
Lima penjaga tenda darurat dibuat kaget setengah mati. Seumur hidupnya, baru kali ini mereka berjumpa dengan seorang pendekar belia yang mempunyai kekuatan mengerikan sepertinya.
Tanpa dapat dipungkiri lagi, mereka merasakan ketakutan tersendiri. Bahkan nyalinya ciut saat itu juga.
Dia bukan nampak seperti manusia atau bocah pada umumnya. Tetapi lebih nampak seperti seorang monster yang menjelma menjadi seorang anak kecil.
Mereka teringat bahwa bocah itu mengenalkan diri sebagai Pendekar Tanpa Perasaan. Dan sekarang mereka mempercayai akan kebenaran ucapannya.
Bahkan menurut para penjaga tersebut, bocah itu tidak cocok dijuluki Pendekar Tanpa Perasaan. Tetapi rasanya lebih cocok jika dijuluki Pendekar Sekali Tarikan Nafas.
Ya, bagi mereka julukan tersebut terkesan lebih cocok dan lebih sesuai. Sebab bocah ingusan itu telah membunuh rekan-rekan mereka hanya salam satu tarikan nafas.
Pertarungan masih belum dilanjutkan lagi. Lima penjaga tenda darurat itu tertegun. Tidak ada satupun dari mereka yang berani memulai serangannya. Sebab kalau menyerang pertama, itu artinya orang tersebut akan mati pertama pula.
Manusia mana yang ingin menyerahkan nyawanya dengan percuma?
Tetapi, siapa juga yang akan melepaskan mereka? Sekalipun meminta untuk diampuni nyawa sampai bersujud di kakinya atau bahkan menangis mengeluarkan darah, Chen Li tetap tidak akan mengampuninya.
Misi tetaplah misi.
Iblis tetaplah iblis.
Tidak ada sejarahnya iblis bisa berubah menjadi manusia. Tetapi sudah banyak terjadi di seluruh muka bumi kalau manusia berubah menjadi iblis.
Dari dulu hingga saat ini.
Apakah wujud mereka berubah menjadi iblis? Tidak, bukan itu yang dimaksud.
Lalu?
Sifatnya.
Berapa banyak manusia yang berubah sifatnya sehingga menyerupai seperti iblis? Kalau kau tidak percaya, amati orang-orang di sekitarmu. Meskipun tidak semua, tetapi pasti ada yang masuk dalam kategorinya.
Chen Li belum juga bergerak. Dia masih tetap berdiri mematung di hadapan lima penjaga.
"Kenapa kalian tidak jadi menyerang?" tanyanya dingin.
"Ka-kami, tidak berani. Mohon Tuan Muda ampuni nyawa kami. Kasihan anak istri kami di rumah,"
__ADS_1
"Hemm, apakah kalian pernah berpikir juga bahwa orang-orang yang kalian bunuh mempunyai anak dan istri? Apakah kalian pernah berpikir bagaimana nasib keluarga mereka yang kalian bunuh? Apakah kalian memberikan ampunan kepada mereka? Kalau tidak, maka seharusnya kalian sudah tahu apa jawabannya,"
"Ampun Tuan Muda, ampun. Kami tidak berani lagi, kami berjanji,"
"Hemm, potong tangan kiri kalian," tegasnya dengan ekspresi yang sama.
"Ta-tapi …"
"Mau kalian potong sendiri atau aku yang potongkan?"
"Ba-baik Tuan Muda, baik," kata mereka dengan tubuh menggigil karena ketakutan.
"Crashh …"
Darah menyembur. Lima penjaga tenda darurat memotong tangan kirinya sebatas bahu. Mereka meringis menahan sakitnya.
"Apakah kami sudah boleh pergi?"
"Boleh. Pergilah ke neraka,"
Selesai berkata, bocah itu bergerak kembali. Sinar biru memancar terang seperti sebelumnya. Lima kali sinar terlihat berkelebat, lima nyawa juga yang melayang.
Terkait meminta pengampunan, jelas Chem Li tidak akan melakukannya. Janji orang seperti mereka hanya janji busuk. Sebusuk janji mantan kekasih.
Keadaan di tempat itu sepi kembali. Tidak ada lagi sinar berkelebat. Yang ada hanyalah bau amis darah menyeruak ke setiap penjuru.
Yanh ada hanyalah seorang bocah berusia dua belas tahun.
Bocah yang dingin dan tanpa perasaan.
Di sisi lain, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding juga melakukan hal sama seperti Chen Li. Dia menggoyangkan ilalang untuk memancing penjaga lainnya.
Setelah sepuluh penjaga tenda darurat menghampiri dirinya, dia tidak banyak bicara lagi.
Huang Taiji Lu bergerak. Bayangan berwarna putih melesat di kegelapan hutan dengan kecepatan mengerikan.
Hanya beberapa kali bergerak, sepuluh orang telah tewas bergelimang darah. Entah bagaimana cara dia melakukannya. Layaknya hantu, dia membunuh tanpa ampun terlihat bagaimana gerakannya.
Sepuluh penjaga itu tewas dengan luka cukup mengerikan. Dada mereka jebol. Dari setiap lubang di tubuhnya mengeluarkan darah yang tiada henti.
__ADS_1
Rencana pertama selesai, keduanya berkumpul kembali di tempat semula.
"Li'er, kau benar-benar luar biasa. Kekuatanmu sungguh jauh meningkat tajam," puji Huang Taiji setelah mereka bergabung kembali.
Walaupun dia tidak berada di lokasi kejadian saat Chen Li membunuh sepuluh penjaga, tetapi Huang Taiji Lu tahu bagaimana bocah itu melakukannya.
"Paman terlalu memuji. Li'er tidak berani menerima pujian itu," jawab Chen Li merendah.
"Hahaha, kau memang bocah luar biasa," katanya sambil tertawa.
"Terimakasih Paman. Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Untuk sekarang kita kembali lagi ke penginapan guna menghilangkan jejak. Besok tengah malam baru kita mulai rencana yang utama. Kita harus istirahat untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Termasuk kondisi tubuh," kata Huang Taiji Lu.
"Baik Paman, kalau begitu mari kita pulang," kata Chen Li lalu keduanya segera kembali ke penginapan.
Keesokan harinya, di puluhan tenda darurat tersebut terjadi kegaduhan. Semua orang dibuat marah tiada terkira saat melihat orang-orang mereka tewas dalam kondisi mengenaskan.
Terlebih lagi para petinggi kelompok tersebut. Mereka sungguh dibuat penasaran tentang siapa yang telah membunuh anggotanya.
Kejadian ini jelas menjadi masalah baru bagi orang-orang tersebut. Dua puluh Pendekar Langit tewas dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, siapa yang dapat melakukan hal tersebut?
Terlebih lagi jarak dua puluh penjaga dengan tenda tidak jauh. Bahkan terbilang sangat dekat. Namun anehnya, mereka seolah tidak mendengar suara kegaduhan apapun sehingga tidak tahu sama sekali akan kejadian ini.
Kalau di lihat dari luka yang diderita para anggota, jelas bahwa pelaku pembunuhnya merupakan seorang pendekar kelas atas yang kekuatannya sudah sangat tinggi.
"Pasti pelakunya tokoh dunia persilatan. Kita mendapatkan masalah baru, aku minta kalian bergerak menyusuri seluruh kota. Kalau ada orang yang mencurigakan, habisi tanpa banyak bicara," perintah seorang pemimpin dalam kelompok tersebut.
Siapapun dia, pasti akan beranggapan sama dengannya. Pelakunya sudah tentu tokoh sakti.
Dia tidak tahu, padahal pelaku yang sesungguhnya hanyalah merupakan bocah ingusan saja.
"Baik, perintah akan segera dilaksanakan," kata dua puluh anggota yang tersisa bersama beberapa Pendekar Dewa tahap dua lainnya.
Serentak orang-orang tersebut segera berpencar ke segala penjuru. Bahkan seluruh bagian hutan pun mereka telusuri dengan seksama.
Di hutan tidak menemukan hasil, mereka segera memasuki kota. Setiap ada orang yang mencurigakan, akan langsung dibunuh. Tak terkecuali meskipun orang tersebut tidak mengerti ilmu silat sedikitpun.
Pembunuhan kembali terjadi di mana-mana. Puluhan nyawa melayang tanpa tahu apa alasannya mereka di bunuh. Mereka adalah orang-orang yang menjadi sasaran amukan manusia iblis.
__ADS_1
Hingga pada siang harinya, dua orang dari kelompok tadi sampai di restoran yang cukup ramai. Di mana di dalam restoran tersebut ada pelaku yang sebenarnya.