
Huang Taiji tersenyum kembali. Dia paham bagaimana sifat seorang wanita. Biasanya, seorang wanita memang terkadang tidak sabaran.
"Sabarlah sebentar lagi, aku yakin tidak berapa lama, guru dan murid itu akan datang,"
Huan Ni Mo hanya mengangguk pelan. Dia tidak bicara lagi. Seperti juga Chen Li. Semenjak pertama datang ke Bukit Merah Salju, bocah kecil itu tidak bicara sepatah kata pun kecuali yang sedikit.
Meskipun matanya ditutup dengan kain sutera berwarna putih, tapi jika ada orang yang memandangnya, maka orang itu akan merasakan jantungnya berpacu lebih cepat jika beradu tatapan dengan bocah tersebut.
Di balik ikat sutera putih itu, terdapat sepasang mata yang sangat-sangat tajam.
"Mereka sudah datang," kata Chen Li dengan dingin.
Huang Taiji dan Huan Ni Mo saling pandang. Keduanya merupakan tokoh kelas atas di dunia persilatan, tapi mereka belum merasakan adanya kehadiran orang lain. Biasanya, sebagai tokoh ternama, kedua orang itu dapat merasakan kehadiran lawan dalam beberapa jarak tertentu dengan mengandalkan pancaran auranya.
Tapi kali ini mereka belum merasakan apapun. Bagaimana mungkin Chen Li dapat menyebut bahwa calon musuhnya sudah datang?
Huan Ni Mo merasa bingung. Sedangkan Huang Taiji hanya tersenyum simpul. Dia sudah tahu bagaimana keistimewaan keponakannya tersebut.
"Apakah kau merasakan kehadiran mereka?" tanyanya kepada Huang Taiji.
"Sama sekali tidak," jawabnya sambil tersenyum santai.
Huan Ni Mo semakin bingung. Dia terlihat seperti orang yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Tapi jika Li'er sudah berkata seperti itu, maka mereka benar-benar telah datang," lanjut Huang Taiji.
Baru saja ucapan Pendekar Pedang Tombak selesai, dua titik bayangan telah tampak di kejauhan sana. Dua bayangan itu melesat cepat ke arah mereka. Hanya sekejap mata, bayangan tersebut telah tiba di hadapan dan mendarat dalam jarak delapan langkah.
Dua bayangan itu merupakan wanita. Usianya yang satu tua dan yang satu masih sangat muda. Bahkan masih bocah.
Mereka adalah dua orang yang sedang ditunggu-tunggu.
"Akhirnya kalian datang juga," kata Huang Taiji sambil tersenyum.
"Kami pasti akan datang. Apapun yang terjadi, kami akan menepati janji, apalagi pertemuan ini aku yang mengajukan," kata si nenek tua menjawab Huang Taiji.
"Aku percaya padamu, karena itulah aku bersedia datang,"
Kedua orang tua itu saling tatap dalam diam. Angin berhembus mengibarkan pakaian keduanya.
__ADS_1
"Kita sudah berjumpa sebelumnya, tapi sampai sekarang aku belum mengetahui siapa namamu yang sebenarnya," kata Pendekar Tanpa Tanding.
Nenek tua itu tertawa nyaring. Suara tawanya persis seperti kaleng rombeng yang dipukul.
"Hahaha, namaku Nenek Pedang Tunggal. Ini muridku, Bidadari Kecil Pedang Sutera," jawabnya masih sambil tertawa.
Huang Taiji tersenyum. Sedangkan Huan Ni Mo tampak sedikit terkejut. Dia sudah pernah mendengar nama nenek tua itu. Di sekitar daerah sini, namanya memang terkenal. Dia di jajarkan dengan para tokoh kelas atas.
"Ternyata sepasang guru dan murid yang mempunyai nama besar. Sungguh beruntung aku bisa berjumpa dengan kalian secara bersamaan," kata Huang Taiji sambil melirik sedikit ke arah gadis kecil itu.
Si Nenek Pedang Tunggal masih tertawa. Bahkan suara tawanya bertambah keras. Dia bangga jika semua orang mengenal dan tahu kepada dirinya.
Rasanya, perjuangan berat yang telah dia lakukan demi mengangkat nama tidak percuma.
Di dunia ini, sebenarnya tidak ada perjuangan yang sia-sia. Setiap perjuangan, selama kau serius dalam perjuangan itu, maka hasilnya pasti akan setimpal. Tinggal bagaimana kau mengambil sikap dari hasil itu.
Karena pada dasarnya, harapan dan hasil terkadang tidak sama. Memang begitulah sejatinya kehidupan. Kau tidak bisa menentukan, kau hanya bisa berharap dalam segala hal.
"Terimakasih atas pujianmu. Bukankah sekarang aku sedang berhadapan dengan Tuan Huang Taiji si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding?" tanya si Nenek Pedang Tunggal memastikan.
"Namaku memang Huang Taiji. Orang-orang juga biasa menyebutku seperti itu, hanya saja aku merasa kurang pantas mendapat julukan tersebut. Julukan itu terlalu tinggi untuk orang sepertiku," kata Huang Taiji merendah.
Dia mengaku tidak sedang menyombongkan dirinya. Tapi siapapun tahu, dalam ucapan itu justru terpatri sebuah kesombongan mendalam.
"Kau benar. Jurusmu tentu saja sangat tidak sebanding dengan jurusku," jawab pria tua itu.
Suasana mendadak sepi sunyi. Si Nenek Pedang Tunggal tidak tertawa lagi. Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama, hingga pada akhirnya Chen Li membuka mulut untuk memecahkan keheningan.
"Siapa yang akan bertarung denganku?" tanya Chen Li pura-pura tidak mengetahui calon lawannya.
"Aku," jawab gadis kecil berjuluk Bidadari Kecil Pedang Sutera itu.
"Ternyata kau," jawab Chen Li simpul.
Bidadari Kecil Pedang Sutera merasa jengkel. Baru kali ini dia bertemu dengan bocah pria yang sangat acuh kepadanya. Padahal sebelumnya, siapapun bocah itu, selama pria, maka bocah tersebut pasti berusaha seramah mungkin kepadanya.
Apalagi gadis kecil itu mempunyai raut wajah yang tidak bisa dibilang jelek.
"Bocah pria yang sangat angkuh," dengusnya.
__ADS_1
Chen Li hanya tersenyum dingin. Dia tidak memberikan jawaban apapun kepadanya.
"Aku menantangmu bertarung hidup dan mati,"
"Aku sudah tahu,"
"Apakah kau bersedia?"
"Jika aku sudah datang, aku rasa kau sudah tahu apa jawabannya,"
Gadis kecil itu tidak bicara lagi. Dia benar-benar dibuat jengkel oleh Chen Li. Hanya dengusan kecil yang keluar dari hidungnya yang mungil.
"Kapan pertarungannya akan dimulai?"
"Sekarang …"
Wushh!!!
Bidadari Kecil Pedang Sutera langsung menerjang begitu selesai memberikan jawaban tersebut. Tangan kanannya mengepal lalu memberikan satu pukulan keras yang mengarah ke wajah Chen Li.
Plakk!!!
Chen Li menahan dengan telapak tangan kanannya. Dia masih berdiri dengan tenang. Kakinya tidak bergeser sedikitpun. Bahkan dia menangkis pukulan lawan dengan sangat mudah. Seolah pukulan itu tidak berarti sama sekali baginya.
Wushh!!!
Chen Li mendorong Bidadari Kecil ke belakang. Meskipun gerakannya perlahan, namun akibatnya lumayan. Gadis itu terdorong tiga langkah ke belakang.
Sementara itu, tiga orang tua yang menyaksikan pertarungan mereka sudah mundur beberapa langkah ke belakang. Meskipun di antara mereka tidak ada yang mengucapkan bagaimana jalannya pertarungan, tapi masing-masing tokoh itu sudah tahu apa yang harus mereka lakukan.
Wuttt!!!
Bidadari Kecil mengibaskan mengibaskan tangan kanannya. Seguluny angin dahsyat datang menerjang ke arah Chen Li.
Bocah itu tidak menghindar walau setindak. Jangankan begitu, menangkis serangan pun tidak. Chen Li justru menunggu datangnya sambatan angin tersebut.
Plakk!!!
Segulung angin itu dengan telak menerpa tubuhnya. Chen Li terdorong ke belakang, dia terhuyung-huyung dan hampir jatuh.
__ADS_1
Jika Huan Ni Mo merasa sangat khawatir melihat kejadian tersebut. Huang Taiji justru tersenyum simpul. Dia tidak khawatir karena sudah mengetahui bagaimana dan apa yang sedang dilakukan oleh keponakannya.