Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kemampuan Yang Memukau


__ADS_3

"Tidak sama sekali," jawab Huang Taiji dengan santainya.


"Kau tahu bahwa dirimu sudah melakukan satu kesalahan fatal?" tanya Hon Tong lagi.


Suaranya semakin dingin. Begitu pula dengan wajahnya yang cantik. Sekarang wajah itu terlihat tanpa ekspresi sama sekali. Jika tidak ada keberanian yang besar, rasanya lutut akan langsung terasa lemas seketika.


"Tidak sama sekali. Memangnya, kesalahan fatal apa yang sudah aku lakukan?" tanya Huang Taiji.


Dia masih tersenyum. Bahkan senyumannya semakin hangat dan bersahabat. Dalam keadaan apapun, orang tua itu memang akan berusaha untuk selalu tersenyum. Karena baginya jika tersenyum selalu mendatangkan keberanian tersendiri.


"Kau telah meminta apa yang seharusnya tidak kau minta,"


"Hemm, aku hanya menjalankan tanggungjawab saja. Jadi aku rasa, aku tidak melakukan kesalahan apapun,"


"Baru kali ini aku banyak bicara dengan pria. Kau adalah pengecualian, sekarang ini merupakan peringatan yang terakhir. Lebih baik segera pergi dan angkat kaki dari sini,"


Hon Tong paling tidak suka bicara dengan pria. Siapapun prianya, mau dia tampan atau jelek, wanita cantik itu tetap akan berlaku sama.


Dulunya dia memang tidak seperti itu. Namun setelah dirinya mengalami rasa sakit hati karena seorang pria, sejak saat itu pula Hon Tong berubah total.


Dia yang tadinya ramah, menjadi dingin. Yang tadinya murah senyum, sekarang justru malah jarang tersenyum kecuali kepada dua saudaranya dan kepada sebagian wanita yang memang sesuai dengan hatinya saja.


Hanya dalam sekejap, Hon Tong telah berubah menjadi wanita yang tidak menarik. Andai saja dia tidak mempunyai wajah yang cantik, dapat dipastikan tidak akan ada seorang pun pria yang akan tertarik kepadanya.


Terkadang karena sebuah luka, seorang wanita bisa berubah drastis hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat.


Kejadian seperti ini bukan baru terjadi satu atau dua kali saja. Dari seluruh wanita yang ada di muka bumi ini, rasanya lebih dari sebagian wanita, pernah mengalami hal seperti demikian.


"Kalau aku tidak mau pergi angkat kaki?" tanya Huang Taiji tanpa menghilangkan senyuman di bibirnya.


"Kalau kau tidak mau, maka terpaksa aku akan memaksamu,"


"Dengan cara apa kau akan memaksaku?"


"Tentu saja jika cara halus tidak bisa, maka cara kekerasan adalah jalan satu-satunya,"


"Kau pikir dirimu sudah bisa berlaku seenaknya kepadaku?" tanya Huang Taiji mempermainkan emosi wanita itu.


"Kau terlalu menyombongkan diri di depanku. Baru kali ini ada seorang tak dikenal berani sombong di hadapanku,"


"Oh, justru itu adalah hal yang sangat bagus. Aku malah merasa bangga karena menjadi orang pertama yang berani sombong di depanmu," ejek Huang Taiji.

__ADS_1


"Benar. Dan kau juga akan menjadi orang pertama yang mampus karena kesombonganmu,"


Wushh!!!


Baru saja ucapannya selesai, sebuah benda yang sangat kecil melesat dengan kecepatan yang sulit untuk digambarkan.


Clapp!!!


Huang Taiji memutar badannya. Enam batang jarum sutera berwarna perak sudah dijepit di antara jari telunjuk dan jari tengah miliknya.


Tiga Wanita Pembawa Maut sedikit tersentak. Terutama sekali Hon Tong sendiri.


Dia masih belum percaya bahwa orang itu mampu menahan enam jarum miliknya. Padahal menurut perhitungannya sendiri, siapapun tidak akan bisa menahannya. Dia melemparkan jarum-jarum tersebut dengan segenap kemampuan.


Apalagi jarak antara keduanya hanya beberapa langkah saja. Jika tidak melihatnya sendiri, Hon Tong tentu tidak akan percaya bahwa di dunia ini ada orang seperti orang tua itu.


"Bagus, ternyata kesombonganmu bukan bukan belaka. Pantas kau berani kurang ajar,"


"Ah, ini hanya kebetulan saja. Jika untuk kedua kalinya, mungkin aku tidak akan sanggup menahannya," jawab Huang Taiji dengan santai.


Wushh!!!


Clapp!!!


Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding memutarkan badannya kembali. Dia juga berputar lebih cepat daripada sebelumnya.


Kali ini, Tiga Wanita Pembawa Maut benar-benar dibuat kaget setengah mati. Alasannya karena sekarang, orang tua itu melakukan sesuatu yang mustahil dapat dilakukan oleh orang lain.


Hon Tong telah melemparkan sepuluh jarum beracun berwarna perak. Hebatnya, sepuluh jarum tersebut justru sekarang telah ditahan oleh Huang Taiji menggunakan giginya.


Sepuluh jarum yang di lemparkan. Sepuluh jarum juga yang ditahan oleh giginya.


Siapa yang akan percaya ada manusia yang mampu melakukan hal tersebut?


Hon Tong merasa sangat marah saat itu juga. Dia adalah seorang wanita cantik. Biasanya, semakin cantik seorang wanita, maka semakin mudah juga untuk tersinggung.


Wutt!!! Tarr!!!


Tangan kanannya segera mengambil cambuk pusaka yang menjadi senjatanya. Cambuk itu langsung diayunkan ke depan. Suaranya menggelegar memekakkan telinga.


Jika tidak mempunyai tenaga dalam tinggi, tentunya telinga orang yang mendengar akan langsung berdarah seketika. Karena setiap cambuk itu bergerak, biasanya akan disertai pula dengan saluran tenaga dalam tingkat tinggi.

__ADS_1


Tarr!!! Tarr!!! Tarr!!!


Tiga kali cambuk bergerak ke arah huang Taiji dengan kecepatan sangat cepat. Siapapun tidak akan bisa menghindarinya, namun lagi-lagi orang tua itu melakukan hal yang mustahil dilakukan.


Hanya dengan memiringkan tubuh dan kepalanya ke kanan dan kiri, tiga serangan cambuk itu berhasil dihindarinya dengan mudah. Suatu gerakan yang sederhana namun sangat istimewa.


Sangat cepat, sangat tepat, dan sangat memukau.


"Bagus. Kau bisa menghindari serangan percobaanku, sekarang rasakan serangan yang sebenarnya,"


Wutt!!!


Wanita cantik itu melesat ke depan sambil terus memainkan cambuk sakti miliknya. Huang Taiji melayang mundur hingga keluar dari goa itu.


Hal tersebut memang sengaja dia lakukan. Sebab jika tidak begitu, maka pertarungan yang akan berlangsung tidak dapat leluasa.


Setelah tubuhnya tiba diluar goa, senyuman hangat kembali menghiasi bibirnya.


Hon Tong benar-benar marah. Selama belakangan ini, belum pernah dia merasa marah seperti sekarang.


Tarr!!!


Cambuk membelah udara kembali. Kilatan cahaya perak mengeluarkan suara yang menggelegar membawa kekuatan dahsyat. Segulung angin seperti badai menerjang ke arah Huang Taiji.


Pendekar Pedang Tombak hanya mengibaskan tangan kanannya. Segulung tenaga itu musnah seperti ditelan bumi.


Melihat kenyataan itu, Hon Tong tidak banyak bicara lagi. Sekarang dia mengeluarkan seluruh kekuatannya lalu menerjang Huang Taiji lebih serius lagi.


Setiap tubuhnya bergerak, maka cambuknya pasti akan bergerak juga. Bunyi yang menggelegar dan menggetarkan sukma terdengar tiada hentinya.


Hio Sun dan Bi Ling sudah tiba juga diluar goa. Namun kedua saudaranya masih belum turun tangan. Tiga Wanita Pembawa Maut memang terkenal tenang dalam menghadapi sebuah pertarungan.


Mereka tidak akan turun tangan jika belum melihat saudaranya kewalahan. Hal seperti ini sudah menjadi tradisi tersendiri. Selama mengembara di dunia persilatan, ketiganya jarang sekali bekerja sama hingga melebihi seratus jurus.


Hal ini terjadi karena belum ada satu pun lawan yang sanggup menahannya lebih dari seratus jurus.


Setelah diserang beberapa jurus, kemarahan Huang Taiji bangkit juga. Sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya meluncur deras ke arah lawan.


Plakk!!!


Tangan kanannya dengan telak menampar pipi Hon Tong hingga wanita itu berputar karena tidak kuat menahan tenaga besar dari serangan lawannya.

__ADS_1


__ADS_2