
Dia memang senang berbagi kepada sesamanya. Walaupun Shin Shui tahu bahwa Perguruan Mata Iblis tidak begitu kekurangan baik uang maupun sumber daya, tetapi dia telah memutuskan untuk tetap memberikan sesuatu kepadanya.
Dia mempunyai prinsip dalam hidupnya bahwa ketika ada, maka dirinya harus berbagi kepada sesama walaupun sedikit. Kita tidak pernah tahu bahwa sesuatu yang bagi kita tidak berarti, tapi bagi mereka mungkin sangat berarti.
Toh disaat kita memberikan sesuatu kepada seseorang sehingga membuatnya bahagia, maka tanpa disadari, kita juga akan merasa bahagia.
Hal seperti ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang satu jalan dengan Shin Shui.
Kalau yang berbeda jalan, jangan harap bisa mengerti kebahagiaan ketika membantu sesama.
"Baiklah kalau begitu. Entah apa yang Tuan berikan kepadaku. Yang jelas aku sangat berterimakasih sekali. Aku harap suatu saat nanti bisa membalas kebaikan Tuan," kata Wi Tiong Lo penuh hormat.
Shin Shui tersenyum. Senyuman yang mengandung kebahagiaan.
Baginya, seorang yang dia beri lalu mengucapkan terimakasih tulus, itu saja sudah lebih cukup dari sebuah balasan kebaikan.
"Senior jangan terlalu sungkan begitu. Kalau suatu saat membutuhkan sesuatu, katakan saja. Aku tidak akan berdiam diri, selama mampu, maka aku akan membantu. Aku hanya berpesan supaya kita harus menjaga tanah air dari orang-orang yang ingin menghancurkannya," kata Shin Shui memberikan pesan.
"Tentu, tentu saja Tuan. Hal itu sudah pasti. Walaupun kami aliran hitam, tapi rasa kepedulian terhadap negara, rasanya melebihi kepedulian terhadap nyawa sendiri," ujar orang tua itu.
Shin Shui mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia meminum arak yang ada di meja. Dia minum beberapa cawan sebagai penghargaannya kepada Guru Perguruan Mata Iblis tersebut.
"Senior, aku harus kembali. Masih banyak urusan yang belum aku selesaikan. Mohon maaf karena aku telah mengganggu waktumu," kata Shin Shui berpamitan.
"Aiii … kenapa cepat sekali Tuan? Tidak maukah kau menginap barang satu malam saja?"
"Terimakasih senior. Mungkin di kesempatan yang akan datang kalau aku berkunjung lagi ke sini,"
"Hemm, baiklah kalau begitu. Sekali lagi terimakasih karena telah berkunjung ke perguruanku yang tidak layak ini," ucap Wi Tiong Lo merendah.
Orang tua itu kemudian mengantarkan Shin Shui sampai ke halaman perguruan yang lumayan luas. Beberapa murid juga turut mengantarkan.
Dia memang sengaja tidak mau di antar sampai ke pintu gerbang. Sebab Pendekar Halilintar itu memilih untuk terbang.
Sesaat kemudian, Shin Shui melesat menembus udara yang dingin namun mampu membuat nyaman. Rembulan telah bersinar terang tanpa tertutup awan.
__ADS_1
Hanya beberapa tarikan nafas saja, Pendekar Halilintar itu telah lenyap dari pandangan semua orang-orang Perguruan Mata Iblis.
Setelah Shin Shui lenyap, Wi Tiong Lo langsung melihat isi Cincin Ruang yang tadi diberikan oleh Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar itu.
Begitu melihat isinya, orang tua itu kaget setengah mati. Sama kagetnya seperti Tujuh Perampok Berhati Emas.
Isi dari Cincin Ruang tersebut ternyata cukup banyak. Ada tiga peti keping emas, tiga kotak sumber daya dan lain sebagainya. Jumlah ini baginya tentu sangat fantastis.
Bagi Perguruan Mata Iblis, yang diberikan oleh Shin Shui ini bisa untuk bertahan hidup selama satu atau dua tahun ke depan.
"Shin Shui memang Shin Shui. Rasanya, tidak ada lagi pendekar sepertinya. Entah bagaimana nanti dengan anaknya sendiri," gumam Wo Tiong Lo sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
###
Tiga minggu sudah berlalu. Shin Shui telah mengunjungi beberapa tempat yang sebelumnya memang sudah dia jadwalkan untuk ke sana. Selain itu, selama tiga minggu tersebut Shin Shui juga sudah beberapa kali melewati pertempuran hebat melawan para pendekar yang berasal dari Kekaisaran lain bersama para pendekar Kekaisaran Wei.
Beberapa kota yang tadinya dikuasai oleh musuh, kini telah kembali dikuasi oleh pihak Kekaisaran Wei.
Sepak terjang Shin Shui membuat para pendekar lain semakin mengagumi sosok Pendekar Halilintar.
Selama orang yang menyamar menjadi dirinya masih berkeliaran dan menyebabkan kekacauan, maka dirinya akan tetap mengejar orang tersebut walau ke ujung dunia sekalipun.
Siapapun sudah tahu, tekad Pendekar Halilintar, dari sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah.
Bahkan semangat sebagai seorang pendekar pembela kebenaran semakin tumbuh subur dalam dirinya.
###
Saat ini malam hari. Lebih tepatnya tengah malam.
Dia sedang berdiri tegak di atas sebuah bukit yang kelam di tengah hutan. Awan kelabu berarak ditiup angin barat. Jubahnya berkibar megah di tengah rembulan yang mulai redup.
Shin Shui berniat untuk langsung menuju ke perbatasan Timur. Namun sebelum ke sana, Pendekar Halilintar berniat ingin mengunjungi dua sahabatnya yang dulu pernah menemani dirinya menghadapi segala macam tantangan dan cobaan hidup.
San Ong dan Ong San.
__ADS_1
Dua ekor siluman kera putih yang menguasai Gunung San-ong di perbatasan Timur saja. Rasanya, sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke tempat sahabatnya tersebut.
Sehingga rasa rindu dalam hatinya tiba-tiba bertumpuk menjadi satu.
Kebetulan tujuan utamanya melewati gunung yang agung tersebut. Maka setelah memantapkan diri, Pendekar Halilintar langsung melesat cepat menembus angkasa.
Perjalanannya kali ini bisa dia tempuh dua kali lebih cepat. Selain karena memakai perjalanan udara, hal tersebut dikarenakan juga oleh kekuatan Shin Shui yang hampir mencapai puncak.
Menurut perkiraan sebelumnya, perjalanan menuju ke perbatasan Timur sebagai tujuan utama Shin Shui membutuhkan waktu setidaknya satu bulan.
Tapi nyatanya, hanya tiga minggu saja dia sudah hampir mencapai ke tujuan utama. Karena yang dia tahu, jarak antara Gunung San-ong dan tempat tujuan utamanya tidaklah terlalu jauh. Paling-paling hanya memerlukan waktu satu hari untuk menuju ke sana.
Sedangkan dari posisi sebelumnya, jarak menuju ke tempat dua sahabatnya tersebut setidaknya membutuhkan waktu sekitar tiga hari perjalanan jika dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Waktu terus berjalan tanpa henti.
Sang waktu memang luar biasa. Apapun bisa dia lahap secara perlahan namun pasti. Di muka bumi ini, tidak ada yang bisa mengalahkan sang waktu.
Apapun itu.
Muka bumi akan hancur. Tapi waktu tidak. Gunung akan meletus. Tapi waktu tidak. Manusia akan mati. Tapi waktu, lagi-lagi tidak.
Waktu akan terus kekal abadi sampai kapanpun.
Tiga hari telah berlalu. Shin Shui tiba di tempat kediaman dua sahabatnya saat waktu menunjukkan pagi hari.
Tanpa berlama-lama, dia turun tepat di puncak Gunung San-ong.
Pemandangan di sana ternyata tidak ada yang berubah. Semuanya nampak indah sama seperti saat pertama dia menginjakkan kaki di sana.
Pemandangan hijau terbentang luas bagaikan permadani. Sungai dan laut yang biru terlihat megah dari puncak Gunung San-ong
Shin Shui tersenyum. Ada rasa haru di dalam hatinya. Akhirnya setelah sekian lama tidak berjumpa, hari ini dia akan bertemu kembali dengan dua siluman yang telah dia anggap lebih daripada sahabat.
"Sahabat, aku datang …" gumam Shin Shui. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi.
__ADS_1