
Shin Shui dan Chen Li terus berjalan menyusuri hutan tersebut. Ternyata hutan itu sangat luas. Mungkin ada sekitar sepuluh kilometer luasnya. Shin Shui membawa Chen Li terbang ke berbagai penjuru hutan. Tapi selalu yang dia temui adalah hutan dan hutan lagi.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia menemukan tempat lain. Yaitu sebuah goa yang berukuran cukup lebar. Goa tersebut sudah dipenuhi oleh lumut dan tumbuhan liar lainnya.
Ayah dan anak itu segera mendekati goa tersebut. Shin Shui dibuat penasaran, sehingga dirinya memutuskan untuk mendekat dan memeriksa keadaan.
"Ayah, apakah kita akan ke sana?" tanya Chen Li sambil menunjuk gao tersebut.
"Tentu Li'er. Ayah penasaran, sehingga kita harus memeriksanya," jawab Shin Shui.
"Baiklah kalau begitu, Li'er terserah kata ayah,"
Shin Shui menganggukkan kepala. Kemudian dia perlahan mendekati goa. Semakin dekat, Shin Shui merasakan ada tekanan aura yang cukup kuat. Langkahnya menjadi sedikit berat. Buru-buru dia memegangi anaknya dan mendekatkan jarak.
Saat keduanya hampir sampai di mulut goa, tiba-tiba saja dari dalam goa ada sebuah suara bergemuruh. Tak lama, puluhan batu sebesar kepala manusia meluncur dengan deras ke arah Shin Shui.
Dengan sigap Shin Shui mengibaskan tangan kanannya. Sekali kibas, semua batu tersebut langsung hancur menjadi debu.
Sesaat kemudian, empat buah bayangan dari dalam goa meluncur deras bagaikan anak panah. Shin Shui menarik Chen Li untuk keluar goa jembali.
Begitu kakinya jembali menjejak di tanah, saat ini di depannya suda ada dua ekor harimau dan dua ekor kera berbulu merah api.
Shin Shui dan Chen Li tertegun untuk beberapa saat lamanya. Keempat binatang siluman tersebut memandang ayah dan anak itu dengan penuh kebencian.
Tiba-tiba, tubuh keempatnya dipenuhi sebuah aura yang cukup menekan. Mata mereka bersinar penuh dendam.
"Li'er, kau berhati-hatilah. Sebab mereka ini mempunyai kekuatan yang lumayan bagimu," Shin Shui mengingatkan anaknya.
"Baik ayah. Li'er paham,"
Begitu kata-katanya selesai, dua ekor harimau berukuran raksasa itu langsung melompat dan menerjang Shin Shui. Untuk beberapa saat dia tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Pikiran Shin Shui tiba-tiba teringat ke masa lalumu di mana saat dia di kejar-kejar oleh seekor harimau. Pendekar Halilintar masih belum bergerak, ketika dua ekor harimau itu tiba di depannya, barulah Shin Shui mengambil langkah.
Tubuhnya melompat mundur ke belakang lima langkah. Sedangkan Chen Li sendiri melompat ke samping.
Serangan pertamanya gagal, dua ekor siluman itu sangat marah. Tak membuang waktu lagi, keduanya kemudian mengibaskan cakar mereka yang sangat tajam tersebut ke kanan dan kiri.
"Wushh …"
Empat buah sinar biru membentuk huruf X melesat ke arah Chen Li dan Shin Shui. Serangan ini terbilang mengandung kekuatan yang lumayan sebab mampu menerbangkan bebatuan yang ada di sekitar tempat tersebut.
Namum serangan ini bukanlah masalah untuk ayah dan anak tersebut. Begitu sinar hampir mendekati dirinya, mereka lalu melompat tinggi dan segera memberikan serangan jarak jauh untuk balasan.
"Wushh …"
Sinar biru mencolok dan putih transparan keluar menyambut sinar biru tadi. Empat buah sinar bertemu di udara lalu menimbulkan sebuah ledakan cukup besar. Ledakan itu membawa serta desiran angin tajam.
Belum juga akibatnya hilang semua, tiba-tiba dua ekor kera berbulu merah api itu melompat ke arah Shin Shui dan Chen Li. Keduanya memberikan tatapan mata bermusuhan.
Dua ekor lengannya yang dipenuhi kuku tajam sudah di arahkan. Kedua manusia itu tidak gentar, sebaliknya mereka menahan siluman kera itu menggunakan caranya masing-masing.
Hanya saja kali ini mereka memberikan serangan jarak dekat. Bagi Shin Shui, ini hanyalah hal kecil. Cukup mengibaskan tangan kanannya, dua ekor siluman kembali terpental. Kali ini lebih jauh bahkan mereka menabrak sebatang pohon yang besar.
Begitu kedua siluman terjatuh, Shin Shui lalu bergerak sangat cepat ke atah mereka. Dua jari tangan kanannya kemudian menotok jalan darah besar sehingga siluman harimau dan kera tiba-tiba terdiam seperti patung.
Sebearapa keras keduanya meronta, tetap saja hasilnya sia-sia. Mereka hanya mampu memandang Shin Shui penuh dendam.
Berbarengan dengan kejadian tersebut, dua ekor siluman lainnya juga menyerang Chen Li. Shin Shui sengaja tidak membantu anaknya. Dia ingin melihat sampai di mana keberanian Chen Li.
Menurut pandangannya, harimau dan kera itu hampir setara dengan kekuatan Pendekar Bumi tahap lima akhir. Kalau melawan satu-satu, ini masih dikatakan mudah. Tapi kalau keduanya menyerang bersama, maka bagi Chen Li ceritanya lain lagi.
Namun bocah itu tidak menampilkan ketakutan. Justru wajahnya terlihat sangat bersemangat. Chen Li tahu bahwa ayahnya sedang menguji dia, sehingga bocah istimewa itu tidak mau mengecewakan Shin Shui.
__ADS_1
Begitu serangan kedua siluman tiba, Chen Li melompat ke udara lali berputar-putar beberapa kali. Begitu turun, dia sudah mencabut seruling giok hijau lalu mengibaskannya cukup kencang.
"Wuttt …"
Hembusan angin berhawa tajam menerpa kedua siluman. Keduanya melompat untuk menghindari serangan barusan lalu dengan cepat memberikan kembali balasannya.
Li Kecil tidak gentar, dia kembali menahan lalu membalas. Ketiganya kemudian bertarung jarak jauh. Kelebatan sinar biru dan merah beberapa kali melintas di udara.
Chen Li tak mau kalah, seruling giok hijau pemberian Lao Yi dia kibaskan tanpa henti sehingga terus-menerus memukul serangan yang diberikan dua siluman tersebut.
Shin Shui sendiri berdiri di pinggir menyaksikan anaknya. Dia tak henti-hentinya tersenyum karena melihat kemajuan Chen Lio semakin jauh.
Saat ini Li kecil melakukan lompatan ke atas lebih tinggi lagi. Tubuhnya beberapa kali bersalto di udara. Begitu turun, Chen Li sudah mengeluarkan jurusnya.
"Suara Seruling Penyejuk Jiwa …"
Chen Li berteriak lalu meniup seruling pusaka itu. Suara merdu mulai dia lantunkan lewat sebatang suling. Alunan nadanya sangat membuat jiwa terasa nyaman.
Chen Li turun perlahan sambil terus meniup serulingnya. Tanpa sadar kedua lawan terhipnotis dalam kenyamanan.
Suara seruling masih dilantunkan oleh Chen Li. Nadanya terkadang rendah lalu naik ke atas secara perlahan.
Semakin lama semakin menenangkan jiwa.
Namun siapa sangka, puncak dari jurus ini adalah di mana nadanya tiba-tiba berubah menjadi cepat dan sangat tinggi. Gelombang bunyi ini terdengar semakin kuat. Andai kata Chen Li sudah mencapai tingkat Pendekar Dewa, mungkin goa yang ada di hadapannya bida hancur lebur.
Siluman kera dan harimau yang menjadi lawan Chen Li baru menyadari bahwa alunan suara seruling tadi merupakan jurus dahsyat. Keduanya terlambat karena baru menyadari akan hal ini.
Kera dan harimau mulai bergulingan di tanah sambil berusaha untuk menutup telinga mereka karena kepalanya terasa mau pecah. Dua siluman yang di totok Shin Shui pun merasakan hal sama.
Suara geraman harimau dan decitan kera menggema di seluruh hutan. Hanya menunggu beberapa waktu lagi, keempat siluman pasti akan tewas karena tak kuasa menahan gelombang jurus dari kitab dahsyat Seruling Pencabut Nyawa itu.
__ADS_1
Di saat situasai di ujung tanduk, tiba-tiba dari dalam goa terdengar teriakan suara lainnya.
"Jangan bunuh mereka!" kata suara tersebut.