Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sekte Langit Merah II


__ADS_3

"Hemm, mulut manusia memang lebih tajam daripada sebuah pedang pusaka sekalipun," kata salah satu tetua di sana menyindir Shin Shui.


Shin Shui sendiri hanya tertawa simpul mendengarkan ucapan tersebut.


"Hahaha, kau benar. Aku setuju denganmu. Dan bukankah manusia juga makhluk yang setiap detik berubah setiap menit berganti? Sekarang ini, besok itu. Bukankah manusia adalah makhluk yang paling gampang untuk berpindah haluan dan paling mudah menghilangkan kepercayaan seseorang?" Shin Shui kembali menyindir dengan perkataan yang lebih pedas.


Tentu saja mereka sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Pendekar Halilintar. Dan karena hal itu, mendadak berbagai macam aura mengerikan segera merembes keluar dari sepuluh tetua tersebut.


Tapi sayangnya yang mereka hadapi kali ini adalah pendekar terkuat di Kekaisaran Wei. Pemimpin dunia persilatan saat ini. Tentu saja aura seperti itu tidak akan memberikan pengaruh apapun terhadapnya.


Bahkan untuk kedua bocah itu saja tidak berarti. Karena tentunya mereka berada dalam lindungan Shin Shui.


Sebaliknya, begitu dia mengeluarkan aura pembunuh, seketika tanah bergetar beberapa kali. Udara di sana menjadi lebih tertekan lagi. Bahkan sebagian murid yang tingkatannya rendah dan dasarnya belum cukup, mereka langsung limbung dan ambruk.


"Hemm, kalau aku sendiri mungkin tidak akan mampu mengalahkanmu. Tetapi bagaimana jadinya kalau kami semua maju bersama? Apakah kau masih punya keyakinan untuk bisa menghancurkan sekte ini? Aku sarankan, lebih baik pikirkan dulu sebelum bertindak," katanya seolah meragukan Shin Shui.


Karena perkataan barusan, Pendekar Halilintar justru tertawa lantang. Suaranya bagaikan guntur di pagi hari. Begitu menggelegar memekakkan telinga.


"Aku justru ingin mencobanya. Sebenarnya, yang harusnya memberikan pilihan adalah aku sendiri. Lebih baik kalian menyerah sebelum semuanya terlambat," ujarnya tenang.


"Bangsat. Lancang sekali mulutmu," bentak seorang tetua.


Shin Shui tidak menggubrisnya. Dia memperhatikan orang-orang yang ada di sana. Menurut penglihatannya, sepuluh tetua itu hanya berada di tingkatan Pendekar Dewa tahap dua akhir.


Sedangkan lima puluhan murid yang kini tersisa empat puluh –karena yang sepuluh lagi ambruk oleh tekanan Shin Shui–, mereka hanya berada di tingkatan Pendekar Bumi tahap empat akhir dan Pendekar Langit tahap dua awal.


Baginya, mereka bukanlah apa-apa. Begitupun bagi Chen Li dan Eng Kiam. Apalagi untuk sementara waktu, kedua bocah itu kini setara dengan Pendekar Surgawi tahap empat akhir karena kekuatan pinjaman yang diberikan Shin Shui.


Tanpa banyak bicara lagi, dengan amarah yang berkobar dan semangat menggebu-gebu serta kepercayaan tinggi, tiga sosok sudah melesat maju ke depan.


Shin Shui melawan sepuluh tetua. Chen Li melawan dua puluh Pendekar Langit dan Pendekar Bumi. Sedangkan Eng Kiam juga mendapatan jatah yang sama.


Seperti biasa, Chen Li si bocah istimewa akan menggunakan dua senjata berbeda kalau menghadapi pertempuran seperti ini. Seruling giok hijau sudah digenggam erat di tangan kanan. Pedang Awan sudah diacungkan ke depan di tangan kiri.


Kalau sudah begini, sudah pasti dia akan berubah menjadi 'Dewa Kematian' bagi musuh-musuhnya.


Detik selanjutnya, satu sosok berjubah dan berpakaian putih sudah menyerang lebih dulu.

__ADS_1


Chen Li.


Bocah itu langsung menunjukkan taringnya. Sekali melesat, dua senjatanya sudah memberikan serangan ganas berupa sabetan pedang dan totokan seruling.


Dua senjatanya bergulung-gulung mencari mangsa yang empuk. Tubuhnya diselimuti aura hitam tipis. Dua puluh lawan sudah mengerubungi Chen Li seperti gerombolan serigala mengerubungi kijang.


Tetapi kijang kali ini bukanlah kijang biasa. Sebab kijang kecil itu, merupakan kijang yang membawa kabar kematian.


Dua puluh lawan sudah bergerak memberikan serangan dengan barisannya. Dua puluh murid itu memainkan strategi Pedang Mengepung Buruan.


Dari namanya saja sudah jelas. Bahwa mereka akan mengepung Chen Li dari segala penjuru.


Tidak ada celah kosong. Tidak ada jalan untuk kabur. Tapi, siapa juga yang akan kabur? Jangan sebut dia Pendekar Tanpa Perasaan kalau kabur dari sebuah pertarungan.


"Pedang Melibas Badai …"


"Menggempur Harimau di Hutan …"


"Wushh …"


Dua jurus dari senjata berbeda sudah keluar. Sekali tubuhnya melesat, pedangnya sudah menyambar dan memberikan hasil. Dua Pendekar Bumi langsung tewas baru beberapa gebrak saja. Satu pendekar bumi terkena hantaman seruling pusakanya.


Dia tidak berhenti sampai di situ saja. Justru malah semakin ganas sepak terjangnya. Semakin banyak membunuh musuh, semakin menggiriskan juga serangan-serangan yang keluar.


Itulah Chen Li. Si Pendekar Tanpa Perasaan.


Pedang Awan pemberian ayahnya sudah berkelebat membayangi ke mana pun musuhnya menghindar. Libasan dan hantaman seruling memburu lawan di sisi kanan.


Pertarungan baru berjalan delapan jurus, tapi enam nyawa sudah melayang.


Di sebelahnya ada Eng Kiam. Si gadis berbahaya karena jurusnya yang mengandung racun.


Pedangnya sudah dia mainkan dari awal pertarungan juga. Sepak terjangnya tidak kalah dari Chen Li. Gerakannya lebih gesit dan bringas. Dia terlihat bagaikan harimau betina yang sedang mengamuk.


"Pedang Racun Bumi Menari di Tengah Badai …"


"Wushh …"

__ADS_1


Eng Kiam melesat. Tubuhnya menari dengan indah di balik gempuran puluhan jurus lawan. Dia menari dengan penuh keyakinan. Gerakannya indah dan menawan. Tetapi ada sesuatu mengerikan di balik itu semua.


Benturan senjata mulai terjadi. Tapi dia tidak mundur dan tidak takut walau hanya secuil. Sebaliknya, semakin lawan mencecar, semakin bersemangat juga dia melancarkan aksinya.


Pedang beracun sudah menelan lima korban. Mereka semua tewas tanpa kepala. Gadis kecil itu terus bergerak menyerang dan membunuh secepat yang dia bisa. Dengan kekuatan pinjaman dari Shin Shui, tubuhnya terasa lebih ringan dan mantap.


Gadis kecil itu berputar sambil terus memainkan jurusnya. Ada bau amis menyengat hidung ketika dia memberikan serangan. Memasuki jurus kelima belas, sembilan nyawa Pendekar Bumi murid Sekte Langit Merah telah menemui ajalnya.


Walaupun Chen Li dan Eng Kiam masih anak-anak, tapi sepak terjang dalam pertarungannya tidak terlihat seperti bocah. Justru sekilas, mereka seperti sudah matang pengalaman bahkan seperti menikmati kegiatannya tersebut.


Di sisi lain, sepuluh tetua Sekte Langit Merah sudah mencecar Shin Shui. Sepuluh jurus tingkat atas telah melesat berusaha untuk membunuhnya.


Tetapi, Shin Shui adalah Shin Shui. Jangan pernah menyamakan dia dengan orang lain. Karena dia adalah dia. Dia tidak bisa menjadi orang lain, dan orang lain tidak bisa menjadi dirinya.


Hal tersebut berlaku bagi siapapun juga.


Melawan sepuluh tetua berkekuatan Pendekar Dewa tahap dua akhir, rasanya tidak perlu mengeluarkan Pedang Halilintar, pikir Shin Shui.


Maka dengan gerakan seringan kapas tapi seganas naga mengamuk, dia mulai membalas semua jurus lawan.


Kedua tangannya dia kibaskan dengan tenaga lebih. Puluhan pedang energi berwarna biru mulai melesat seperti hujan deras.


Sepuluh tetua mulai lebih serius. Sebab mereka juga sadar bahwa lawannya kali ini, bukan pendekar kelas teri.


Benturan jurus sudah terdengar mengguncang tempat sekitar. Sosok Pendekar Halilintar berkelebat memberikan gempuran serangan dahsyat.


Walaupun pihaknya hanya tiga orang, tapi itu saja sudah lebih dari cukup. Sebab walau pertempuran baru berjalan sejenak, korban di pihak lawan mulai berjatuhan.


###


Note: Novel ini bergenre Xianxia. Bukan kultivator. Jadi di sini yang dibahas adalah konflik, pertarungan, siasat dll yang berhubungan dengan dunia persilatan. Bagian romance ada, cuma belum waktunya. Hal ini sudah saya jelaskan sebelumnya.


Jadi jangan salah paham bagi yang belum tahu ya. Karena novel ini sekali lagi bukan kultivaor yang membahas pil dll.


Oke gengs, sampai jumpa lagi.


Salam hangat☕

__ADS_1


Jangan lupa like ya sebagai tanda menghargai author hhi☕


__ADS_2