
Setelah menjalankan pertarungan beberapa saat lamanya, tiba-tiba empat puluh tokoh yang tersisa mendadak melompat mundur ke belakang sejauh jarak yang bisa mereka capai.
Mereka semua merasa takut sekaligus jeri kepada Pendekar Tanpa Perasaan. Terlebih lagi karena semua tokoh yang tersisa itu tahu dan melihatnya sendiri bagaimana sepak terjang pemuda berpakaian serba putih tersebut.
Seberani apapun para tokoh itu, mereka tetaplah manusia yang masih mempunyai perasaan takut.
Mereka takut mati.
Apakah setiap manusia takut akan kematian? Apakah para manusia tidak mau mati? Kalau benar begitu, lantas kenapa pula banyak manusia yang memilih untuk mati?
Keadaan di padang rumput Gunung Bok San seketika lenggang. Sekarang di sana hanya tinggal satu orang yang tersisa.
Orang berwajah dingin tanpa ekspresi. Orang yang tampak tidak berperasaan.
Siapa lagi kalau bukan Pendekar Tanpa Perasaan?
Dia masih berdiri tegak seperti sebatang tombak yang dihunjamkan ke dasar bumi paling dalam.
Tubuhnya tidak bergerak sedikitpun. Matanya masih memancarkan sinar yang sangat tajam. Lima elemen alam semesta masih terlihat jelas di sepasang bola mata itu.
Meskipun lima elemen alam semesta tidak mengamuk seperti tadi, namun kelimanya tetap memperlihatkan keberadaannya. Mereka masih membawa perasaan ngeri bagi siapapun yang melihatnya.
Hujan turun dengan deras disertai kilatan halilintar yang menggelegar. Angin masih berhembus kencang menerbangkan segala yang ada. Bahkan api pun masih berkobar membentuk pusaran cukup besar.
"Apakah kalian pikir bahwa aku akan membiarkan kalian hidup?" katanya kepada empat puluhan tokoh dunia hitam yang masih tersisa itu.
Suaranya dingin. Terdengar bengis dan sangat menyeramkan. Bagi para tokoh Organisasi Elang Hitam, mungkin suara pemuda itu lebih menyeramkan dari pada suara Raja iblis sekalipun.
Setiap orang mendengar perkataan pemuda itu. Mereka yang mendengarnya merasakan telinganya panas seperti dibakar. Ucapan Pendekar Tanpa Perasaan barusan masih terngiang-ngiang hingga detik ini.
Sekalipun Chen Li tidak berkata lebih lanjut, tapi setiap orang yang hadir dapat memahami maksudnya. Ucapan tadi tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa pemuda itu tidak akan membiarkan seorangpun dari lawannya hidup.
Mereka semua berarti akan dan wajib untuk mati.
Kalau orang lain yang berkata demikian, para tokoh tersebut mungkin tidak langsung percaya. Tapi jika ucapan itu keluar dari mulut pemuda sakti tersebut, siapapun yang mendengarnya, maka orang itu pasti akan percaya.
Karena sudah menjadi ciri khas dari Pendekar Tanpa Perasaan bahwa kalau dia berani berucap, itu tandanya dia sanggup untuk membuktikan.
__ADS_1
Hong Hua semakin ketakutan. Seumur hidupnya, belum pernah orang tua tersebut merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Baginya, malam ini adalah malam paling menyeramkan sepanjang sejarah hidupnya.
Bahkan perasaan tersebut tidak hanya dirasakan oleh dirinya seorang, setiap orang yang ada di padang rumput Gunung Bok San, khususnya bagi para musuh Pendekar Tanpa Perasaan, mereka merasakan hal yang sama.
"Hong Hua, aku mempunyai dua pilihan bagi kalian semua," teriak Pendekar Tanpa Perasaan dengan suaranya yang dingin lantang.
Hong Hua maju selangkah ke depan. Langkahnya tampak ragu. Seperti juga wajahnya. Tubuhnya masih bergetar, bukan bergetar karena rasa dingin, tapi bergetar karena rasa takut. Setakut hatinya saat ini.
"Sebutkan," jawabnya setelah beberapa kali menghela nafas.
"Kalian lebih memilih mati bunuh diri atau mati di tanganku?"
Suasana bertambah menegangkan lagi. Suara detak jantung tiba-tiba menjadi lebih cepat. Lutut semua orang terasa lemas setelah mendengar perkataan itu.
"Kami tidak memilih dua-duanya,"
"Aku menyuruhmu untuk memilih. Bukan tidak memilih," tegas Pendekar Tanpa Perasaan.
"Tapi kami tetap tidak mau memilih salah satu di antara semua pilihan itu," kata Hong Hua tidak mau kalah.
"Kau tidak akan membiarkan orang-orangku hidup?"
"Sama sekali tidak. Bahkan termasuk kau sendiri,"
Hong Hua tercekat. Tenggorokannya terasa seperti disumbat oleh sesuatu yang tidak bisa ditelan. Dia hanya bisa menelan ludah ketakutan.
"Kalau kau sudah memutuskan seperti itu, ingin aku lihat apakah kau dapat membuktikannya atau tidak,"
Seluruh tubuh Hong Hua mengeluarkan asap hitam pekat. Wajahnya mendadak berubah seperti iblis yang menahan amarah.
Seluruh kekuatan yang dia miliki langsung dikerahkan. Baru sekarang saja Hong Hua melakukan hal seperti sekarang.
Untuk diketahui, dia merupakan Pendekar Dewa tahap enam akhir. Sebuah tahapan yang sudah terhitung sangat tinggi. Pengalaman bertempurnya tidak perlu diragukan lagi, masalah kematangan dalam hal keilmuan ataupun tenaga dalam, siapapun sudah mengetahuinya.
Dia terhitung sempurna dalam segi apapun.
Tapi apakah sekarang orang tua itu sanggup mengalahkan seorang bocah bergelar Pendekar Tanpa Perasaan?
__ADS_1
"Apakah kalian mendengar perkataan bocah keparat ini?" teriak Hong Hua sambil melirik sekejap kepada para tokoh yang ada di belakang dirinya saat ini.
Mereka hanya mengangguk.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Lekas lanjutkan kembali pertempuran tadi, orang-orang Organisasi Elang Hitam, apalagi para tokohnya, tidak ada yang pengecut. Kita perlihatkan kepadanya agar dia tidak sombong lagi,"
"Kami mendengar …" teriak para tokoh hampir secara bersamaan.
Suaranya bergemuruh seperti paduan suara yang sudah ahli. Baru selesai perkataan tersebut, mereka segera melakukan serangan kembali. Gerakannya dilakukan secara serempak, puluhan senjata pusaka yang teramat tajam kembali terlihat memenuhi malam yang kelam.
Wushh!!! Wushh!!! Wutt!!! Wrrr!!!
Puluhan bayangan manusia kembali melompat menerjang ke depan. Serangan jarak dekat yang hebat langsung dilancarkan oleh setiap para tokoh tersebut.
Puluhan senjata energi dilemparkan secepat mungkin. Puluhan jurus mengerikan kembali memenuhi angkasa raya.
Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum dingin. Dia pun turut melompat ke atas. Tubuhnya berputar satu kali, dia langsung mengeluarkan kekuatan maha dahsyat dari Mata Dewa.
Lima elemen alam semesta kembali mengamuk menerjang ke segala arah. Puluhan jurus jarak jauh yang dilayangkan oleh musuhnya hancur lebur di tengah jalan.
Gelegarr!!!
Tanah bergetar seperti dilanda sebuah gempa bumi yang besar. Gelombang kejut yang tercipta menerjang segala macam sesuatu di sana. Tidak terkecuali mayat-mayat para tokoh aliran sesat itu.
Alunan suara yang dihasilkan dari Seruling Dewa kembali terdengar. Gelombang suara itu seperti sebelumnya, memberikan efek dahsyat yang mampu membuat gendang telinga pecah.
Seruling Dewa mengeluarkan cahaya merah yang aneh. Asap merah mengepul sangat pekat.
Suasana di padang rumput Gunung Bok San mendadak berubah. Kabut merah darah telah menyelimuti tempat yang sangat luas tersebut. Kabut itu membawa suatu hawa kematian yang menakutkan. Selain itu, kabut merah tersebut memberikan tekanan hebat bagi semua lawan Pendekar Tanpa Perasaan.
Semuanya berlangsung dengan singkat. Para tokoh tersebut tidak dapat melihat apa-apa kecuali hanya warna merah pekat saja.
Apa yang sudah terjadi? Kenapa semuanya menjadi berubah diluar dugaan?
Crashh!!! Crashh!!!
Suara kepala terpenggal mulai terdengar satu persatu. Di balik kebingungan semua musuhnya, Pendekar Tanpa Perasaan malah melancarkan serangan demi serangan yang membawa kabar kematian.
__ADS_1