Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bergerak


__ADS_3

Dua orang bocah kecil itu terlihat sangat bersemangat sekali. Huang Taiji Li juga bersemangat. Kalau menyangkut masalah membasmi kejahatan, dia memang selalu bersemangat.


Meskipun dia jatuh sakit, jika menyangkut persoalan ini, dia tetap akan semangat.


Karena dia adalah pengawal pribadi Dewa Lima Unsur.


Seorang Dewa tentu saja harus melakukan kebenaran. Seorang Dewa harus menolong umat manusia yang sedang mengalami bencana. Bagaimanapun caranya.


Dan hal itu bukan hanya berlaku kepada Para Dewa saja. Kepada pengawal pribadi Dewa pun berlaku.


Seperti halnya Huang Taiji.


Dia melesat lebih dulu. Chen Li dan Moi Xiuhan mengikutinya dari arah belakang. Setelah ketiganya hampir tiba di pintu gerbang, tiga orang tersebut segera memisahkan diri.


Huang Taiji Lu sebelah tengah. Chen Li sebelah kanan, sedangkan Moi Xiuhan sebelah kiri.


Pendekar Pedang Tombak terlihat seperti setan. Bayangan putih berkelebat. Kedua tangannya bergerak secara cepat dan aneh. Tanpa menimbulkan suara apapun, tanpa terdengar teriakan apapun, empat orang penjaga berkekuatan Pendekar Langit tahap tiga telah menemui ajal mereka.


Entah bagaimana orang tua itu dapat melakukannya. Sebab semua gerakannya sangat cepat dan tepat.


Chen Li juga melesat sekuat tenaga. Ilmu meringankan tubuhnya telah keluar hingga tahap sempurna. Bayangan putih melesat bagaikan sukma gentayangan.


Kekuatan dari Mata Dewa Unsur Bumi langsung merembes keluar dari setiap pori-pori di tubuhnya. Pedang Awan sudah dia genggam di tangan kiri.


Bocah itu memang lain daripada yang lain. Dia pendekar pedang yang kidal. Kebiasaannya lain daripada pendekar pada umumnya. Namun jangan salah, biasanya mereka yang berbeda justru terkadang lebih luar biasa lagi.


Cahaya biru berkelebat secepat tarikan nafas. Suara tertahan terdengar memilukan. Satu orang penjaga di sudut sebelah kanan telah roboh dengan kondisi leher hampir putus.


Belum lagi darahnya habis, seorang penjaga mengalami hal yang sama. Dia terbunuh. Tapi nasibnya lebih buruk daripada yang sebelumnya. Kepalanya menggelinding. Darah muncrat ke segala sudut.


Cahaya biru kembali terlihat memancar. Satu kepala langsung menggelinding kembali.


Tiga penjaga tewas dalam waktu beberapa tarikan nafas. Mereka mati membawa rasa penasaran dan rasa tidak percaya.


Siapapun jika tidak melihat secara langsung, bisa dipastikan mereka juga tidak akan percaya.

__ADS_1


Seorang bocah ingusan bisa membunuh tiga orang penjaga yang usianya puluhan tahun lebih tua dari dia sendiri, bukankah ini seperti dongeng?


Tapi hal ini bukan dongeng. Melainkan sebuah kenyataan yang siapapun harus percaya.


Di sebelah kiri, Moi Xiuhan juga telah melancarkan aksinya. Kipas yang terdapat di pinggangnya terlihat sangat cantik. Warnanya merah muda. Sama seperti pakaian yang dia pakai saat ini.


Dia memang menyukai warna-warni yang cerah. Dengan tubuhnya yang mungil menggemaskan, dia memang terlihat bertambah cantik jika memakai pakaian berwarna cerah.


Desiran angin yang lembut seperti belaian kekasih tiba-tiba menerpa tiga orang penjaga. Gerakan angin itu sangat cepat sekali. Baru saja ketiganya memalingkan kepala, mendadak sebatang kipas berujung besi lancip telah mengancam nyawanya.


Untungnya mereka dapat menghindari serangan itu. Dua orang lainnya langsung mengambil posisi waspada.


Moo Xiuhan memang tidak bisa membunun secepat Huang Taiji ataupun Chen Li. Sebab kekuatannya sekarang baru mencapai tingkatan Pendekar Surgawi tahap empat.


Walaupun dia bisa melawan tiga orang itu dengan mudah, namun jika maju bersama, maka dia akan sedikit kesulitan juga.


Meskipun gadis kecil itu dapat membunuh lawannya dalam beberapa jurus, tapi bisa dipastikan kehadirannya akan segera diketahui yang lain.


Karena itu sebelum tiga orang penjaga tadi bergerak, Moi Xiuhan telah mendahuluinya.


Namun tiga penjaga tidak bisa menghindar lagi. Sebab saat niatnya untuk menghindar muncul, enam buah senjata rahasia itu sudah masuk ke dalam jantungnya.


Hanya dalam satu kali serangan, mereka tewas.


Jika Chen Li dan Huang Taiji mampu membunuh dengan kecepatan dan kekuatan, maka Moi Xiuhan mampu membunuh dengan kecepatan dan kecerdikan.


Masalah pertama telah selesai. Mereka berniat untuk berkumpul kembali di tempat yang sebelumnya sudah ditentukan. Namun sayangnya sebelum tiga orang itu berkumpul, mendadak puluhan orang berpakaian hitam keluar dari sudut penjuru.


Cahaya lampu yang remang-remang menyoroti halaman bangunan mewah tersebut. Puluhan senjata telah berkilat terkena pantulan sinar.


Bukan hanya para penjaga saja yang sudah ada di si sana. Tetapi tuan rumah juga sudah ada di dalamnya.


Angin berhembus lirih. Suasana seketika terasa mencekam.


Chen Li, Huang Taiji dan Moi Xiuhan telah berada di dengan halaman. Mereka sudah dikelilingi oleh sekitar lima puluhan orang.

__ADS_1


Di depan pintu masuk utama, berdiri sepuluh orang yang memancarkan aura sesat.


Kekuatan mereka cukup tinggi. Empat di antaranya berkekuatan Pendekar Dewa tahap tiga awal. Tiga Pendekar Dewa tahap dua. Dua Pendekar Dewa tahap lima akhir. Dan satu lagi Pendekar Dewa tahap enam akhir.


Tiga orang itu berdiri berjajar. Mata mereka terfokus kepada sepuluh orang yang ada di hadapannya.


"Malam hari begini, tamu dari manakah yang berani datang dan membuat kekacauan?" tanya seorang tua. Umurnya sekitar enam puluhan tahun. Dia memakai pakaian kuning terang.


"Tamu dari Barat. Datang kemari membawa kabar kematian," kata Huang Taiji Lu garang.


"Ah, orang tua ini sungguh bernyali besar. Atas dasar alasan apakah kalian ingin membunuh di tempat ini?"


"Kami bisa membunuh tanpa alasan apapun. Asalkan kami mau, kami bisa melakukannya," tegas Chen Li.


Suaranya dingin. Seperti dinginnya angin malam ini. Ekspresi wajahnya mendadak berubah seperti iblis. Senyumannya terlihat sangat bengis. Seperti sebuah senyuman Malaikat Pencabut Nyawa.


Tanpa sadar Moi Xiuhan bergidik juga. Wajah tampan itu justru berubah menjadi wajah yang misterius dan menyeramkan.


"Aii, ternyata ada saudara kecil juga. Orang tua dengan anak kecilnya, ternyata sama saja,"


"Kalian tidak perlu banyak bicara. Sebab kami ke sini bukan untuk berbicara,"


"Lalu?"


"Untuk mencabut nyawa," tegas Chen Li.


Walaupun usianya masih belia, tapi pancaran kekuatannya cukup membuat seluruh bulu berdiri. Bahkan tanpa terasa mereka juga sedikit ngeri.


Aura pembunuh yang dikeluarkan bocah itu ternyata membuat siapapun mengejutkan. Semua orang yang ada di sana merasakan hal yang sama. Mereka juga mengerti.


Bahwa semakin kental dan pekat aura pembunuhan yang keluar dari tubuh seseorang, maka bisa dipastikan sudah banyak yang melayang di tangannya.


"Hehehe, suadara kecil ini sungguh percaya diri. Bagaimana kalau kalian lawan dulu puluhan orang ini? Kalau kalian mampu, berarti memang kalian pantas untuk melawan kami. Kalau tidak, maka kalian sudah tahu sendiri jawabannya," kata orang tua berbaju kuning itu.


Kekuatannya paling tinggi. Wibawanya juga paling tinggi.

__ADS_1


Sebab dia adalah dalamg utama. Dialah orang yang sudah menyamar menjadi Tuan Zhu Xi, kepala keluarga utama dari keluarga bangsawan Zhu.


__ADS_2