
"Aku sangat bahagia mendengar perkataanmu barusan. Andai saja aku tidak mempunyai tugas untuk menciptakan perdamaian dan membangun negeriku sendiri, maka aku pasti akan memilih untuk menemanimu. Menghadapi semua masalah bersama. Sayangnya, tugasku juga sangat banyak, kita memiliki nasib yang sama, hanya saja di tempat yang berbeda," ujar Kaisar Naga Merah.
Shin Shui tahu apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Tentu dia juga paham maksud dari tugas tersebut. Sahabatnya merupakan seorang Kaisar, walaupun kekacauan tidak sebanyak dan serumit dunia manusia, tetapi tanggungjawab sebagai pemimpin sebuah negara jauh lebih besar lagi.
"Aku mengerti sobat. Sudahlah, begini saja sudah lebih dari cukup,"
"Terimakasih. Kelak kau jangan lupakan aku dalam setiap masalah. Kalau kau tidak sanggup, jangan memaksakan. Masih ada aku dan pengawalku yang siap berkorban nyawa untukmu," kata Kaisar Naga Merah menepuk kembali pundak Shin Shui.
Berkorban nyawa. Perkataan itu sangat berat. Bagi sebagian orang, mungkin hanya mereka yang bodoh saja yang mau berkorban nyawa demi seorang sahabat.
Tetapi bagi mereka yang mengalami di posisi Shin Shui, justru orang-orang yang bicara bodoh itulah yang sebenarnya bodoh. Persahabatan justru harus seperti itu.
Kau susah, dia membantumu. Dia susah, kau membantunya. Itu baru namanya sahabat sejati. Bukan sahabat yang hanya waktu-waktu tertentu saja.
"Baik, aku pasti akan memberitahumu kalau ada masalah besar yang tidak sanggup aku hadapi sendirian. Tapi tolong, kau juga harus seperti itu kepadaku," balas Shin Shui.
"Baik, kita berjanji," kata Kaisar Naga Merah sambil mengangguk puas.
Mereka minum lagi. Setelah menghabiskan beberapa guci arak, Kaisar Naga Merah pamit undur diri karena masih memiliki banyak urusan di Neger Siluman.
"Baiklah, terimakasih atas semuanya. Sampai berjumpa lagi," ujar Shin Shui kepada Kaisar Naga Merah dan pengawalnya.
"Kau tidak perlu sungkan. Saudara kecil, jangan lupa untuk berlatih keras supaya kau mampu melebihi ayahmu,"
"Baik Paman. Li'er pasti akan berlatih dengan giat," jawab bocah kecil itu.
Setelah berpamitan kepada semuanya, akhirnya Kaisar Naga Merah menciptakan sebuah portal. Dia bersama pengawalnya masuk ke dalam portal lalu segera lenyap tanpa bekas.
Suasana hening kembali. Hanya tiga orang manusia saja yang berada di sana. Shin Shui, Maling Sakti Hidung Serigala, dan tentunya si bocah kecil Chen Li.
"Ayah, apakah kita akan segera pergi menjemput ibu?" tanya Chen Li lalu menenggak arak.
__ADS_1
"Tidak. Kita cari dulu harta peninggalan di sini,"
"Untuk apa? Bukankah harta ayah sudah tidak terhitung?"
"Untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Kasihan, para pembaca selalu menyarankan hal ini,"
"Baiklah. Li'er paham," jawaban singkat.
Ketiganya segera menggeledah berbagai macam ruangan yang ada di saja. Mulai dari kamar satu hingga kamar lainnya. Ruang satu ke ruang lain, bahkan sampai ke ruang rahasia.
Setelah beberapa saat mencari harta yang ada, akhirnya mereka segera berkumpul kembali.
"Dapat?" tanya Shin Shui.
"Lumayan. Nanti kita bisa memberikan kepada yang membutuhkan saat di perjalanan," jawab Maling Sakti Hidung Serigala.
"Baiklah. Karena semuanya sudah selesai, akur rasa kita harus segera berangkat kembali. Lebih cepat, lebih baik," ujar Shin Shui.
"Baik," jawab Maling Sakti dan Chen Li bersamaan.
Hidungnya tidak berbeda dengan hidung serigala yang pandai mencium bau dan bahaya atau semacamnya. Jadi siapapun tidak akan ada yang meragukannya.
Ketiga pendekar itu mulai menyusuri kembali Hutan Misteri yang sangat luas tersebut. Entah seberapa luasnya, sebab hampir tiga puluh menit berlalu, tapi mereka masih berada di dalam hutan.
Namun walaupun begitu, Shin Shui tetap mempercayai Maling Sakti. Dia yakin bahwa kakak angkatnya mampu menemukan jalan keluar.
Hujan salju masih turun ke bumi. Semua pohon dan dedaunan membeku karena saking dinginnya. Kehidupan tidak seperti biasanya.
Kalau pada hari-hari sebelumnya para binatang dan siluman menampakkan diri serta meramaikan suasana hutan, sekarang berbeda. Baik binatang maupun siluman, semuanya lenyap entah kemana. Jangankan wujudnya, walau suaranya pun tidak ada. Kalaupun ada yang menampakkan diri, itu pun hanya melintas dengan malas-malasan.
Setelah melewati tengah hari, akhirnya ketiga pendekar tersebut sampai juga di ujung Hutan Misteri. Seumur hidupnya, baik Shin Shui maupun Maling Sakti, rasanya baru kali ini melewati hutan yang seperti tidak berujung tersebut.
__ADS_1
Kini mereka telah di luar hutan. Ternyata Hutan Misteri tembus ke sebuah gunung. Entah gunung apa namanya. Yang jelas bukan gunung kembar berpucuk cokelat.
"Di mana kita ini Kakak Yang?" tanya Shin Shui penasaran.
Maling Sakti belum menjawab. Dia lebih dulu mengamati suasana sekitarnya. Katanya memandang jauh ke depan. Semuanya putih bersih karena tertutup salju. Kehidupan sungguh sepi. Seperti sepinya hati seorang yang baru ditinggal kekasih.
"Saat ini kita berada di gunung. Di bawah sana adalah sebuah desa, namanya Desa Shanjian. Dari Desa Shanjian, kira-kira kita membutuhkan waktu tiga hari untuk sampai ke Sekte Serigala Putih," kata Maling Sakti sambil menunjukkan arah dengan telunjuk kanan.
"Baiklah, kalau begitu kita harus cepat untuk mempersingkat waktu,"
"Baik, kita berangkat kembali,"
Setelah mengetahui letak pasti, ketiganya segera melanjutkan perjalanan lagi. Chen Li di gendong oleh Maling Sakti.
Di sepanjang perjalanan, mereka tidak menemukan gangguan sama sekali. Memangnya siapa yang ingin mencari masalah kepada Shin Shui?
Kalaupun ada, mungkin mereka yang telah memakan nyali harimau ataupun mereka yang sudah bosan hidup.
Tiga hari sudah berlalu. Tanpa terasa, hanya setengah hari lagi mereka akan segera tiba di tempat tujuannya. Saat ini kondisi malam hari, salju yang turun ke bumi mulai berkurang. Sepertinya musim salju akan segera rampung.
"Kakak Yang, lewat mana kita masuk ke Sekte Serigala Putih?" tanya Shin Shui.
"Lewat belakang. Tapi sebelum itu, kau kirim surat untuk para pendekar yang ada di pihak kita,"
"Untuk apa?" tanya Shin Shui.
"Untuk antisipasi. Kita tidak tahu apa yang akan kita dapatkan nanti. Bisa jadi pihak Sekte Serigala Putih menyerang kita. Walaupun aku tahu kau sangat dihormati, tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, bukan tidak mungkin mereka berani kurang ajar terhadapmu,"
"Hemm, baiklah. Aku akan mengirimkan surat kepada Sekte Kayu Hitam. Kalau tidak salah mereka berada di sekitar sini," kata Shin Shui.
Dia segera menuliskan sebuah surat dalam selembar kulit binatang setelah itu, Shin Shui mengeluarkan elang pengirim pesan dari Kantong Siluman untuk memberikan surat tersebut.
__ADS_1
"Kalau sudah, kita akan lanjutkan perjalanan lagi. Ikuti aku," kata Maling Sakti.
Mereka bergerak kembali. Kali ini gerakannya lebih cepat dan lebih ringan. Mata orang biasa, jangan harap dapat melihat kecepatan tiga orang pendekar itu.