Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Masalah Perkumpulan Pengemis


__ADS_3

"Aii, tapi sebelumnya kami tidak akan memaksa. Kalau Tuan muda bisa membantu, kami bakal benar-benar berterimakasih. Tetapi kalau tidak pun tak menjadi soal," kata si kakek tua tersebut.


"Katakan saja lebih dulu," ujar pemuda itu.


Orang tua itu ingin langsung membicarakan masalah yang sedang dihadapi, tapi sebelum itu, dirinya baru ingat kalau mereka belum memperkenalkan diri kepada Chen Li.


"Aihh, maaf, sebelumnya perkenalkan namaku adalah Beng Koan, dan ini saudaraku seperguruanku, namanya To Cun," kata kakek tua bernama Beng Kpan tersebut. Keduanya bangkit berdiri dari tempat duduk lalu segera menjura memberikan hormat.


Chen Li merasa tidak enak hati, dia pun turut melakukan hal yang sama lalu kemudian memperkenalkan diri pula kepada keduanya.


Setelah saling memperkenalkan diri masing-masing, ketiganya segera duduk di tempatnya kembali. Sebelum bicara, Beng Koan tampak menghela nafas terlebih dahulu. Sepertinya dia sedang mengumpulkan keberanian sebelum memulai bicaranya.


"Begini Tuan muda, Perkumpulan Pengemis kami sedang menghadapi sebuah masalah yang cukup berat dan misterius. Dua bulan lalu, guru kami yang bernama Tiong Jong si Pengemis Berwatak Aneh telah lenyap secara tiba-tiba. Kami sudah mencari ke berbagai penjuru Kekaisaran Sung, meminta bantuan ke seluruh sekte aliran putih dan aliran merdeka, bahkan sampai meminta bantuan kepada para pendekar pengelana untuk mencari jejak beliau. Sayangnya hingga sekarang ini, belum satu orangpun yang memberikan kabar baik, "kata Beng Koan dengan wajah penuh kesedihan.


Jika seseorang sedang berada dalam suatu kesedihan yang sangat sedih, biasanya wajah itu bakal menua beberapa tahun. Seperti Beng Koan saat ini contohnya, kakek tua itu terlihat lebih tua bahkan hingga lima tahun banyaknya.


Chen Li tidak langsung menjawabnya. Pemuda itu malah memandang rembulan yang bersinar terang di atas langit sana. Ribuan bintang bertaburan dengan indahnya. Malam yang seharusnya gelap gulita, sekarang menjadi terang benderang karena kehadiran mereka.


Bintang gemerlap. Sinar rembulan menyorot ke bumi. Bau harum dari bunga mekar tercium menusuk hidung.


Suasana seperti ini sungguh membuat jiwa nyaman. Chen Li sangat menyukai saat-saat seperti sekarang. Oleh sebab itulah untuk beberapa waktu lamanya dia termenung dalam keadaan penuh rasa kagum.


Tapi meskipun begitu, bukan berarti dia tidak mendengar perkataan Beng Koan. Malah dia sangat mendengarnya baik-baik. Oleh sebab itulah setelah beberapa saat kemudian, Chen Li baru angkat bicara, "Apakah kalian tahu di mana terakhir kali melihat Tuan Tiong Jong?" tanyanya sambil memandangi wajah Beng Koan.


"Kami terakhir melihat guru saat itu sedang berada di pinggir Sungai Biru," jawab Beng Koan.


"Di mana letak Sungai Biru itu?"


"Sebelah Timur Kotaraja,"


"Apakah kalian tahu beliau sedang apa di sana?"


Beng Koan dan To Cun menggelengkan kepalanya.


"Apakah beliau sedang menunggu seseorang?"


"Kami juga tidak tahu pasti," jawab To Cun dengan cepat.


Chen Li kembali termenung sesaat.


"Sebelumnya, apakah Tuan Tiong Jong sempat mempunyai masalah dengan seseorang?"

__ADS_1


"Tidak ada," jawab To Cun.


"Ada," kata Beng Koan ikut memberikan jawaban pula.


To Cun tampak sedikit tidak terima, dia mengerutkan kening lalu kembali bicara kepada saudara seperguruannya tersebut.


"Tidak ada, bagaimana mungkin guru bisa mempunyai masalah dengan orang lain? Sedangkan guru sendiri jarang keluar," tegasnya.


"Aii, ternyata kau benar-benar sudah pikun. Kau ingat pada malam bulan purnama tanggal dua belas bulan tiga kemarin?" tanya Beng Koan sambil menatap tajam ke arah To Cun.


Kakek tua itu tampak sedang mengingat-ingat tanggal dan bulan tersebut. Bola matanya beberapa kali berputar.


"Ahh, iya, iya. Aku ingat, aku ingat. Saat itu guru baru saja selesai bertarung dengan Pang Meng si Macan Kumbang Liar Dari Barat,"


"Nah, kau sudah ingat. Jadi menurutmu, apakah guru punya masalah?"


"Tidak," jawab To Cun polos.


Plakk!!!


Tamparan cukup keras mendarat di kepala kakek tua bertubuh kurus kering itu. Beng Koan merasa kesal, kadang-kadang dia sendiri suka dibuat pusing kalau penyakit pikun saudara seperguruannya ini kambuh.


Selama perdebatan di antara dua Ketua Perkumpulan Pengemis tersebut, Chen Li hanya memperhatikan keduanya tanpa bicara sedikitpun. Dia malah merasa sedikit geli, ternyata seorang saudara seperguruan yang bahkan hubungannya sudah sangat dekat, ternyata bisa memberikan jawaban berbeda terkait masalah yang sedang mereka hadapi saat ini.


Dia pun merasa kesal oleh kelakuan dua kakek di hadapannya saat ini. Karena itulah pemuda tersebut sedikit berteriak.


To Cun dan Beng Koan langsung diam. Mereka hanya saling tatap tanpa bicara.


"Kau yang bicara," kata Beng Koan.


"Kau saja, kenapa mesti aku?" tanya To Cun tidak terima.


Chen Li semakin kesal. Dia menggertak gigi lalu segera berkata tegas.


"Sebenarnya kalian hendak bercerita atau berdebat? Kalau berdebat, silahkan saja. Aku tidak akan ikut campur," ucapnya sambil bangkit berdiri.


Melihat tamunya hendak pergi, Beng Koan lantas segera berdiri.


"Tunggu dulu Tuan muda, aii maafkan kami berdua. Jangan dengarkan saudaraku ini, dengarkan saja aku," kata Beng Koan segera.


Orang tua itu tentu saja takut tamunya pergi. Kalau sampai benar terjadi, maka habislah sudah harapannya.

__ADS_1


"Baiklah," mau tak mau akhirnya Chen Li duduk kembali.


"Jadi, benar bahwa guru kalian sempat mempunyai masalah?"


"Benar," jawab Beng Koan cepat.


"Kalian sudah mencari Pang Meng si Macan Kumbang Liar Dari Barat?"


"Sudah,"


"Apa hasilnya?"


"Nihil. Dia seperti lenyap ditelan bumi,"


"Kapan dia menghilang?"


"Sehari setelah pertarungan itu,"


Chen Li mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit banyaknya dia sudah mengerti tentang masalah apa yang sedang dihadapi oleh Perkumpulan Pengemis.


Dugaan tersangka juga sudah ada. Hanya saja, ke mana perginya si Macan Kumbang Liar Dari Barat itu?


"Siapa dia sebenarnya?"


"Salah satu datuk dunia persilatan dari Timur,"


"Hemm, baik. Aku bersedia membantu kalian," jawab pemuda itu dengan serius.


To Cun dan Beng Koan melongo. Mereka hampir tidak percaya dengan ucapan yang baru saja dikatakan oleh pemuda di hadapannya saat ini.


"Sungguh Tuan muda?"


"Aku tidak suka berbohong,"


Kedua orang tua itu merasa sangat gembira sekali dengan kabar ini. Mereka hampir saja bersujud di hadapan Chen Li. Namun dengan segera pemuda itu menahannya.


"Kalian tidak perlu seperti itu kepadaku. Sudah sepantasnya sesama manusia saling membantu," kata pemuda istimewa tersebut.


Sebenarnya alasan Chen Li bukan hanya karena itu saja. Masih terdapat beberapa alasan lainnya kenapa dia mau membantu Perkumpulan Pengemis untuk guru besar mereka.


Salah satunya adalah Chen Li tidak suka menolak permintaan orang.

__ADS_1


Selamanya dia tidak akan menampik kalau ada orang yang berusaha meminta bantuannya. Kenal atau tidak kenal, peduli siapapun itu, selama permintaannya tidak bertentangan dengan jalan hidupnya, mala Pendekar Perasaan siap sedia untuk membantu.


Toh memang itu salah satu tugas yang diberikan oleh gurunya.


__ADS_2