Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertempuran IV


__ADS_3

Dewi Iblis tampak sangat terkejut sekali dengan gerakan secepat kilat yang dilakukan oleh Shin Shui.


Tetapi, tidak sia-sia juga dia menjadi lawan berat Pendekar Halilintar. Walaupun awalnya sedikit kelabakan, namun selanjutnya bahkan dia sanggup mengimbangi kecepatan gerak Shin Shui. Semua serangan yang dilancarkan berhasil di tangkis atau bahkan di balas oleh kedua Selendang Malaikat Pencabut Nyawa miliknya.


Selendang Malaikat Pencabut Nyawa memperlihatkan kehebatannya. Selendang tersebut bergerak mengikuti ke mana tangan dan Pedang Halilintar bergerak.


Seratus lima puluh jurus sudah terlewati. Pertarungan Shin Shui melawan Dewi Iblis menjadi pertarungan yang sangat seru sekaligus menegangkan. Jurus-jurus yang mereka keluarkan merupakan jurus tingkat atas yang jarang terlihat di pertarungan manapun.


Bahkan Shin Shui sendiri baru mengeluarkan kembali kemampuannya hingga ke tahap akhir. Semua kemampuan dia kerahkan dengan segenap keyakinan untuk menang.


Ternyata anggapan lawan terberat bukan datang dari diri Shin Shui saja. Bahkan Dewi Iblis pun merasa demikian. Sepanjang perjalanannya di dunia persilatan, baru kali ini dia menemukan lawan sehebat dan sesakti Shin Shui.


Semua jurus dahsyat yang selalu dapat dia andalkan, ternyata tidak mampu merobohkan Shin Shui. Rangkaian jurus langkan yang jarang dia keluarkan, bahkan masih sanggup juga di tahan oleh Pendekar Halilintar.


Entah akan memakai cara apa lagi wanita itu menyerang Shin Shui. Karena semakin lama, keadaannya walaupun tidak terpojok, tetapi tidak menguntungkan juga.


Beberapa puluh jurus kemudian dia hanya mampu menahan atau menghindari jurus yang Shin Shui berikan tanpa bisa memberikan serangan balasan berarti.


Sementara itu, pertarungan Yiu Jiefang sepertinya sudah mencapai titik puncak. Walaupun tubuhnya penuh dengan luka, tapi semangatnya justru semakin membara.


Dua tetua yang menjadi lawan beratnya mulai terasa terdesak akibat gempuran serangan Yiu Jiefang yang tiada habisnya. Tempura tetua Sekte Bukit Halilintar itu bagaikan hujan deras yang tanpa henti mengguyur bumi.


Tapi hujan deras ini berbeda, bukan memberikan hawa yang dingin. Melainkan memberikan hawa yang panas. Sangat panas.


Jurus Pedang Neraka Membakar Bumi sudah dia gelar beberapa saat sebelumnya. Ini adalah jurus pamungkas yang baru beberapa kali dia keluarkan sepanjang hidupnya.


Kalau Yiu Jiefang sudah mengeluarkan jurus ini, berarti keadaannya benar-benar terdesak. Dan nyawanya, tentu bisa melayang kapan saja.


Hanya kepada jurus dahsyat inilah Yiu Jiefang mampu berharap. Kalau memakai jurus ini saja dia tidak mampu menghabisi lawan, maka tamat sudah riwayat hidupnya.

__ADS_1


Dua tetua yang menjadi lawannya semakin tertekan karena hawa panas yang sangat membara. Keduanya merasa bukan berada di bumi. Tapi berada di dalam kawah gunung yang mengandung lahar sangat panas. Mereka bukan merasa bertarung di atas tanah. Tapi keduanya merasa bertarung di dalam neraka.


Kedua jubahnya sudah basah kuyup oleh keringat yang terus mengucur tanpa jeda. Semua jurus mereka tidak dapat dikeluarkan secara maksimal. Untuk bertahan lebih lama pun rasanya sangat sulit sekali.


Mencapai jurus kedua ratus tiga puluh, Yiu Jiefang melancarkan sebuah serangan dahsyat. Jurus ini menjadi serangan terakhirnya.


"Pedang Neraka Membalik Surga …"


"Wushh …"


Pedangnya dia ayunkan dengan kekuatan penuh yang masih tersisa. Api berkobar bagaikan di neraka yang tiada hentinya. Kobaran api itu bahkan mampu membakar segala yang ada di dekatnya.


Saking cepat dan besarnya api tersebut, dua tetua tidak mampu lagi untuk menghindar. Akibatnya, kedua tubuh mereka tertelan dari jurus api milik Yiu Jiefang.


Mereka menjerit memilukan. Jeritan untuk terakhir kali. Karena memang, inilah akhir perjalanan hidupnya. Hanya beberapa kejap kemudian, dua tetua sudah berubah menjadi arang. Bahkan mungkin debu.


Yiu Jiefang langsung terduduk lesu karena tenaganya sudah habis. Untung bahwa di saat seperti itu, sebuah bayangan putih berkelebat dan segera mengambil tubuhnya ke tempat yang lebih aman lagi.


Kedua tangannya mengeluarkan kekuatan yang maha dahsyat. Tubuhnya diselimuti cahaya hijau yang menggelora. Suara bergemuruh mengiringi setiap kali tubuhnya bergerak.


"Pukulan Bumi Cahaya Hijau …"


"Wushh …"


Sinar hijau yang mengerikan keluarkan seperti dua sosok naga. Tangannya memukul dengan sangat cepat dan keras sekali. Tanpa ampun lagi, dua lawannya langsung tewas dengan tubuh remuk dan darah yang mengucur.


Selanjutnya, tetua itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka tewas tanpa sempat mengeluarkan suara sedikitpun.


Lu Xiang Chuan yang juga merupakan murid Yahsou kini menunjukkan taringnya. Sepak terjangnya sangat mirip dengan mendiang sang guru. Karena dari ketiga murid Pendekar Belalang Sembah, memang hanya dialah yang paling dekat.

__ADS_1


Bahkan tanpa diketahui oleh dua saudara seperguruannya, dia diberikan sebuah jurus dahsyat tersendiri. Yashou pernah berpesan bahwa dia hanya boleh menggunakan jurus ini kalau nyawanya sudah benar-benar di ujung tanduk.


Dan saat inilah waktu yang paling tepat.


Maka tanpa ada keraguan sedikitpun, Lu Xiang Chuan segera mengeluarkan jurus khusus warisan gurunya tersebut.


"Tongkat Malaikat Meleburkan Kegelapan …"


"Gelegarr …"


Suara bergemuruh seperti sebuah gunung meletus terdengar keras. Sangat keras. Sehingga bahkan mampu membuat tanah berguncang hebat.


Lu Xiang Chuan menghantamkan tongkatnya dari atas ke tanah. Kedua tetua segera terpental ke atas. Begitu mereka masih dalam keadaan belum siap, tongkat saktinya sudah menyapu dengan sekuat tenaga.


Berbarengan dengan sapuan tersebut, suara bergemuruh seperti sebelumnya terulang lagi. Walaupun kedua tetua sempat mampu melancarkan serangan terkahir mereka, tapi tak dapat dihindari lagi bahwa nyawa mereka melayang.


Tapi sebagai bayarannya, Lu Xiang Chuan juga mengalami luka dalam yang parah karena terlambat menghindar. Kembali di saat seperti itu, sebuah bayangan berkelebat dan membawa tubuhnya.


Di sisi yang sedikit lebih jauh, lima belas murid utama Sekte Bukit Halilintar sedang bertarung penuh semangat juang. Semua ilmu yang mereka pelajari di sekte terbesar itu sudah dikeluarkan secara bersamaan.


Tapi walaupun begitu, lawan yang mereka hadapi saat ini bukanlah lawan biasa. Bahkan jurusnya pun terbilang aneh. Selain daripada itu, pengalaman lawan juga jauh lebih banyak dari pada lima belas murid utama.


Sehingga walaupun pertarungan mereka baru berjalan enam puluh tiga jurus, namun keadaanya sudah sangat mengkhawatirkan. Berbagai macam luka sudah terlukis di tubuh mereka.


Semua jurus dahsyat yang tadinya diharapkan, ternyata mampu ditebas lawan di tengah jalan. Mereka sebenarnya tidak kalah jurus, hanya saja para murid utama tersebut kalah dalam hal pengalaman dan kematangan saja.


Pertarungan terus berlanjut, satu persatu sebagian murid utama Sekte Bukit Halilintar itu telah terdesak hebat. Bahkan dua orang sudah ada yang meregang nyawa.


Keadaan ini bukan tidak diketahui, semua orang tahu. Tapi siapapun yang ada di sana, sedang bertarung mempertaruhkan nyawa mereka juga.

__ADS_1


Jurus lawan semakin hebat. Satu lagi murid utama Sekte Bukit Halilintar telah tewas. Bahkan korban ketiga ini mengalami kematian yang tragis. Kepala mereka terpisah dari badannya.


__ADS_2