Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Bao Bao


__ADS_3

Chen Li sudah masuk ke dalam bangunan kecil tapi antik itu. Di dalamnya tidak ada apa-apa lagi kecuali hanya arak dengan jumlah cukup banyak yang masih tersegel dan perabotan sederhana lainnya.


Di sana juga ada satu meja bundar dan dua kursi. Di satu kursi sudah duduk seorang tua dengan pakaian putih berjubah merah. Wajahnya sudah keriput, alisnya tebal. Kerutan di mukanya sudah kentara jelas.


Di lihat dari sini saja, Chen Li sudah dapat menduga bahwa orang tua itu setidaknya berumur paling sedikit enam puluh tahunan.


Di ruangan itu hanya ada satu ruangan saja. Selain ruangan yang isinya sudah disebutkan tadi, rasanya tidak ada ruangan lainnya lagi.


"Selamat datang, silahkan duduk Tuan muda Chen Li," ucap orang tua yang tak lain adalah Bao Bao si Penjual Informasi.


Ternyata orang tua itupun sudah mengetahui namanya. Chen Li awalnya sedikit keheranan sehingga dia mengerutkan kening, namun setelah diingat kembali siapa orang tua bernama Bao Bao itu, pemuda tersebut tidak jadi bertanya.


"Terimakasih Tuan Bao,"


Bao Bao hanya tersenyum simpul. Dia mengambil satu guci arak yang masih tersegel lalu segera membukanya. Bau harum arak langsung menyeruak ke seluruh ruangan itu. Dua cawan arak sudah terisi penuh. Mereka segera bersulang sebelum bicara lebih lanjut.


Chen Li minum setengah cawan, setelah itu dia segera membagi Phoenix Raja.


"Ahh … Arak yang bagus," puji Chen Li.


"Memang arak bagus. Arak ini merupakan arak asli buatan warga Pegunungan Salju lalu ditimbun enam bulan sebelum digunakan. Arak ini bernama Arak Salju, arak yang dingin saat diminum dan di tenggorokan, tapi saat masuk ke perut akan langsung menghangatkan seluruh tubuh," kata Bao Bao menjelaskan arak yang mereka minum.


"Pantas saja aku merasa baru minum arak seperti ini,"


Bao Bao hanya tersenyum menanggapi perkataan pemuda itu. Dia menuangkan kembali arak ke dalam cawan lalu kembali minum bersama. Setelah tiga kali melakukan hal itu, Bao Bao mulai memperlihatkan ekspresi wajah lebih serius lagi.


"Sebenarnya apa yang ingin Tuan muda Chen tanyakan?"


"Aku hanya mempunyai beberapa pertanyaan saja,"


"Terkait?"


"Terkait Xhiang Yu,"


Bao Bao menghela nafas perlahan. Mendengar nama Xhiang Yu, entah kenapa paras mukanya langsung berubah saat itu juga.


"Bukan menyangkut informasi pribadinya kan?"


"Bukan, lebih tepatnya hanya sedikit," jawab Chen Li singkat.


"Baiklah kalau begitu, silahkan tanyakan,"


"Aku hanya ingin bertanya apakah benar bahwa Xhiang Yu sedang berada di Pegunungan Salju ini?"


"Benar,"


"Sekarang orang itu tepatnya sedang berada di mana?"

__ADS_1


"Di markas Perguruan Tapak Sakti,"


"Sedang apa dia di sana?"


"Membalaskan dendam kematian kekasihnya yang dibunuh oleh murid perguruan tersebut," jawab Bao Bao dengan cepat.


"Baik, terimakasih," jawab Chen Li menyudahi pertanyaannya.


Bao Bao mengangguk. Tapi keningnya sedikit mengkerut, dia merasa heran kenapa pemuda yang datang dari tempat jauh itu datang kemari hanya untuk mencari Xhiang Yu.


"Sebenarnya kenapa Tuan muda mencari Xhiang Yu?" tanya Bao Bao tidak bisa menahan rasa penasaran.


"Aku ingin membunuhnya,"


Jawaban Chen Li singkat dan jelas. Tapi sudah cukup membuat Bao Bao merasa terkejut sekali.


"Kalau boleh tahu, kenapa Tuan muda ingin membunuh orang itu?"


"Karena dia pun ingin membunuhku dengan cara mengirimkan lima belas iblis kera hitam,"


"Jadi karena dia ingin membunuh Tuan muda, maka Tuan muda pun ingin membunuhnya?"


"Benar," jawab Chen Li sambil menganggukkan kepalanya.


Bao Bao hanya menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak habis mengerti kenapa banyak sekali manusia yang gemar membunuh manusia lainnya.


Apakah orang tua itu meragukan Pendekar Tanpa Perasaan?


"Tuan muda, aku sarankan lebih baik kau menggagalkan niatmu itu,"


"Kenapa?"


"Karena Xhiang Yu berbeda dengan orang lain. Ilmu pedangnya sudah mencapai tahap tertinggi, selain itu tidak mudah juga untuk dapat membunuhnya,"


"Persetan dengan semua itu, aku tidak peduli. Pokoknya dia harus mati, kalau dia mati, pasti tidak akan banyak manusia yang menjadi korban selanjutnya," tegas Chen Li.


Suaranya mulai dingin. Wajahnya juga mulai kaku.


Bao Bao melihat jelas perubahan wajah tersebut. Oleh sebab itulah dia tidak berkata lebih lanjut lagi.


Dirinya adalah si Penjual Informasi. Sudah tentu orang tua itu pun mempunyai informasi terkait Chen Li. Meskipun selintas telinganya pernah mendengar sepak terjang pemuda itu beberapa hari lalu, namun karena belum melihat secara langsung, Bao Bao tetap merasa sangsi.


"Aii, kalau begitu terserah Tuan muda saja. Aku tidak dapat melarang," keluhnya.


"Berapa biaya yang harus aku keluarkan?"


"Dua ribu keping emas,"

__ADS_1


Chen Li tersentak. Dia hanya mengajukan beberapa pertanyaan, tapi nilainya sudah semahal itu? Kalau dipikir lebih lanjut, rasanya mending menjadi orang seperti Bao Bao.


Dia bisa cepat kaya hanya dengan modal bicara.


"Ternyata menjadi orang penjual informasi sangat menguntungkan,"


"Hahaha, beginilah. Tapi di balik itu pun ada resiko yang sangat besar. Kapan saja aku bisa tewas terbunuh,"


Chen Li tidak berkata lagi. Dia segera mengeluarkan dua ribu keping emas lalu segera diberikan kepada orang tua tersebut.


"Terimakasih untuk informasi dan araknya, aku pergi sekarang," kata Chen Li sambil keluar dari ruangan tersebut.


"Tuan muda tidak perlu sungkan," jawabnya tersenyum sambil memasukkan kepingan emas itu ke dalam Cincin Ruang.


Chen Li sudah berada sepuluh langkah diluar dari tempat Bao Bao, pada saat itulah sepasang matanya tiba-tiba mendengar suara.


Crashh!!!


"Ahhh …"


Pemuda serba putih tersebut segera menghentikan langkah. Dia membalikkan tubuh lalu segera kembali ke tempat Bao Bao. Suara barusan berasal dari sana. Sesuatu pasti telah terjadi.


Wushh!!!


Hanya satu kedipan mata, Chen Li telah berada di tempat sebelumnya dia duduk dan bicara dengan Bao Bao. Semuanya masih sama, tidak ada yang berubah.


Kecuali ditemukannya satu sosok mayat yang sudah tergeletak.


Bao Bao telah tewas. Leher si Penjual Informasi hampir putus. Luka itu kecil memanjang serta menganga dan tampak jelas, darah masih mengucur deras dari mulut luka itu.


Siapa yang telah membunuhnya? Ke mana perginya si pelaku?


Chen Li tidak tahu pasti. Dia langsung membungkukkan badannya lalu segera memeriksa luka tersebut.


"Sebatang pedang yang tajam," desisnya.


Luka tersebut ternyata diakibatkan oleh sebatang pedang. Saking hebatnya, luka itu terlihat rata. Sedikitpun tidak meninggalkan cacat.


Pendekar Tanpa Perasaan segera memeriksa keadaan dalam ruangan tersebut. Ternyata tidak ada yang hilang kecuali hanya tewasnya Bao Bao.


Si pelaku telah kabur. Dia menjebol tembok belakang ruangan kecil itu.


"Keparat!!!" geram Chen Li sambil mengepalkan tangan kanannya.


Wushh!!!


Dia segera pergi kembali dari sana. Chen Li tidak mengurus mayat Bao Bao karena takut dijadikan tersangka. Bahkan dia pun sengaja tidak mengambil hartanya.

__ADS_1


Kalau kau tidak tahu apa-apa terhadap suatu hal, lebih baik jangan bertindak lebih lanjut lagi jika tidak mau menerima akibatnya.


__ADS_2