Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Jurus Yang Mengerikan


__ADS_3

"Baik, silahkan lakukan dengan segera. Lebih cepat, lebih baik. Aku sudah muak melihat tampangmu yang sok hebat," kata Naga Hitam Bersayap Delapan sambil tersenyum mengejek kepada Shin Shui.


Shin Shui tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum dingin sambil tetap memandang tajam ke arah pria tua itu.


Wushh!!!


Sinar biru berukuran cukup besar melesat sangat cepat ke arah Naga Hitam Bersayap Delapan. Bebatuan terpental ke segala arah.


Pria tua itu sangat terkejut melihat kecepatan serangan Shin Shui. Dia buru-buru melompat setinggi mungkin agar bisa terhindar dari sinar biru itu. Belum lagi menginjak tanah, serangan lainnya telah tiba kembali.


Shin Shui melemparkan puluhan pisau energi yang mengandung kekuatan dahsyat ke arahnya. Pisau itu sangat mengerikan karena bisa menghancurkan segala yang ada di depannya.


Si Naga Hitam Bersayap Delapan tidak tinggal diam saat melihat puluhan pisau energi itu. Dia mengibaskan tangannya sehingga keluar segulung angin yang langsung menerjang puluhan pisau energi tersebut.


Blarr!!!


Benturan dua tenaga dalam dahsyat terjadi. Angin berhembus kencang untuk yang kesekian kalinya.


Shin Shui tidak mau bermain-main lagi jika menghadapi lawan sekuat si Naga Hitam Bersayap Delapan, delapan puluh persen kekuatannya dikeluarkan saat itu juga.


Aura biru terang yang menyelimuti tubuhnya menjadi lebih tebal dari pada sebelumnya. Matanya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat.


Shin Shui sudah tidak terlihat seperti manusia. Dia terlihat seperti seorang Dewa yang sedang marah besar.


"Dua Belas Pukulan Dewa Halilintar …"


Wushh!!!


Duarr!!!


Langit mendadak lebih mendung. Lebih kelam. Dan lebih menakutkan.


Raungan aneh terdengar menggema di alam raya. Bumi bergetar hebat seperti dilanda gempa bumi yang besar.


Dua belas angin yang sangat dahsyat melesat secepat kilat ke arah Naga Hitam Bersayap Delapan. Setiap pukulan itu mengandung tenaga yang sukar untuk dilukiskan.


Siapapun tidak akan sanggup menangkis dua belas pukulan itu dengan sempurna. Apakah si Naga Hitam Bersayap Delapan mampu menahannya?


"Benteng Iblis Penguasa Bumi …"


Wushh!!!

__ADS_1


Sebuah tenaga tingkat tinggi tercipta. Tanah di sekitar Naga Hitan Bersayap Delapan retak. Dari dalam tanah muncul sesuatu seperti gerbang yang sangat-sangat kokoh sekali.


Gelegar!!! Gelegar!!!


Ledakan keras terdengar membuat telinga yang mendengar merasa sakit. Si Naga Hitam Bersayap Delapan terlempar dua puluh langkah ke belakang. Dia bergulingan puluhan kali.


Mulutnya memuntahkan darah segar kehitaman yang cukup banyak. Dadanya terasa sangat sesak. Organ dalamnya terguncang hebat. Dia mengalami luka dalam yang parah.


Untuk beberapa saat lamanya orang itu tidak dapat berdiri kembali. Dia hanya mampu terduduk dengan menopang ke lutut kanannya. Wajahnya sedikit pucat pasi.


Naga Hitam Bersayap Delapan menggertak gigi. Mendadak orang itu melompat menerjang ke depan.


Dua trisula pusaka miliknya sudah dikeluarkan secara kilat. Dua serangan dahsyat dilayangkan ke arah Pendekar Halilintar.


Trangg!!!


Dua senjata pusaka tingkat tinggi mengalami benturan hebat. Pedang Halilintar sudah digenggam erat di tangan kanan Shin Shui.


Jika dia sudah mengeluarkan pedang pusaka itu, maka senjata apapun tidak akan sanggup mematahkannya. Kecuali hanya mereka yang benar-benar berilmu sangat tinggi.


Wushh!!!


Shin Shui mendesakkan Pedang Halilintar ke arah Naga Hitam Bersayap Delapan. Orang itu terlempar kembali. Belum sempat dirinya mendarat, Pendekar Halilintar telah melesat lagi sambil melancarkan berbagai macam serangan hebat.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Benturan dua senjata pusaka tanpa tanding terdengar tiada hentinya. Percikan api terlihat seperti bintang yang bertaburan jika malam tiba.


Si Naga Hitam Bersayap Delapan mulai sedikit kewalahan. Seluruh jurus trisula andalannya sudah dia kerahkan. Sayangnya semua itu masih belum cukup untuk menandingi jurus Tarian Ekor Naga Halilintar milik Shin Shui.


Pedang Halilintar berkelebat. Lima tusukan mencecar Naga Hitam Bersayap Delapan dengan gerakan yang sangat cepat. Setiap gerakannya dilakukan dengan perhitungan yang matang sehingga menghasilkan sebuah serangan mematikan.


Jika lawannya orang lain, sudah pasti dia tidak akan sanggup menahan jurusnya. Apalagi jurus Tarian Ekor Naga Halilintar kali ini dikeluarkan saat Shin Shui mengerahkan delapan puluh persen kekuatannya.


Bisa dibayangkan bagaimana hebatnya jurus yang dia lancarkan untuk memenangkan pertarungan ini.


Trangg!!!


Kedua tokoh itu kembali terdorong jauh ke belakang. Nafas mereka sedikit tersengal akibat berbenturan dengan lawannya masing-masing.


Naga Hitam Bersayap Delapan menyerang secara tiba-tiba. Dua trisulanya melancarkan tusukan dan sabetan yang mengandalkan ketajaman di ujung senjatanya. Dua serangan itu tiba dengan sangat cepat.

__ADS_1


Sinar selalu hitam keluar saat dia menyerang. Tetapi Shin Shui tidak merasa kesulitan sama sekali. Seperti apapun Naga Hitam Bersayap Delapan menyerangnya, Pendekar Halilintar tetap bisa menangkisnya.


Pusaran debu mendadak tercipta. Bebatuan berterbangan ke udara. Dedaunan membentuk sebuah pusaran tersendiri.


Wushh!!! Slebb!!!


Darah segar menyembur. Cipratan darah sampai mengenai jubah Shin Shui yang megah itu. Suara kesakitan terdengar memilukan.


Saat angin dan debu lenyap, sesuatu yang membuat si Nenek Pedang Tunggal ketakutan terjadi. Ujung Pedang Halilintar milik Shin Shui menancap bahkan menembus tenggorkan Naga Hitam Bersayap Delapan.


Kedua mata pria tua itu terbelalak tidak percaya. Dia tak pernah menyangka bahwa Pendekar Halilintar sanggup membunuhnya dalam waktu yang sangat-sangat singkat.


Alasannya karena dia tidak melihat bagaimana serangan Shin Shui sebenarnya. Dia tidak menyaksikan bagaimana tokoh kesatu di dunia persilatan itu bergerak.


Dia tidak tahu sama sekali. Yang dia tahu hanyalah ujung pedang itu tiba-tiba sudah menusuk tepat ke tengah-tengah tenggorokannya.


Si Naga Hitam Bersayap Delapan ambruk ke tanah. Darah masih mengucur. Rasa ketidakpercayaan masih menghantui dirinya meskipun nyawa itu sudah melayang.


Keadaan di sana mendadak sunyi. Semuanya tidak ada yang mengucapkan kata apapun. Orang-orang yang ada si sana berdiam dengan tatapan mata tidak percaya. Terlebih lagi si Nenek Pedang Tunggal dan Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara.


Dalam hatinya, dua wanita tua itu bertanya-tanya, bagaimana Pendekar Halilintar membunuhnya? Jurus apa yang dia gunakan?


Karena tidak sanggup menahan rasa penasaran, si Nenek Pedang Tunggal tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepada Shin Shui.


"Jurus apa yang kau gunakan?" tanyanya sambil menahan rasa takut.


"Jurus Pedang Cahaya,"


"Secepat itukah Jurus Pedang Cahaya?"


"Tentu saja,"


"Aku ingin mencobanya,"


"Baik,"


Slebb!!!


Belum selesai perkataan Shin Shui yang terakhir, ujung Pedang Halilintar telah kembali bersarang di tengah-tengah tenggorokan si Nenek Pedang Tunggal.


Dia tidak mampu lagi berkata apa-apa. Mulutnya tidak sanggup bicara karena mulut itu sudah dipenuhi dengan darah kental.

__ADS_1


"Ju-jurus yang mengerikan," katanya dengan susah payah.


Setelah ucapannya selesai, nenek tua itu ikut ambruk seperti si Naga Hitam Bersayap Delapan sebelumnya.


__ADS_2