Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Awal Sebuah Perang


__ADS_3

Mereka tidak merasakan apapun kecuali hanya berdiri mematung tak berdaya. Untuk beberapa waktu ke depan, para prajurit Kekaisaran Wei, termasuk murid-murid dari berbagai Sekte dan aliran, tidak tahu harus melakukan apa.


Walaupun mereka siap untuk mati. Walaupun mereka siap untuk menonton kematian musuh, tetapi mereka tidak siap menonton kematian massal seperti ini.


Puluhan hingga ratusan nyawa tewas hampir secara bersamaan. Suara teriakan mereka terdengar menggelegar seperti raungan iblis. Siapa yang sanggup melihat kejadian mengerikan ini?


Darah makin menyembur. Tanah menjadi basah oleh cairan merah kental yang membawa bau amis. Perut para prajurit mulai terasa mual. Mereka ingin muntah sebanyak mungkin, sayangnya mereka tidak bisa melakukan hal itu.


Tubuh mereka benar-benar tidak bisa bergerak. Berkedip pun tidak bisa.


Para prajurit itu sangat mengenal siapa orang yang tadi melantunkan syair. Hanya saja mereka tidak mampu menegur. Selain karena rasa takut, orang-orang itu juga merasa sangat segan.


Orang tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas. Kepalanya ikut menengadah le atas langit. Dia tertawa, tawa yang lantang dan mengandung sejuta kesedihan.


Manusia mana yang tidak sedih dan sakit hati melihat perang? Siapapun orangnya, selama dia manusia, pasti akan merasakan hal yang serupa. Begitu juga dengan orang tersebut.


Langit mendadak mendung. Alam raya sangat kelam. Sekelam pemandangan di depan matanya. Kesedihannya berubah menjadi amarah. Kepedihannya berubah menjadi kebencian. Kebencian dan kemarahan bercampur menjadi satu sehingga menciptakan sebuah kekuatan yang sangat dahsyat.


Gelegar!!!!


Suara guntur terdengar menggelegar. Ribuan halilintar menyambar bumi secara bersamaan. Semua nyawa prajurit musuh tewas tanpa sisa. Seluruh tubuh mereka gosong. Pakaiannya koyak.


Yang mampu melakukan hal seperti barusan hanyalah dia. Jika bukan dia, memangnya di dunia ini ada lagi yang sanggup menggunakan halilintar sesuka hati?


"Kau kah yang bernama Pendekar Halilintar?" sebuah suara tiba-tiba muncul di belakangnya.


Sosok yang tadi melantunkan syair memang Shin Shui. Yang membunuh puluhan hingga ratusan nyawa prajurit musuh juga Shin Shui. Dia sengaja turun gunung lebih awal. Selain itu, Shin Shui juga ingin mencari informasi terkait kekuatan musuh supaya dia bisa memberikan laporan pasti kepada yang lainnya.


Karena alasan itulah, Shin Shui kembali bergerak ke bawah guna memeriksa seluruh daerah Kekaisaran Wei.


"Benar. Ini aku, Pendekar Halilintar," jawab Shin Shui dengan dingin.


"Kalau begitu, kau harus mampus," teriak orang tersebut.

__ADS_1


Shin Shui sama sekali tidak membalikkan badan ke arah asal suara itu. Dia tetap membelakanginya sesuka hati.


Wushh!!!


Orang tadi menerjang ke arahnya. Dia tidak sendirian, dua rekannya juga turut membantu. Menghadapi Pendekar Halilintar memang tidak cukup jika hanya mengandalkan satu orang saja. Apalagi kalau orang itu tidak berilmu sangat tinggi.


Tiga sosok bayangan manusia melesat membagi posisinya. Tiga sinar berwarna-warni meluncur deras. Kekuatan dahsyat terkandung dalam serangan jarak jauh itu.


Pendekar Halilintar tersenyum sinis. Dia masih tetap di posisinya semula, kedua tangannya diangkat lalu mengibas ke samping. Tiga sinar yang meluncur ke arahnya terpental tidak tentu arah.


Tiga orang tersebut tersentak setengah mati. Sinar itu adalah bentuk dari segenap kekuatan masing-masing dari mereka. Tidak disangka, Pendekar Halilintar bahkan sanggup membuyarkannya hanya dengan kibasan tangan. Yang lebih parah lagi, dia membuyarkan sinar tersebut tanpa memandangnya sedikitpun.


"Kalian masih belum cukup untuk menjadi lawanku," kata Shin Shui lebih lanjut.


Detik berikutnya, Pendekar Halilintar sudah menghilang dari pandangan. Secara tiba-tiba dia sudah berdiri di hadapan ketiga orang tersebut. Shin Shui mulai melayangkan serangan berturut-turut ke masing-masing lawannya.


Serangan yang dia lakukan sangat cepat sekali. Siapapun mustahil bisa menahannya dengan sempurna.


Blarrr!!! Gelegar!!!


Nyawa mereka melayang setelah menerima pukulan dahsyat Pendekar Halilintar. Seumur hidupnya, ketiga orang tersebut tidak pernah menyangka bahwa dirinya mampu dibunuh hanya dalam satu terjangan jurus.


Padahal jika di tilik lebih dalam lagi, tiga orang itu bukanlah orang biasa. Mereka merupakan tokoh yang cukup terkenal di Kekaisaran Sung. Kekuatannya setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga.


Tetapi di hadapan Shin Shui yang sekarang, Pendekar Dewa tahap tiga tidak lebih hanya seperti tikus yang mengantarkan nyawa.


Jika Pendekar Halilintar sudah marah besar, adakah orang yang sanggup menahannya?


Yang sanggup menahan kemarahannya mungkin hanya mereka yang berkekuatan setara dengannya. Selain itu, jangan pernah bermimpi bisa menghadapi Pendekar Halilintar.


Wushh!!!


Dua bayangan melesat kembali secara tiba-tiba. Entah dari mana datangnya mereka, yang jelas, hanya dalam sekejap mata, dua sosok itu telah tiba di hadapannya.

__ADS_1


Blarr!!!


Mereka melayangkan senjatanya masing-masing. Satu pedang menebas dengan jurusnya yang cepat. Satu gada hitam seberat ratusan kilo diayunkan dari atas ke bawah mengincar kepala Pendekar Halilintar.


Dua serangan yang membawa maut datang secara bersamaan. Cepatnya bukan main. Kekuatannya tidak diragukan lagi.


Shin Shui tidak gentar. Dia melemparkan sebuah senyuman. Senyuman yang bahkan lebih menyeramkan dari Raja Iblis sendiri.


Ggrrr!!!


Trangg!!! Trangg!!!


Dua kali benturan nyaring terdengar sangat keras. Percikan api tercipta lalu hilang tertiup angin. Bunyi benda jatuh terdengar dua kali lagi.


Senjata kedua lawannya dibuat patah hanya dengan sekali tebas. Pedang Halilintar menyala terang seperti rembulan yang sedang purnama.


Dua lawannya terkejut. Lutut mereka langsung bergetar hebat. Seluruh tenaganya terasa lenyap tanpa alasan pasti. Keringat dingin sudah mengucur deras membasahi seluruh tubuh keduanya.


Senjata pusaka yang mereka banggakan selama ini, senjata pusaka yang sudah membunuh puluhan nyawa pendekar tangguh, kini telah patah di ujung Pedang Halilintar hanya dengan sekali tebas.


Bagi pedang pusaka terkuat itu, mungkin senjata mereka tidak lebih hanya sebuah kayu lapuk yang sangat rapuh. Asap biru mengepul dari seluruh batang Pedang Halilintar.


Kejadian barusan berlangsung sangat cepat. Berbeda dengan menulis kejadiannya yang cukup memakan waktu.


Dua orang itu adalah pemimpin pasukan Kekaisaran Tang yang memang sengaja diturunkan untuk menghadapi musuh. Sialnya, mereka justru harus berhadapan dengan musuh paling tangguh.


"Kalian adalah manusia paling sial untuk saat ini," ucap Shin Shui lalu diikuti suara tawa yang menyeramkan.


Wushh!!! Crashh!!!


Dua kepala manusia menggelinding jatuh ke tanah. Darah segar muncrat membasahi tanah yang basah. Tubuh mereka ambruk dan menimbulkan suara berdebuk kencang.


Para prajurit Kekaisaran Wei melongo. Mereka tidak sanggup berkata apa-apa lagi. Tidak ada yang tidak merasa ngeri. Semua yang ada di sana merasakan takut yang sulit untuk dibayangkan.

__ADS_1


Awal perang yang seharusnya memakan waktu, sekarang justru telah berakhir dalam waktu singkat. Semua musuh dibereskan oleh Pendekar Halilintar dalam sekejap mata.


__ADS_2