Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Perang Besar X


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, kekuatan Mata Dewa yang benar-benar dahsyat telah menghilang. Chen Li sudah kembali seperti sebelumnya. Bola matanya tidak menampakkan lima elemen alam semesta lagi.


Bola mata itu kembali hanya memperlihatkan dua buah bola mata yang mewakili lima unsur elemen. Elemen air dan bumi.


Tapi meskipun begitu, kekuatan Chen Li telah kembali. Bahkan terasa sedikit lebih hebat lagi. Semua luka di tubuhnya telah menghilang tanpa jejak. Nafasnya teratur.


Sekarang penampilan Chen Li berbeda. Wajahnya bertambah tampan. Postur tubuhnya menjadi lebih tinggi. Lebih kekar. Dia tidak terlihat seperti bocah berumur empat lima belas tahun. Chen Li justru terlibat seperti pemuda berumur tujuh belas tahun.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada diriku?" gumamnya bertanya kepada diri sendiri.


Pendekar Tanpa Perasaan sangat penasaran dengan kejadian yang sudah menimpa dirinya. Kenapa sekarang dia merasa lebih kuat? Kenapa tubuhnya menjadi lebih tinggi?


Berbagai macam pertanyaan terus menggerayangi pikirannya saat ini.


Dia tidak mengingat apapun. Yang Chen Li ingat hanya pada saat dirinya terkapar hampir tewas. Setelah itu, dia tidak tahu apa yang terjadi.


Chen Li telah siap kembali. Dia siap bertarung dan siap melanjutkan perjuangannya untuk membela tanah airnya. Dia juga siap untuk mengorbankan nyawa.


Namun sebelum tubuhnya pergi, dari arah belakang mendadak terasa ada desirsn angin tajam yang melesat ke arahnya.


Wushh!!! Wrrr!!!


Chen Li melompat tinggi. Tubuhnya berjumpalitan dua kali ke depan. Serangan dari arah belakang tadi lewat beberapa jengkal di bawah kakinya.


Begitu kakinya menginjak ke bumi, Pendekar Tanpa Perasaan langsung membalikkan tubuhnya.


Sepuluh langkah di depannya kini, telah berdiri satu orang tokoh dunia persilatan dari Kekaisaran Tang. Orang itu sudah cukup tua. Usianya kurang lebih sekitar empat puluh tujuh tahunan.


Dia memakai pakaian berwarna abu-abu. Tubuhnya sedikit bungkuk. Di tangan kanannya terdapat sebatang tongkat yang panjangnya satu depa lebih. Orang tua itu hanya mempunyai satu mata. Satu mata lagi diikat oleh kain berwarna merah darah.


"Di mana lima belas rekanku?" tanya orang tua itu dengan suara yang memendam amarah besar.


Chen Li kebingungan. Lima belas rekannya yang mana?


"Maksudmu?" tanya Chen Li tidak bisa menahan rasa penasaran lagi.


"Kau jangan berpura-pura bodoh,"


Chen Li berusaha untuk menebak ke mana arah pembicaraan orang tua tersebut. Karena dia merupakan bocah yang cerdas, maka pada akhirnya Chen Li mengerti.


"Oh, lima belas orang tua yang bau tanah itu? Yang katanya tokoh kelas atas tapi sebenarnya orang tua yang tidak becus apa-apa? Kau terlambat datang kemari,"


"Apa maksudmu?" tanya si orang tua yang kini malah bingung sendiri.

__ADS_1


"Mereka telah mampus di tanganku,"


"Bohong,"


"Kalau tidak percaya, kenapa harus bertanya?"


"Kalau mereka sudah tewas, mana mayatnya?"


"Tentu saja tidak ada. Sebab aku telah memakan mayat mereka," jawab Chen Li seenaknya degan ekspresi wajah yang amat dingin.


Orang tua itu menggeram marah. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung melancarkan serangan pertamanya.


Wushh!!!


Tongkat berwarna hitam berkelebat sangat cepat. Hanya sedetik, tongkat itu sudah tiba di hadapan Pendekar Tanpa Perasaan.


Trangg!!!


Chen Li menahan serangan lawan dengan Pedang Hitam.


Detik berikutnya, dua orang itu langsung terlibat dengan satu pertarungan sengit yang sangat mendebarkan.


###


Saat kekuatan maha dahsyat tadi terasa olehnya, jantung Shin Shui berbeda keras. Dia sangat mengenal aura kekuatan itu. Jika kekuatan tersebut keluar, itu artinya Chen Li sedang berada dalam bahaya.


Karena alasan tersebut, tepat pada waktu yang bersamaan, Shin Shui juga mengeluarkan seluruh kekuatan yang telah dia kuasai.


Pendekar Halilintar menggeram sangat keras. Naga halilintar yang selalu melindungi dirinya juga meraung penuh nafsu.


Baik naga ataupun pemiliknya, sekarang sedang berada dalam kondisi yang sama.


Mereka sama-sama marah.


Naga yang selalu melindungi tubuh Shin Shui melesat menerjang lautan pasukan musuh. Pendekar Halilintar mengobrak-abrik siapapun yanh berada di dekatnya.


Pedang Halilintar mengeluarkan satu kekuatan mengerikan. Kekuatan yang agung. Kekuatan yang sangat digdaya.


Pedang itu bersinar terang. Sinarnnya membuat siapapun tidak sanggup memandang berlama-lama.


Pedang Halilintar bergerak. Kelebatan cahaya biru terus terasa. Detik demi detik berlalu, ribuan pasukan musuh telah tewas di ujung pedang pusaka itu.


Saat jurus Tarian Ekor Naga Halilintar dikeluarkan hingga ke titik tertinggi, memangnya siapa yang dapat menahannya dengan sempurna?

__ADS_1


Banjir darah di tempat itu kembali terjadi. Shin Shui bagaikan malaikat yang sedang marah besar. Setiap orang yang ada di dekatnya tidak bisa lepas dari jeratan kematian.


Naga halilintar mengobarkan kilatan petir yang menyeramkan. Naga itu terus menerjang mengibaskan ekor dan menyemburkan api yang bercampur halilintar.


Keadaan menjadi kacau balau.


Sebelas tokoh kelas atas yang berusaha menahan pergerakan dan amukan Shin Shui langsung terlempar. Hanya melangsungkan pertarungan belasan jurus, satu persatu dari mereka dibuat mampus dengan mudah.


Pendekar Halilintar tidak membiarkan siapapun mengganggu kemarahannya. Setiap orang dia sikat habis. Naga halilintar juga sama, naga itu tidak akan membiarkan hidup setiap orang yang menghalangi amukannya.


###


Tidak jauh dari posisi Shin Shui, ada Yun Mei yang juga mengalami hal yang sama.


Sebagai seorang ibu, ikatan terhadap anaknya jelas lebih kuat. Hatinya mengatakan bahwa sesuatu telah menimpa anak semata wayangnya.


Amarah Yun Mei menggelora. Dewi Maut mengamuk melemparkan ratusan manusia yang ada di dekatnya.


Pedang yang selalu mengelilingi Yun Mei mendadak melesat sendiri. Masing-masing dari pedang itu melancarkan serangan dahsyat kepada semua lawan.


Sedangkan pedang yang berada di tangannya sendiri jangan ditanya lagi, pedang itu tidak pernah berhenti bergerak. Setiap detik, setiap saat, pedang tersebut selalu meminta tumbal.


"Tarian Amarah Dewi Pedang …"


Wushh!!!


Yun Mei semakin merah. Jurus pamungkas sudah dia keluarkan saat itu juga. Serangan pedangnya bertambah dahsyat puluhan kali lipat. Tubuhnya berputar seperti seorang penari yang sedang menghibur penontonnya.


Gerakannya amat gemulai. Amat lembut. Namun juga amat cepat dan dahsyat.


Semua jurus lawan berhasil dia patahkan dengan mudah. Ledakan besar terus terjadi seiring dirinya mengeluarkan kekuatan hingga ke titik maksimal.


Langit sudah sangat mendung. Hembusan angin sangat kencang. Keadaan alam seperti ini baru terjadi sepanjang sejarah Kekaisaran Wei.


Apakah seperti ini efeknya jika beberapa kekuatan maha dahsyat keluar?


"Mampus kalian manusia iblis!!!" teriak Yun Mei sangat kalap.


Wushh!!!


Satu gelombang pedang menyapu ratusan pasukan musuh. Semuanya berteriak sangat kencang. Teriakan mereka mampu membuat bulu kuduk berdiri.


Hanya dengan sekali tebasan, ratusan atau bahkan ribuan nyawa telah melayang.

__ADS_1


__ADS_2