
Mencapai jurus keenam puluh, si Pendekar Dewa tahap lima itu semakin terpojok posisinya. Sedangkan Shin Shui justru semakin memburu. Pedang Halilintar terus memberikan serangan dahsyat kepada lawan.
Hek Jiu Lin dan tiga Pendekar Dewa tahap enam lainnya belum bisa membantu rekan mereka itu. Hal ini dikarenakan tubuh Shin Shui diselimuti oleh hawa dari halilintar. Kilatan biru semakin terlihat menyeramkan dari waktu ke waktu.
"Pedang Halilintar Membela Bumi …"
"Wushh …"
Pedang Halilintar digerakkan dengan kekuatan dahsyat. Sebuah sabetan hebat dilontarkan oleh Shin Shui tanpa mampu di tahan oleh lawan.
Pada akhirnya Pendekar Dewa tahap lima itu tewas dengan kondisi tubuh terpotong bagian pinggangnya.
Darah muncrat ke tempat sekitar. Kengerian pada diri Shin Shui semakin bertambah. Keempat musuh lainnya merasa gentar sedikit.
Tetapi saat mereka melihat bahwa Pendekar Halilintar sedang melesat ke arahnya, keempat pendekar itu langsung menghilangkan rasa gentar yang sempat mengisi benaknya.
Bersamaan dengan serangan Shin Shui yang dashyat, keempat pendekar pun sudah menyiapkan jurus hebatnya.
"Badai Halilintar Menghancurkan Bumi …"
"Wushh …"
"Gelegarr …"
Langit bergemuruh dan berguncang seperti terjadi kiamat. Bumi bergetar hebat. Langit menjadi mendung saat itu juga. Suara gemuruh guntur dan kilat mulai menyambar bumi tanpa henti.
Sebuah jurus dahsyat melesat ke arah empat pendekar dengan aura yang tak kalah mengerikannya.
"Benteng Tiga Kehidupan …"
"Wushh …"
Pendekar dari Kekaisaran Lain mengeluarkan jurus gabungan yang dahsyat milik mereka. Sebuah energi terbentuk menghalangi keempatnya.
"Tangan Dewa Menggetarkan Bumi …"
"Wushh …"
__ADS_1
Tak mau kalah dari tiga rekannya, Hek Jiu Lin si Tangan Langit Membalik Bumi mengeluarkan pula jurus andalannya.
Sebuah energi teramat sangat dahsyat keluar dari satu telapak tangannya. Jurus itu melesat menerjang jurus Shin Shui.
Hanya dalam hitungan detik, dua jurus bertemu di tengah-tengah jalan. Perlahan namun pasti jurus milik Hek Jiu Lin terdorong mundur semakin mendekati benteng ciptaan tiga rekannya.
Tak berapa lama, jurus Shin Shui semakin mendesak jurus lawan sehingga berbenturan dengan benteng pertahanan.
Suara menggelegar terdengar sangat memekakkan telinga mereka. Hutan rusak berat akibat dari benturan tiga jurus dahsyat tersebut.
Andai kata Shin Shui tidak membuat ruang pelindung secara diam-diam, sudah pasti keadaan sekitar mereka akan porak poranda seperti dilanda sebuah badai besar.
Tubuh kelima pendekar itu terlempar keras ke belakang sejauh puluhan tombak. Tubuh mereka menabrak pohon besar sampai hancur karenanya.
Tapi untung bagi Shin Shui karena ketika tubuhnya meluncur deras saat hampir menabrak batu besar, ada sebuah tenaga yang menahannya sehingga tubuh itu berhenti.
Detik selanjutnya, sudah ada tiga orang di sisi Shin Shui.
Yang satu memakai jubah berbulu seperti terbuat dari serigala. Matanya tajam dengan badan yang kekar. Walaupun wajahnya angker, tetapi terlihat bahwa dia sangat menghormati Shin Shui.
"Maaf pahlawan, aku datang sedikit terlambat," kata orang yang memakai jubah berbulu putih.
"Ah, senior Serigala dari Lembah Kematian. Terimakasih sudah membantuku," kata Shin Shui memberikan hormatnya.
"Pahlawan tidak perlu sungkan seperti ini kepadaku. Sudah menjadi kewajiban untuk membantu pemimpin dunia persilatan," jawabnya ramah.
"Terimakasih senior. Siapa yang telah memberitahumu?" tanya Shin Shui.
"Burung elang pengirim pesan. Sepertinya murid dari Kakek Tua Jubah Hitam yang mengirimkannya,"
"Ah, baik sekali. Kau datang hanya bertiga saja?"
"Tidak, aku datang membawa tetua dan murid pilihan. Pahlawan jangan khawatir, anakmu sudah aman karena murid Lembah Kematian sudah melindunginya," jawab Serigala dari Lembah Kematian yang bernama asli Kiang Cong Sun.
"Terimakasih banyak senior. Suatu hari aku akan membalas semua kebaikanmu ini," ujar Shin Shui penuh hormat.
Sementara itu, Hek Jiu Lin dan tiga Pendekar Dewa tahap enam dari Kekaisaran lain terlihat sangat geram karena sayangnya tiga pendekar dari Lembah Kematian tersebut.
__ADS_1
Karena ini artinya, maka kesempatan untuk menghabisi nyawa Shin Shui semakin sedikit saja. Bahkan mungkin sama sekali tidak ada.
Bertarung bersamaan dengan tiga pendekar kuat saja dia masih bertahan, apalagi kalau satu persatu seperti yang akan terjadi seperti sebentar lagi?
Membayangkan hal tersebut, Hek Jiu Lin bergidik juga. Tetapi untuk kabur pun rasanya tidak mungkin. Apalagi dia tahu bahwa Pendekar Halilintar itu tidak akan melepaskannya.
"Senior, mari kita mulai. Aku mohon uluran tanganmu," kata Shin Shui.
"Baik. Dengan senang hati," katanya lalu menyerang bersama Shin Shui dan dua rekannya.
Empat pendekar sudah melesat ke arah lawan. Shin Shui memilih Hek Jiu Lin sebagai pelampiasan amarahnya. Sedangkan Kiang Cong Sun dan dua rekannya melawan pendekar dari Kekaisaran Lain.
Pertarungan dahsyat dengan tokoh kelas atas sebagai pelaku utamanya akan segera berlangsung sebentar lagi. Sudah pasti jurus-jurus langka dan hebat akan segera terlihat.
Sementara itu saat Kakek Tua Jubah Hitam berada dalam posisi terdesak, tiba-tiba saja enam pendekar dari Lembah Kematian langsung turun tangan dan membantunya.
Hal ini tentu saja menguntungkan dia sendiri, sebab dengan hadirnya enam pendekar tersebut, maka keadaan menjadi berimbang kembali.
Tanpa membuang waktu, enam pendekar ditambah dengan Kakek Tua Jubah Hitam sendiri segera melancarkan serangan-serangan berbahaya ke masing-masing lawannya.
Hanya dalam waktu sesaat, pertarungan mereka langsung berjalan dengan seru. Gempuran serangan dan jurus mulai keluar mewarnai gelanggang pertempuran. Suara bentakan nyaring dan dentingan benturan senjata mulai menggelegar.
Kakek Tua Jubah Hitam semakin bersemangat. Dia tentu memilih Hua Kim sebagai lawannya. Ada rasa dendam mendalam dari dalam diri orang tua itu kepada murid Hek Jiu Lin tersebut.
Dalam sekali gebrak, Kakek Tua Jubah Hitam sudah melancarkan jurusnya yang terkenal sangat ganas karena dibarengi racun.
Di dalam hutan, ketika Chen Li dan Eng Kiam sudah memulai pertarungan mereka dengan delapan belas Pendekar Langit, tanpa diduga sebelumnya tiba-tiba saja melompat dua belas bayangan yang langsung ikut campur dalam pertempuran itu.
Kedua belas pendekar tersebut tentu saja orang-orang dari Lembah Kematian. Mereka semua merupakan Pendekar Surgawi tahap empat akhir. Hal ini tentu menjadi keuntungan bagi Eng Kiam dan Chen Li.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, mereka semua sudah paham dan segera membagi posisi. Dua Pendekar Surgawi melawan dua Pendekar Langit. Sisanya melawan satu persatu.
Termasuk Chen Li dan Eng Kiam mendapatkan jatah yang sama.
Bocah istimewa itu sudah menggempur lawan dengan jurus berbahaya dari serulingnya. Lawan yang menggunakan sepasang pedang meladeni semua sepak terjang bocah itu dengan senang hati. Awalnya pertarungan memang berjalan dengan imbang.
Tetapi memasuki jurus kedua belas, orang itu baru sadar bahwa Chen Li ternyata mempunyai kekuatan hebat yang mampu mendesaknya.
__ADS_1