Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sepucuk Surat


__ADS_3

"Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang mendengarnya," ujar Yun Mei sambil tersenyum manis.


Shin Shui mengangguk. Kemudian keduanya segera masuk kembali ke ruangan untuk berbincang dengan para tetua lainnya.


"Tetua, kapan jadinya jasad Kepala Tetua Ying Mengtian akan dikebumikan?" tanya Shin Shui kepada seorang tetua Sekte Serigala Putih.


"Nanti malam tuan. Sebab tadi sebelum kau pulang, ada seseorang yang mengirimkan sepucuk surat," kata si tetua tersebut.


Shin Shui mengernyitkan keningnya. Siapa yang telah mengirimkan surat tersebut? Dan apa pula isi suratnya?


Shin Shui tidak tahu. Untuk bertanya, dia tidak berani karena masih mengerti tentang sopan santun.


Namun si tetua itu seolah mengerti. Melihat wajah kebingungan Shin Shui, dia lalu mengambil sesuatu dari balik kantong bajunya. Setelah itu segera diberikan kepada Shin Shui.


"Kalau tuan penasaran, silahkan tuan baca sendiri isi suratnya," ucap si tetua sambil memberikan surat itu.


Shin Shui kemudian menerimanya sambil menganggukkan kepala.


"Yang terhormat Wakil Kepala Tetua Sekte Serigala Putih, kami dengar dari prajurit bahwa Kaisar Buas telah tewas dalam sebuah pertarungan. Kalau kabar tersebut benar, maka kami meminta supaya jasad Tuan Ying Mengtian dikebumikan malam hari saja. Sebab kami ingin turut serta memberikan penghormatan terakhir. Mengingat bahwa jasa Tuan Ying Mengtian kepada kami sudah cukup besar. Pastikan tidak ada pihak yang mengetahui soal ini. Sebab surat ini adalah surat rahasia. Semoga kita bisa selalu bekerja sama untuk melancarkan misi utama."


"Salam hangat. Jendral Besar dari Selatan."


Shin Shui tertegun. Dia memandangi semua tetua Sekte Serigala Putih yang ada di sana. Semua tetua tersebut langsung menunduk ketika dipandang olehnya.


"Siapa sebenarnya orang yang mengirim surat ini?" tanya Shin Shui dengan nada tidak senang.


"Itu, dia, di-dia merupakan prajurit Jendral Besar dari Selatan. Orang yang menulis surat itu," jawab seorang tetua.


"Siapa Jendral Besar dari Selatan?" tanyanya lagi.


"Dia, di-dia …" seorang tetua nampak seperti ragu-ragu. Dia melirik kepada tetua lain untuk meminta pertimbangan.


"Kalau kalian tidak mau menjawab semua pertanyaanku sekarang, maka mulai detik ini anggap saja kita tidak pernah mengenal. Hubungan persaudaraan cukup sampai di sini," tegas Shin Shui.

__ADS_1


Semua tetua tersentak. Mereka tidak menyangka bahwa Pendekar Halilintar akan berkata demikian.


Kalau sampai hal itu terjadi, maka semuanya hancur sudah. Harapan mendiang kepala tetua mereka akan lenyap hanya karena keegoisan.


Nama Sekte Serigala Putih akan selalu dipandang buruk oleh semua kalangan. Sekarang saja reputasinya sudah cukup menurun karena berita pengkhianatan yang dilakukan oleh sekte tersebut. Jika ditambah lagi dengan mencari masalah kepada Shin Shui, maka tidak ada lagi harapan bagi mereka semua.


Keadaan di dalam ruangan itu menjadi sunyi sepi. Tidak ada yang berani bicara. Shin Shui masih menatap tajam semua tetua secara bergiliran.


Orang-orang yang berada di pihaknya juga melakukan hal yang sama.


Setelah keadaan sunyi untuk beberapa saat, pada akhirnya seorang tetua berdehem lalu memulai bicara.


"Baiklah, aku rasa tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Toh semuanya sudah diketahui, Kepala Tetua Ying Mengtian sudah gugur. Kami tidak ingin mengkhianati pesan beliau. Jendral Besar dari Selatan adalah anak buah dari Kaisar Tang Yang. Dia berencana untuk menghancurkan Kekaisaran Wei. Waktu yang akan ditentukan tidak lama lagi. Karena itulah sekarang pihaknya sedang melakukan persiapan besar untuk rencana ini. Perlahan namun pasti, dia sedang mengumpulkan kekuatan untuk melancarkan semuanya. Berbagai macam sekte dan para pendekar, mulai ditarik satu persatu untuk bergabung dengan mereka."


"Dan menurut informasi yang kami tahu, cukup banyak juga sekte dan para pendekar yang berhasil mereka tarik dengan berbagai macam alasan dan iming-iming. Seperti halnya Sekte Serigala Putih ini," jelas seorang tetua panjang lebar kepada Shin Shui.


Dia dibuat terkejut dengan semua ucapan barusan. Walaupun dirinya sudah memperkirakan bahwa kemungkinan besar yang dimaksud Tuan Tang itu adalah Kaisar Tang Yang, tapi sungguh tidak pernah menyangka bahwa perkiraannya itu bisa benar tanpa meleset sedikitpun.


Shin Shui menghela nafas dalam-dalam. Dia memejamkan matanya sejenak lalu segera menenggak arak langsung dari gucinya.


Pikirannya melayang-layang. Otaknya berputar cepat mencari cara untuk sebisa mungkin memperkecil resiko. Bagaimanapun caranya, dia harus mendapatkan informasi lebih mendalam supaya dapat menentukan langkah dengan jelas dan tepat.


Dia harus bergerak cepat. Sebab kalau tidak, maka kemungkinan besar tidak ada harapan lagi. Kalau sampai terlambat satu langkah, maka nama Kekaisaran Wei akan hilang dari muka bumi.


"Informasi apa saja yang telah diberikan oleh Kepala Tetua Ying Mengtian kepada Jendral Besar dari Selatan?"


Pertanyaan Shin Shui menjadi lebih serius. Begitupun dengan nada bicaranya.


Saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk bermain dan bersantai. Sebagai pemimpin dunia persilatan, juga sebagai orang yang dihormati seperti halnya Kaisar, maka semua beban masalah dan badai yang melanda in, tentu menjadi tanggungjawabnya.


"Kami kurang mengetahuinya," jawab seorang tetua.


"Bragg …"

__ADS_1


Meja di depan Shin Shui patah menjadi dua bagian. Matanya langsung menatap setajam pisau. Andai mata itu dapat mengeluarkan sinar laser, mungkin jantung si tetua sudah berlubang sejak tadi.


Untungnya Shin Shui bukan Superman.


"Sekali lagi kalian berdusta, aku tidak segan-segan untuk membunuh. Terlepas amanah senior Ying Mengtian atau apapun itu, aku tidak peduli lagi. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bermain-main. Kalau kalian tetap memilih untuk menjadi seorang pengkhianat, lebih baik kita bertarung sampai mati saja sekarang juga,"


Suaranya menggelegar. Bagaikan sebuah halilintar yang meledak.


Seperti seorang dewa yang sedang menegur bawahannya karena kurang ajar.


Aura kepemimpinan merembes keluar dari tubuhnya. Sorot mata Shin Shui bertambah tajam.


Suasana menjadi lebih mencekam.


Seperti halnya sseorang yang sedang berhadapan langsung dengan Malaikat Maut.


Semua merasa ketakutan. Bahkan Yang Lin si Maling Sakti Hidung Serigala dan Chen Li serta para tetua, semuanya langsung bungkam. Mereka menundukkan kepalanya. Tidak ada yang berani memandang Shin Shui jika sudah begini.


Sedangkan para tetua Sekte Serigala Putih, jangan ditanya lagi.


Tubuh mereka bergetar dan keringat telah mengucur membasahi tubuhnya.


Hanya Yun Mei saja yang tampak tenang.


Seorang istri tentu lebih mengerti suaminya.


Dia bangkit berdiri lalu mengelus pundak Shin Shui dengan lembut dan penuh belas kasih sayang.


"Shushi, bersabarlah sedikit. Jangan terlalu terbawa emosi. Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, tapi tolong, kendalikan emosimu," ucapnya pelan.


Shin Shui tidak menjawabnya. Tetapi aura dan kekuatan yang keluar, perlahan mulai lenyap. Semua kembali normal saat Pendekar Halilintar telah berhasil menguasai dirinya.


Kesalahan yang banyak dilakukan oleh manusia adalah mereka seringkali suka membangunkan harimau yang tertidur.

__ADS_1


__ADS_2