
Hari baru telah tiba. Huang Taiji selalu bangun dari tidurnya lebih dulu. Orang tua itu selalu berlatih beberapa saat agar seluruh otot syarafnya tidak kaku. Meskipun hanya sebentar, namun dia tetap harus berlatih.
Selama menyamar menjadi manusia, Huang Taiji selalu melakukan kegiatan rutin ini. Satu kalipun tidak pernah terlewat. Hanya saja memang tidak ada yang pernah tahu kapan dan di mana dia berlatih.
Apaka seorang pengawal Dewa harus melakukan kegiatan seperti makhluk lain?
Tentu saja sebenarnya tidak. Huang Taiji melakukan hal di atas karena sekarang dia sedang menjadi manusia setengah Dewa.
Baru saja menyelesaikan gerakan terakhir, mendadak orang tua itu berhenti.
Firasat hatinya mengatakan sesuatu. Terkait sesuatu apakah itu, tidak ada yang tahu pasti. Namun yang jelas, keadaan mendadak berubah total.
Mentari yang baru saja bersinar terang ke bumi, mendadak lenyap. Sinar Sang Surya hilang tak tahu ke mana. Angin semilir yang berhembus lirih di pagi hari, kini telah menghilang seperti ditelan bumi. Bau harum bunga dan suara burung di pagi hari, lenyap seketika.
Dunia sepi. Alam semesta dilanda kesunyian.
Tiada cahaya. Tiada apapun. Yang ada hanyalah kegelapan yang abadi.
Langit gelap. Awan mendung menutupi jagat raya. Suasana sepi sunyi itu kembali berubah. Langit tiba-tiba mengalami suatu kejadian yang amat mengerikan. Jutaan sambaran kilat menyambar ke bumi. Ledakan guntur yang tiada habisnya mulai terdengar.
Ledakan itu masih sama. Hanya saja, selama kehidupan manusia berlangsung, belum pernah terjadi ledakan sedemikian dahsyatnya. Hujan turun dengan deras. Di samudera kejauhan sana, air mengamuk.
Gelombang tsunami setinggi ratusan meter menerjang ke sisi pantai. Batu karang yang tidak kuat langsung hancur berkeping-keping.
Gunung-gunung bergetar hebat. Seolah dari dalam gunung itu akan keluar satu makhluk raksasa yang paling mengerikan.
Meteor yang membawa gugusan api membara meluruk ke segala arah. Angin berhembus sangat kencang. Lebih kencang dari angin apapun di dunia ini.
Keadaan alam semesta sungguh mengerikan. Dunia seakan kiamat. Kehidupan manusia seolah akan berakhir sekarang.
Apakah benar ini kiamat? Apakah benar kejadian ini menjadi pertanda sebagai berakhirnya kehidupan manusia di muka bumi?
Huang Taiji sedang berdiri mematung. Tangannya seperti sedang menyembah. Matanya terpejam. Tubuhnya sedikitpun tidak bergerak. Padahal sekarang angin berhembus sangat kencang. Lima elemen sedang mengamuk.
Tapi kenapa orang tua itu seakan tidak merasakannya? Apakah dia telah mati? Bukankah seseorang yang tidak bisa merasakan apa-apa, itu artinya telah mati?
__ADS_1
Chen Li berjalan dengan susah payah. Dia mencari Huang Taiji. Setelah memaksakan diri untuk berjalan, akhirnya dia dapat menemukan pamannya. Pemuda itu segera menghampirinya.
Namun pada saat tangannya ingin meraih, ada satu tenaga dahsyat yang menghalanginya. Bocah itu terlempar sangat jauh. Tubuhnya menabrak bebatuan hingga batu itu hancur. Seketika, dia langsung jatuh pingsan.
Keadaan mengerikan itu terjadi cukup lama. Semakin lama semakin mengerikan.
Gelegar!!! Duarr!!!
Tiba-tiba ledakan paling besar terdengar. Langit seperti terbelah. Dari belahan itu mendadak muncul satu cahaya putih yang diliputi kekuatan sangat dahsyat.
Cahaya putih itu perlahan turun ke bumi dengan anggun. Perlahan namun pasti, cahaya tersebut semakin turun ke bumi.
Semakin jaraknya dekat dengan bumi, semakin mengerikan juga amukan alam semesta.
Setelah beberapa saat kemudian, alam semesta kembali normal. Hujan langsung reda. Kilatan petir dan ledakan halilintar lenyap saat itu juga. Angin kembali berhembus lirih. Air kembali tenang. Dan hujan meteor juga berhenti.
Lima elemen alam semesta telah kembali normal seperti semula.
Di hadapan Huang Taiji mendadak berdiri satu sosok. Dibilang manusia, tidak mirip manusia. Dibilang Dewa, entah Dewa apakah sosok itu?
Pakaian yang dipakai jelas tidak akan sanggup dibeli oleh siapapun. Bahkan oleh orang terkaya di muka bumi sekalipun.
Perawakannya sangat sempurna. Ketampanannya tiada bandingan. Rasanya akan sangat bersalah kalau sampai berani melukiskan sosok tersebut.
Intinya, sosok itu lebih tampan dari manusia tertampan. Lebih gagah dari manusia tergagah. Dan lebih agung dari manusia teragung di muka bumi.
Tentu saja, karena sosok itu adalah Dewa.
Dia seorang Dewa yang sangat disegani di alam nirwana.
Dialah Dewa Lima Unsur.
Huang Taiji bersujud tepat di bawah kakinya. Matanya masih terpejam. Tubuhnya bergetar hebat. Ketakutan yang paling takut bagi Huang Taiji adalah kalau sudah berhadapan dengan Dewa Lima Unsur sang majikannya sendiri.
"Bangunlah. Semoga langit memberkatimu," kata Dewa Lima Unsur.
__ADS_1
Suaranya lembut. Lebih lembut dari belaian seorang kekasih. Suara itu juga tenang. Lebih tenang dari air di tengah samudera.
Huang Taiji langsung bangkit berdiri. Namun meskipun begitu, dia masih memperlihatkan sikap hormatnya yang teramat sangat.
Rasa hormatnya melebihi apapun. Rasa segannya juga sama. Setiap perintah Dewa Lima Unsur, belum pernah satu kalipun dia membantah. Andai kata Dewa Lima Unsur menyuruhnya untuk bunuh diri, niscaya Huang Taiji akan melakukannya tanpa ragu.
Bahkan kalau sekarang disuruh bunuh diri sekalipun, maka dia akan langsung melaksanakannya.
"Apakah kau sudah menjalankan semua tugas yang aku berikan?"
"Hamba sudah melaksanakan semuanya Tuan," jawab Huang Taiji dengan kepala tertunduk.
"Bagus, kau memang patut dipuji. Belum pernah aku mendapatkan pengawal pribadi seperti dirimu. Kau sangat bisa diandalkan," pujia Dewa Lima Unsur.
"Hamba tidak berani menerima pujian itu. Hamba hanya semata-mata menjalankan apa yang ditugaskan oleh Tuanku,"
Dewa Lima Unsur tersenyum sangat lembut. Dia senang kepada orang tua itu. Huang Taiji … baginya, dia adalah pengawal terbaik dari yang paling baik.
"Di mana anak itu sekarang?"
"Beliau di belakang. Dia jatuh pingsan karena tadi berusaha untuk meraih tubuh hamba. Beliau terkena pantulan kekuatan para Dewa,"
Dewa Lima Unsur mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Kemudian dia segera berjalan menghampiri Chen Li. Langkahnya amat tenang dan ringan. Seringan kapas atau bahkan seringan angin.
Begitu dirinya telah tiba di hadapan bocah itu, Dewa Lima Unsur langsung menyentuhkan ujung jari telunjuk ke kening Chen Li.
Cahaya putih keluar dari ujung jari itu. Sedetik kemudian, pemuda itu telah siuman. Begitu melihat satu sosok yang belum pernah dia temui selama hidupnya, Chen Li langsung melompat bangun ke belakang. Hampir saja dia menyerang sosok tersebut.
Untungnya serangan itu tidak jadi. Huang Taiji telah memandangnya dengan tajam. Pandangan matanya lebih tajam dari pada saat dia sedang mendidiknya berlatih.
Seketika Chen Li langsung mengurungkan niatnya. Wajahnya langsung tertunduk. Dia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Bersujud," tegas Huang Taiji.
Chen Li tidak berani membantah. Dia langsung bersujud di hadapan Dewa Lima Unsur. Meskipun pemuda itu tidak mengetahui siapa sosok di hadapannya saat ini, namun kalau Huang Taiji sudah memberikan perintah, maka dia akan langsung melaksanakannya.
__ADS_1