beberapa waktu ke depan, kau harus berlatih sendirian lagi. Sebab ayah bersama pamanmu akan pergi menjemput ibumu dan para tetua lain," ucap Shin Shui mengawali pembicaraan serius.
"Tapi ayah, Li'er ingin ikut menyelamatkan ibu. Li'er bosan terus di rumah,"
Bocah kecil itu tentu ingin ikut pergi bersama ayahnya. Selain karena memang merasa bosan di rumah, Chen Li juga ingin menambah pengalaman bertarungnya.
Dia paling tidak suka terus berada di sekte. Bahkan kalau boleh mengambil misi, dia akan mengambilnya supaya bisa pergi keluar. Baginya, diam di rumah sangat-sangat membosankan.
Yang dia lihat hanya itu-itu saja. Sedangkan diluar, sudah pasti banyak hal baru baginya.
"Li'er, perjalanan kali ini akan lebih berbahaya daripada sebelumnya. Ayah tidak ingin membawamu ke dalam bahaya. Bisa-bisa ibumu marah," kata Shin Shui sambil mengelus kepala anak kesayangannya.
Chen Li menunjukkan sikap tidak suka. Walaupun di saat tertentu kekuatannya mengerikan, tetap saja sejatinya dia hanyalah bocah berumur dua belas tahun. Sudah pasti sifat kekanak-kanakan dan manjanya masih ada. Bahkan masih melekat.
Eng Kiam ada di sana, tetapi dia tidak berani untuk bicara. Selain tidak ada hak untuk bersuara, dia juga sadar posisi bahwa dirinya masih kecil. Dan itu sangat tidak sopan sekali.
Sedangkan si Maling Sakti Hidung Serigala, dia tersenyum melihat tingkah manja Chen Li. Pandangan matanya sudah mengetahui bahwa bocah tersebut mempunyai kekuatan dahsyat yang berbeda daripada orang lain.
"Adik Shin Shui, biarkanlah anakmu ikut. Dia ingin menambah pengalaman, bagaimanapun juga, dia adalah anakmu. Sedikit banyak sifatnya sama sepertimu," ucap Yang Lin sambil menepuk pundak Shin Shui.
Pendekar Halilintar itu tentu tidak setuju, lagi pula, dia ingin mempercepat perjalanannya. Setidaknya kalau anaknya tidak ikut, dalam beberapa hari saja, dia sudah bisa sampai di tempat tujuan. Tetapi kalau ada Chen Li, sudah pasti perjalanan akan bertambah lama.
"Tapi kakak Yang, bagaimana kalau …"
__ADS_1
Ucapan Shin Shui tidak selesai. Sebab Maling Sakti sudah segera memotongnya. "Kau tenang saja, dia berada dalam lindunganku. Di perjalanan nanti, biarkan aku menggendongnya supaya tidak mengganggu perjalanan," kata Maling Sakti.
Chen Li tentu merasa sangat senang. Dia bersorak sorai.
"Terimakasih paman, terimakasih," kata Chen Li penuh gembira.
"Iya, sudah sana siapkan barang-barang," kata Maling Sakti.
Chen Li segera pergi mempersiapkan barang-barang. Sedangkan Shin Shui hanya bisa pasrah. Kalau si Maling Sakti sudah bicara, maka dia tidak akan bisa membantahnya.
Entah kenapa, ada perasaan lain kepada saudara angkat barunya tersebut. Shin Shui sendiri merasakan bahwa orang itu menyembunyikan sesuatu.
Tapi untuk bertanya lebih jauh, Shin Shui belum berani. Selain baru, dia juga merasa segan sebagai "junior".
"Kiam'er, apakah kau tidak keberatan kalau di tinggal untuk sementara?" tanya Shin Shui dengan lembut.
Eng Kiam sebenarnya ingin ikut juga. Tetapi untuk mengajukan permohonan tersebut, dia sama sekali tidak berani.
"Baiklah,"
Shin Shui lalu mengibaskan tangannya. Seketika di tangan kanan tersebut sudah tergenggam sebuah kitab yang sudah sedikit lusuh.
Pendekar Halilintar lalu memberikan kitab tersebut kepada Eng Kiam.
"Apa ini tuan pahlawan?"
"Kitab Pedang Bayangan. Untukmu, aku ingin selama kita pergi, kau berlatih jurus yang tertera dalam kitab ini. Setelah pulang nanti, aku akan melihat sampai di mana kau mampu mempelajarinya," ucap Shin Shui.
Eng Kiam ingin menolak. Tapi Shin Shui terus memaksanya.
"Baiklah kalau tuan pahlawan memaksaku. Terimakasih. Kiam'er janji akan berlatih sekuat tenaga," jawab gadis itu yang merasa senang.
__ADS_1
Dia perlahan membuka kitab tersebut. Kitab Pedang Bayangan tidak terlalu tebal. Malah bisa dibilang sangat tipis. Karena hanya berisi beberapa rangkaian jurus saja. Tetapi, semakin matang mempelajari semua jurus yang ada di dalam, semakin hebat pula jurus yang dihasilkan.
Hari sudah malam. Shin Shui bersama Chen Li dan Maling Sakti Hidung Serigala, sudah bersiap untuk melakukan perjalanan mereka.
Ketiganya sudah berdiri di depan gerbang. Ong Kwe Cin dan Thai Lu serta ratusan murid Sekte Bukit Halilintar, mengantar kepergian tiga orang tersebut.
Chen Li memakai pakaian dan jubah putih kesukaannya. Shin Shui dengan pakaian dan jubah biru terang. Aura pemimpin terus merembes keluar dari tubuhnya. Bahkan sesekali kilatan halilintar juga tampak.
"Tuan muda, kau jangan lupa untuk menjaga kesehatan. Jangan telat makan dan harus selalu bersikap waspada," ujar Eng Kiam kepada Chen Li.
"Baik kakak Kiam. Li'er akan mendengarkan semua ucapan kakak. Kakak juga harus jaga diri baik-baik. Tunggu Li'er pulang dan kita akan berlatih bersama lagi," jawab si bocah.
Setelah berpamitan kepada semua orang-orang, Shin Shui segera berangkat. Chen Li berada di depan. Dia tidak ingin menyusahkan paman ataupun ayahnya di awal perjalanan ini.
Shin Shui terkejut saat melihat bahwa ilmu meringankan tubuh anaknya, ternyata berbeda dengan orang-orang sebaya. Sebab gerakannya sangat cepat sekali. Bahkan bisa mengimbangi Pendekar Langit tahap tiga.
Walaupun baru sekejap, tetapi ketiganya sudah berada cukup jauh dari Sekte Bukit Halilintar.
Shin Shui bertugas penunjuk jalan. Dia akan selalu memberitahu anaknya ke mana arah yang harus dituju.
Menurut perhitungan Shin Shui, kalau di perjalanan mereka tidak ada halangan apapun, maka ketiganya hanya membutuhkan waktu setidaknya lima hari untuk sampai ke Sekte Serigala Putih.
Saat ini sudah masuk musim salju. Sehingga sesekali terlihat salju turun dari langit. Untung bahwa mereka memakai jubah, jadi sedikit banyak mengurangi rasa dingin.
Di tengah udara yang dingin seperti ini, tiga buah bayangan melesat dalam gelapnya malam. Shin Shui sengaja memilih jalan pintas dan sepi guna menghindari masalah di perjalanan.
Hampir setiap saat, ketiganya keluar masuk hutan. Sejauh ini tidak ada kejadian atau apapun yang menghalangi perjalanan mereka.
Menjelang pagi hari, Shin Shui mengajak anak dan kakak angkatnya untuk beristirahat di sebuah goa. Sekedar mengisi perut dan menghangatkan badan.
"Nanti setelah siang, kita akan melanjutkan perjalanan lagi. Tapi aku berharap kali ini kakak Yang menggendong Li'er. Sebab kita harus mempercepat langkah. Aku takut terjadi apa-apa terhadap mereka," kata Shin Shui merasa khawatir.
__ADS_1
"Baik, kau tenang saja. Istrimu dan para tetua akan baik-baik saja. Mereka tidak akan berani melukai, sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka bencana yang lebih besar akan segera datang kepadanya," ujar Maling Sakti menenangkan Shin Shui.