
"Kau memang keras kepala. Kalau begitu baiklah, jangan salahkan aku jika kepalamu menggelinding jatuh ke tanah," kata Yun Jianying sambil tersenyum sinis.
Chen Li tidak mengindahkan perkataan gadis itu. Sudah sering dirinya mendengar ucapan seperti demikian. Sayangnya yang menggelinding bukan kepalanya, melainkan kepala orang yang bicara kepadanya.
Yun Jianying melirik kepada empat orang pria tua yang berada di sisinya. Selepas itu mereka langsung melirik pula kepada anak buahnya yang diduga merupakan pada murid dari Sekte Bulan Merah.
Belasan orang yang memegang busur sudah siap. Anak panah telah ditarik. Tinggal tali busur dilepaskan, maka benda berujung runcing itu akan segera melesat ke depan mengincar mangsanya.
"Kalau kau ingin meminta maaf sekarang, rasanya hal itu masih tidak terlalu terlambat," kata Yun Jianying sambil tersenyum penuh kemenangan.
Chen Li menghela nafas dalam-dalam. Dia merasa bosan kalau menghadapi gadis manja seperti sekarang ini.
"Baik, aku akan meminta maaf kepadamu," ujarnya dengan dingin.
Mulutnya berkata demikian, tapi tubuhnya tetap diam di tempat. Dia sama sekali tidak bergerak.
Setelah beberapa saat menunggu, Jianying merasa geram juga. "Kapan kau akan meminta maaf? Kenapa sampai sekarang belum juga minta maaf?" teriaknya sambil menatap tajam.
"Nanti," jawab Chen Li dengan tenang.
"Nanti?" gadis itu bertanya sambil menegaskan.
"Ya, nanti,"
"Kapan?"
"Saat semua murid Sekte Bulan Merah yang kau bawa ini mampus di tanganku,"
Mencorong mata Yun Jianying mendengar perkataan itu. Begitu juga dengan empat orang tua yang ada di sisinya.
Tanpa bicara apa-apa lagi, mereka segera memberikan komando kepada anak buahnya agar segera memulai keramaian.
Wushh!!! Wushh!!!
Belasan anak panah dilayangkan secara bersamaan. Kecepatan anak panah itu sulit untuk diikuti oleh mata biasa, apalagi para pemanahnya merupakan orang yang sudah benar-benar ahli.
Belum lagi puluhan pedang serta pisau energi yang dilancarkan dari segala penjuru mata angin.
Semuanya melesat ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.
Orang-orang itu percaya bahwa pemuda serba putih yang angkuh serta dingin tersebut pasti tidak akan sanggup lagi untuk menyelamatkan dirinya.
Pada saat semua senjata mematikan itu jaraknya sudah semakin dekat, saat itulah Pendekar Tanpa Perasaan mengambil tindakan.
Wushh!!!
__ADS_1
Api membara tiba-tiba mengelilingi tubuh Pendekar Tanpa Perasan. Belasan anak panah langsung hancur menjadi debu. Angin kencang mendadak keluar lalu mementalkan puluhan puluhan senjata energi itu ke segala arah.
Semua orang yang hadir terkejut. Mata mereka melotot tidak percaya dengan apa yang disaksikannya saat ini. Kejadian barusan benar-benar membuat mereka kaget.
Tak disangka, ternyata kemampuan pemuda itu sungguh mengejutkan.
Setelah semua serangan lawan berhasil dirontokkan, api dan angin tadi pun segera lenyap tanpa bekas.
"Hemm, pantas kau berani sombong. Ternyata mempunyai kepandaian juga," ejek Yun Jianying.
Pendekar Tanpa Perasaan tidak menjawab. Selain karena ucapan itu tidak memerlukan jawaban, pada saat yang bersamaan, serangan dari semua penjuru kembali menghunjam tubuhnya.
Wushh!!! Wushh!!!
Puluhan senjata energi kembali dilancarkan. Anak panah pun kembali dilepaskan.
Sayang, kejadian yang sama kembali terulang. Seluruh serangan tersebut berhasil dipatahkan dengan sangat mudah oleh Pendekar Tanpa Perasaan. Bahkan pemuda itu sanggup menahan tanpa menggerakan tubuhnya sedikitpun.
Elemen dari alam semesta ternyata sudah melindungi dirinya. Sebab pada saat itu, kekuatan Mata Dewa sudah dikeluarkan.
Wushh!!!
Bayangan merah melesat melebihi cepatnya luncuran anak panah tadi. Disusul kemudian dengan satu bayangan putih di belakangnya.
Beberapa belas kali dua bayangan itu bergerak, belasan pemanah tadi sekarang sudah tewas. Ada yang kepalanya terpenggal, ada pula yang dadanya robek besar dan dalam.
Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Tidak ada yang dapat melihatnya dengan jelas. Semuanya suram. Suram, seperti harapan.
Yun Jianying semakin marah. Dia langsung memberikan perintah kepada tiga puluhan murid sekte yang dia bawa bersamanya.
Wushh!!!
Puluhan bayangan bergerak secepat kilat. Puluhan senjata tajam sudah dicabut oleh mereka masing-masing. Kilatan cahayanya memenuhi angkasa raya.
Wutt!!!
Serangan datang.
Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum dingin. Pedang Merah Darah telah dikeluarkan beberapa saat yang lalu.
Belum sempat tiga puluhan orang itu mendarat tiba di tanah, Chen Li telah bergerak lebih dulu. Pedang Merah Darah bergerak dengan sangat lincah layaknya ular mematuk mangsa.
Di bawah hujan yang turun semakin deras, sebuah pertarungan berlangsung sangat hebat. Serangan yang dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan terlampau cepat, setiap musuhnya tidak ada yang bisa melihat dengan jelas.
Crashh!!! Crashh!!!
__ADS_1
Satu persatu dari musuhnya mulai meregang nyawa. Kepala orang terpenggal menggelinding ke bawah. Satu orang, dua orang, tiga orang, beberapa saat kemudian, belasan kepala manusia telah lepas dari tempatnya.
Darah bercampur dengan air hujan. Banjir terjadi. Tapi bukan hanya banjir karena air, melainkan banjir karena darah pula.
Sepuluh menit kemudian, tiga puluhan orang itu sudah tewas semuanya. Mereka mampus sebelum memberikan perlawanan kepada Pendekar Tanpa Perasan.
Chen Li kembali berdiri di tempatnya semula. Tubuhnya tidak bergerak. Mata Dewa telah terbuka seluruhnya.
Setiap orang yang ada di sana merasa ngeri pada saat memandang mata itu. Seumur hidupnya, mereka baru melihat mata yang demikian seram dan mengerikannya.
"Mata Dewa …" desis salah seorang di antara mereka.
"Itukah mata yang diberitakan mempunyai kekuatan sangat dahsyat?" tanya seorang lainnya.
"Benar, memang itu,"
"Aii, habislah kita …" keluh satu orang tua.
Hujan masih turun. Bahkan kali ini dibarengi juga dengan hembusan angin sehingga membuat suasana bertambah dingin.
Bunga teratai mendadak mekar dengan indah. Ikan besar beberapa kali terlihat berenang ke sana kemari dengan bebas. Sepertinya mereka tidak memperdulikan manusia-manusia yang membuat keonaran di daerahnya.
"Kenapa kalian diam saja? Cepat serang pemuda keparat itu!!!" teriak Yun Jianying sambil menunjuk ke arah Chen Li.
Empat orang tua yang ada di sisi Yun Jianying saling tatap sekejap. Mereka berada dalam posisi serba bingung.
Maju, takut mati. Diam, apalagi.
Tapi setelah dipikir dua kali, akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang.
Peraturan Sekte Bulan Merah sangat ketat sekali. Barang siapa yang tidak menuruti perintah, maka imbalannya harus mati.
Wushh!!! Wushh!!!
Empat orang bayangan manusia bergerak. Empat batang pedang tajam sudah dihunus lalu melancarkan tebasan dan tusukan tajam ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.
Perlu diketahui, keempat orang tua itu merupakan sebagian dari Tetua Sekte Bulan Merah. Kebetulan, mereka adalah saudara kandung, keempatnya dijuluki Empat Pedang Bulan Merah.
Setiap orang-orang dunia persilatan yang berada di sekitar wilayahnya pasti pernah mendengar julukan itu. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang bengis dan kejam. Setiap manusia yang pernah bertarung dengannya, tidak pernah ada yang selamat.
Trangg!!!
Benturan pedang terjadi untuk yang pertama kalinya.
Pedang Merah Darah berhasil menangkis keempat senjata itu secara bersamaan. Empat orang Tetua Sekte Bukan Merah segera mengeluarkan hawa saktinya agar bisa menekan Chen Li.
__ADS_1