
Penampilan Pendekar Tanpa Perasaan sekarang tidak sedang menyamar menjadi orang lain lagi. Dia tampil sebagai dirinya sendiri. Sebagai pemuda tampan dan gagah, tapi dinginnya minta ampun.
Chen Li berjalan menelusuri jalanan tersebut. Luas jalan tersebut tidak terlalu lebar, mungkin hanya selebar dua atau tiga kaki saja. Itu pun merupakan jalan setapak.
Orang-orang yang merupakan pelancong dari berbagai penjuru ternyata cukup banyak. Hal ini terbukti karena sejak tadi Chen Li sudah menjumpai banyak orang. Semua yang ke sini memakai jubah tebal berbulu. Mungkin hal itu dimaksudkan agar tidak kedinginan.
Di jalanan setapak seperti ini, di tengah cuaca seperti sekarang, sudah pasti banyak para pedagang yang menawarkan kehangatan. Baik itu kehangatan dengan belaian tubuh manusia, maupun kehangatan seguci arak.
Kedai arak yang terdapat di tempat tersebut pun terbilang banyak. Hampir di setiap sudut jalan selalu terdapat pedagang yang menjual arak.
Semakin berjalan ke depan, semakin ramai juga orang-orang yang ditemui. Chen Li baru tahu, ternyata di sini pun terdapat satu perkampungan cukup besar. Hanya saja, lebih dari separuh warganya berprofesi sebagai pengusaha makanan ataupun penginapan.
"Phoenix Raja, menurutmu di mana Xhiang Yu berdiam?" tanya Chen Li kepada burung peliharaannya.
"Hemm, entahlah. Mungkin kita bisa mencari dirinya di sini,"
"Ke mana kita akan mencari?"
"Ke warung arak,"
"Usul yang bagus, sekalian kita menghangatkan tubuh di sini,"
Pemuda serba putih itu langsung masuk ke kedai arak yang cukup besar. Setelah menemukan tempat yang cocok, Chen Li segera masuk ke dalamnya.
Begitu dia masuk ke sana, para pengunjung segera memperhatikan dia dari atas sampai bawah. Terlebih lagi mereka sangat memperhatikan burung Phoenix Raja yang bertengger di pundaknya.
Meskipun begitu, pemuda itu tidak menghiraukannya sama sekali. Bahkan Chen Li pura-pura tidak tahu kalau dirinya sedang menjadi bahan perhatian banyak orang.
Kedai arak yang dia kunjungi mempunyai lima belas meja. Tempatnya memang tidak terlalu begitu besar, tapi sangat cocok. Tempat itu bersih dan sederhana. Tidak terlihat kotor sedikitpun.
Hampir semua meja sudah dipenuhi para pengunjung. Hanya satu kursi saja yang kosong, itu pun kursi di sebelahnya sudah ada orang duduk pula. Mana wanita lagi.
Di lihat dari penampilan, wanita itu jelas merupakan seorang pendekar. Pakaiannya ringkas. Warnanya hijau terang. Di belakang punggungnya ada sebatang tombak dengan batang yang berwarna hitam legam. Sedangkan ujung mata tombak ditutup oleh sebuah kain berwarna putih.
Chen Li segera memesan arak terenak yang ada di sana. Sambil menunggu, pemuda itu berjalan ke arah kursi kosong tersebut.
"Bolehkah aku duduk di sini?" tanya Chen Li kepada seorang gadis cantik berumur sekitar dua puluh dua tahun.
Meskipun hatinya sedikit gugup, namun karena tidak ada lagi tempat duduk kosong, terpaksa pemuda itu harus memberanikan dirinya.
__ADS_1
Si gadis tersebut melirik ke arah Chen Li sekejap. Wajahnya dingin. Sedingin tatapan matanya.
"Silahkan," jawabnya singkat sambil kembali memalingkan muka.
Chen Li segera duduk. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus saat itu juga.
Begitu pesanan araknya datang, Pendekar Tanpa Perasaan segera meminumnya dengan lahap. Phoenix Raja tidak ketinggalan, dia pun turut minum arak dari cawan yang sengaja disuguhkan oleh tuan mudanya untuk dirinya.
"Burung siluman yang pintar," kata si gadis cantik itu sambil melihat Phoenix Raja.
"Memang pintar," jawab Chen Li berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Bolehkah aku memegangnya?" tanya si gadis.
"Silahkan,"
Si gadis tampak senang. Sifat dingin dan angkuhnya mulai luntur. Ternyata dia masih sedikit kekanak-kanakan, dari hal ini Chen Li bisa menebak bahwa gadis itu merupakan anak yang manja.
Dia mulai mengelus-elus kepala Phoenix Biru lalu memberinya cawan arak. Kemudian mengisi arak kalau cawan itu sudah kosong. Meskipun terbilang sederhana, namun dapat di lihat jelas bahwa dia sangat gembira.
Dari sini bisa diambil sebuah pelajaran bahwa untuk bahagia ternyata tidaklah sulit.
"Siapa na burung ini?" tanyanya.
"Aku selalu menyebutnya Phoenix Raja,"
"Nama yang bagus, kalau pemiliknya sendiri, siapa namanya?"
"Chen Li, Nona bernama siapa?"
"Yun Jianying," jawabnya sangat bangga.
Dari suara saat dia memperanalkan diri, jelas bahwa gadis itu sangat bangga dengan namanya. Nama itu memang bagus, Yun merupakan nama marga orang tuanya. Sedangkan Jianying adalah nama yang diberikan oleh orang tua untuk dirinya.
Kalau ditilik lebih lanjut, Jianying berarti perempuan yang giat, pintar, dan dianggap penting.
"Nama yang indah," puni Chen Li sambil sedikit tersenyum.
"Terimakasih," jawabnya tersipu malu.
__ADS_1
Chen Li meneguk arak. Kemudian dia memandangi para pengunjung yang sudah silih berganti itu. Dia ingin mencari informasi tentang Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa, tapi sayangnya sampai sekarang belum juga mendapatkan informasi tersebut.
Hingga saat ini, Chen Li belum mengetahui di mana keberadaan pasti orang yang sedang dicari-cari tersebut.
"Nona Yun, apakah nona tahu di sini siapa yang menjual informasi?" tanya Chen Li kepada Yun Jianying.
Perlu diketahui, pada zaman ini memang ada sebagian orang yang memilih menjadi orang penjual informasi. Bahkan pada zaman ini cukup lumayan banyak, dan setiap informasi mempunyai nilai bermacam-macam. Semakin rahasia informasi yang diinginkan, semakin besar pula harganya.
Dan biasanya, kebanyakan dari mereka yang memilih menjadi penjual informasi merupakan para tokoh kelas atas yang sudah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Meskipun tidak semua orang berasal dari latar belakang yang sama, namun yang paling banyak adalah mereka yang berlatar belakang seperti itu.
"Paman Bao Bao. Ya, aku dengar dia adalah orang yang biasanya menjual informasi," kata Yun Jianying.
"Benarkah?"
"Kurasa benar,"
"Di mana aku bisa menemukan Paman Bao Bao itu?"
"Dia berada di pojok pasar sini,"
"Baiklah, terimakasih. Aku akan ke sana sekarang juga," kata Chen Li langsung berdiri.
Dia segera membayar biaya minum. Setelah itu, Chen Li langsung pergi dari sana.
Suitt!!!
Pemuda itu bersuit. Phoenix Raja langsung terbang menghampiri dirinya saat itu juga.
Para pengunjung dibuat terkagum-kagum oleh kejadian barusan. Terlebih lagi mereka yang berasal dari kalangan biasa.
Yun Jianying terkejut. Dia sangat kaget karena secara tiba-tiba burung yang sedang dia elus kepalanya itu malah terbang begitu saja.
Chen Li sudah pergi dari kedai arak tadi. Sekarang dirinya akan berjalan menuju ke pojok pasar yang dimaksud oleh Yun Jianying tadi.
Dia sengaja tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh karena tidak ingin menjadi bahan perhatian orang lain.
Beberapa saat kemudian, Chen Li telah tiba di pojok pasar. Di sana ada satu bangunan yang mencolok. Bangunan itu kecil, tapi sangat bersih dan terawat. Di depan bangunan ada tulisan dari sebuah papan yang digantungkan.
"Bao Bai si Penjual Informasi …" bunyi tulisan tersebut.
__ADS_1