Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menikmati Perjalanan


__ADS_3

Keenam pendekar dari negeri lain itu tidak menjawab. Beberapa kali Shin Shui mengajukan pertanyaan yang sama, beberapa kali juga dia mendapatkan jawaban sama.


Mereka semua terdiam. Seperti seseorang yang bisu. Padahal sudah tentu mereka bisa bicara.


Keenam orang tersebut sepertinya memegang teguh janjinya untuk tidak mengucapkan sesuatu apapun. Andai kata langit runtuh sekalipun, mereka tetap sama tidak akan memberikan jawaban memuaskan.


Shin Shui bertambah kesal dibuatnya. Dia menotok kembali beberapa titik penting di tubuh. Keenam pendekar merasakan sakit yang teramat sangat. Pendekar Halilintar melakukan hal ini dengan harapan semoga mendapatkan sebuah jawaban.


Sayangnya keenam orang tersebut masih tidak mau bicara. Bahkan walaupun rasa sakit sudah tidak tertahankan, mulutnya tetap diam tidak bergerak. Mereka lebih memilih mengigit lidah ketimbang berbicara.


Jangankan siksaan yang diberikan oleh Shin Shui seperti sekarang. Seandainya malaikat penjaga neraka menyiksa mereka pun, tetap saja tidak akan mau membuka mulut.


Pada akhirnya ketika ada satu kesempatan, satu persatu dari keenam orang itu tiba-tiba ambruk ke tanah. Sehingga tidak berapa lama kemudian, semuanya sudah jatuh terkapar.


Racun.


Seperti yang beberapa kali Shin Shui temui, setiap pendekar asing yang diduga kelompok si Tuan Tang itu, akan memilih untuk bunuh diri saat ditanya demikian. Apapun yang menyangkut kelompoknya, mereka tidak akan menjawab.


Lebih baik mati daripada menjawab pertanyaan musuh. Dan hal tersebut memang sudah menjadi kenyataan. Bahkan mungkin kebiasaan.


Karena siapa dan di manapun, selama mereka berasal dari kelompok yang sama, maka orang-orang tersebut tidak akan menjawab pertanyaan terkait kelompoknya.


Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Shin Shui tidak tahu harus melakukan apa. Pada akhirnya, dia segera pergi dari halaman luas di hutan tersebut.


Tujuannya tentu menyusul Eng Kiam dan Chen Li. Walaupun jaraknya sudah terlampau jauh, tetapi jangan disebut Pendekar Halilintar kalau tidak bisa mengejar dua bocah itu.


Kurang lebih lima belas menit kemudian, akhirnya Shin Shui sudah bisa menyusul Chen Li dan Eng Kiam. Dia terus membayangi kedua bocah tersebut dalam jarak tertentu.


Pendekar Halilintar melihat bahwa kedua bocah itu menikmati perjalanan mereka. Bahkan mereka melaju dengan santai. Seperti tidak takut dikejar musuh atau mungkin di celakai sekaligus.


Shin Shui sengaja tidak mengejarnya dengan segera. Sebaliknya, dia justru ingin melihat anaknya "mandiri" sejak dini. Apalagi Chen Li merupakan seorang anak lelaki.


Lelaki tentu harus mengemban sebuah tugas besar suatu saat nanti. Siapapun dia.

__ADS_1


Bahkan baik pria maupun wanita, harus mandiri. Sebab hidup tidak selamanya bersama sahabat dan keluarga. Ada kalanya suatu saat nanti mereka tidak akan di sisimu lagi.


Sebab kelak, mereka akan mempunyai tugas dan tanggungjawabnya tersendiri. Kau tidak bisa memaksa sahabat ataupun keluarga untuk selalu di sampingmu.


Karena itu, mandirilah sejak dini. Supaya kelak kau mampu menghadapi semua badai sendiri. Badai akan menerpa siapa saja. Kalau kau tidak belajar sekarang menghadapi badai itu, mau kapan lagi?


Tidak ada ketenangan dalam hidup. Yang ada hanyalah berusaha tetap tenang di dalam menghadapi masalah. Badai akan selalu mengintai, dan ancaman nyawa selalu mengikuti ke mana pun kau pergi.


Bisa atau tidaknya. Mampu atau tidak mampunya. Semua kembali kepada dirimu sendiri.


Chen Li benar-benar menikmati perjalanannya bersama Eng Kiam. Bahkan dia sama sekali tidak khawatir meskipun ayahnya belum menyusul juga. Padahal sudah lewat dari waktu yang ditentukan.


'Mungkin ayah ada masalah lain,' batin Chen Li.


Kedua bocah itu terus menyusuri hutan dan jalanan sepi. Walaupun Chen Li belum pernah bepergian jauh, tetapi firasatnya sudah kuat. Dia tahu jalan ke mana yang harus ditempuh. Selain itu, tidak susah juga menuju ke Sekte Halilintar.


Karena di beberapa tempat, terdapat sebuah petunjuk untuk ke sekte terbesar itu.


Hari sudah malam. Chen Li dan Eng Kiam saat ini sedang melewati hutan yang sangat menyeramkan. Tidak ada apapun di sama kecuali suara binatang penunggu hutan yang ramai.


Perjalanan keduanya hanya ditemani sorot cahaya rembulan yang terang tanpa terhalang awan.


"Tuan muda, kenapa ayahmu belum menyusul juga?" tanya Eng Kiam penasaran.


"Mungkin ayah sedang menghadapi urusan lain. Kakak Kiam tidak perlu cemas, lagi pula, siapa yang dapat menghalangi ayah?" kata Chen Li.


Ucapannya memang tidak berlebihan. Siapa yang mampu menghalangi Shin Shui? Bukankah dia pemimpin dunia persilatan?


Yang berani kepadanya paling orang-orang berkhianat. Atau juga mereka para pendekar dari Kekaisaran lain yang memang menginginkan kematiannya serta bumi Kekaisaran Wei.


Saat keduanya sedang berbicara supaya tidak terasa bosan, tiba-tiba saja telinga tajam Chen Li merasa ada sesuatu yang tidak beres.


"Ada apa?" tanya Eng Kiam.

__ADS_1


"Di depan sana ada sekelompok orang," jawab Chen Li.


Eng Kiam mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tidak mendengar ada kecurigaan. Lalu bagaimana bisa Cheem Li berkata seperti itu? Lagi pula, matanya kan tidak bisa melihat, pikir gadis kecil tersebut.


"Aku tidak mendengar apa-apa," kata gadis kecil itu.


"Ssstt, percayalah kepadaku. Lebih baik, kita lihat saja siapa mereka," ujar Chen Li.


Eng Kiam mengangguk. Keduanya lalu segera mempercepat langkah untuk memastikan siapa sekelompok orang-orang tersebut.


Tapi belum jauh Chen Li dan Eng Kiam melesat, tiba-tiba bocah istimewa itu menghentikan langkahnya.


"Ada apa lagi?"


"Mereka memasang jebakan. Jangan maju lagi. Kalau kau sampai maju, maka tubuhmu akan hancur akibat sebuah ledakan," ucap Chen Li si bocah istimewa.


Karena perkataan Chen Li terlihat sangat serius, mau tidak mau dia harus percaya kepada ucapan si tuan muda itu.


"Mundur," kata Chen Li.


Eng Kiam mengerti. Tanpa diperintah dua kali, gadis itu sudah melompat ke belakang beberapa langkah bersama Chen Li.


Berbarengan dengan tubuhnya melompat ke belakang, tangan kanan Chen Li melepaskan sebuah pukulan jarak jauh yang cukup mengagetkan.


Dari tempat yang menurutnya jebakan, saat itu juga terjadi sebuah ledakan ketika jurus Chen Li sudah hampir membenturnya. Daun kering dan debu berhamburan ke segala arah.


Eng Kiam kaget sekaligus bangga kepada Chen Li. Kaget karena dia tidak menyangka ucapan Chen Li terbukti saat itu juga, bangga karena kekuatan bocah itu ternyata semakin meningkat.


Begitupun dengan Shin Shui yang sedari tadi terus mengawasinya. Pendekar Halilintar itu terharu karena ternyata usahanya tidak sia-sia.


Hal ini bisa di lihat bagaimana Chen Li mampu melepaskan serangan energi dari jarak jauh. Walaupun belum sekuat Shin Shui, ayahnya, tetapi bagi bocah sepantarannya, hal itu sudah bagus.


"Kalian yang ada si semak-semak keluarlah," kata Chen Li sambil memandangi semak belukar yang diduga ada orangnya.

__ADS_1


__ADS_2