Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Lima Harimau Emas


__ADS_3

Maling Sakti Hidung Serigala mengangguk senang. Kemudian dia kembali mengajak Chen Li untuk berburu ke hutan bagian hutan yang lebih dalam lagi.


Setelah beberapa saat menelusuri hutan, akhirnya mereka berdua menemukan seekor rusa yang cukup gemuk. Rusa itu sedang memakan yang tampak tumbuh subur di sana.


Maling Sakti Hidung Serigala mengambil sebatang ranting pohon seukuran ibu jari. Setelah itu, dia segera melesatkan ranting tersebut ke arah si rusa.


Dengan tenaga dalamnya yang tinggi, bukanlah perkara sulit untuk mengubah sebatang ranting tumpul menjadi ranting tajam.


Ranting tersebut melesat sangat cepat sekali sehingga dia tidak mampu menghindarinya.


"Slebb …"


Ranting pohon yang dilemparkan oleh Maling Sakti berhasil menembus perutnya. Setelah itu, keduanya segera menghampiri rusa.


Namun sebelum mengambilnya, Maling Sakti Hidung Serigala dikejutkan oleh sesuatu yang terdapat di sana. Ternyata rusa tadi sedang memakan jamur yang ada di sana.


Tetapi, jamur tersebut bukanlah jamur sembarangan. Jamur itu berkhasiat untuk menambah tenaga dalam dan imunitas tubuh supaya lebih tahan terhadap segala cuaca. Walaupun tenaga dalam yang akan didapatkan tidaklah besar, tetapi jamur tersebut sangat enak di masak menjadi olahan apapun. Bahkan jika dipanggang sekalipun terasa lezat.


"Li'er, kau ambil semua jamur yang ada di sini," kata Maling Sakti menyuruh Chen Li untuk mengumpulkan jamur yang ada.


"Baik Paman. Tapi, apakah jamur ini bermanfaat?" tanyanya penasaran.


"Tentu saja. Ini namanya Jamur Hutan Liar. Dinamakan seperti itu karena memang jamur ini hanya tumbuh di hutan belantara. Khasiatnya untuk menambah imunitas tubuh, juga untuk tenaga dalam. Kalau kita panggang bersama daging rusa, tentu ini akan enak sekali," kata Maling Sakti.


"Wah, sepertinya memang enak. Baiklah, aku akan mengumpulkan semua jamur ini," ucap Chen Li bersemngat.


Setelah berhasil mengumpulkan jamur, mereka berdua segera kembali ke goa di kana terdapat Shin Shui yang sedari tadi sudah menunggu.


"Kalian berdua lama sekali," kata Shin Shui begitu keduanya tiba.


"Aku mendidik Li'er sebentar. Dia habis bertarung dengan siluman harimau emas. Untungnya dia menang sehingga berhasil mendapatkan mustikanya," jawab Maling Sakti lalu menguliti rusa hasil tangkapannya.


"Pantas saja lama. Lalu apa yang kau bawa itu Li'er?"


"Kata Paman Yang, ini namanya Jamur Hutan Liar. Khasiatnya sebagai penambah tenaga dalam dan juga bisa memperkuat imunitas tubuh," jawab Chen Li lancar.


"Bagus. Kau memang anak pintar," puji Shin Shui lalu meminta jamurnya untuk dibakar bersama.

__ADS_1


Di saat sedang membakar rusa dan jamur, tiba-tiba Chen Li bertanya kepada Shin Shhi. "Ayah, apakah Ayah tidak membawa makanan di Cincin Ruang?"


"Bawa. Bahkan arak juga ada," jawabnya enteng.


Sontak Chen Li kesal. "Lalu kalau begitu, kenapa Ayah menyuruh kami untuk mencari makan?"


"Supaya kau bisa belajar dan menambah pengalaman. Selain itu, kau juga harus dapat bertahan hidup. Ayah memang mempunyai semuanya, tapi semua itu tidak akan selamanya menjadi milik Ayah. Bisa saja semua yang Ayah miliki habis secara tiba-tiba. Karena itulah kau harus mandiri,"


"Maksud Ayah?" tanya Chen Li belum paham.


Apakah maksud Shin Shui itu adalah harta? Kalau benar, bukankah harta dia banyak? Lalu, kenapa dia bisa berkata seperti barusan?


Dalam hatinya Chen Li bertanya-tanya, tetapi dia tidak menemukan jawaban yang cocok.


"Suatu saat kau akan mengerti," jawab Shim Shui singkat.


Dia tidak mau terlalu memanjakan anaknya tersebut. Sebisa mungkin, dia harus mandiri. Di mana pun dan kapan pun.


"Haishh …" Chen Li hanya dapat pasrah. Kalau ayahnya sudah berkata demikian, dia tentu tidak berani lagi untuk memperpanjang. Bisa-bisa kepalanya akan di pukul.


Semua hidangan sudah matang. Arak segera dikeluarkan dari Cincin Ruang.


Mereka segera menikmati hidangan yang ada. Baik Shin Shui maupun Maling Sakti, keduanya sudah menuangkan arak ke mulutnya.


Tidak berapa lama, Chen Li pun turut ambil bagian. Tentu saja dia tidak mau ketinggalan setelah merasakan kenikmatan arak milik ayahnya.


"Li'er, kau sudah minum arak?" tanya Maling Sakti terkejut.


"Ahh … enak," kata si bocah mendecak kagum atas arak tersebut. "Benar paman. Ayah yang mengajarkan aku pertama kali," jawabnya polos.


"Pletak …"


Kepalanya dipukul oleh sang ayah. Si bocah hanya menahan sakit sambil tertawa.


"Adik Shin, apakah yang Li'ek katakan benar?" tanya Maling Sakti.


"Mau bagaimana lagi? Dia sendiri sudah doyan sekarang," jawab Shin Shui enteng.

__ADS_1


"Haish kau ini. Ya sudahlah. Toh semuanya sudah terjadi. Yang penting kau harus mengawasi anakmu supaya jangan minum terlalu banyak,"


"Baik Kakak Yang," jawab Shin Shui.


Ketiganya segera melanjutkan makan kembali. Di saat sedang menikmati hidangan, tiba-tiba saja telinga tajam Chen Li mendengar sesuatu.


Walaupun Shin Shui dan Maling Sakti juga mempunyai indera tajam, tapi nyatanya mereka masih kalah dalam kepekaan oleh bocah kecil tersebut.


"Ayah, aku mendengar di kejauhan ada suara bergemuruh. Bahkan ada auman hebat juga," kata Chen Li sambil memperhatikan sekelilingnya.


Shin Shui dan kakak angkatnya saling pandang. Mereka berdua belum mendengar sesuatu apapun. Tapi kenapa bocah itu sudah mendengar?


"Mungkin itu hanya perasaanmu saja Li'er," kata Maling Sakti.


Chen Li tidak senang dengan tanggapan pamannya. Tetapi dia lebih memilih untuk diam dan tidak bicara lagi. Namun dalam hatinya, bocah kecil tersebut merasa was-was akan apa yang akan segera tradi sebentar lagi.


Dan ternyata, firasat itu memang benar-benar menjadi kenyataan. Tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah suara auman terdengar menggetarkan seisi hutan. Bahkan saking hebatnya, auman itu disertai juga terjangan angin kencang yang sampai menumbangkan beberapa pohon di sekitaran Shin Shui.


"Ternyata ucapan kau memang benar Li'er," kata Maling Sakti dengan santai. Seolah dia tidak merasa takut sama sekali.


"Terserah!!" kata Chen Li jengkel.


"Hahaha, kau tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa. Mungkin itu hanya seekor harimau yang sedang bertarung memperebutkan wilayah," jawab si Maling Sakti.


"Benarkah? Lalu, bagaimana dengan itu?" tanya Chen Li kepada Maling Sakti sambil menunjuk ke arah bagian dalam hutan.


Begitu melihat ke arah yang ditunjukkan, orang tersebut segera terperanjat.


"Ini … ini," katanya gugup.


"Cih, tadi saja sombong," ejek si bocah.


"Kau bilang apa Li'er?"


"Ti-tidak paman. Ma-maksud Li'er, tadi Li'er sudah membunuh siluman harimau emas. Mungkin lima harimau ini juga merupakan temannya. Atau kalau tidak, keluarganya," katanya sambil sedikit ketakutan saat melihat sorot mata si Maling Sakti.


"Hemmm, bisa jadi,"

__ADS_1


Sementara itu, Shin Shui tidak banyak bicara. Dia menatap tajam kelima kawanan siluman harimau emas yang datang dengan amarah tersebut. Terlihat bahwa kelimanya berniat buruk kepada mereka.


__ADS_2