Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Siluman Ular Hitam


__ADS_3

Ular hitam itu menerjang sangat cepat. Siluman tersebut mendesis menyemburkan uap berwarna hijau tua yang sangat pekat. Kedua matanya sangat tajam dan menyeramkan.


Chen Li menatap kedua mata itu. Tubuhnya sedikit bergetar, mata ular tersebut ternyata mengandung kekuatan yang tidak rendah.


"Blarrr …"


Benturan mendadak terdengar. Tahu-tahu Chen Li terlempar sepuluh langkah ke belakang. Dia bergulingan di tanah.


Belum sempat Pendekar Tanpa Perasaan mendapatkan posisi, siluman ular telah tiba. Tubuhnya segera melilit Chen Li dengan sangat erat.


Bocah itu berusaha sekuat mungkin untuk melepaskan diri dari belitan ular. Sayangnya usaha Chen Li sia-sia. Belitan siluman ular hitam justru semakin kencang membelit dirinya.


Arghh!!!


Chen Li berteriak. Teriakan yang menggelegar terdengar seperti suara guntur. Kekuatan dahsyat merembes keluar dari tubuhnya. Bocah itu melesat ke atas, tangan kirinya segera mengibas. Asap putih menyelimuti keadaan sekitar.


Brugg!!!


Tanah sedikir berguncang. Begitu asap putih lenyap, dua ekor siluman kera putih sudah nampak di hadapan siluman ular hitam. Chen Li duduk di atas salah satu dari kedua siluman kera tersebut.


Grrr!!!


Ong San menggeram keras. Kedua taring tajamnya dia perlihatkan kepada siluman ular itu. Sebuah pukulan dahsyat langsung dia layangkan secepat kilat.


Blarr!!!


Siluman ular hitam terpental. Ong San segera melesat kembali dan mulai melancarkan serangan beruntun. Kedua lengannya bergerak cepat dan kuat.


Debu menggulung dua ekor siluman itu sehingga keduanya tidak terlihat. Beberapa saat kemudian, darah kental kehitaman memercik.


Siluman ular hitam telah tewas. Ong San mengigitnya dengan sekuat tenaga sehingga kepala ular itu hampir putus.


Si Tuan muda yang saat itu sudah berdiri seperti semula, sangat kaget melihat siluman peliharaannya tewas. Dia menjerit keras lalu melesat ke depan. Tetapi sebelum bergerak lebih jauh, seorang di antara lima pengawalnya langsung menangkap tangannya.


"Jangan Tuan muda. Kau jangan membahayakan dirimu sendiri. Biarlah kami yang akan membalaskan rasa sakit hatimu," kata orang tersebut.


Si Tuan muda yang mempunyai sifat angkuh itu tentu tidak terima. Dia meronta berusaha melepaskan dirinya. Tapi sayangnya orang tua itu tidak mau melepaskan.


Karena terus berusaha melepaskan diri, maka secara terpaksa orang tua tersebut menotok jalan darahnya supaya dia pingsan tak sadarkan diri.


Dia melompat ke belakang sambil tetap memangku tuan mudanya.


Empat orang rekannya langsung maju ke depan. Mereka menatap tajam ke arah Chen Li dan dua siluman kera putih bersaudara. Sebuah hawa kematian seketika terasa kental memenuhi seisi hutan.

__ADS_1


"Berani sekali kau membunuh siluman kesayangan Tuan muda kami," bentaknya kepada Pendekar Tanpa Perasaan.


"Siluman itu mau membunuhku. Masa aku harus diam saja? Kau pikir aku ini apa?"


"Lancang. Kau benar-benar berani mencari masalah besar,"


"Aku tidak takut sama sekali,"


Wushh!!!


Empat orang itu langsung melesat ke depan. Bergulung-gulung tenaga dahsyat segera mereka layangkan ke arah Chen Li dan dua siluman peliharaannya.


Blarr!!! Blarr!!!


Beberapa kali ledakan keras terdengar. Sebelum serangan empat orang itu mengenai tubuhnya, sebuah tameng tak kasat mata telah melindungi Chen Li bersama San Ong dan Ong San.


Huang Taiji telah turun tangan. Kedua tangannya di taruh di belakang. Matanya menatap dengan tatapan hangat dan senyuman bersahabat.


"Kenapa kalian malah marah? Bukankah perjanjiannya kita tidak akan ikut campur? Sebagai angkatan tua, seharusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada para angkatan muda," kata Huang Taiji sambil tetap tersenyum hangat.


"Benar, memang begitu perjanjiannya. Tapi, aku melakukan ini semua hanya demi menjalankan kewajiban. Bagaimanapun juga, kami harus tetap melindungi Tuan muda kami," jawab orang tersebut.


Huang Taiji mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Dia berjalan bolak-balik secara perlahan. Kedua tangannya masih tetap dalam posisi yang sama.


"Bagus, aku memuji kalian," kata Huang Taiji sungguh-sungguh.


"Terimakasih,"


"Apa yang akan kalian lakukan sekarang?"


"Membalaskan rasa sakit hati Tuan muda kami,"


"Jadi, kalian akan membunuh keponakanku?"


"Benar,"


"Kalau aku tidak mengizinkan kalian membunuhnya?"


"Terpksa kami harus bertarung melawan Tuan," kata seorang di antaranya dengan sopan.


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya pertarungan di antara kita memang tidak bisa dihindari lagi,"


Tidak ada jawaban dari empat orang tersebut. Mereka hanya mengangguk perlahan.

__ADS_1


Keempatnya segera mengeluarkan kekuatannya masing-masing. Hawa di sana langsung berubah hebat.


"Li'er, kembalikan San Ong dan Ong San. Kau mundur, sekarang giliran Paman yang akan turun tangan," ucap Huang Taiji dengan lembut.


Chen Li tidak membantah. Dia mengangguk lalu segera memasukkan kembali San Ong dan Ong San ke dalam Kantong Siluman.


Setelah itu, dia langsung melompat mundur. Hanya sekejap mata, Chen Li sudah ada di pinggir Huan Ni Mo.


Huang Taiji berdiri dengan tenang. Senyuman hangat tidak pernah lenyap dari bibirnya. Tatapan matanya masih menenangkan. Memberikan perasaan hangat dan membawa keteduhan.


Empat orang itu bukan orang sembarangan. Kekuatan mereka yang sebenarnya juga patut diperhitungkan, karena itulah, begitu melihat ketenangan Huang Taiji, mereka merasa sedikit gentar.


Hanya orang yang sudah kenyang akan pengalaman bertarung yang mempunyai sifat demikian. Hanya mereka yang mempunyai kekuatan tinggi yang bisa berlaku seperti itu.


"Kita harus bertarung dengan serius. Aku rasa kalian mempunyai perasaan yang sama sepertiku," kata seseorang.


"Benar. Orang itu bukan musuh sembarangan. Dia pasti musuh berat untuk kita," jawab rekannya.


"Karena itulah kita harus serius sejak awal pertarungan,"


"Baik. Kami mengerti,"


Wushh!!!


Empat bayangan melesat. Mereka segera melayangkan empat serangan yang berbeda. Berbagai macam serangan dahsyat menerjang ke arah Huang Taiji.


Sinar berbagai macam warna memenuhi angkasa.


Huang Taiji menunggu datangnya serangan lawan. Begitu keempatnya telah tiba, Pendekar Pedang Tombak langsung bergerak.


Dia mengangkat kedua tangannya lalu melancarkan dua kali kibasan. Dua gulung tenaga dahsyat menerjang empat serangan lawan.


Blarr!!!


Lima tokoh itu terdorong mundur ke belakang. Huang Taiji tidak berhenti, dia segera memberikan serangan susulan lainnya yang jauh lebih hebat.


Dua tangannya melayangkan serangkaian pukulan beruntun tanpa henti. Lebih dari separuh kekuatannya langsung dikeluarkan dengan segera.


Serangan yang dia layangkan bertambah dahsyat. Gerakannya juga bertambah cepat.


Empat orang itu merasa tertekan dengan serangan Huang Taiji. Mereka bahu-membahu untuk menangkis.


Lima bayangan itu telah berada dalam sebuah pertarungan sengit yang menegangkan. Berbagai macam jurus berbahaya dikeluarkan oleh mereka masing-masing.

__ADS_1


Benturan tangan dan kaki terjadi setiap waktu. Suara tulang dibenturkan terdengar sangat nyaring. Huang Taiji masih dalam posisi menyerang. Empat orang lawannya terlihat mulai kewalahan karena kehebatan serangan orang tua itu.


__ADS_2