
Suasana mencekam kembali. Tapi suasana yang sekarang bercampur bersama hawa kematian yang teramat sangat pekat. Jika di lihat lebih teliti lagi, sekarang di tempat tersebut ada asap hitam sangat tipis yang selalu membawa hawa pembunuhan.
Enam tokoh Organisasi Elang Hitam telah tewas di tangan Pendekar Merah dan Phoenix Raja. Tiga puluh anggotanya juga mampus di tangan pemuda tersebut.
Itu artinya, habis sudah orang-orang yang termasuk di dalam organisasi sesat tersebut. Sekarang yang masih berdiri kokoh di sana hanyalah bangunan tua yang menjadi markas Organisasi Elang Hitam.
Bau anyir darah tercium menusuk hidung. Chen Li si Pendekar Merah berdiri tak bergeming bersama Phoenix Raja yang bertengger di pundaknya. Baik siluman peliharaan maupun sang majikan, keduanya sama-sama tidak bergerak.
Keduanya memandangi keadaan di sekitar. Sepasang mata mereka melirik ke arah puluhan mayat yang berserakan tersebut.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya Tuan Muda?" tanya Phoenix Raja setelah sekian lama tidak berbicara.
"Aku akan menghancurkan bangunan ini," ujar Chen Li dengan dingin.
"Kenapa harus dihancurkan?"
"Bukankah membasmi harus sampai kepada akar-akarnya? Bangunan ini menjadi tempat organisasi sesat itu, oleh karenanya, aku juga harus menghancurkannya seperti aku membunuh seluruh anggotanya,"
Phoenix Raja tidak berkata lagi. Kalau tuan mudanya sudah bersikukuh kepada suatu hal, maka bagaimanapun juga, dia akan tetap seperti itu.
"Baiklah. Aku hanya bisa menuruti Tuan Muda saja," kata siluman yang diberkati oleh para Dewa itu.
Chen Li mengangguk perlahan. Dia melangkah satu langkah ke depan. Pedang Merah Darah telah dimasukkan kembali kepada Cincin Ruang.
Sekarang kedua tangannya kosong. Sepasang tangan itu tidak menggenggam sesuatu apapun kecuali menggenggam satu kekuatan dahsyat.
Kekuatan dari Mata Dewa telah keluar. Elemen air dan elemen bumi langsung menerjang keluar dari tubuh pemuda itu.
Chen Li menggerakkan kedua tangannya sedemikian rupa. Setelah kekuatan dahsyat itu terkumpul, bocah itu langsung menghentikannya ke depan.
"Ombak Penghancur Batu Karang …"
__ADS_1
"Bumi Bergetar Alam Berguncang …"
Wushh!!!
Duarr!!! Gelegarr!!!
Ledakan dahsyat terdengar beberapa kali. Sinar biru muda dan sinar hitam menerjang bangunan tua itu dengan sangat keras. Kepulan debu tampak setinggi langit. Hembusan angin terasa sangat kencang sekali.
Bunyi menggelegar terus terdengar hingga beberapa kali banyaknya. Pendekar Merah tidak berhenti, dia terus mengeluarkan jurus demi jurus untuk menghancurkan bangunan tersebut.
Blarr!!!
Setelah beberapa kali mengeluarkan jurus dahsyat, akhirnya bangunan tersebut benar-benar hancur. Bangunan tua itu luluh lantak menyatu dengan tanah. Puing-puing bangunan berterbangan terbawa hembusan angin yang datang dari segala arah.
Sesaat kemudian, semuanya telah lenyap. Bangunan tua tinggal puing-puing kecil saja. Puluhan manusia yang kejam serta bengis, sekarang hanya tinggal tubuh tanpa nyawa.
Setelah niatnya tercapai, Chen Li segera pergi dari sana. Dia tidak mau berlama-lama bersama puluhan mayat manusia. Hanya sekejap, Pendekar Merah telah berada cukup jauh dari markas Organisasi Elang Hitam yang kini sudah hancur tersebut.
Hari telah berganti pagi. Mentari tampak indah menyinari bumi. Burung berkicau menyambut datangnya pagi ini.
Pendekar Merah sedang duduk di bawah pohon. Dia duduk seorang diri. Sepasang matanya menatap jauh ke sana. Dia amat menikmati suasana pagi ini.
Semalam, Chen Li tidur di atas dahan pohon. Dia tidak tidur di penginapan karena tidak mau terlalu tampil mencolok. Bocah itu sudah memperhitungkan segalanya, menurut perkiraannya, apa yang dia lakukan semalam, pasti akan menjadi sebuah berita menggemparkan di Kota Qinghai ini.
Tapi hal itu baru perkiraan saja. Untuk membuktikan benar atau tidaknya, tentu dia harus turun langsung ke lapangan. Karena itulah, setelah mentari cukup tinggi, Pendekar Merah bangkit berdiri lalu segera berjalan memasuki perkotaan lagi.
Langkahnya tenang. Wajahnya juga kalem. Dia berjalan sambil memperhatikan keadaan di sekitar. Tempat yang akan dia cari dan akan dituju sekarang adalah sebuah restoran besar.
Alasan dia mencari restoran karena tempat itu selalu menjadi pusat informasi. Jangankan mencari informasi tentang dunia persilatan, kalau kau ingin mencari informasi tentang hal-hal tidak penting lainnya pun pasti akan sangat mudah didapat.
Seorang pelayan wanita berusia dua puluh lima tahunan menyambut kedatangannya Chen Li. Pemuda itu segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Dia segera mencari meja kosong. Setelah dapat, Pendekar Merah segera duduk di sana lalu langsung memesan sarapan pagi.
Sambil menunggu datangnya pesanan, Chen Li memasang telinganya dengan tajam. Kebetulan pada pagi hari itu, suasana di restoran tersebut sudah dipenuhi oleh pengunjung. Dan lagi, lebih dari setengah pengunjung itu merupakan orang-orang yang berasal dari kalangan dunia persilatan.
Jarak dua atau tiga meja makan di depannya, ada sekelompok orang yang sedang bercerita bersama rekannya masing-masing. Orang-orang itu tentu berasal dari dunia persilatan, terbukti sekarang bahwa mereka sedang membicarakan satu peristiwa besar yang terjadi semalam.
"Apakah berita yang kau katakan itu benar dan dapat dipertanggungjawabkan?" tanya salah seorang di antara mereka.
"Kakak Cio, sejak kapan aku menyebarkan berita bohong? Berita ini sangat dapat dipercaya. Organisasi Elang Hitam benar-benar telah dihancurkan oleh seorang pemuda yang bergelar Pendekar Merah," jawab seorang lainnya.
Orang yang dipanggil Kakak Cio melongo ke arah orang yang bercerita barusan, yang lainnya juga sama. Berita ini membuat mereka terkejut. Apalagi pelakunya hanya seorang, pemuda pula. Siapa yang tidak akan terkejut saat mendengarnya?
"Pendekar Merah? Aku baru mendengar nama itu," ucap si Kakak Cio lebih lanjut.
"Jangankan Kakak Cio, aku pun juga baru mendengar. Mungkin yang lain juga sama,"
"Apakah pemuda itu baru turun gunung?" tanya si Kakak Cio kembali.
"Mungkin saja,"
"Hemm, pasti peristiwa besar akan terjadi. Orang-orang aliran hitam sudah tentu akan mencari pemuda itu," tukas si Kakak Cio memprediksi apa yang akan terjadi ke depannya.
Mereka terus membicarakan kabar hangat tersebut. Suasana di restoran itu menjadi lebih ramai karena semakin lama semakin banyak para pengunjung.
Di lain sisi, ada juga orang-orang yang membicarakan peristiwa itu dan sebagian dari mereka langsung berniat untuk mencari Pendekar Merah. Mereka yang mempunyai niat seperti itu, tentunya mereka adalah orang-orang yang berasal dari aliran sesat.
"Aku akan mencari bocah ingusan itu. Organisasi Elang Hitam adalah organisasi milik sahabat baikku, kalau mencari masalah dengannya, hal itu sama saja mencari masalah denganku," tegas seorang tua bertubuh tinggi besar. Wajahnya angker. Sepasang matanya memancarkan sinar tajam.
"Aku juga akan mencarinya. Ingin aku lihat apakah dia sudah tidak bisa mati atau bagaimana. Hemm, bocah kemarin sore berani sombong di kota ini," timpal teman si orang tua tadi.
Sepanjang orang-orang membicarakan dirinya, Chen Li hanya diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Orang-orang itu tidak akan ada yang mengenalinya, sebab belum seorangpun yang tahu bagaimana ciri-ciri Pendekar Merah.
__ADS_1