Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Terkejut Setengah Mati


__ADS_3

"Tidak. Tidak sama sekali," jawab Huang Taiji masih dengan senyuman yang sama seperti sebelumnya.


"Kalau tidak, kenapa kau harus berkata seperti itu? Kau sendiri sudah tahu bahwa kami dalam keadaan seperti ini," jawab Bi Ling geram.


"Karena aku tahu bahwa Hio Sun masih mempunyai tenaga dalam lebih. Bahkan bukan tidak mungkin dia akan menyerang secara tiba-tiba jika memang ingin," jawab Huang Taiji. Matanya menatap tajam ke arah wanita yang dimaksud.


Hio Sun tersentak kaget. Dia tidak pernah mengira sama sekali bahwa orang tua itu mengetahuinya. Padahal dirinya sudah sebisa mungkin membuat penampilan luarnya seperti orang yang terluka parah.


Dalam puluhan atau bahkan ratusan kali pertarungan sebelumnya, Hio Sun selalu melakukan cara seperti itu. Jika sudah terpojok, maka dirinya akan pura-pura terluka sangat parah seakan tidak sanggup lagi untuk melakukan apa-apa.


Tetapi jika lawannya sudah lengah dan mengira seperti yang dia inginkan, maka Hio Sun akan bergerak secara tiba-tiba. Dia akan menyerang dengan kekuatan penuh supaya dalam sekali serangan terakhir, lawannya akan tewas saat itu juga.


Kemampuan seperti ini bisa dibilang kemampuan yang paling istimewa miliknya. Sebab, Hio Sun dapat melenyapkan seluruh tenaga dalamnya dengan waktu yang sangat singkat sehingga dirinya akan terlihat seperti orang terluka parah. Namun dalam waktu yang sangat singkat pula dia dapat mengembalikan kembali seluruh tenaga dalamnya.


Dia bisa melakukannya dengan cara berbeda, tidak seperti para pendekar pada umumnya. Seumur hidupnya, selama mengembara di dunia persilatan, wanita itu belum pernah gagal jika mengeluarkan kemampuan istimewanya yang satu ini.


Tak disangka, ternyata sekali ini dia harus mengalami kegagalan dalam usahanya untuk mengelabui musuh.


"Ternyata Tuan memang mempunyai mata yang lebih tajam dari pada pisau," katanya sambil tersenyum getir.


"Terimakasih atas pujianmu. Tapi aku tidak butuh," jawab Huang Taiji ramah.


Jika Hio Sun tersenyum ramah, maka Bi Ling malah sebaliknya. Wanita itu mendengus dingin, katanya, "Kenapa sampai sekarang kau tidak membunuh kami?"


"Karena kalian masih berguna. Lagi pula, kedatanganku kemari bukan untuk membunuh kalian. Tapi hanya untuk membawa pulang gadis yang kalian bawa,"


"Tidak usah berlaku sok baik di depanku. Aku muak dengan kata-kata rayuan pria," dengusnya.


"Aku memang bukan orang baik. Tapi juga tidak bisa dibilang jahat. Lagi pula, aku bukanlah orang yang pandai merayu,"

__ADS_1


Bi Ling langsung membungkam mulutnya. Dia sadar tidak ada gunanya bicara panjang lebar juga. Yang terpenting sekarang adalah, sebisa mungkin dirinya harus bisa mengobati luka dalamnya itu.


Dia segera berusaha menyalurkan hawa murni ke seluruh bagian tubuh. Sayangnya setelah beberapa kali mencoba, Bi Ling masih tetap gagal. Seluruh jalan darahnya tersumbat dan sama sekali tidak bisa dilancarkan.


Semakin dia berusaha menyalurkan hawa murni, maka semakin juga rasa sakit yang dia rasakan.


Keadaan Tiga Wanita Pembawa Maut saat ini benar-benar sangat mengkhawatirkan. Keadaan Hon Tong lebih parah lagi. Sampai sekarang, wanita itu masih belum sadar juga. Wajahnya justru semakin pucat pasi.


Tapi anehnya, helaan nafasnya masih teratur seperti saat dia normal.


Yang paling mendingan di antara ketiganya hanyalah Hio Sun seorang. Wanita yang satu ini tampak sangat tenang. Walaupun dalam hatinya ingin mencabik-cabik pria di hadapannya, tapi wajahnya selalu melemparkan senyuman yang dapat memabukkan.


"Sebenarnya Tuan ini berasal dari mana?" tanya Hio Sun penasaran.


"Aii, ternyata kalian sedikit pelupa. Sebelumnya kita sudah berjumpa di hutan, saat itu aku melawan orang-orang si kakek tua, bahkan dia sendiri tewas di tanganku. Saat itu aku memperkenalkan diri, namaku Huang Taiji dan julukanku Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding. Dari nama dan julukan saja sudah tentu bahwa aku berasal dari Sekte Bukit Halilintar, kalau bukan dari sana, dari mana lagi?"


Bi Ling dan Hio Sun tersentak sangat terkejut. Kedua orang wanita tersebut seperti disambar petir. Sekarang mereka sudah mengetahui dengan jelas siapa orang tua di hadapannya itu.


Dia akan langsung melupakan saat itu juga. Walaupun baru bertemu belasan menit lalu, namun jika mereka memutuskan untuk melupakannya, maka tiga wanita cantik itu tidak akan ingat siapa orang tersebut.


Kadang terdengar aneh, namun memang begitu kenyataannya.


"Ternyata kami memang pantas untuk mati," keluh Bi Ling mewakili dua saudaranya.


Kalau tadi suaranya tinggi, maka sekarang menjadi berubah lembut. Jika sebelumnya mata itu selalu melotot memperlihatkan keberanian, sekarang justru sorot matanya terlihat seperti orang yang pasrah akan suatu keadaan.


"Tapi aku tidak akan membiarkan kalian mati," tukas Huang Taiji seperti sebelumnya.


"Sudah jelas kami berhadapan dengan seorang pendekar yang namanya harum dan mempunyai latar belakang tidak biasa, tapi kami masih berani berlaku kurang ajar. Bagaimana mungkin masih tidak pantas untuk mati? Rasanya, tidak ada lagi cara untuk memaafkan kekurang ajaran kami," keluh Bi Ling dengan tatapan mata sayu.

__ADS_1


Dalam dunia persilatan, rasa menghormati adalah hal yang paling utama. Tatakrama dalam masalah ini sangat ketat. Apalagi jika menyangkut urusan junior dan senior. Sehingga tidak jarang jika terdengar kabar berita ada seorang pendekar yang rela bunuh diri hanya karena berlaku kurang ajar, seperti Tiga Wanita Pembawa Maut saat ini contohnya.


"Jika aku berkata bahwa kalian tidak pantas untuk mati, maka kalian tidak akan mati," tegas Huang Taiji.


Jika dia bicara serius seperti barusan, maka wibawanya akan keluar. Siapapun orang yang ada di hadapannya, tentu tidak akan berani membantah lagi.


"Telan pil ini," kata Huang Taiji sambil melemparkan tiga butir pil berwarna merah pekat.


Hio Sun menangkapnya. Dia langsung menelan pil tersebut, kemudian Bi Ling. Lalu dia memasukkan pil tersebut ke mulut Hon Tong yang masih belum sadar.


Tidak perlu menunggu waktu yang lama, tenaga mereka sudah kembali. Keadaannya sudah seperti sedia kala. Bahkan Hon Tong juga sudah tersadar dari pingsannya.


Begitu dia merasakan tenaganya kembali, wanita itu langsung berniat untuk menerjang Huang Taiji. Hanya saja sebelumnya dia melancarkan serangan, Hio Sun lebih dulu menahannya.


"Tahan!!!" bentaknya penuh wibawa.


Hon Tong tidak bicara. Dia hanya meliriknya dengan tatapan mata kebingungan.


"Tarik kembali senjatamu," lanjut Hio Sun.


"Ta-tapi …"


"Aku bilang tarik, tarik!!! Jangan pernah membantah," tegas wanita itu.


Seketika Hon Tong menarik kembali cambuknya yang sudah siap dilayangkan itu. Dia tidak lagi membantah.


Dalam hatinya, wanita tersebut bertanya-tanya kenapa saudaranya menjadi berubah seperti itu. Sudah jelas orang tua yang ada di hadapannya itu adalah musuhnya, lantas kenapa Hio Sun melarangnya?


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanyanya kebingungan.

__ADS_1


"Apakah kau tidak tahu dia siapa sebelumnya? Coba kau ingat lagi kejadian beberapa saat lalu ketika berada di tengah hutan," ucap Hio Sun.


__ADS_2