Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sembilan Bola Energi


__ADS_3

"Blarrr …"


"Blarrr …"


Si pemimpin semakin keteteran. Tidak ada tempat untuknya menghindar dari hujan serangan tersebut. Karena ke mana pun dirinya bergerak, hujan pisau energi selalu saja mampu mengejarnya.


"Arghhh … Raja Pedang Meruntuhkan Langit …"


Dia berteriak. Teriakan yang sangat keras sekaligus mengandung kekuatan yang sangat dahsyat sekali.


Bumi bergetar. Langit terasa berguncang. Pedang yang dia genggam mendadak mengeluarkan cahaya hijau menyala.


Saking terangnya, bahkan cahaya mentari pagi redup untuk beberapa saat.


Pedang tersebut menjadi besar karena di selimuti aura mengerikan. Si pemimpin menggerakan pedangnya menangkis semua hujan pisau yang datang.


Entah berapa lama dia menyabetkan pedang dengan jurus yang sama, beberapa saat kemudian, hujan pisau energi sudah tidak ada lagi.


Semuanya kembali normal.


Dia selamat dari jurus hujan pisau enegeri yang mematikan. Tapi entah dari jurus selanjutnya.


Sebab kala itu Shin Shui masih belum berhenti. Justru dia kembali melancarkan serangan dengan jurus yang tidak kalah hebatnya.


Sembilan bola energi berwarna biru muda mengelilingi kepala Shin Shui. Bola energi tersebut berukuran sebesar kepala. Tapi justru kekuatannya ratusan bahkan mungkin ribuan kali lipat dari ukurannya sendiri.


Shin Shui hanya berdiri di tempat. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali, hanya tangan kanannya saja yang menunjuk-nunjuk menentukan arah serangan.


Hebatnya, bola tersebut seperti mempunyai akal pikir. Benda itu menuruti semua perintah Shin Shui. Telunjuk menunjuk ke bawah, maka bola energi akan ke bawah. Telunjuk mengarah ke atas, maka bola tersebut juga akan ke atas.


Jurus tersebut diberi nama Sembilan Bola Kematian.


Dan memang begitu kenyataannya. Hanya dengan sembilan benda itu saja, Shin Shui mampu membunuh lawan. Jurusnya memang hebat, hanya saja membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi sekali.

__ADS_1


Sebab kalau pikirannya pecah, maka sembilan bola energi tersebut juga akan menghilang saat itu juga.


Kelemahan dari jurus ini ialah Shin Shui bisa terkena serangan lawan kapan saja. Karena pandangannya berpusat ke depan sambil penuh konsentrasi, bisa jadi serangan di belakangnya justru tidak dapat dia ketahui.


Si pemimpin tersebut semakin kelabakan dibuatnya. Dia tidak dapat menghindarkan diri lagi. Sebab jurus Sembilan Bola Kematian, akan terus mengejar mangsanya. Sebelum sasaran terkena, maka dia tidak akan melepaskan.


Lawan Shin Shui semakin kebingungan. Untuk mengeluarkan jurus dahsyat, tenaganya tidak cukup. Untuk menelan pil menambah energi, tidak sempat. Jangankan untuk itu, hanya sekedar menghela nafas dengan tenang pun, dia tidak bisa.


Pada akhirnya orang itu nekad. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia berusaha untuk menangkis sembilan bola tersebut. Dia sudah benar-benar pasrah.


Orang itu mempunyai firasat bahwa kematian akan segera menghampiri dirinya.


Dan hal tersebut benar-benar menjadi kenyataan. Lima belas jurus berikutnya, dia tewas dengan tubuh koyak. Bahkan tewasnya juga tanpa sempat mengeluarkan suara. Di tambah lagi, dia seperti tidak percaya akan tewas mengenaskan seperti sekarang ini.


Semua pertarungan telah selesai. Keadaan alam sekitar kembali normal. Hanya tersisa beberapa kerusakan saja karena diakibatkan dari berbagai jurus dahsyat.


Terutama sekali di sekitaran tempat arena bertarung Shin Shui. Di sana banyak lubang-lubang yang tercipta dari jurus-jurusnya.


Para murid bertepuk tangan menyambut kemenangan Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar. Suara sorak sorai dan tepuk tangan menggema.


Shin Shui kemudian memerintahkan sebagian murid untuk membereskan semua mayat. Sebagian murid lainnya segera di suruh untuk membetulkan berbagai macam kerusakan.


Sedangkan Shin Shui sendiri segera memasuki ruangan pata tetua diikuti dengan yang lainnya.


Setelah tiba di dalam, dia segera mengambil poci arak lalu menuangkannya ke gelas kecil. Para tetua bersama Maling Sakti Hidung Serigala bersulang. Bersulang untuk merayakan kemenangan mereka.


"Kepala Tetua, maaf, kenapa Maling Sakti bisa berada di sini?" tanya Ong Kwe Cin penasaran sebab Shin Shui belum menceritakan semuanya kepada mereka.


"Ah ceritanya panjang. Yang jelas intinya, Maling Sakti Hidung Serigala, mulai saat ini hingga kematian menjemputnya, dia telah menjadi bagian dari kita. Dia sudah menjadi keluarga kita, terutama sekali keluargaku. Sebab kami berdua sudah menjadi saudara angkat," kata Shin Shui menjelaskan garis besarnya saja.


Ong Kwe Cin dan Thai Lu terkejut mendengar perkataan Shin Shui. Tentu saja mereka merasa senang karena bertambah lagi seorang pendekar hebat di Sekte Bukit Halilintar.


Hanya saja, kabar Shin Shui dan Maling Sakti sudah menjadi keluarga angkat, sungguh kabar yang membuat keduanya terkejut.

__ADS_1


Ong Kwe Cin dan Thai Lu segera memberikan hormat kepada Maling Sakti Hidung Serigala.


Mereka hormat seperti biasanya. Hal tersebut dilakukan karena keduanya tentu sudah tahu bagaimana sifat si Maling Sakti.


"Sudah-sudah, sekarang bukan waktunya untuk basa-basi. Aku sudah tahu di mana keberadaan para tetua dan adik Yun Mei. Dan adikku ini sudah mengetahui kabar yang barusan aku sebutkan. Sekarang kita tinggal menunggu langkah selanjutnya," kata Maling Sakti Hidung Serigala serius.


Baik Shin Shui maupun kedua tetua lainnya mengangguk setuju. Penyelamatan Yun Mei dan para tetua lain memang harus di segerakan. Sebab kalau tidak begitu, khawatir hal-hal yang tidak diinginkan justru akan terjadi.


"Apa yang dikatakan oleh kakak Yang Lin benar, bagaimanapun juga, Yun Mei adalah istriku. Sedangkan sisanya juga tetua sekte ini sekaligus keluargaku sendiri. Jadi, aku harus segera menyelamatkan merek," ucap Shin Shui menyetujui apa yang dibicarakan oleh Maling Sakti.


"Jadi maksudnya, Kepala Tetua akan turun tangan sendiri untuk menyelamatkan istri Kepala Tetua Yun Mei bersama tetua lainnya?" tanya Thai Lu memastikan.


"Benar. Karena kalau bukan aku yang turun tangan langsung, rasanya tidak ada yang sanggup. Sebab Yun Mei dan yang lain berada di dalam goa di belakang Sekte Gunung Salju,"


"Hah???"


Ong Kwe Cin dan Thai Lu benar-benar terkejut mendengarnya. Mereka ingin tidak mempercayai kabar yang dibicarakan oleh Shin Shui.


Namun walau bagaimanapun juga, Shin Shui tidak pernah berbohong kalau sudah seperti ini. Sehingga kedua tetua itu lebih memilih untuk memendam kembali rasa terkejutnya.


"Jadi pihak lawan juga berhasil mendapatkan informasi rahasia tentang Sekte Serigala Putih?" tanya Thai Lu.


"Sepertinya begitu,"


"Jadi, kapan Kepala Tetua akan berangkat?"


"Nanti malam. Ya, benar, nanti malam aku akan berangkat bersama kakak Yang,"


"Hanya berdua?" tanya Ong Kwe Cing.


"Benar, untuk sementara, aku titipkan sekte ini kepada kalian. Aku harap kalian bisa menjaganya dengan baik," ujar Shin Shui.


"Baik, kami siap mengorbankan nyawa demi sekte kita ini. Tetapi, apakah berdua saja sudah cukup untuk pergi ke sana?"

__ADS_1


"Sangat cukup. Selama ada Maling Sakti Hidung Serigala, rintangan apapun akan dapat terlewati," puji Shin Shui kepada kakak angkat barunya.


Cukup lama mereka berbincang-bincang, setelah dirasa cukup, Shin Shui dan Maling Sakti segera kembali ke kediamannya. Keduanya akan melakukan persiapan sebelum menjemput istri dan para tetua.


__ADS_2