Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Latih Tanding


__ADS_3

Setelah di depan Shin Shui, kemudian murid tersebut memberikan hormatnya kembali.


"Siapa namamu?" tanya Shin Shui kepada murid tersebut.


"Peng Qui, Kepala Tetua," jawab murid tersebut.


"Saat ini kau baru mencapai Pendekar Bumi tahap akhir bukan?" tanya Shin Shui lagi.


"Benar Kepala Tetua,"


"Bagus. Kalau begitu, temani Chen Li untuk berlatih," kata Shin Shui.


"Tapi Kepala Tetua," murid itu sedikit memperlihatkan keraguannya.


"Tidak apa. Kalau Chen Li terluka, aku tidak akan marah. Dan jika kau yang terluka, aku tanggungjawab. Aku akan turun tangan langsung untuk mengobatinya," ucap Shin Shui sambil tersenyum.


"Kalau begitu murid hanya bisa menuruti Kepala Tetua saja," kata Peng Qiu.


"Bagus. Sekarang bersiaplah. Jangan sungkan," ucap Shin Shui menepak bahunya.


Setelah itu, dia pun segera berjalan menghampiri Chen Li.


"Li'er, apakah kau sudah siap?"


"Siap ayah," jawab Chen Li bersemangat.


"Bagus. Jangan kecewakan ayah," katanya.


"Baik, Li'er akan berusaha menunjukkan yang terbaik,"


"Bagus, itu baru anak ayah,"


Shin Shui berjalan lagi. Dia berhenti di tengah-tengah kedua bocah tersebut. Dia melirik kanan kiri.


"Mulai," kata Shin Shui.


Kedua bocah tersebut tidak langsung menyerang. Mereka terdiam terlebih dahulu.


"Silahkan dimulai kakak Peng," ucap Chen Li


"Baik. Maafkan aku Tuan Muda," ucapnya.


"Jangan sungkan,"


Selesai berkata demikian, Peng Qiu lalu melesat menerjang Chen Li. Dia langsung memberikan serangan pertamanya berupa pukulan yang mengarah ke pundak.


Dengan sigap Chen Li menghindari serangan tersebut. Kemudian dia pun membalas serangan.


Pertarungan dua bocah ini disaksikan semua murid dan para tetua Sekte Bukit Halilintar. Walaupun ini hanya latihan semata, tapi ketegangan mulai terasa.


Terlebih lagi Yun Mei, ini pertama kalinya Chen Li bertarung secara sadar setelah sebelumnya pernah bertarung juga melawan Shin Shui, hanya saja saat itu dirinya tidak sadar.

__ADS_1


Gulungan sinar mulai terlihat. Deru angin memenuhi arena pertarungan. Chen Li dan Peng Qiu beradu pukulan di udara. Tubuh mereka terkurung dalam kelebatan sinar pukulannya masing-masing.


Sampai keduanya mendarat, meraka masih terus bertarung tanpa henti. Chen Li sedikir kewalahan, tapi dia masih tetap berusaha untuk bertahan.


Shin Shui memang sengaja memberikan lawan yang tingkatannya lebih tinggi. Sebab dia percaya bahwa Chen Li mampu mengalahkan lawan yang setingkat atau dua tingkat di atasnya dengan ilmu yang telah dia miliki.


Setelah beradu serangan beberapa lama, akhirnya mereka terpundur karena keduanya terkena serangan lawan. Shin Shui menyuruh Peng Qiu untuk menggunakan senjata, maka tanpa sungkan lagi dia menangkap sebatang pedang yang di lemparkan oleh seorang kepala tetua.


"Tuan Muda, gunakan juga senjatamu," kata Peng Qiu.


"Baik. Jangan sungkan kepadaku. Aku mohon petunjuk dari kakak Peng," kata Chen Li.


"Baik. Bersiaplah,"


Selesai berkata, Peng Qiu lalu memberikan serangan jarak jauh. Pedangnya ia sabetkan ke udara hampa. Tapi setelah itu, sinar merah segera keluar membentuk sayatan pedang mengarah kepada Chen Li.


Chen Li tidak tinggal diam. Dia pun menggerakan seruling giok hijau pemberian Lao Yi. Sekali seruling itu disabetkan, sinar hijau sebesar tangan berkelebat menghantam sinar merah Peng Qiu.


Dua sinar melesat cepat menerangi sekitarnya. Di tengah-tengah, sinar itu berbenturan hingga menimbulkan suara ledakan kecil.


"Blarr …"


Ledakan terdengar membawa serta hembusan angin. Kedua bocah itu pun terpundur ke belakang dua langkah. Begitu selesai mengatur nafas, keduanya kembali beradu serangan.


"Tiga Pedang Halilintar …"


"Wushh …"


Chen Li tidak gentar, dia pun turut mengeluarkan jurusnya.


"Memukul Batu Mengangkat Air Sungai …"


"Wushh …"


Chen Li maju menerjang hantaman jurus Peng Qiu. Serulingnya ia gerakan dari bawah ke atas. Gelombang tenaga dalam tak kasat mata keluar dari seruling giok hijau tersebut.


Beberapa kali ledakan terdengar saat Chen Li menghantam jurus tersebut. Para murid dan para tetua tersentak melihat tindakan bocah itu. Sebab menurut mereka, gerakan Chen Li ini terlalu mengambil resiko. Apalagi dengan kekuatannya saat ini.


Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan semua orang. Chen Li berhasil merontokkan semua gelombang pedang tersebut. Hingga pada akhirnya, Chen Li kecil berhasil memperpendek jaraknya dengan Peng Qiu.


Begitu mendekat, dia langsung melancarkan gempuran serangan dengan seruling tersebut. Sinar hijau terus berkelebat seiring tangan Chen Li bergerak.


Peng Qiu mulai kewalahan. Tapi karena level pelatihan dia berada di atas Chen Li, maka Peng Qiu bisa melepaskan diri dari kurungan serangan tersebut.


"Menggetarkan Ujung Daun …"


"Wuttt …"


Jurus pedang kembali keluar. Ujung pedang yang dipakai Peng Qiu nampak bergetar. Tubuhnya bergerak dan dia memberikan serangan beruntun kepada Chen Li.


Anak Pendekar Halilintar itu tersentak. Dia melompat mundur ke belakang lalu memberikan serangan jarak jauh. Tak serangan itu dengan mudah ditahan oleh Peng Qiu.

__ADS_1


Jaraknya semakin mendekat. Chen Li mulai kebingungan, serangan Peng Qiu semakin menggempur dirinya dari segala sisi. Karena tidak ada jalan lain, terpaksa Chen Li mengeluarkan jurus Kitab Seruling Pencabut Nyawa lainnya.


"Menggempur Harimau di Hutan …"


"Wushh …"


Secepat kilat Chen Li mengubah gerakannya. Peng Qiu kaget, dia menarik serangan tapi terlambat.


Balasan serangan Chen Li datangnya lebih cepat dari dugaan. Seruling giok hijau berubah bentuk menjadi kelebatan sinar hijau. Setiap sabetannya menimbulkan hawa mengerikan.


"Wushh …"


"Heughh …"


Peng Qiu terpental tiga langkah. Pergelangan tangan kanannya terasa ngilu saat terkena hantaman seruling giok hijau mirip Chen Li.


Tapi dia tidak berhenti, secepat kilat dirinya mengirimkan jurus kembali.


"Sinar Menembus Langit …"


"Wushh …"


Sebuah sinar biru keluar dari ujung pedang Peng Qiu. Sinar itu datangnya lebih cepat daripada sebelumnya.


Chen Li tak mau kalah, dia juga mengeluarkan jurus lainnya.


"Memukul Bumi Keluar Tanah …"


"Wushh …"


Dia memukul tanah dengan telapak tangan kanan. Bagian tanah yang dia pukul bergetar lalu keluar sinar transparan. Gelombang tak kasat mata muncul melindungi tubuh Chen Li.


"Blarr …"


Ledakan kembali terdengar. Dua orang bocah itu terpental lima langkah. Keduanya terhuyung hampir jatuh.


"Berhenti," kata Shin Shui sambil melompat ke arena pertarungan.


Pertarungan berhenti. Keduanya lalu berjalan menghampiri. Tidak ada yang terluka serius di antara mereka. Hanya saja rasa lelah tergambar di masing-masing wajahnya.


"Kalian tidak papa?" tanya Shin Shui kepada keduanya.


"Tidak Kepala Tetua,"


"Tidak ayah,"


Kedua bocah itu menjawab secara bersamaan. Setelah itu, Chen Li dan Peng Qiu pun berpelukan.


"Kau hebat Tuan Muda," kata Peng Qiu memuji sambil tersenyum.


"Kakak Peng lebih hebat. Terimakasih sudah mau mengalah," jawab Chen Li tersenyum.

__ADS_1


Tepuk tangan dari semua murid terdengar membahana. Semua orang itu merasa terhibur atas pertarungan barusan.


__ADS_2