
Wushh!!! Wushh!!!
Empat bayangan manusia tak dikenal itu melesat cepat ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Keempatnya melakukan hal yang sama seperti rekannya yang telah tewas, mereka turut melayangkan jurus jarak jauh dan serangan jarak dekat.
Semuanya terhitung jurus dan serangan kelas atas. Apalagi kalau mengingat bahwa mereka itu merupakan Pendekar Dewa tahap satu. Meskipun baru tahap satu, namun siapapun mengerti bahwa tingkatan seperti ini sudah terhitung sangat tinggi.
Semakin tinggi tahapan seorang pendekar, semakin lama dan semakin susah juga untuk naik ke tingkatan selanjutnya.
Jurus jarak jauh telah tiba. Empat sinar menerjang dari empat penjuru mata angin.
Pendekar Tanpa Perasaan masih berdiri si tempatnya semula. Sedikitpun dia belum bergerak. Pemuda itu seperti tidak melihat adanya ancaman maut. Hal tersebut membuat keempat musuhnya bertambah geram. Mereka merasa begitu direndahkan oleh bocah kemarin sore.
Wushh!!! Duarr!!!
Keempat jurus jarak jauh yang dilancarkan dengan segenap kemampuan itu langsung lenyap saat berbenturan dengan sebuah sinar merah membara.
Hanya sekali benturan, semuanya sirna tanpa jejak yang pasti. Hanya terlihat sekilas, sinar merah yang dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan seketika lebur bersama hancurnya empat jurus dari semua lawannya tadi.
Tepat pada saat hancurnya semua serangan itu, jurus yang dilancarkan dengan jarak dekat itu menerjang pemuda itu dengan ganas. Datangnya serangan tersebut seperti hujan badai yang tiba bersama amarah.
Trangg!!! Slebb!!!
Benturan senjata pusaka terdengar satu kali. Detik selanjutnya semuanya langsung berhenti. Empat serangan telah tiada. Nyawa pemiliknya pun sudah melayang.
Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Empat Pendekar Dewa tahap satu telah mampus di ujung Pedang Merah Darah milik Pendekar Tanpa Perasaan.
Mereka tewas tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Semuanya mati membawa rasa penasaran. Mayat mereka bergelimpangan di bawah sepasang kakinya. Bau anyir darah tercium bersama semilir angin yang berhembus.
Chen Li tersenyum dingin. Sedikitpun dia tidak menyentuh mayat-mayat tersebut. Bahkan dia hanya meliriknya sekilas. Setelah itu, pemuda tersebut langsung melesat melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda.
###
Di depan sana ada sebuah bangunan besar dan megah. Sekeliling bangunan ada tembok setinggi dua tombak. Di depan gerbang ada empat penjaga yang sedang menjalankan tugasnya dengan malas-malasan.
Dahulu, tiga tahunan yang lalu, tempat ini adalah sebuah markas cabang Organisasi Elang Hitam. Chen Li masih mengingat dengan jelas saat kejadian tersebut.
Tapi sekarang, apakah benar bahwa tempat itu masih menjadi markas organisasi tersebut?
Chen Li mencoba melangkah ke sana. Dia ingin tahu dan ingin memastikan apakah tempat itu masih merupakan sebuah markas atau bukan.
Langkahnya ringan. Setiap langkah itu dipenuhi dengan keyakinan. Wajahnya masih dingin. Di balik topeng, tatapan matanya juga dingin.
Setelah beberapa puluh langkah, akhirnya Chen Li tiba di hadapan para penjaga gerbang tersebut.
__ADS_1
"Numpang tanya, tempat apakah ini?" tanya pemuda itu dengan sopan.
"Saudara apakah orang baru di sini? Sehingga tidak mengenal tempat ini," jawab seorang penjaga sambil memandangi Chen Li.
"Benar, aku orang baru. Aku hanyalah orang yang datang dari jauh,"
"Aii, pantas saja. Di sini tempat hiburan malam,"
"Hiburan malam?" tanya Chen Li mengulangi perkataan si penjaga tersebut.
"Benar, ini adalah tempat hiburan malam. Kalau malam nanti pasti ramai pengunjung,"
"Kalau aku ingin masuk, apakah boleh?"
"Boleh saja Tuan Muda. Tapi lebih baik datang malam nanti saja,"
"Baik, malam nanti aku akan datang kemari,"
Setelah berkata demikian, Chen Li langsung beranjak pergi kembali. Bukan pergi mencari penginapan, tapi dia pergi mencari tempat untuk mengawasi gedung tersebut.
Tubuhnya melejit ke atas lalu meluncur ke sebuah pohon tertinggi yang ada di sana. Dari pohon tersebut, Chen Li dapat melihat semuanya dengan jelas.
Pemuda itu tidak percaya seratus persen atas apa yang diucapkan oleh si penjaga tadi. Benarkah gedung megah itu adalah tempat hiburan malam? Kalau memang iya, kenapa dia sempat melihat di dalamnya ada orang-orang dari dunia persilatan?
Dua tanda ini sangat mencurigakan. Karena itulah dirinya berniat untuk mengawasi keadaan sekitar.
###
Malam telah tiba. Malam ini terang bulan. Di langit tiada awan, yang ada hanyalah bintang gemerlapan dengan indah.
Chen Li sudah memasuki gedung megah tadi beberapa saat yang lalu.
Begitu dia masuk, ternyata di sana sangat ramai. Memasuki ke dalam, mulai terdengar suara erangan kenikmatan. Apa yang dia lihat saat ini memang benar seperti tempat hiburan malam. Tapi bagaimanapun juga, dia masih belum percaya.
Matanya memandangi keadaan seisi ruangan. Semua pengunjung yang datang ternyata dari kalangan pendekar. Kalau benar gedung ini adalah tempat hiburan malam, tempat para pria hidung belang, rasanya mustahil kalau pengunjungnya hanya orang-orang gagah.
Suasana di dalam gedung remang-remang. Setiap orang tenggelam bersama kenikmatan dunia. Chen Li berjalan seorang diri.
Karena tempatnya gelap, seorangpun tiada yang memperhatikannya. Pemuda itu menyusuri semua ruangan yang ada di sana. Segala macam tempat dia telusuri perlahan.
Sehingga pada akhirnya, Chen Li menemukan ruangan yang dia cari. Di dalam ruangan terdengar ada beberapa orang sedang diskusi, meskipun suara mereka terdengar pelan, tapi baginya sangat jelas.
"Rencana apa yang akan kita lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Masalah ini kita akan bicarakan nanti. Yang sekarang menjadi masalah adalah dari mana para pendekar aliran putih mempunyai keberanian seperti itu? Aku tidak menyangka bahwa mereka berani menyerang kemari," kata seseorang dari dalam ruangan itu, suaranya terdengar mengandung kebencian.
"Apa mungkin mereka sudah mempunyai seorang pendekar yang dapat diandalkan?"
"Tidak, tidak mungkin. Mungkin mereka …"
Sebelum ucapan orang tersebut selesai, tembok ruangan itu telah hancur. Ruangan yang tadinya tenang kini mendadak riuh karena suara hancurnya dinding tembok.
Satu sosok telah berdiri di hadapan mereka. Sosok itu menatap dingin kepada mereka. Dari tubuhnya sudah mengeluarkan hawa pembunuhan yang amat pekat.
"Siapa kau?" tanya seorang di antara mereka sambil membentak.
"Pendekar Tanpa Perasaan …" jawabnya dengan dingin.
Sosok yang dimaksud memang Chen Li.
Chen Li tidak ingin berlama-lama lagi. Selama ada orang-orang yang berani menyinggung aliran putih, selama telinganya mendengar, maka dia akan langsung bergerak.
Siapapun yang berani, dia tidak segan untuk menindaknya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Apalagi? Aku akan kembali menghancurkan tempat ini,"
"Atas dasar apa kau melakukannya?"
"Karena ingin,"
Hanya itu jawaban Chen Li. Tidak kurang dan tidak lebih.
"Alasan itu belum cukup,"
"Bagiku sudah lebih dari cukup," jawabnya sambil tersenyum dingin.
Orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berjumlah delapan orang. Semuanya bertampang seram. Saat ini, mereka sedang menatap Chen Li dengan tajam.
"Apakah kalian para petinggi Organisasi Elang Hitam?" tanyanya.
"Benar,"
"Apakah para pengunjung itu merupakan anggota kalian?"
"Tepat,"
__ADS_1
"Bagus," jawab Chen Li menyeringai tajam.