
Cinta memang sangat rumit. Cinta bisa membuat orang waras menjadi gila dan bisa membuat orang gila menjadi waras. Cinta bisa membuat orang mengakhiri hidupnya, tapi cinta juga bisa membuat orang melanjutkan hidupnya.
Selain masalah cinta, adakah masalah lain yang mampu mengendalikan manusia hingga berubah hanya dalam waktu sekejap mata?
"Bisakah kau menceritakan masalah rumit itu kepadaku?" tanya Shin Shui dengan tenang.
Dia menuangkan arak ke dalam cawan lalu segera meminumnya.
"Aku tidak mau,"
"Tapi aku mau,"
"Kau benar-benar ingin tahu?"
"Tentu saja,"
"Apakah kau pikir dapat membantuku dalam hal ini?"
"Jika kau belum menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya, bagaimana mungkin aku akan dapat membantumu?"
Kaisar Wei An hanya bisa menghela nafas. Dia tidak pernah menang jika debat melawan Shin Shui. Padahal usianya jauh lebih tua. Tapi terkait kepintaran, kecerdasan serta pengalaman hidup, dirinya memang kalah jauh dengan Pendekar Halilintar.
Hal apakah yang belum pernah dirasakan oleh Shin Shui? Kejadian apa yang belum pernah terlewati olehnya? Masalah apa yang belum pernah dia hadapi?
Semuanya sudah dia rasakan. Hidup mengembara tanpa tempat tinggal secara pasti telah memberikan banyak pelajaran hidup kepadanya. Pahit manisnya kehidupan, dia sudah tahu bagaimana rasanya. Masalah ringan hingga masalah berat, dia sudah tahu cara menghadapinya.
Terkadang karena saking banyaknya cobaan hidup yang mendera, biasanya justru akan membuat orang itu menjadi lebih dewasa dari orang-orang di sekitarnya.
Semuanya tinggal bagaimana orang itu mengambil pelajaran berharga di dalamnya.
"Jika keluargamu yang tadinya utuh namun tiba-tiba hancur, bagaimana perasaanmu?" tanya Kaisar Wei An.
"Tentu saja sangat sakit," jawab Shin Shui.
__ADS_1
"Jika kau dipishakan dari istri dan anakmu tanpa sebab, bagaimana pula perasaanmu?"
"Rasanya lebih sakit dari pada apapun,"
"Jika kau benar-benar mengalami hal paling buruk itu, bagaimana sikapmu? Sedangkan di sisi lain kau sangat mencintai keluarga kecilmu itu. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Aku tidak tahu,"
Shin Shui tentu tidak tahu. Lagi pula, dia tidak ingin mengalami dua kejadian di atas. Jangankan dirinya, semua orang yang sudah berkeluarga juga pasti tidak ingin merasakannya.
Hal di atas adalah hal paling buruk dari yang terburuk. Selain berpisah dengan keluarga kecilmu, adakah perpisahan lain yang jauh lebih mengenaskan dari pada perpisahan itu?
"Kalau kau yang segalanya jauh diatasku saja tidak tahu, lantas bagaimana dengan aku?"
Shin Shhk terdiam. Dia tidak menjawab, karena sejatinya perkataan itu tidak membutuhkan jawaba apapun.
"Apakah masalah itu sedang menghampirimu?"
"Benar,"
"Ke mana anak dan istrimu?"
"Dia dibawa pergi oleh utusan Kaisar Tang Yang,"
Kaisar Tang Yang? Hampir saja Shin Shui jantungan. Bukankah Kaisar Tang Yang adalah mertua Kaisar Wei An sendiri? Dan bukankah istrinya adalah anak dia sendiri? Tapi kenapa orang itu sanggup melakukan sesuatu yang dapat menghancurkan kebahagiaan anaknya?
"Kenapa kau tidak melawannya?" tanya Shin Shui lebih lanjut.
"Bagaimana mungkin aku melawan, sedangkan orang yang diutus bukan orang sembarangan. Dia adalah orang yang dekat Kaisar Tang Yang sendiri, kedatangannya kemari secara baik-baik, karena itulah aku menerimanya. Meskipun Kaisar Tang Yang ingin menghancurkan Kekaisaran Wei, tapi bagaimanapun juga dia tetap mertuaku. Aku kira kunjungan utusannya saat ini diluar semua kejadian besar yang sedang berlangsung, tak disangka semuanya justru berhubungan. Utusan Kaisar Tang Yang pergi secara tiba-tiba dan sembunyi-sembunyi sambil membawa anak istriku,"
"Kapan orang itu datang berkunjung?"
"Dua mingguan yang lalu,"
__ADS_1
Pendekar Halilintar menganggukkan kepalanya. Dia diam beberapa saat, mencoba memikirkan bagaimana caranya supaya Kaisar Wei An kembali lagi seperti semula. Meskipun bukan hal mudah, apalagi masalah yang sedang dihadapinya sangat rumit, namun Shin Shui punya keyakinan bahwa di dunia ini, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
"Jadi, karena masalah itukah kau berubah menjadi seperti sekarang ini?"
"Benar,"
Kaisar Wei An menjawab pertanyaan Shin Shui dengan jujur. Dia tidak dapat menyangkalnya. Lagi pula, sekalipun dia menyangkal, Kaisar sangat yakin bahwa Shin Shui sebenarnya sudah tahu.
"Kau boleh bersedih. Tapi kau tidak boleh mengabaikan tanggungjawabmu di saat semua rakyat membutuhkan perlindunganmu. Masalah itu adalah masalah pribadimu, jangan kau campurkan masalah pribadi dengan masalah yang mengangkut keselamatan seluruh rakyat,"
"Tapi semua ini sangat berhubungan,"
"Aku tahu. Aku juga mengerti apa yang kau maksudkan. Namun cobalah untuk berpikir dan memandang dari sudut lainnya. Secara tidak langsung, kau sudah mengecewakan semua rakyat Kekaisaran Wei, bahkan kau juga telah membuat kecewa Ayahmu sendiri, Kaisar Wei Lhuo,"
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan,"
Kaisar Wei An nampak sangat berduka atas masalah yang sedang dihadapinya saat ini. Shin Shui sangat mengerti, dia juga tidak menyalahkan dirinya. Yang dia salahkan adalah langkah yang telah diambil oleh Kaisar itu sendiri.
"Kau harus bangkit berdiri kembali. Kembali ke dirimu yang dulu, buktikan kepada semua orang bahwa kau bisa dan kau pantas menjadi harapan mereka. Jangan pernah menghancurkan harapan dan impian orang banyak. Kau seorang Kaisar, kau harus bisa tegas dan lebih tegar dari yang lainnya. Jika kau ingin membawa pulang kembali anak dan istrimu, kau harus berjuang keras untuk menyelamatkan mereka. Memangnya kau pikir mereka akan kembali hanya karena kau menjadi seperti ini?"
Bicara Shin Shui sangat tenang dan lambat. Tetapi di balik semua itu terkandung sikap tegas dan lantang yang jarang dimiliki oleh orang lain.
Kaisar Wei An sendiri tidak mampu menjawabnya. Apa yang diucapkan oleh Shin Shui adalah kebenaran. Karena itulah dirinya hanya diam seribu bahasa.
"Mau sampai kapan kau akan terus seperti ini? Perang besar sudah menanti di depan mata. Jika Kaisar nya saja seperti sekarang, bagaimana mungkin orang di bawahnya akan memiliki semangat membela tanah air? Toh pelaku utamanya saja seakan sudah tidak peduli. Apakah kau tahu bahwa beberapa waktu lalu sekteku telah diserang secara tiba-tiba? Untungnya aku berhasil mengatasi semuanya karena kami semua mempunyai semangat juang tinggi. Sekarang, jika kau tidak mempunyai semangat itu, bagaimana mungkin kau bisa menyelamatkan Kekaisaran Wei dan bahkan Istana Kekaisaran sendiri?"
Kaisar Wei An lagi-lagi hanya mampu mendengarkan tanpa tahu harus menjawab apa. Tapi sesungguhnya, dalam hati kecilnya dia seperti ditarik oleh sesuatu yang sangat luar biasa.
Dirinya yang hampir terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar, dalam waktu singkat sudah ditarik oleh sebuah tapi yang tidak mungkin dapat diputuskan.
Kobaran semangat untuk membela tanah air dalam dirinya telah kembali. Dia jadi ingat siapa dirinya. Apa posisinya dan bagaimana tanggungjawabnya.
"Terimakasih," jawab Kaisar Wei An.
__ADS_1