Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tiga Pendekar Muda


__ADS_3

Hawa kematian yang semakin pekat langsung menyelimuti keadaan di sana. Pasukan musuh yang tersisa sedikit terbengong. Mereka tidak berbeda jauh dengan anak ayam yang kehilangan induknya.


Sekarang kedua pemimpin mereka telah tewas. Lalu, apa yang harus mereka lakukan sekarang? Apakah mundur? Ataukah terus maju?


Sebelum pasukan tersebut mengambil keputusan tetap, satu kelebatan sinar hitam telah memancar memenuhi angkasa kembali. Kekuatan hebat kembali terasa. Kabar kematian kembali hadir di tengah-tengah rasa takut.


Crashh!!! Crashh!!! Crashh!!!


Tiga kali sinar hitam itu nampak. Hanya sesaat. Hanya sekejap. Semuanya telah berubah. Kejadian ini benar-benar membuat siapapun terkejut. Sisa pasukan musuh telah dibunuh semuanya oleh bocah remaja yang berjuluk Pendekar Tanpa Perasaan.


"Benar-benar tidak berperasaan," gumam seorang prajurit Kekaisaran Wei.


"Dia memang tidak berperasaan," timpal rekan di sisinya.


Chen Li membalikan badannya. Wajahnya semakin angker. Semakin dingin. Dan semakin menyeramkan.


"Aku pergi dulu. Kalian tetap jalankan tugas dan kewajiban hingga titik darah penghabisan," tegas Chen Li dengan suaranya yang sangat dingin.


"Baik," jawab para pasukan Kekaisaran Wei secara serentak. Suaranya menggemparkan jagat raya. Kobaran api semangat membakar dada mereka kembali.


Chen Li pergi. Hanya sesaat, dia telah lenyap dari pandangan semua pasukan.


Entah ke mana perginya, namun yang jelas, dia akan tetap berkeliling mencari peperangan yang sedang berlangsung di tempat lainnya.


###


Perang besar sudah dimulai. Perang terjadi tanpa berhenti. Walaupun seperti itu, tetapi kehidupan lainnya masih berjalan dengan normal. Bedanya, setiap saat, kematian pasti selalu terjadi.


Di suatu tempat, tiga orang pendekar muda sedang bertempur sengit melawan tiga orang musuh yang berasal dari Kekaisaran Sung.


Ketiga pendekar muda itu mempunyai kekuatan yang cukup lumayan. Bahkan mereka bertiga sudah mempunyai nama yang cukup terkenal di dunia persilatan.


Mereka merupakan satu pria tampan dan dua gadis cantik. Usianya tidak berbeda jauh dengan Chen Li si Pendekar Tanpa Perasan. Semuanya mempunyai wajah yang rupawan.


Setiap orang yang melihat mereka, pasti akan menaruh rasa simpati. Siapapun pasti akan menyukainya. Apalagi mereka bertiga adalah pendekar muda yang sangat ramah kepada siapapun.

__ADS_1


Kalau bukan Yuan Shao cucu dari Yuan Shi, Li Meng Yi cucu dari Li Xu, dan Ye Moi Xiuhan yang merupakan cucu dari Ye Rou, siapa lagi?


Ketiga pendekar muda yang dimaksud memang mereka. Sahabat baik dari Pendekar Tanpa Perasaan.


Setelah setahun terakhir sering melakukan pengembaraan ke berbagai penjuru Kekaisaran Wei, akhirnya mereka bertiga mulai dikenal luas. Ketiga pendekar muda tersebut telah mempunyai nama yang cukup cemerlang.


Sepak terjang ketiganya yang selalu membela kebenaran dan keadilan, menjadikan dirinya cepat naik daun. Setiap orang yang mereka temui pasti mengenal dirinya masing-masing.


Bahkan hebatnya lagi, tiga pendekar muda dari Kekaisaran Wei tersebut sudah mempunyai julukan masing-masing.


Yuan Shao dijuluki Pangeran Pedang Emas, Ye Moi Xiuhan dijuluki Gadis Penarik Sukma, alasannya karena kecantikan gadis itu benar-benar di atas gadis seusianya. Sedangkan Li Meng Yi dijuluki Puteri Gunung Salju.


Masing-masing dari mereka mempunyai julukan yang indah. Julukan itu sangat sesuai dengan penyandangnya sendiri-sendiri.


Sekarang ketiganya sedang berjuang untuk membela tanah airnya, Kekaisaran Wei. Mereka bertarung dengan serius. Dengan jurus yang baru, cara bertarung baru dan dengan semangat baru.


Ternyata, Yuan Shao, Li Meng Yi dan Moi Xiuhan mempunyai bakat yang sangat tinggi. Terbukti sekarang, di usianya yang baru sekitar empat atau lima belas tahun, ketiganya sudah mampu mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap satu pertengahan.


Meskipun masih terbilang rendah, tapi bagi bocah remaja seusianya, pencapaian itu sudah bisa dibilang luar biasa.


Meskipun begitu, tapi setiap serangannya mampu menebarkan kematian. Sepak terjangnya dalam pertarungan itu sungguh tangguh. Dia tampak seperti seekor singa betina yang sedang marah besar.


Dengan senjata berupa dua pisau kembar, tokoh wanita itu berusaha keras untuk memenangkan pertarungan tersebut.


Sekarang dia berada dalam posisi menyerang. Kedua tangan yang memegang senjata itu menerjang ganas. Dua cahaya biru memancar terus menerjang tanpa henti ke arah Yuan Shao.


Jurus terkuatnya sudah dia keluarkan. Meskipun lawannya hanya merupakan pendekar muda, namun wanita itu tahu bahwa dia bukan remaja yang mudah untuk dihadapi.


Terbukti sekarang, meskipun pertarungan keduanya sudah mencapai lima puluh jurus, tetapi belum ada satupun yang berhasil mendesak lawannya.


Wushh!!! Wushh!!!


Dua serangan berbeda datang secara bergantian. Yuan Shao menghindari kedua serangan itu dengan cara berjumpalitan di udara. Dia memutarkan tubuhnya tiga kali lalu memberikan serangan balasan untuk lawannya.


Yuan Shao memberikan tebasan serius menggunakan pedang pusaka hadiah dari Chen Li, Pedang Phoenix Emas memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

__ADS_1


Segulung tenaga dahsyat datang menerjang si wanita secepat kilat. Tebasan Pangeran Pedang Emas sangat hebat. Dalam serangan yang tampak sederhana itu, ternyata terdapat sebuah gerakan berbahaya lainnya.


"Pedang Menembus Cahaya …"


Wushh!!!


Yuan Shao mengganti serangannya dalam waktu singkat. Tebasan pedang tadi mendadak berubah menjadi hujan tusukan. Tusukan yang sangat cepat sekaligus dahsyat.


Slebb!!!


Setelah sepuluh jurus kemudian, Pedang Phoenix Emas akhirnya menemukan incaran tuannya. Ujung pedang itu dengan telak menembus dada si wanita.


Darahnya langsung jatuh membasahi tanah. Dia ambruk saat Pedang Phoenix Emas dicabut dari dadanya.


Li Meng Yi juga sedang bertarung. Pedang Kembar Bunga Lotus Es memancarkan kekuatan saktinya.


Hawa dingin menyeruak ke sekitar tempat pertarungannya. Dalam radius lima puluh meter, hawa dingin yang terpancar keluar dari pedang pusaka itu pasti dapat terasa dengan sangat jelas.


Lawannya adalah seorang pria masih terbilang muda. Mungkin baru sekitar tiga puluh tahunan. Dia menggunakan senjata berupa tongkat hitam legam.


Saat ini pertarungan mereka berhenti untuk beberapa saat. Pria itu menatapnya dengan tajam. Dendam yang mendalam terlihat jelas di matanya.


Li Meng Yi sendiri tidak merasa takut. Apalagi dia sudah bisa mengukur sampai di mana kekuatan lawannya. Gadis yang imut itu malah tersenyum dengan manisnya.


Wushh!!!


Sinar hitam menembus angkasa. Tongkat pusaka itu telah bergerak. Hantaman tongkat datang dari arah sebelah kanan. Cepatnya bukan main.


Tapi Puteri Gunung Salju itu tidak gentar. Dia malah terlihat sangat bahagia sekali. Tubuhnya mencelat tinggi ke atas. Dua tebasan dengan masing-masing pedang dia layangkan secara bersamaan.


Wushh!!!


Empat sinar biru muda melesat menerjang lawannya. Hawa dingin bertambah pekat. Li Meng Yi bergerak memberikan serangkaian dahsyat yang sulit untuk dibaca ke mana arahnya.


Pria yang menjadi lawannya sedikit kewalahan. Tak disangka ternyata gadis cantik yang tampak lemah lembut itu, ternyata mampu menciptakan serangan sedahsyat ini.

__ADS_1


__ADS_2