Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pendekar Berdarah Dingin


__ADS_3

Malam semakin larut. Angin berhembus lirih menebarkan bau amis darah. Dedaunan bergoyang-goyang.


Dua tokoh ternama itu masih saling pandang. Seolah keduanya sedang mengukur sampai di mana kemampuan lawan yang akan mereka hadapi saat ini.


Si pemimpin terlihat sedikit ragu. Sebab dari awal benturan saja dia sudah tahu bahwa wanita di hadapannya ini, mempunyai kekuatan yang lebih hebat daripada dirinya.


Pria tua itu berusaha mengumpulkan keberanian sebisa mungkin. Dia tokoh terkenal di negerinya. Apalagi merupakan seorang tetua.


Menyerah sebelum bertarung, adalah suatu perbuatan yang sangat pengecut. Apalagi dia sudah tahu, sekalipun dirinya melakukan hal rendah itu, wanita di hadapannya tetap tidak akan memberi ampunan.


"Lihat serangan …" tiba-tiba Ye Xia Zhu membentak nyaring lagi.


Dia menyerang kembali dengan pedang pusaka miliknya. Desiran angin terasa sangat tajam. Tahu-tahu pedangnya sudah berada di hadapan si pemimpin.


Tapi pria itu juga tidak bisa dianggap remeh. Secepat kilat pedangnya menangkis. Namun kali ini keduanya tidak berhenti. Mereka segera melancarkan serangan lanjutan yang tidak kalah hebatnya.


Di sisi lain, lima gadis yang berhadapan dengan San Ong juga merasakan hal yang sama dengan lainnya. Kekuatan siluman kera putih itu sungguh jauh di luar dugaan mereka.


Kebetulan sekali saat beberapa hari lalu, mereka tidak sempat menyaksikan pertarungan San Ong ketika di rumah bangsawan Zhu. Karena itulah malam ini mereka merasa ketakutan setengah mati.


Pertarungan telah berjalan sebanyak puluhan jurus. Namun keadaan mereka tetap tidak berubah. Selalu dalam posisi terpojok dan semakin terpojok.


Padahal lima gadis itu tahu, bahwa siluman keras tersebut belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatan. Bahka sepertinya dia sedang bermain-main. Mereka merasa sangat gemas, tapi apa daya, badan tak sampai.


"Kalau kalian tidak tahu bagaimana caranya menyerang dengan benar, sekarang lihat! Akan aku tunjukan bagaimana caranya," kata San Ong berteriak.


Dia meluncur ke depan sambil melancarkan dua pukulan jarak jauh.


Belum lagi hilang pukulan pertama, tendangan lainnya segera menerjang kelima gadis. Kekuatan yang terkandung di dalamnya sungguh mengerikan.


Hanya dalam sekejap mata, lima gadis tersebut kembali berada dalam posisi terdesak hebat.


Hujan pukulan telah dilancarkan. Dia mengeluarkan suaranya yang mampu membuat telinga sakit. Lengkingan tinggi menggelegar.


Lima pukulan dilancarkan dalam waktu singkat. Empat tendangan berkelebat dengan cepat.


Lima gadis sempat bertahan, namun tak lama. Sebab mereka segera terkena serangan lainnya.


San Ong mencekik dua orang gadis sampai dia tewas. Darah mengucur dari mulutnya.


Tiga rekannya merasa mual. Mereka ingin muntah, tapi tidak bisa. Rasa takut dan ngerinya lebih tinggi daripada rasa mualnya.


"Sekarang giliran kalian. Aku akan memberikan kematian yang nyaman," bentaknya.

__ADS_1


Dia menyerang kembali. Kekuatan pukulan bertambah hebat beberapa kali lipat. Tiga gadis itu sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya. Sayang, kelimanya tidak dapat bertindak lebih jauh lagi.


Kekuatan mereka hanya Pendekar Dewa tahap satu. Sangat berbeda jauh jika dibandingkan dengan San Ong.


Beberapa kali melancarkan serangan, mereka sudah tidak dapat melindungi diri lagi.


Ketiganya tewas membawa perasaan kalut. Setiap mulut dan telinga mengeluarkan darah segar tiada hentinya.


San Ong kemudian beralih menonton pertarungan lain.


Jika orang lain yang membunuh, mungkin mereka akan memberikan jalan kematian ringan bagi seorang wanita.


Sayangnya San Ong tidak memberlakukan hal tersebut. Pria ataupun wanita, kalau mereka pantas untuk mati, maka dia akan melakukan semaunya. Tidak ada rasa belas kasihan. Apalagi tertarik akan ada wajahnya.


Sebab dia bukan seorang manusia. Dia hanyalah siluman.


Siluman pembasmi iblis yang berwujud manusia.


Ong San tak berada jauh di sisinya. Saudaranya juga sama, dia sedang melangsungkan pertarungan seru.


Dua Pendekar Dewa sudah melawan habis-habisan. Seluruh kekuatan mereka sudah dikeluarkan setinggi mungkin.


Sayangnya tidak mampu memberikan serangan berarti. Kecuali hanya berupa goresan ataupun pukulan kecil saja. Selain itu, rasanya mereka tidak sanggup lagi.


Dia meraung keras. Kepalan tangannya yang besar segera menghantam ke depan. Disusul kemudian dengan tendangan kakinya. Kedua anggota tubuh itu menyerang silih berganti.


Dua Pendekar Dewa tak dapat bertahan lebih lama lagi. Mereka menerjang ke depan dengan senjata di tangan. Harapannya tentu supaya bisa membunuh siluman itu.


Sayangnya perhitungan mereka kurang cermat.


Belum sempat kedua senjata dan jurusnya mengenai sasaran, mendadak siluman kera tersebut lenyap.


Menyusul kemudian tiba-tiba dia sudah berada di belakangnya. Ong San merampas senjata yang mereka gunakan. Kemudian dia tusukan kepada pemiliknya masing-masing.


Senjata makan tuan.


Mimpi pun tidak pernah bahwa mereka akan tewas di ujung senjatanya sendiri.


Chen Li bertarung lebih serius lagi. Lawan yang dia hadapi kali ini cukup lumayan juga ternyata. Sepertinya dia sudah mempunyai pengalaman bertarung cukup banyak.


Sehingga setiap serangan ataupun gerakan menghindarnya dilakukan dengan amat gesit.


Mereka sudah bertukar jurus sebanyak lima puluhan jurus. Keduanya sama-sama heran. Yang satu merasa heran karena lawan selalu bisa menghindar. Sedangkan yang satu lagi heran karena ada bocah sepertinya.

__ADS_1


Chen Li tersenyum dingin.


Pedang Awan melancarkan cahaya kebiru-biruan.


"Hujan Badai di Tengah Malam …"


"Wushh …"


Serangan pedang kali ini jauh berbeda dari semua serangan selajutnya. Dia menggunakn jurus lain yang sempat dipelajari dari sebuah kitab milik ayahnya.


Serangannya bertumpu kepada kecepatan bergerak. Setiap tusukan dan sabetan dia lakukan dengan tepat. Waktu yang tepat dan perhitungan yang tepat.


"Meniup Seruling Menarik Sukma …"


Lantunan nada indah mengalun di udara. Suaranya melengking terdengar hingga ke tempat cukup jauh. Chen Li mengeluarkan jurus kelima dari Kitab Seruking Pencabut Nyawa untuk yang pertama kalinya.


Untungnya berhasil. Meskipun belum sempurna, setidaknya sudah cukup untuk membalikkan keadaan.


Suara seruling semakin menggema di angkasa. Pendekar Dewa itu terhipnotis. Dia seakan merasakan sukmanya ditarik oleh suatu kekuatan batin yang tak kasat mata.


Gerakan pedangnya melambat. Keringat dingin mulai menusuk tulang sebab seruling itu semakin lama terasa semakin sakit. Dia mula kepayahan.


"Trangg …"


Pedangnya terpental hingga menancap di batang pohon.


Tubuhnya bergetar hebat. Tahu-tahu Pedang Awan milik si bocah itu sudah menusuk di kerongkongannya.


Darah mengucur deras. Mulutnya juga mengeluarkan darah.


Dia tewas. Tapi tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan.


Sebab sebelum dia benar-benar mati, sukmanya sudah keluar lebih dulu.


Chen Li mencabut pedangnya tanpa ekspresi. Hanya wajah dingin yang terlihat. Dingin sedingin-dinginnya.


Dia memang tampak lain daripada yang lain.


Tapi dia juga merupakan seorang bocah yang akan menanggung beban berat. Semua beban umat manusia, kelak akan berada di pundaknya.


Chen Li adalah seorang bocah yang dingin dan misterius jika sedang melangsungkan pertarungan.


Dia adalah pendekar. Lebih tepatnya pendekar berdarah dingin.

__ADS_1


__ADS_2