
Selama pertarungan tersebut berlangsung, Tujuh Perampok Berhati Emas tidak ada yang mengeluarkan suara. Bukan karena tak berani, tetapi karena mereka merasa sangat terkesan dengan pertarungan Pendekar Halilintar.
Seumur hidupnya, ketujuh orang tersebut baru melihat bagaimana kehebatan Pendekar Halilintar yang namanya sudah terkenal ke seluruh dunia.
Ternyata nama besar dan berita yang beredar memang tidak berlebihan. Bahkan berita dan buktinya sangat benar-benar akurat. Kabarnya Shin Shui mempunyai kekuatan yang sulit untuk di ukur.
Sebelumnya Tujuh Perampok Berhati Emas tidak percaya sama sekali. Tapi sekarang mereka percaya, bahwa Pendekar Halilintar memang pantas mendapat gelar sebagai pendekar terkuat.
Mereka berjalan mendekat ke atah Shin Shui dengan perasaan campur aduk. Ada perasaan segan, takur dan perasaan yang sukar untuk dikatakan lainnya.
"Apakah selain mereka, ada lagi yang selalu minta jatah kepada kalian?" tanya Shin Shui tanpa menoleh sedikitpun.
"Tidak ada Tuan, hanya mereka saja. Dan sekarang mereka telah tewas, kami sangat berterimakasih sekali kepadamu. Tapi …" Jiu Reen ingin melanjutkan perkataannya, namun dia tidak berani karena takut di anggap lancang oleh Shin Shui.
Shin Shui merasa heran kenapa orang itu tidak melanjutkan ucapannya. Dia membalikan badannya, "Lanjutkan," kata Pendekad Halilintar.
"Ta-tapi Tuan, aku ta-takut …"
"Lanjutkan ceritamu," kata Shin Shui mengulangi kata yang sama.
"Baiklah," katanya menuruti perkataan Shin Shui. "Tapi aku takut, orang-orang yang menjadi rekan mereka akan datang lagi ke sini dan akan membalas dendam serta membuat kekacauan di Kota Sokhia ini. Kalau masih ada dirimu, mungkin semua bencana bisa di antisipasi, tapi kalau Tuan tidak ada … kami takut apa yang dibayangkan akan terjadi," ujar Jiu Reen mengungkapkan kekhawatirannya.
Shin Shui tersenyum. Dia sudah menduga bahwa pemimpin Tujuh Perampok Berhati Emas itu akan berkata demikian. Siapapun pasti akan mengatakan hal sama jika dia berada di posisi Jiu Reen.
"Kau tenang saja. Aku sudah memperhitungkan semuanya. Pokoknya aku berani menjamin bahwa apa yang kalian takutkan tidak akan terjadi," ujar Shin Shui sambil menepuk pundaknya.
Ketujuhnya mengangguk. Entah kenapa, kalau yang bicara Shin Shui, rasanya semua orang juga akan percaya.
Bahkan kalau dia bicara bahwa dirinya dapat mengalahkan Dewa sekalipun, mungkin semua orang akan percaya kepadanya.
Betapa besarnya kepercayaan semua orang terhadap dirinya. Kalau sudah seperti ini, rasanya dia sendiri tidak mau mengecewakan orang-orang tersebut.
"Baiklah. Kami percaya kepada Tuan, terimakasih atas semua bantuannya," kata Jiu Reen lalu memberikan hormat diikuti enam anggotanya.
Shin Shui hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Pinjam Cincin Ruang milikmu," pintanya kepada Jiu Reen.
Tanpa banyak berkata dan tanpa membantah sedikitpun, pria itu langsung menuruti permintaannya. Dia melepaskan Cincin Ruang lalu memberikannya kepada Shin Shui.
Setelah Cincin Ruang milik Jiu Reen berada di tangannya, Shin Shui langsung memasukkannya ke dalam Cincin Ruang milik dia sendiri.
"Ini, pakai semua yang ada di sini untuk membantu yang membutuhkan. Kalau masih kurang, saat bertemu lagi, aku akan memberikan jumlah yang lebih banyak dari pada ini," kata Shin Shui lalu memberikan kembal Cincin Ruang milik Jiu reen.
Pemimpin itu menerimanya. Sebenarnya dia ingin bertanya isinya apa saja dan bicara lebih jauh, sayangnya Pendekar Halilintar justru sudah lenyap dari pandangan Tujuh Perampok Berhati Emas.
Entah kapan perginya. Karena tidak ada yang melihat walau satu orang pun.
Karena penasaran, Jiu Reen melihat apa isi Cincin Ruangnya saat ini. Begitu mengetahui, betapa terkejutnya pria itu.
Saat ini di dalam Cincin Ruang miliknya, terdapat sepuluh kotak keping emas. Beberapa kotak sumber daya dan ada puluhan senjata pusaka.
Ketujuh orang yang ada di sana merasa sangat terkejut. Kalau kenyataan seperti ini, bukan kurang, justru sangat lebih. Mungkin mereka bisa membantu rakyat miskin hingga puluhan tahun kemudian.
Mereka tidak perlu menanyakan dari mana Shin Shui mendapatkan harta sebanyak itu. Karena semua orang juga sudah tahu, dia biss mendapatkan apapun yang diinginkannya.
Ya, anggapan semua orang pasti akan berkata apapun bisa. Karena memang selain sakti dan tampan, Pendekar Halilintar juga terkenal sebagai pendekar terkaya.
Ada yang bilang bahwa hartanya bahkan melebihi kepunyaan Istana Kekaisaran Wei sendiri.
Terlepas anggapan itu benar atau tidak, hanya Shin Shui yang tahu pasti.
"Pendekar Halilintar memang benar-benar orang yang patut diteladani. Tindak-tanduknya dalam hal apapun sangat penuh perhitungan. Beruntung rasanya kita bisa melihat dan berkenalan dengannya," kata Jiu Reen kepada anggotanya.
Enam anggota mengangguk setuju. Apa yang diucapkan oleh ketua mereka memang fakta.
Fakta yang tak terbantahkan.
###
Sepulang dari markas Tujuh Perampok Berhati Emas, Shin Shui tidak langsung pulang ke penginapan. Dia langsung melesat kembali ke sebuah tempat.
__ADS_1
Tempat yang sebelumnya memang sudah dia hapalkan dalam peta. Bahkan dari awal, dia memang berniat untuk ke sana.
Sekarang dia tidak lagi memakai pakaian serba hitam. Dia memakai pakaian kebanggaannya yang telah mengangkat derajat sehingga sampai ke titik seperti sekarang ini.
Jubah biru dan pakaian yang serba biru, terlibat agung di tengah kegelapan malam. Kilatan petir sesekali nampak mempesona. Kalau dia sudah memakai pakaian ini, siapapun pasti akan berpikir dua kali jika ingin mencari masalah dengannya.
Shin Shui terbang menembus awan kelam. Angin malam yang sejuk menerpa tubuhnya. Rambut panjangnya meriap-riap tertiup angin.
Rembulan saat ini bersinar terang. Cuaca juga nampaknya mendukung.
Setelah beberapa saat terbang, akhirnya dia telah sampai di tempat yang ingin dia tuju.
Pendekar Halilintar mendarat di sebuah tanah lapang. Suasana di sana sudah cukup sepi. Hanya segelintir orang saja yang masih terlihat berkeliaran.
Dia melangkah perlahan menuju ke sebuah bangunan besar dan megah.
Dua orang penjaga menghadangnya. Mereka memaka pakaian kuning terang dengan pedang di punggung. Keduanya merupaka pria, umurnya sekitar dua puluhan tahun.
"Aku ingin masuk ke dalam," kata Shim Shui begitu tiba di pintu gerbang.
"Maaf, bisakah Tuan memperkenalkan diri?" seorang penjaga gerbang berkata kepadanya.
Dia mungkin belum melihat jelas siapa orang yang ada di hadapannya. Sehingga penjaga tersebut berkata demikian.
Sedangkan Shin Shui sendiri tidak berniat untuk menjawabnya. Dia hanya memperlihatkan sebuah lencana.
Lencana Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar.
Dia melemparkan lencana itu kepada penjaga yang bicara tadi. Begitu menerima lencana tersebut, tubuh penjaga itu langsung mengigil. Bahkan lututnya bergetar seolah dia telah melihat hantu.
Siapa yang tidak kenal dengan lencana itu? Siapapun pasti mengenalnya.
"Ma-maafkan kami Tuan, ka-kami memang pantas mati sehingga tidak dapat melihat kebesaran Bukit Awan …" kata penjaga tadi gemetaran, begitupun dengan rekannya.
"Berdiri. Aku ingin bertemu dengan Guru Perguruan Mata Iblis," kata Shin Shui.
__ADS_1
"Ba-baik Tuan, mari ikut kami," ucap si penjaga masih merasa ketakutan akibat kebodohannya.