Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Amarah Shin Shui I


__ADS_3

Di saat mereka sedang bicara kembali, tiba-tiba Eng Kiam datang bersama Chen Li yang masih memakai tampilan penyamaran, sama seperti ayahnya. Bocah itu berjalan di belakang sang gadis. Ketika sampai di tengah ruang tamu di mana ayahnya sedang bicara, dia justru malah tertawa.


"Kau tidak papa Li'er?" tanya Shin Shui khawatir karena anaknya tadi tiba-tiba pingsan.


"Aku tidak papa ayah," katanya lalu memberikan hormat kepada Kakek Tua Jubah Hitam dan duduk di dekat Shin Shui.


"Apa yang kau tertawakan?" tanya Shin Shui keheranan melihat anaknya terus menahan tawa.


"Tidak, tidak. Li'er hanya teringat delapan pembunuh itu. Tidak menyangka bahwa mereka dapat aku bohongi. Hahaha, andai dia tidak membiarkanku menggunakan pedang, mungkin aku sudah tak bernyawa sekarang," katanya lalu tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha, buah jatuh memang tidak jauh dari pohon. Ayah ibunya cerdas, sudah pasti anaknya juga cerdas," kata Kakek Jubah Hitam tertawa saat teringat kejadian itu, kebetulan dia juga sempat melihatnya di tempat persembunyian tadi.


Ketika sedang asyik tertawa, tiba-tiba saja Kakek Tua Jubah Hitam menghentikan tawanya lalu ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.


Dia bersiul dengan kencang sehingga menggetarkan rumah sederhana tersebut. Tak berapa lama, binatang peliharaannya yang berbisa tiba-tiba mengamuk dan pergi ke suatu tempat.


"Ada apa senior?" tanya Shin Shui heran.


"Ada beberapa orang penyusup yang mendengar pembicaraan kita," katanya serius.


"Kurang ajar," geram Shin Shui.


Selesai berkata, tubuhnya sudah hilang dari sana. Detik selanjutnya dia tiba di tengah hutan yang sempat dia lewati saat menuju ke kediaman Kakek Tua Jubah Hitam.


Di tengah hutan itu ada sekelompok binatang berbisa seperti ular bersisik merah api, kalajengking berukuran besar dan lain sebagainya. Semua binatang itu merupakan peliharaan Kakek Tua Jubah Hitam.


Mereka sedang mengepung tiga orang berpakaian hijau tua dan memakai cadar.


Shin Shui tiba di sana lebih dulu, tak lama Kakek Tua Jubah Hitam dan yang lain pun segera sampai.


"Siapa kau berani sekali menyusup di kediamanku?" tanya kakek tua itu dengan sangat marah.


Dia paling tidak suka ada orang yang mengintip pembicaraannya.


Ketiga orang tersebut tidak menjawab sama sekali. Tapi jelas bahwa dari wajah mereka menggambarkan ketakutan karena binatang berbisa milik Kakek Tua Jubah Hitam terus mengelilinginya.


Mendapati pertanyaannya tidak dijawab sama sekali, kakek tua itu semakin naik pitam. Dia segera memerintahkan semua binatangnya untuk menyerang tiga orang tersebut. Hanya dengan satu kali perintah, binatang-binatang itu segera menyerang tiga penyusup tanpa mampu memberikan perlawanan sedikitpun.


Setelah ketiganya tewas, Kakek Tua Jubah Hitam segera memeriksa siapa ketiga orang tersebut. Tapi sayangnya dia seperti tidak mengenali mereka.

__ADS_1


"Coba kau lihat sendiri pahlawan. Aku sama sekali tidak tahu mereka siapa dan dari mana asalnya," kata Kakek Tua Jubah Hitam.


Shin Shui mengangguk. Dia segera memeriksa ketiga orang tersebut. Setelah mendapatkan hasil, dia segera kembali.


"Siapa mereka?" tanya kakek tua.


"Orang-orang dari Kekaisaran Lain,"


"Apakah mungkin orang-orangnya Tuan Tang itu?"


"Mungkin saja," ucap Shin Shui.


"Apa tujuan mereka?"


"Entah. Tapi salah satunya tentu untuk mencari tahu siapa aku sebenarnya," kata Shin Shui dengan tenang.


"Hemm, sesuatu pasti akan segera terjadi," gumam Kakek Tua Jubah Hitam.


"Aku tahu itu. Tapi senior tenang saja, jangan khawatir," katanya.


###


Tiga hari sudah berlalu. Selama tiga hari itu, Shin Shui menginap di rumah sederhana milik Kakek Tua Jubah Hitam. Menjelang siang hari, ayah dan anak tersebut berniat untuk segera pergi dan kembali ke sekte mereka.


"Ada apa pahlawan?" tanya Kakek Tua Jubah Hitam keheranan.


"Hemm, ada sekelompok orang yang datang. Sepertinya mereka akan mencari masalah di sini," kata Shin Shui.


"Kita hadapi mereka. Tuan muda, Eng Kiam, kalian bersembunyi di tempat aman. Jangan keluar walau apapun yang terjadi. Eng Kiam, tuliskan surat lalu kirim ke beberapa rekanku lewat burung elang," kata Kakek Tua Jubah Hitam memberikan perintah.


"Baik guru. Kiam'er segera melaksanakannya," kata gadis itu sambil berlalu pergi membawa Li Cun.


Kedua orang itu segera berjalan ke hutan. Mereka menunggu beberapa saat sebelum akhirnya orang-orang yang dimaksud tiba di sana.


Di hadapan Shin Shui saat ini, terdapat kurang lebih dua puluh orang. Lima belas orang berseragam sama. Memakai jubah hijau dan cadar hijau pula. Lima lainnya walaupun mereka juga menggunakan cadar, tapi baik Shin Shui maupun Kakek Tua Jubah Hitam, sudah tahu siapa mereka.


"Rupanya kalian belum kapok juga," kata Kakek Tua Jubah Hitam menahan marah.


"Maksudmu?" kata salah seorang.

__ADS_1


"Tidak perlu berkelakar lagi Hek Jiu Lin. Kau pikir aku tidak mengenalimu? Hemm …"


"Hahaha, mata Orang Tua Jubah Hitam memang tidak bisa dibohongi," pujinya sambil tersenyum sinis.


"Tidak perlu memuji. Aku tidak butuh pujianmu, katakan saja tujuanmu yang sebenarnya," kata kakek tua itu semakin kesal.


"Tenang saja orang tua. Aku tidak akan mencari masalah denganmu asalkan orang itu kau serahkan kepada kami," kata Hek Jiu Lin sambil menunjuk Shin Shui.


"Maksudmu keponakanku? Kau cari mampus rupanya,"


"Kau tidak perlu berbohong lagi. Lebih baik serahkan saja dia sekarang sebelum aku bertindak lebih jauh,"


"Hemm, kalau aku tidak mau?"


"Aku akan memaksa,"


"Kau pikir kau sanggup melawanku?"


"Hahaha … orang tua, orang tua. Kau pikir kau mampu melawan orang-orang ini sekaligus? Jangan berlagak bodoh," kata Hek Jiu Lin tertawa sombong.


Kakek Tua Jubah Hitam tidak langsung bicara. Dia justru bersiul keras seperti tiga hari lalu untuk memanggil semua binatang beracun peliharaannya. Selesai bersiul, puluhan binatang berbisa dengan jenis bermacam-macam segera bermunculan dari semak belukar.


"Hemm, mainan anak-anak. Kami sudah mempunyai cara untuk melawan binatang mainanmu ini kakek tua," katanya mengejek.


Shin Shui mulai geram. Sesabar-sabarnya dia, tetap saja pendekar itu masih mempunyai nafsu yang tinggi.


"Hek Jiu Lin. Jangan kau bermain-main denganku. Apa kau kira aku takut kepadamu?" Shin Shui berkata dengan suaranya yang berubah berat.


"Hahaha, akhirnya kau berani bicara juga. Kalau memang tidak takut, kenapa harus menyamar?" tanyanya mengejek.


"Baik, aku akan membuka penyamaranku sekarang juga," kata Shin Shui sambil memperlihatkan penampilan aslinya.


Jubahnya berkibar megah tertiup angin. Aura agung keluar dari tubuhnya. Sosok yang ditakuti para pendekar Kekaisaran Wei menampakkan dirinya sekarang. Kalau sudah begini, maka kejadian selanjutnya pasti bisa ditebak dengan mudah.


"Hahaha, ternyata yang katanya pahlawan justru tidak punya nyali. Buktinya selama ini menyamar menjadi orang asing,"


"Tutup mulutmu. Aku melakukan pengamatan hanya karena ingin menyelidiki kejadian yang sebenarnya. Dan ternyata memang benar, orang-orang yang katanya beraliran putih, justru melakukan perbuatan hina. Sungguh memalukan. Bahkan kau lebih hina dari manusia hina manapun. Dalam waktu satu minggu, aku pastikan sektemu hancur berikut dengan namamu," kata Shin Shui sangat serius.


"Keparat. Berani sekali kau menghina dan mengancamku,"

__ADS_1


"Terserah. Tapi siapapun tahu, kalau aku sudah bicara, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi," tegas Shin Shui lalu mengeluarkan aura yang mampu menekan semua orang.


Ada rasa gentar di dalam diri orang-orang yang hadir di sana. Sebab memang mereka mengetahui bagaimana sifat Shin Shui. Sekali dia bilang, maka pasti dia akan melakukannya. Sekali dia bicara akan bertindak, maka tidak akan ada yang sanggup menghalangi kecuali Dewa Kematian.


__ADS_2